When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Perhitungan



Selama Tiara tidak berada dalam jangkauannya, selama berbulan-bulan mereka terpisah. Tanpa bertemu muka, tanpa bertukar suara, selama itu pula Yundhi menyelipkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan Tiara. Apapun itu, yang pernah mereka lakukan bersama, meski Yundhi tidak menyukainya, ia tetap akan melakukan demi menjaga Tiara dalam ingatannya.


Misalnya saja, mengkonsumsi makanan siap saji. Yundhi paling tidak suka hal itu, tapi seakan Tiara akan hadir di depannya ketika mengkonsumsi makanan itu, maka Yundhi tetap membelinya, di tempat manapun ia berpijak. Jika biasanya pula ia lebih suka makan di cafe atau tempat makan mewah berstandar tinggi, maka selama enam bulan Tiara meninggalkannya, Yundhi hampir tiap hari, jika tidak sedang bertugas, makan di warung kaki lima bu' de Lastri.


Dan mulai hari ini, dia tidak akan melakukannya sendirian lagi. Tiara telah kembali. Yundhi tidak akan memberi alasan sekecil apapun untuk Tiara meninggalkannya lagi.


Dengan sangat hati-hati Yundhi mendaratkan helikopter yang membawanya dan Tiara di atas helipad kantor Kemendiknas. Ia mendaratkan pesawat itu dengan mulus, memastikan kenyamanan Tiara di dalamnya.


"Bang, coba siniin jas abang!"


Tiara mengendus jas milik Vian, penciumannya sedikit terusik dengan wangi parfum yang rasanya ia kenal. Wangi yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang ia tinggalkan sekaligus yang ia rindukan selama enam bulan ini.


"Apaan sih, mau jadi kucing kamu?"


"Bukan gitu. Kayaknya parfum abang dulu wanginya ga gini."


"Kalau kamu mau parfum abang, besok ambil di rumah, sekarang kita turun, udah ga ada waktu."


"Ih, enakan juga wangi parfum gue bang."


Meski mesin pesawat belum sepenuhnya mati, dan baling-baling belum berhenti berputar, Vian mengajak Tiara segera turun, karena waktu mereka semakin sedikit untuk persiapan pertemuan mentri pendidikan dengan seorang pejabat luar negeri yang ingin melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan dan pariwisata.


Kepala Yundhi terasa panas dingin melihat Vian yang menggandeng tangan Tiara sambil berlari menjauhi pesawat. Ia berusaha menenangkan diri, meredam gejolak yang terus berkobar dalam tubuhnya. Membuat asumsi positif bahwa Tiara sedang melakukan tugas penting bersama lelaki yang ia panggil dengan sebutan abang itu. Tidak ingin bertindak gegabah dan mengagetkan Tiara, Yundhi masih duduk tenang di dalam pesawat, menunggu mesin heli itu berhenti berfungsi sempurna. Ia yakin dengan seragam yang masih ia kenakan, bisa membuatnya leluasa masuk ke dalam gedung yang sama dengan Tiara.


***


"Butuh make-up ga mba?" seorang staf kementrian menawarkan Tiara untuk berdandan.


"Keburu ga sih, saya juga pengen mandi dan ganti baju," ungkap Tiara sedikit malu.


Bisa kok mba, kita msih punya dua puluh menit, sebelum acara di mulai.


"Oke, saya mandi sebentar."


"Masih ingat kan mba, di tempat biasa!"


"Sip."


Tiara bergegas menuju sebuah ruangan yang biasa dulu ia pakai selama menjadi penerjemah. Ada sebuah ruangan khusus pegawai, memiliki kamar mandi di dalam, dan biasanya para staf wanita saja yang memakai kamar mandi itu, untuk staf pria mereka usir agar ke kamar mandi di luar ruangan saja.


Yundhi berjalan setenang mungkin memasuki gedung. Langkahnya hati-hati begitu melihat ruang-ruang yang ada di sana. Beberapa orang menatapnya heran, tapi Yundhi tak peduli. Tujuannya hanya satu, membawa Tiara bersamanya begitu tugasnya selesai.


"Panggil penerjemah, kita mulai lima menit lagi." kata seorang staf tepat di depan Yundhi. Mendengarnya Yundhi segera mencari tempat untuk bersembunyi, sekarang bukan saat yang tepat Tiara melihatnya di sana. Ia takut fokus Tiara terbagi dan tugasnya menjadi kacau.


Yundhi berhasil bersembunyi di sebuah lorong sempit, meski begitu ia bisa melihat dengan leluasa orang-orang yang berada di ruangan besar itu. Dalam hitungan detik orang-orang mulai berkerumun memasang badan di tempat yang sudah di tentukan. Para awak media, juru foto kementrian, penjaga, dan staf setempat mengambil posisi yang telah di tetapkan.


Beberapa menit kemudian sebuah rombongan pejabat datang dari arah berlawanan. Para wartawan dengan sigap membelah diri, mengambil gambar secepat mungkin sedari awal kedatangan rombongan itu. Pandangan Yundhi sedikit terhalang kilatan blitz dan tripod wartawan yang menjulang. Tapi ia berusaha agar retinanya siaga, mencari bayangan wanita yang ia rindukan.


Meski di telan kerumunan orang, Yundhi bisa melihat tubuh Tiara berdiri di belakang pejabat yang sedang berjabat tangan, tersenyum ramah menghadap kamera wartawan, untuk di abadikan menjadi gambar bersejarah. Wajahnya terlihat lebih segar, dengan polesan bedak tipis dan lipstik sewarna bibir menabah manis wajah Tiara di mata Yundhi. Kelegaan luar biasa seketika membanjiri perasaannya. Ia dan Tiara benar-benar berada di gedung yang sama.


Cukup lama sampai akhirnya pejabat itu melepas jabatan tangan mereka dan memasuki ruangan lain yang ada di sana. Tiara pun berbalik, mengambil posisi ke belakang, memasuki gedung setelah para pejabat itu masuk terlebih dahulu. Yundhi bisa melihat ketika tubuh Tiara mulai menghilang di balik pintu yang di tutup perlahan. Lagi, ia harus menunggu hingga acara selesai. Berapa lama, entah, Yundhi tidak tahu. Yang pasti dia akan tetap berada di sana dan mengajak Tiara pulang bersamanya.


***


"Kamu benar ga apa-apa? Tanggal pernikahan kamu udah lewat dari waktu yang sudah kamu sepakati dengan Tiara, kamu yakin masih mau simpan barang-brang ini?" tanya Citra dengan nada peruh rasa cemas. Ia dan Yundhi berada di salah satu ruangan di rumahnya, di mana di kamar itu ia menyimpan segala barang yang menyangkut pernikahannya dan jumlahnya tidak sedikit. Yundhi menatap nanar sekeliling kamar itu.


Untuk seserahan saja Yundhi telah menyiapkan dua puluh lebih barang yang telah di bungkus rapi dan indah dengan kotak kaca. Itu hanya seserahan, belum termasuk baju pengantin yang sudah siap, juga baju untuk orang tua dan pengiring.


Meski Tiara tidak bersamanya, Yundhi tetap bersikukuh agar segala keperluan pernikahan yang sudah di pesan tetap di lanjutkan. Kecuali undangan, mereka belum sempat memesan undangan ketika Tiara pergi secara tiba-tiba.


"Biarkan tetap di sini, Ma. Jangan di bawa kemana-mana. Wanita yang akan menerima semua barang ini pasti akan kembali."


Citra menghembuskan napas dalam, sedikit prihatin dengan Yundhi yang masih mengharapkan Tiara kembali. Tidak ingin anaknya merasa lebih kecewa, Citra tetap mendukung dan melaksanakan kemauan Yundhi.


Sekarang semuanya terbayar, instingnya benar, Tiara kembali. Dan ia bersumpah akan menjadikan Tiara pengantinnya cepat atau lambat.


Satu jam berlalu, pintu ruangan tempat pertemuan yang tadinya tertutup perlahan terbuka. Tak berapa lama kemudian, satu persatu orang penting yang berada di dalam ruangan itu menampakkan diri. Para awak media dan juru foto yang tadinya duduk santai dalam sekejap berdiri sigap. Kilatan blitz kembali menyilaukan, tripod diangkat sedemikian rupa agar mendapat gambar terbaik.


Beberapa menit para pejabat itu berdiri di depan awak media menjawab pertanyaan yang di ajukan. Kembali, Yundhi menajamkan penglihatannya mencari sosok Tiara. Ia mulai gelisah ketika tak sedikitpun bayangan Tiara melintasi penglihatannya.


Menit-menit berlalu terasa begitu lama bagi Yundhi, andai saja ia bisa menerobos kerumunan itu dan masuk ke ruangan mencari Tiara, mungkin ia sudah melakukannya sedari tadi.


Yundhi berusaha sabar, mungkin Tiara masih berada di dalam. Tapi bagaimana jika ada pintu lain dan Tiara keluar dari sana tanpa sepengetahuannya. Pikiran Yundhi kembali kacau dengan asumsinya sendiri.


Sampai akhirnya kerumunan itu berjalan meninggalkan tempat, Yundhi semakin tampak cemas dan raut cemas wajahnya memudar seketika saat Tiara keluar dari ruangan bersama seorang staf wanita. Yundhi segera berbalik, bersembunyi aga pandangan Tiara tak melihatnya.


"Mba mau langsung pulang?" tanya staf wanita yang berjalan di samping Tiara.


Tiara diam sejenak, tidak tahu mau menjawab apa. Jika harus pulang, kemana dia akan pulang sekarang, pulang ke rumahnya jelas bukan pilihan baik, dia belum siap menghadapi Helma dan Wahyu, meski mungkin mereka akan menyambutnya dengan senang dan terbuka.


"Hm, kasih tahu bang Vian saya langsung pulang. Mungkin dia bakal sibuk mulai sekarang," jawabnya sedikit ragu.


"Mau saya pesankan taksi?"


"Boleh deh, kebetulan saya belum punya hape. Saya ambil tas di ruangan staf dulu."


Tanpa disadari Tiara berjalan melewati Yundhi yang berdiri memunggunginya di lorong sempit itu. Mendengar dengan jelas pembicaraan mereka, dan tersenyum puas. Dia tahu apa yang harus ia lakulan sekarang.


Yundhi keluar dari ruangan, menyandarkan tubuhnya di samping pintu utama gedung Kemendiknas. Jika perhitungannya tidak salah Tiara pasti akan keluar dari pintu itu, karena satu-satunya akses keluar masuk gedung adalah pintu yang saat ini ada di sampingnya.


***


"Terima kasih mba Ara, sudah meringankan kerja kami."


"Sama-sama semua, saya pamit ya."


Setelah mengambil barang bawaannya Tiara meninggalkan ruangan staf yang masih berisikan beberapa pegawai yang akan lembur setelah kedatangan tamu luar negeri hari itu.


Tiara berjalan dengan langkah ringan menuju pintu utama. Ia yakin taksi yang di pesankan untuknya sudah menunggu di luar. Semakin mendekati pintu utama, perasaannya semakin tak menentu, ada gemuruh kecil yang terus bergejolak bermain dengan hatinya. Pikirnnya menelisik ada apa, apa yang akan terjadi dengan dirinya?


Tiara mempercepat langkah, kakinya melewati pintu utama menuju undakan yang akan mengantarnya menuju taksi. Pandangannya lurus pada mobil berwarna khusus yang akan ia tumpangi dan...


Itu.


Dadanya berdegup kencang melewati bayangan yang sangat ia kenal. Langkahnya terhenti, tubuhnya membeku tepat selangkah di depan pintu taksi. Kakinya terasa lemas, Tiara memejamkan mata, takut, ragu, senang, entah apa yang ia rasakan sekarang. Tiara ingin terus melangkah, tapi ada bisikan yang memintanya berbalik. Dia mulai menghitung dalam hati, berharap semoga ia salah mengira. Tepat pada hitungan ke tiga Tiara berbalik.


Yundhi berdiri lima langkah dari posisinya sekarang. Pandangan mereka bertemu, tenggorokannya terasa tercekat. Mata itu masih sama. Mata yang ia rindukan. Yundhi melangkah pasti, mendekati Tiara yang melihatnya dengan tatapan tak percaya..


Perasaan mereka sama-sama bergejolak hebat. Perasaannya tak bisa ia gambarkan. Terlalu rumit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


"Kamu,"


Yundhi yang merasa masih bisa mengontrol diri, mengambil alih situasi. Ia selangkah melewati Tiara, membungkukkan badan pada taksi yang akan membawa Tiara dan Tiara kehilangan kata-kata, hanya melihat apa yang Yundhi lakukan.


"Ini uang ganti rugi, maaf kami ga jadi pakai taksinya, bapak bisa pergi."


Setelah urusannya selesai, Yundhi kembali menghadap Tiara. Mereka sejenak beradu pandang dengan keheningan yang menggantung.


Melihat mata Tiara, Yundhi tak bisa mengontrol emosinya lagi, tanpa peduli sekitar, persetan jika ada yang melihat mereka, Yundhi segera merengkuh tubuh mungil itu. Mendekapnya erat-erat dengan napas naik turun. Kerinduan yang selama ini ia tahan terbayar dengan cara yang tidak ia duga.


"Lama ga ketemu, Tiaraku." ucap Yundhi dengan suara berbisik, menahan gejolak di dadanya. Napasnya tersengal-sengal.


"Jangan lari lagi, hentikan hukuman ini, aku ga bakal kuat kalau kamu pergi lagi." sambungnya denga suara naik turun. Yundhi masih meluapkan perasaannya. Memeluk Tiara seerat yang ia bisa.


Tiara tak bicara, hanya memejamkan mata yang membuat cairan bening keluar dari tempatnya. Hatinya tak kalah bergejolak dengan berbagai rasa. Ia membiarkan Yundhi melakukan apa yang laki-laki itu inginkan karena sekujur tubuhnya sudah lemas hanya dengan melihat wajah Yundhi yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia bisa merasakan Yundhi mengecup kepalanya berulang kali. Menumpahkan perasaan yang tertahan selama ini.


"Maaf."


Tiara tersadar, alasan ia meninggalkan Yundhi terlintas cepat. Sedikit gerakan ingin melepaskan diri ia lakukan dan berharap Yundhi mau melepas pelukan mereka tapi sia-sia. Pilot itu masih enggan melonggarkan dekapannya.


"Tiara!" suara lantang Vian terdengar tiba-tiba seperti bunyi petasan tahun baru. Membuat pasangan yang masih saling merindu itu melepas pelukan.


Vian mendekat dengan langkah lebar, menatap Tiara menuntut penjelasan. Meski berperan sebagai kakak setelah Tiara dewasa, Vian sudah bisa menebak laki-laki yang memeluk adiknya itu adalah alasan Tiara menangis selama ini.


"Kamu, bukannya pilot yang tadi menjemput kami?" Vian menatap sangar pada Yundhi.


Yundhi membalas menatap Vian dan dia bisa menebak apa yang ada di pikiran pria yang Tiara sandangkan abang itu. Pembicaraan mereka di pesawat masih terekam jelas di ingatan Yundhi.


Tiara tidak berani membuka mulut. Meski ia tidak menjelaskan ia merasa Vian bisa tahu dengan sendirinya posisi Yundhi saat ini.


Dan benar, Vian sangat sangat paham pemandangan yang baru saja ia saksikan.


"Kamu," Vian menunjuk Yundhi tepat di depan wajahnya, "punya urusan sama saya."


Yundhi tidak gentar, ia balik menatap Vian tanpa ragu. Kali ini masalah mereka adalah urusan antar laki-laki.


"Tentu, tapi saya punya syarat," ucap Yundhi sedikit menantang.


Membuat Vian mengerutkan dahi, dan membuang wajah kesal. Tapi dengan segera ia menunjukkan wajah tak suka pada pilot itu.


"Syarat? Apa?"


"Pertama Tiara tidak boleh melihat apa yang akan terjadi, kedua, setelah ini Tiara ikut dengan saya."


Vian terkekeh merendahkan. Ia memandang wajah Tiara yang terlihat cemas. Sangat jelas ia mencemaskan Yundhi karena tatapan Tiara tak lepas padanya.


"Baik, yang pasti setelah ini pikirkan lagi kalau kamu punya niat nyakitin Tiara."


"Bang, jangan aneh-aneh deh, gue baik-baik aja!" Tiara menyela.


Vian tak menghiraukan kata-kata Tiara.


Yundhi melepaskan jaket kulit yang menutup tubuhnya, memberikannya pada Tiara. Tiara menatap mata Yundhi lekat sambil menggelengkan kepala, seolah memberi tahu bahwa ia tidak perlu meladeni Vian.


"Jangan lihat, tutup mata dan telinga kamu!" Yundhi mengerlingkan mata, memberi tanda bahwa Tiara tak perlu cemas. Setelah mengucapkan kalimat itu Yundhi mengajak Vian ke sudut yang lebih sepi, agar apa yang akan mereka lakukan tidak menarik perhatian orang lain.


Kali ini mereka berdiri berhadapan. Tidak ada tatapan menantang pada Yundhi, tapi Vian juga tidak bisa menyembunyikan emosinya pada pilot itu.


Yundhi mengangkat kedua tangan kemudian melingkarkannya ke belakang tubuhnya, memberi tanda bahwa dia tidak akan melakukan perlawanan.


"Saya mungkin tidak punya hak di sini, tapi sayang Tiara menangis di depan saya dan itu menyesakkan...


BUGH


Satu tinjuan Vian tepat mengenai sisi kanan wajah Yundhi.


"Menyebalkan."


BUGH


Tinju kedua mendarat di sisi kiri wajah pilot itu, meski hampir jatuh Yundhi menahan tubuhnya dan tetap berdiri. Vian sedikit mengibaskan tangan di udara.


"Dan Tiara terlalu bodoh memberi hatinya pada laki-laki seperti kamu."


BUUGH


Satu pukulan keras menghantam perut Yundhi, tepat mengenai ulu hatinya. Membuat Yundhi mengetatkan giginya menahan sakit. Tapi dia tetap tidak melawan. Ada kelegaan tersendiri yang merayapi dadanya.


Tiara yang mengikuti kata-kata Yundhi menutup mata dan telinganya mulai merasa bahwa keadaan tidak baik-baik saja. Ia berbalik mencari dua pria yang sedang melakukan perhitungan itu.


"BANG KAS!!!"