When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Menemukanmu



Enam bulan kemudian


Tiara berdiri di bawah pohon rindang. Depannya terbentang padang rumput sebesar lapangan bola. Itu juga adalah tempat kali pertama ia menginjakkan kaki di Loca. Beberapa penduduk berdiri di belakangnya, terlihat sedih, kecewa, dan tidak rela melihat Tiara yang akan pergi meninggalkan mereka. Deru suara helikopter yang datang membuat air mata sekumpulan penduduk wanita yang akan melepas kepergian Tiara itu tak bisa di tahan lagi.


Seorang anak kecil yang ikut mengantar Tiara, melepaskan diri dari genggaman tangan ibunya dan berlari mengejar dan memeluk Tiara.


"Kakak cantik, jangan pergi!" ucapnya dengan nada hampir menangis.


Tiara mengangkat tubuh anak laki-laki itu, mendekapnya dalam gendongan.


"Chio sayang, kakak juga ga mau pergi, tapi ini tugas kakak," ujar Tiara sedikit berteriak karena suaranya dikalahkan deru heli yang semakin mendekat.


Tiara menurunkan tubuh anak itu, kemudian berlutut mensejajarkan tingginya.


"Kakak janji, suatu hari nanti kakak akan kembali ke Loca, oke!" ucapnya masih dengan suara berteriak agar bocah itu mendengarnya.


Heli yang tadinya masih di udara, kini mendarat mulus di atas padang rumput. Menerbangkan ranting dan daun pepohonan di sekelilingnya. Membuat suara bising yang mengganggu pendengaran.


Yundhi menatap di balik jendela kaca. Tangannya bergetar hebat, dadanya membucah, jantungnya berdetak, tidak, jantungnya hampir melompat melewati tulang rusuknya melihat punggung seorang wanita yang ia yakini adalah wanita yang ia cari selama enam bulan ini. Tiara.


"Promise." Chio mengangkat jari kelingking di depan wajah Tiara.


"Promise." Tiara memblas dengan mengaitkan jari kelingkingnya.


Peduduk wanita yang tadinya hanya berdiri, kini melangkah menuju Tiara mengerubunginya. Mereka memeluk tubuh kecil gadis itu dengan berurai air mata, merasa tak rela Tiara akan meninggalkan mereka.


"I LOVE YOU, GUYS. ALL OF YOU. JANGAN SEDIH, SUATU HARI NANTI SAYA AKAN KEMBALI." ucap Tiara benar-benar berteriak. Ia sendiri juga sudah berurai air mata. Satu per satu para wanita itu memeluknya bergantian.


Tiara harus sedikit memaksa melepaskan diri dari pelukan perpisahan itu. Dengan berat hati. Vian yang melihat pemandangan haru itu dari depan pintu heli, hanya menggeleng-gekeng kepala tak percaya dengan keakraban yang terjadi. Apa yang di lakukan Tiara sampai membuat mereka menangis ketika gadis itu pergi?


Tiara berjalan menjauh, meninggalkan beberapa penduduk yang mengantar kepergiannya. Rekan-rekan satu timnya berdadah ria beberapa meter dari kumpulan penduduk yang sudah sesenggukan itu.


"TAKE CARE MBA."


"KAMI SEGERA NYUSUL."


"TUNGGU KAMI."


"WE LOVE YOU."


Tiara melambaikan tangan, beberapa kali memberi kecupan jari pada orang-orang yang melepas kepergiannya.


Vian yang sudah siaga sedari tadi meraih tangan Tiara membantunya naik ke atas heli. Keduanya kini duduk bersebelahan.


"Kayaknya mereka ga rela kamu tinggalin," ujar Vian yang menyusul Tiara memasuki heli.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, dan berusaha sekuat tenaga menekan emosinya yang meluap, Yundhi mulai menjalankan heli, mengudara. Senyum tak pernah berhenti terukir di balik masker yang ia pakai. Hatinya tak pernah berhenti mengucap syukur.


Di balik kaca mata hitamnya, tiba-tiba muncul cairan bening, bukan simbol kesedihan, tapi luapan kegembiraannya yang tiada tara. I found you, Ra. Aku pastiin kamu ga akan bisa lari lagi.


Yundhi menjalankan heli dengan sangat hati-hati. Meski tubuhnya sudah ingin menerjang Tiara tapi dia berusaha mengontrol diri. Dia ingin memastikan Tiara merasa nyaman selama mereka dalam perjalanan.


***


Dua jam sebelumnya


"Ada pilot yang udah landing ga?" suara seorang direktur sebuah maskapai menggelegar di sebuah ruangan. Wajahnya terlihat cemas setelah menerima sebuah telpon.


"Saya butuh jawaban, kenapa kalian diam saja?" sambungnya lagi dengan suara lantang, membuat beberapa pegawai kalang kabut mengangkat telpon, menghubungi, menatap layar komputer dan...


"Ada pak, baru saja. Kapten Yundhi," seru seseorang dari balik layar komputer.


"Suruh dia ke ruangan saya, CEPAT!"


Pegawai itu berdiri meninggalkan kursinya dan berlari secepat mungkin mencari orang yang di maksud. Jika ia terlambat, bisa di pastikan Yundhi mungkin sudah meninggalkan bandara dan mereka akan mendapat amukan sang atasan.


Yundhi yang baru keluar dari kokpit merasa ada yang memanggil namanya dari luar pesawat. Dengan langkah tenang dan wajah dingin ketika melewati seorang pramugari Yundhi berjalan ke arah pintu.


"Cepat, si Gorila ngamuk!" ujar pegawai itu dengan napas ngos-ngosan. Kurang ajar memang, semua pegawai maskapai itu menjuluki atasan mereka dengan sebutan gorila.


"Kenapa?"


"Belum tahu, yang jelas si Gor nyari pilot." pegawai itu menarik tangan Yundhi agar ikut berlari. Tapi Yundhi buru-buru menyentaknya.


"Gue bisa sendiri, gila lo, dikira gue anak kecil."


"Sialan, gue takut lo lari, entar ga balik-balik lagi tiga minggu kayak 6 bulan lalu."


"Minta di hajar lo, gue beneran lari ni."


"Jangan macem-macem, entar si Gor naik darah."


Mereka tiba di ruang administrasi dan Yundhi melangkah masuk ke ruangan sang direktur mengabaikan tatapan menggoda pegawai wanita yang sudah membidiknya.


Direktur itu mengangkat kepala mendengar suara pintu di buka tanpa di ketuk. Para pegawai kurang asem memang.


"Bapak nyari saya?" Yundhi langsung menduduki kursi kosong di depan meja sang direktur. Tanpa disilakan, catet. Kurang asem kan?


"Kamu bisa bawa heli kan?"


"Bisa."


"Fix, sekarang ke Kemendiknas, mereka butuh pilot, menuju Loca. Mau jemput orang ga penting. Huh, bisa-bisanya mereka merepotkan saya lagi," kata sang direktur dengan nada kesal.


"Saya baru landing lho pak, bapak ga kasian?"


"Masa bodo, kamu ke sana sekarang. Nama maskapai kita di pertaruhkan. Saya ga mau urusan sama pemerintah jadi runyam lagi seperti enam bulan lalu, waktu kamu nolak perintah saya."


"Wah, memang bener, bapak ga punya hati."


"Kamu. Berani ngomong gitu sama saya."


"Beranilah pak. Ck, perjalanan ke sana 1 jam 30 menit lho pak, saya baru landing, kalau galfok gimana?"


Sang direktuk melempar sebuah map ke depan Yundhi.


"Itu data orang yang mau kamu jemput. Urusan capekmu nanti saya tambah ke bonus, jangan sampai saya ngomong apa-apa lagi," sang atasan tak memedulikan keluhan Yundhi.


Yundhi memijit kepalanya yang sedikit berdenyut. Hampir seminggu penuh dia di udara, begitu kembali sekarang harus mengudara lagi.


Dengan malas Yundhi membuka map yang ada di depannya. Sesekali ia mengucek mata memastikan jika ia tidak salah baca. Matanya bergiliran melihat pas foto yang ada di dokumen itu.


Merasa tidak yakin, Yundhi meletakkan map itu dengan jantung yang mulai berdegup tak karuan.


"Pak, ada kopi ga?"


"Ambil sendiri!"


Yundhi menatap mesin pembuat kopi sederhana di sudut ruangan, hanya bicara saja tapi enggan menikmati minuman itu.


Yundhi meraup wajahnya, bukan frustasi. Tapi takut, takut jika ia salah membaca biodata wanita di dokumen itu. Takut jika ia hanya berhalusinasi. Takut jika ia tiba-tiba rabun. Takut jika wanita itu bukan orang yang ia rindukan selama ini. Sekali lagi ia mengambil map yang tadi ia letakkan dan membaca berkali-kali nama wanita yang tertulis di sana.


Napas Yundhi memendek. Perutnya terasa bergejolak.


"Kapan saya harus jemput orang ga penting ini?"


"Apa enam bulan lalu bapak nelpon saya juga buat nganter wanita ini ke Loca?"


"Iya, tapi kamu menolak. Untung ada pilot lain yang bersedia."


Yundhi menyesal bukan main, andai dulu____ argh, lupakan.


Braakk


Tanpa di sadari Yundhi menggebrak meja sang direktur dan mengangkat map yang ia pegang. Mata sang direktur menatapnya nyalang.


"Asal bapak tahu, orang yang bapak bilang ga penting ini adalah orang yang maha penting dalam hidup saya. Kalau dia minta saya berhenti dari maskapai ini setelah saya ceritakan omongan bapak tadi ke dia, tanpa pikir dua kali saya akan resign."


Yundhi melangkah ke arah pintu.


"Permisi, dan terima kasih sudah memberi saya tugas ini."


Wajah direktur itu terlihat kebingungan. Marah, tapi berterima kasih. Pilot aneh.


***


"Di sana ada ratusan penerjemah, kenapa mesti gue sih bang?"


Tiara melihat ke bawah. Tubuhnya mulai meninggalkan pulau Loca yang semakin terlihat mengecil dari atas.


"Saya juga bertanya-tanya, kenapa nama kamu berada paling atas di list permintaan beliau. Dari kabar yang saya dengar, beliau berkata cuma kamu yang bisa terjemahkan dengan tepat bahasa slang yang dia sering pakai."


"Ck, tapi waktu kepulangan gue seminggu lagi bang, kesel gue."


"Demi kemaslahatan orang banyak, biar ga ada yang salah pengertian, udah terima saja!"


Ucap Vian sambil memberi sebuah lembaran pada Tiara.


"Itu materi yang nanti akan di bahas."


Tiara membaca sekilas, kemudian menatap lagi ke luar jendela.


Sambil membagi fokusnya, Yundhi berusaha menangkap pembicaraan Tiara dengan laki-laki yang asing baginya. Penampilannya yang tertutup kaca mata dan masker yang menutupi sebagian wajah, membuat Tiara tak menyadari keberadaannya.


Ingin sekali Yundhi menggantikan posisi laki-laki di samping Tiara. Melihat wajah itu dari dekat. Tiara terlihat sedikit berbeda dari enam bulan lalu. Rambutnya yang dulu sepunggung kini di potong sebahu, kulitnya sedikit coklat, memberi kesan eksotis, dan semakin manis di mata Yundhi. Ia benar-benar tidak tahan untuk memeluk calon istrinya itu. Tetap cantik, dan terlihat semakin...dewasa.


"Jadi benar rumor yang saya dengar?"


"Hah? Apaan bang?"


"Apa kamu sekacau itu awal-awal datang ke Loca? Badan kamu jadi kurus begini."


Yundhi mengumpat dalam hati, Tiaranya di katai kurus. Wah, cari mati ni orang.


"Oh ini." Sambil menunjukkan pergelangannya, "Maklum, di sana susah nyari makan bang."


"Jangan bohong Ra, you're not a good liar. Kami sudah menjamin kebutuhan kalian di sana, termasuk makanan, dan itu semu yang terbaik yang dikirim ke Loca."


Tiara tertawa pelan.


"Tiara ga mati bang, cuma kurus doang, jangan tegang gitu." Tiara tetap membaca lagi lembaran yang Vian serahkan.


"Ngirim kamu ke Loca kalau bikin kamu sekurus ini buat saya merasa bersalah. Mba Asti ga bakal suka lihat kamu."


"I'm fine, bang. Don't worry too much."


"I said, don't lie. Let's talk!"


"About what?"


"Laki-laki yang identitasnya kamu sembunyikan dari abang."


Jantung Yundhi berdegup hebat mendengar percakapan itu. Laki-laki? Yang di sembunyika identitasnya oleh Tiara? Siapa?


"Aneh kan kak, Loca tempat yang indah, alamnya mengagumkan. Tapi kenapa semua itu tidak bisa menyembuhkanku. He hurts me, but I still love him, a lot. Much." Keheningan terjadi, "Gue pengen ga marah sama apa yang sudah dia perbuat. Kalau dia belum bisa menetapkan hati, gue bisa nunggu. Hanya saja kepergian ayah dan segala kejutannya bikin gue goyah."


Wajah Yundhi serasa di aliri air panas saat menyadari Tiara berbicara tentang dirinya. Mengutuk, mengumpat, mencaci dalam hati atas kesalahan yang ia lakukan, tapi dia juga ingin menyanggah. Yundhi sudah menetapkan hatinya, tanpa pernah bermaksud berpaling seperti yang Tiara pikirkan.


"Karena dia, satu minggu awal di Loca kamu seperti orang mati yang bernapas, kalau abang ketemu, izinkan abang nonjok dia. Dia laki-laki bodoh kalau nyia-nyiakan kamu."


Sekujur tubuh Yundhi terasa bergetar marah, tapi dia membenarkan pekataan Vian bahwa dirinya memang bodoh.


"Dia cowok baik kak, hanya saja mungkin dia sedikit sial kejebak sama gue."


Enggak Ra, kamu keberuntungan. Aku terlambat menyadari itu sangkal Yundhi dalam benaknya.


"Kenapa kamu ga terima Razkan saja, dia sudah rela menukar kelompok sama kamu, meski lokasi yang kamu dapat jadi lebih sulit, tetap saja dia sudah berkorban."


Rahang Yundhi bergeretak mendengar apa yang di bicarakan, andai ia bisa berhenti di sembarang tempat dan menghampiri mereka. Sialan. Tiara sama Razkan? Jangan harap.


"Razkan orang baik, dia berhak dapat wanita yang benar-benar mencintai dia, perasaan gue ke dia ga bisa berubah, hanya teman. Dia gue jodohin sama Ajeng"


Seketika rasa lega membanjiri perasaan Yundhi. Setidaknya Tiara tidak dekat dengan siapapun selama tak disisinya.


"Brengsek."


"Kenapa lagi bang?"


"Laki-laki itu, dia terlalu beruntung dapetin hati kamu, kasih tahu abang siapa namanya, biar abang teror, ga bakal hidup tenang dia."


"Geva gimana?" Tiara mengalihkan pembahasan mereka.


"Geva baik, dia ngikutin saran kamu, ngambil spesialis di luar."


Vian mendengus kesal, Tiara mengalihkan pembicaraan, artinya Tiara tidak ingin membahas apa yang mereka bicarakan tadi. Padahal Vian memang sangat serius dengan kata-katanya tadi.


"Bagus deh."


"Kalau mau, kamu bisa tinggal di rumah setelah ini. Mba Asti udah siapin kamar kalau sewaktu-waktu kamu mau tinggal di rumah."


"Hm, nanti gue pikirin dulu bang."


"Satu lagi."


"Apaan? Abang ngagetin deh."


"Kamu minum obatnya teratur kan?"


"Iya, Ajeng udah jadi suster gue, gila lo bang nyuruh anak kecil ngawasin gue.


"Kalau ga gitu abang ga bakal tenang, abang takut kamu terus-terusan sakit, siapa suruh ga mau ngikutin saran dokter.


Minum obat? Dokter?


Kamu kenapa sayang?


Yundhi serasa mendapatkan jackpot setelah melihat wajah Tiara. Tapi banyak hal mengusiknya saat mendengar percakapan Tiara dan Vian. Dalam hati Yundhi berjanji, setelah mendarat nanti, tidak akan melewatkan satu hal keci pun tentang Tiara.