
Gentleman only has eyes for his own lady.
Tiara terus mengulang kalimat itu, kalimat yang Yundhi ucapkan saat mereka perang dingin beberapa waktu lalu. Tiara yakin Yundhi memegang teguh prinsipnya. Hanya dirinya wanita yang dicintai Yundhi. Dan apa yang dia lihat tadi mungkin hanya salah paham. Bisa saja wanita itu yang memaksa ingin mencium suaminya atau mereka pernah menjalin hubungan sebelumnya dan wanita itu ingin kembali.
Tidak ada wanita yang tidak akan terpesona oleh seorang Yundhi. Tanpa harus berusaha keras, meski hanya mengenakan kaus oblong dan celana jins, Yundhi bisa tampak cemerlang menyihir mata para wanita. Tiara sadar suaminya memiliki kemampuan itu. Di tambah dengan dompetnya yang tebal, maka patutlah kata sempurna disematkan padanya.
Hanya keajaiban cinta yang membuat Yundhi menetapkan pilihannya pada Tiara. Padahal pria itu bisa saja mencari wanita yang lebih dari dirinya.
Jarum jam sudah bertengger di angka dua. Tiara sebenarnya ingin sekali beristirahat, memejamkan mata, tidur sempurna karena badannya lelah. Tapi entah kenapa, keberadaan Yundhi di luar mengganggu gelombang kantuknya.
Dengan tatapan nanar di balik tirai kamar yang ia tempati, Tiara melihat mobil Yundhi terparkir di pinggir jalanan rumah Vian. Decakan sebal lolos dari bibir. Kenapa suaminya tidak pulang saja, beristirahat di rumah, di kamar mereka yang nyaman.
Langkah gontainya menuju pembaringan. Di sana Ed sudah tidur pulas. Anak itu sangat membantu Tiara, tidak rewel meski sedang berada di lingkungan baru. Selintas, Tiara merasa bersalah, membuat Edward menjadi korban amarahnya.
"Papa, sayang banget sama Ed, sama Mama juga. Papa nungguin kita di luar, ga mau pulang tanpa kita"
Lelehan demi lelehan air mata keluar dari sudut mata, dengan lembut Tiara mencium tangan anaknya.
"Maaf, Mama masih sebel sama Papa. Coba tadi Ed lihat Papa di cium perempuan lain, Ed juga pasti marah kayak Mama, iya kan?"
Isakan kecil mulai terdengar. Tiara menangis. Tangisnya baru keluar saat ini, setelah sedari tadi ia tahan di depan Vian dan Asti.
"Mama dari kecil anak tunggal, ga suka berbagi sesuatu sama orang lain, apalagi kalau itu kesayangan Mama, Mama ga rela berbagi pokoknya. Sebenarnya Papa juga gitu, tapi tadi Papa mau aja di cium-cium. Makanya Mama marah, terus tinggalin Papa di pesta. Papamu tadi nyebelin. Kita hukum Papa malam ini, biarin aja dia tidur sendiri di luar, kedinginan," Tiara bicara seperti Ed memahaminya, dia sedang butuh teman curhat.
Tiara makin terisak membayangkan Yundhi yang tidak akan nyaman tidur di dalam mobil.
Wanita ini memang marahnya di mulut doang, tapi hatinya tetap saja cinta.
"Sekarang Mama nyusahin Ed, kita jadi tidur di rumah om Vian. Mama belum mau ketemu Papa sekarang, ga tahu kalau besok..."
***
"Aku bantuin."
Tangan kiri Yundhi meraih wadah kecil yang tersimpan di kabinet, dan satu sisi tangannya melingkari bahu Tiara.
Tentu saja Tiara shock. Selain karena kedatangan Yundhi yang tiba-tiba, dia juga tidak menyangka Vian memberi akses secepat itu Yundhi untuk masuk. Perkiraan Tiara, Yundhi akan di minta masuk sepulang abangnya bekerja.
"Ah, iya, makasih." Ada aksen kaku yang di dengar Yundhi dari suara Tiara, membuat suasana canggung menyeruak.
"Kamu bikin apa buat Ed?"
"Ini? Cuma sayur sop, mba Asti cuma punya persediaan bumbu sop instan. Sayurnya ga nyambung sama bumbunya, tapi kalau bayam masih oke buat Ed," hening beberapa detik terjadi, " kamu mau sarapan, biar aku siapin."
Tawaran Tiara memang menggiurkan, Yundhi belum makan sedari malam, tentu sekarang perutnya minta jatah. Tapi nada bicara Tiara kali itu terdengar menjengkelkan di telinga Yundhi. Itu bukan nada bicara Tiaranya ketika marah.
Tiara menyendok sayur ke dalam mangkuk kecil, menaruh nasi di atas piring keramik yang juga berukuran kecil dan semua itu Tiara kerjakan dengan Yundhi mengekor di belakang.
"Aku mau pulang."
"Kamu sarapan aja dulu, kayaknya dari kemarin ga pulang, kenapa malah nginep di mobil. Sarapan dulu, setelah itu kamu pulang."
Kata "kamu pulang" yang diucapkan Tiara terasa seperti tusukan belati di tubuh Yundhi.
Apa maksud Tiara yang akan pulang hanya dirinya, sedangkan dia dan Ed?
"Kita pulang Ra, kita, kamu aku sama Ed, ga cuma aku."
Sulit sekali bagi Tiara membalas kata-kata Yundhi, mulutnya seperti terkunci beberapa lama.
"A-aku masih mau di sini, kamu bisa pulang sendiri," kata-kata itu akhirnya keluar.
Oke, ini cara lain Tiara mengungkapkan kemarahannya, santun, halus tapi menyakitkan.
"Kamu masih mau di sini? Fine, kita jadi parasit sama-sama di rumah bang Vian."
"Yundhi, kita..." belum selesai Tiara bicara Yundhi lebih dulu mengambil sarapan Ed dan membawanya keluar. Tiara hanya diam, membiarkan Yundhi melakukan apa yang dia inginkan.
Tiara menopang tubuhnya dengan tangan di atas wastafel. Dadanya penuh gemuruh. Bingung sendiri bagaimana cara menyikapi Yundhi sekarang. Hatinya ingin pulang bersama suaminya, tapi pikirannya menyangkal keinginan itu dengan kejadian kemarin yang masih membekas.
Matanya kembali panas. Tangan yang menopang tubuh bergetar halus. Dalam kepalanya tenggelam, sendu isakan terdengar. Tak hanya tangan, sekarang sekujur tubuhnya bergetar menahan sesak. Hari ini dia ingin menangis, hari ini dia ingin jadi wanita cengeng.
Yundhi melihatnya. Melihat Tiara yang rapuh karena dirinya. Melihat Tiara menangis lagi. Karena dirinya.
"Jangan nangis! Kamu salah paham, bisa kita bicara?"
Yundhi tak menyerah, tangannya tak berhenti begitu saja saat Tiara menghempasnya berkali-kali.
Sampai pada satu titik, Tiara menghentikan perlawanan, membuat Yundhi leluasa mendekapnya erat-erat.
Selalu seperti ini, ketegaran Tiara selalu runtuh dengan mudah di tangan Yundhi. Suaminya itu seperti punya kekuatan magis yang bisa melunakkannya.
"Ed, ada di luar, aku ga mau dia dengar kita ribut, kamu boleh teriakin aku sekarang."
Tapi Tiara seperti kehilangan stok kata-kata berbau kemarahan. Hanya tangisan yang keluar dari dirinya. Dia seperti bosan, mendapat masalah rumah tangga karena salah paham yang terjadi dengan wanita lain. Mungkin kali ini lebih fatal, tapi tetap saja kata Yundhi ini salah paham.
"Aku mau di sini, kamu pulang saja!"
"Aturan dari mana? Kita sama-sama sekalian di sini jadi parasitnya bang Ivan. Kayaknya bakal seru."
"Nggak lucu."
"Memang ga lagi ngelawak."
Tiara melepas paksa eratan Yundhi, tapi lelaki itu cepat juga meraih tangan Tiara. Tak mau kecolongan. Kali kedua debat mereka terjadi di dapur, dengan topik yang sama namun rumah yang berbeda.
"Dia cuma..."
"Aku ga mau dengar."
"Teman Ra, teman lama."
"Teman? Senang kamu di cium teman wanita?"
"Aku juga ga nyangka dia bakal ngelakuin itu, it suddenly."
"Terus kalau teman lama aku, cowok, ngelakuin kayak gitu, tiba-tiba, ga di rencanain, kamu gimana?" ucap Tiara sarat sarkasme.
Kata-kata Tiara telak menampar Yundhi. Kali ini Yundhi akan kesulitan sepertinya.
"Aku gampar."
"Marah kan kamu? Sama, aku juga gitu."
"Aku minta maaf, sumpah Ra aku juga ga mau di cium-cium kayak gitu, kalau ada kesempatan menghindar, aku pasti bakal menghindar."
Gerakan kepala Tiara yang mengisyaratkan penolakan membuat Yundhi di tempa putus asa, wanitanya itu terus menghindari tatapannya, sampai di sini Yundhi belum menyerah.
"Bilang aja kamu senang."
"Aku ga pernah bilang senang."
"Terus kenapa kamu ga tegur, kamu diam saja kalau aku ga salah ingat."
"Ra, aku cuma coba ramah karena pure kami teman lama. Lama ga ketemu. Aku udah bilang kalau aku udah nikah, udah punya anak." Yundhi menjeda.
"Dulu aku pernah paranoid dekat sama lawan jenis selain kamu, takut berinteraksi, tapi kamu yang yakinkan aku untuk berhenti, kamu bakal percaya, ga akan pergi lagi. Kalau sekarang sudah enggak, aku mesti gimana biar kamu percaya lagi?"
Kali ini keadaan berbalik, Yundhi sukses menghujani Tiara dengan rasa bersalah. Bulir-bulir bening itu tercipta lagi. Mata Tiara kembali basah. Tangan Tiara yang masih dalam genggamannya segera di tarik Yundhi.
"Udah ya, please jangan nangis. Aku minta maaf. Kalau kamu belum lega, kita bisa ke Sydney sekarang, kamu bisa tanya langsung sama Nana."
Tiara tidak mampu menjawab. Entah apa yang terjadi padanya. Pergolakan batin ini sedikit rancu. Dia cemburu, sakit hati, juga marah, tidak ingin Yundhi di dekatnya. Kata orang, kalau wanita yang cemburu, artinya akan terjadi oerang dunia ke tiga, apa harusnya begitu?
Sekarang Yundhi sudah menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi, jika dia tidak percaya pada suaminya, artinya dia menyalahi perkataannya dulu.
"Ga usah, aku ga senorak itu."
Tanpa di lihat Tiara, Yundhi tersenyum puas. Tanda-tanda kemenangannya semakin dekat.
"Aku senang kamu cemburu kayak gini, tapi jangan pake tidur pisah lagi kayak kemarin. Mending kita gontok-gontokan, daripada kita jauhan. Aku ngeri."
"Salah kamu."
"Iya, aku yang salah. Makanya aku minta maaf." Yundhi mendaratkan beberapa kecupan di puncak kepala sang istri. "Jadi, gimana rencana kita buat jadi parasitnya bang Vian?"
"Kalau kamu memang mau juga, kita bisa nginap lagi di sini."
"Kalau boleh milih, aku pengen kita pulang, aku pengen jamah kamu, tapi ga di rumah bang Vian-addduh, sakit Ra."