
"Kenapa kamu malah ngajak aku pulang ke sini?"
Tiara memandang lurus ke rumah yang penuh kenangannya dengan almarhum ayahnya. Di hari biasa, sepulangnya bekerja, ayahnya akan menyapu teras dan mengeluarkan burung -burung peliharaannya untuk di gantung di tempat yang memang sudah ayahnya rancang. Hingga matahari benar-benar terbenam, barulah burung-burung itu akan di masukkan lagi ke dalam rumah. Pada hari libur, bisanya Tiara dan ayahnya akan membersihkan rumah bersama.
"Aku belum siap, kita pergi saja!" rengek Tiara pada Yundhi, tapi laki-laki itu bergeming.
"Lantas kapan?" Yundhi berusaha bicara setenang mungkin, "kamu ga siap hari ini, terus akan bilang besok. Besoknya kamu ga siap, dan bilang lusa, begitu seterusnya."
Sudut mata Tiara sudah berair. Benar kata Yundhi, kata siap tidak akan pernah ada jika kita tidak benar-benar mau menghadapi masalah itu sendiri.
"Kehadiran tante Helma ga seburuk yang kamu pikirkan, hadapi sekarang atau tidak selamanya. Aku mau kamu berdamai dengan kenyataan yang terjadi sebelum kita menikah. Tante Helma dan Wahyu bukan orang-orang yang harus kamu hindari terus-terusan."
Tiara buru-buru menghapus air matanya yang terus menderas. Matanya masih setia mengamati rumah yang menjadi saksinya tumbuh sedari kecil. Hampir sama seperti dulu, rumah itu terlihat di rawat dengan baik, tanaman yang Tiara tanam juga terpelihara, malah tampak semakin subur. Sekarang ia merasakan Yundhi menggenggam tangannya, menyatukan jari-jemari mereka.
"Trust me, everything will gonna be okay, huh. Mau turun sekarang?"
Butuh beberapa detik hingga Tiara mengangguk setuju. Yundhi segera melepaskan tautannya dan keluar dari mobil, memutari dan membukakan pintu untuk Tiara. Mereka memasuki halaman rumah itu dengan bergandengan tangan. Yundhi ingin memastikan pada Tiara bahwa dia tidak sendiri. Ada dirinya di sana, yang selalu bisa Tiara andalkan.
Sesampainya di depan pintu, Yundhi lah yang berinisiatif mengetuk lebih dulu karena ia yakin Tiara akan melakukan tarik ulur dalam hal ini, dan di ketukan ke dua suara handle pintu terdengar di gerakkan dari dalam.
Tatapan teduh Helma menyambut kedatangan Yundhi dan Tiara. Beberapa waktu Helma menutup mulutnya memandang Tiara tak percaya. Yundhi menyalami Helma lebih dulu, dan Tiara mendapat pelukan hangat selamat datang dari wanita setengah baya itu.
"Ayo masuk, kenapa masih di luar!" ajak Helma, "Wahyu! Ada kak Yundhi," ujarnya setengah berteriak memanggil anak laki-lakinya.
Mungkin karena kaget dengan kedatangan Tiara yang tiba-tiba membuat Helma seperti orang kelimpungan. Beberapa kali ia duduk tapi kemudian berdiri, ia masuk dapur tapi keluar lagi, Yundhi hampir tertawa melihat calon mertuanya itu.
"Mau minum apa biar tante buatkan, tante juga punya kue yang baru matang, tadi porsinya tante bikin lebih dari pesanan, Yundhi temani Tiara dulu ya tante buatkan minum." Helma terdengar bicara dengan satu tarikan napas, setelahnya ia terlihat ngosngosan, "maaf ya tante belum sempat beberes, tapi kamar kamu selalu tante bersihin setiap hari," sambung Helma lagi sambil mengambili beberapa mainan Wahyu yang berserakan, ia kemudian meletakkannya di keranjang bergabung dengan mainan Wahyu yang lain. Helma kembali ke dapur, melakukan perkataannya, membuat minuman untuk mereka.
Tiara dan Yundhi saling bertatapan, "apa kita ngagetin tante Helma ya?"
"Kak Yundhiiiiiii!" suara anak kecil berteriak dari dalam kamar. Wahyu segera menabrakkan tubuhnya dengan kaki Yundhi. Tiara terperangah.
"Hai jagoan, udah pinter ya sekarang, udah bisa kan jagain mamanya gantiin kak Tiara?" Wahyu menggangguk di atas gendongan Yundhi. "Tos dulu dong!"
Interaksi dua laki-laki beda generasi itu membuat Tiara tersenyum miris. Malu pada dirinya sendiri yang bahkan tidak di lihat kehadirannya oleh adiknya sendiri. Wahyu tampak lebih akrab dengan Yundhi, entah apa yang di lakukan calon suaminya itu dengan Wahyu selama ia di Loca.
"Wahyu jangan nakal, ada kak Tiara, udah salim belum?" suara Helma keluar dari dapur, membawa nampan berisi minuman dan kue. Baru setelah Helma menyebut namanya Wahyu menoleh pada Tiara, Yundhi menurunkannya dari gendongan dan anak kecil itu mengulurkan tangannya. Tiara berjongkok menyamakan tinggi mereka. Wahyu pun mencium tangan kakaknya.
"Apa kabar Wahyu?" sapa Tiara. Anak itu masih menyandarkan badannya di kaki Yundhi dan memainkan tangan Yundhi tanpa henti.
"Kakak yang di foto sama papa Adib," Tiara menoleh pada Helma.
"Aa...itu, Wahyu sering ikut ke kamar kamu kalau saya bersihkan, jadi dia sering lihat foto kalian yang di pajang di dinding kamar," Helma menjelaskan, Tiara tersenyum.
"Iya, kakak yang di foto sama papa Adib," bibir Tiara terasa kelu ketika menyebut nama Ayahnya, "Kak Tiara kakaknya Wahyu, kita saudara." Sambil menyentuh pipi Wahyu, Tiara mencoba membuat hubungan dengan saudara tirinya.
"Seperti kak Yundhi?"
Suasana hening menyapa sesaat.
"Iya, seperti kak Yundhi, tapi kak Tiara yang paling dekat sama Wahyu. Kak Yundhi itu kakak jauh."
Yundhi tertawa kecil melihat Tiara yang mencoba mendapat perhatian Wahyu.
"Kenapa malah jongkok, ayo duduk dulu," sela Helma. Mereka akhirnya mengambil posisi masing-masing, tapi sepertinya Wahyu enggan berjauhan dari Yundhi.
"Kamu apain dia selama aku pergi, kenapa gelendotan terus?" tanya Tiara.
"Ada yang mau tahu rahasia kita nih, kak Tiara kepo ya Yu." Wahyu bermain pukulan tangan dengan Yundhi, membuat Yundhi berakting kesakitan sampai menjatuhkan diri. Lagi-lagi Tiara di buat gemas dengan tingkah keduanya.
"Yundhi beberapa kali ke sini untuk menjenguk Wahyu, kadang di ajak jalan, ga tahu ke mana, pulangnya bawa mainan, gimana ga senang sama nak Yundhi.l," cerita Helma singkat.
Bahkan yang seharusnya menjadi tugasku, dia menggantikannya dengan baik. Tiara berjanji pada dirinya untuk menjalin hubungan baik dengan Wahyu layaknya saudara. Anak laki-laki itu sangan lucu dan menggemaskan dan Tiara paling suka dengan matanya. Wahyu mewarisi mata ayah mereka.
Merasa suasana sudan mencair, Yundhi mulai menjalankan misinya. Ia tahu pasti, Tiara dan Helma memerlukan waktu berdua saja untuk bicara. Komunikasi adalah cara terbaik untuk memperbaiki sebuah hubungan. Itulah yang ingin Yundhi lakukan saat ini. Membuat Tiara menerima kehadiran Helma.
"Udah."
"Udah gemuk ga ya sekarang? Kak Yundhi pengen lihat."
Tanpa aba-aba Wahyu menarik tangan Yundhi menuju halaman belakang tempat kandang kelincinya di letakkan. Merekapun pergi, meninggalkan Tiara dan Helma.
***
Sementara Yundhi dan Wahyu sibuk memberi makan kelinci, Helma dan Tiara masih saling diam. Mereka sama-sama sibuk mencari bahan obrolan, dan masih ragu untuk memulai duluan.
"Bagaimana hubunganmu dengan nak Yundhi?" akhirnya Helma yang bersuara lebih dulu.
"Baik tante, kami berencana menikah dalam waktu dekat."
"Oh ya? Yundhi belum pernah cerita." Wajah Helma terlihat kaget, namun kemudian dia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang menjadi prioritas bagi Tiara, "maksud tante, selama nak Yundhi berkunjung dia tidak pernah menyinggung tentang hubungan kalian, jadi tante kira..."
"Ga apa-apa, suka atau tidak tante sudah menjadi bagian dari keluarga saya. Tante juga mungkin akan menjadi perwakilan dari keluarga saya nantinya, selain dari keluarga besar almarhum ayah dan ibu, apa tante bersedia?"
Mendengar permintaan Tiara, Helma terlihat syok. Di masih tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kamu mau tante juga turut andil dalam pernikahanmu nanti, benarkah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Tiara mengangguk dan tangannya dengn cepat di raih oleh Helma.
"Tentu saja, tante bersedia, dengan senang hati, kamu bisa minta bantuan tante, apa saja, jangan ragu-ragu beri tahu tante kalau kamu butuh bantuan!"
Lagi-lagi Helma berbicara tanpa jeda, menunjukkan rasa antusiasnya.
Tiara tidak menyangka reaksi Helma yang begitu antusias. Ia sendiri kehilangan kata-kata untuk mengimbangi reaksi ibu sambungnya itu.
"Terima kasih." Hanya kata itu yang terlintas di benak Tiara.
Helma malah menggeleng, "harusnya tante yang berterima kasih," kali ini Helma benar-benar menangis. "Kamu mau menerima tante sebagai keluarga itu menjadi hal yang luar biasa buat tante. Boleh tante peluk kamu sekali lagi?"
Tiara terperangah, "Tentu sa___" Helma lebih dulu memeluk Tiara sebelum Tiara menyelesaikan kalimatnya. Perasaan hangat membanjiri hati Tiara. Kehadiran Helma tidaklah seburuk yang ia pikirkan. Wanita itu memiliki hati yang hangat, sama seperti almarhumah ibunya. Mungkin karena itu ayahnya mau menikahi Helma.
Satu hal yang masih Tiara sesali dan mengganjal di hatinya, bibirnya masih sangat takut memanggil Helma dengan sebutan yang seharusnya. Tapi menyadari keakraban yang mulai terjalin itu sudah kemajuan yang pesat baik untuk Tiara maupun Helma.
***
"Maaf ya, tante belum ke pasar. Di kulkas cuma ada bahan masakan ini." Helma menghidangkan sayur dan lauk pauk seadanya di atas meja. Perkedel jagung, tempe bacem, sambal teri dan sayur daun cabai itu menari-nari menguarkan aroma lezat ke penjuru ruangan. Meski terlihat sederhana, aroma masakan itu sangat menggugah selera mereka.
"Eh, tapi Yundhi, Tiara, kalian bisa tidak ya makan sayur daun cabainya. Kalau tidak, biar tante ceplokin telur deh, atau omelet. Tante punya stok daun bawang prei kayaknya di kulkas."
"Bisa kok tan__" Tiara dan Yundhi menjwab berasamaan, mereka kemudian bertukar pandang. Helma juga melihat ke arah mereka.
Tak berapa lama terdengar suara tawa Yundhi dan Tiara, membuat Helma terheran-heran sendiri. Wahyu hanya mengamati sambil memainkan patung dinosaurusnya.
"Ayah pernah bikin sayur ini dulu, kebetulan Yundhi waktu itu ikut makan di sini, jadi kita udah pernah nyoba," jelas Tiara. Helma manggut-manggut mengerti. "Sekarang saya tahu dari mana ayah dapat resep itu."
Wajah Helma berubah sendu. Tiara dengan cepat bisa melihat perubahan mimik wajah Helma. Tapi wanita hangat itu juga dengan cepat bisa menguasai dirinya.
"Ayo kita mulai makannya, nanti keburu dingin. Wahyu sayang, mainannya di simpan dulu ya, kita makan dulu nak!" Helma mengambil mainan Wahyu dan menyimpannya.
"Wahyu udah bisa baca do'a sebelum makan kan?" tanya Yundhi.
Wahyu mengangguk.
"Wahyu yang pimpin do'a ya sebelum kita mulai makan, oke!"
Makan malam itu berlangsung hikmat dengan suasana hangat yang sangat kental. Tiara sangat bersyukur dengan apa yang terjadi. Kehadiran orang baru dalam hidupnya bukan hal yang harus ia rutuki. Mungkin ia pernah lupa bahwa selalu ada hikmah di balik sebuah peristiwa.