When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Kenyataan Lain



Butuh waktu tiga puluh menit hingga akhirnya Tiara kembali tenang menjalani sisa perjalanan mereka menuju Loca. Vian memilih diam dan membiarkan Tiara tenggelam dengan pikirannya. Tak ada satu pertanyaan pun yang keluar dari bibirnya tentang alasan Tiara menangis selama itu. Pilot yang mengantar merekapun sempat panik, tapi Vian meyakinkannya bahwa Tiara baik-baik saja dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.


Sampai mereka tiba di pulau Loca. Pulau yang sangat indah dengan pemandangan alam yang memukau. Tapi karena masih larut dalam kesedihan, Tiara belum menyadari bahwa dia telah menginjakkan kaki di salah satu surga dunia.


Vian dan Tiara lebih dulu menuju balai kota. Vian harus berhadapan dengan pengurus daerah setempat menjelaskan tentang kedatangan Tiara. Secara tersirat Vian mengamanatkan Tiara pada semua pengurus daerah yang ada agar mereka mengawasi dan menjaga Tiara dengan baik selama ia berada di sana.Beberapa petuah di berikan pada pengurus daerah itu tanpa Tiara ketahui.


Selama di Loca, Tiara akan tinggal di perumahan milik pemerintah setempat. Fasilitas yang ada di sana tidak semewah fasilitas di daerah pusat, tapi tidak buruk juga. Dan yang penting, bukan fasilitas wah yang di butuhkan Tiara, di butuh ketenangan untuk menata hatinya kembali yang porak-poranda.


Beberapa dokumen harus Tiara tanda tangani, sebagai arsip kepentingan kepengurusan daerah itu. Juga sebagai bukti eksistensi keberadaan Tiara agar tidak menimbulkan kegegeran pada penduduk di sana. Hal itu juga akan memudahkan Tiara menjalankan penelitiannya. Bahwa keberadaannya di sana atas dasar utusan pemerintah.


Bicara tentang penelitian. Penelitian yang akan di lakukabn Tiara dan timnya yakni mengenai kultur kehidupan penduduk pulau Loca yang belum terdokumentasi di pemerintahan pusat. Berbagai lini kehidupan suku yang ada di sana akan di teliti. Di dasarkan pada ilmu Syntax yang pernah di pelajari Tiara di bangku kuliah. Termasuk di antaranya tentang bahasa daerah, pekerjaan yang banyak di lakukan penduduk, tingkah perilaku ungkapan rasa suka dan tidak suka, nilai moral, kesopanan, tradisi, budaya dan segala lapis kehidupan di daerah itu. Bahkan keadaan alam pulau Loca, tak akan lepas dari lingkup penelitian.


Butuh waktu yang tidak sebentar dan Tiara tidak seorang diri menjalani misi itu. Ada tim yang akan membantunya. Tiara tentu akan mendalami bidang yang sesuai jurusannya yaitu tentang kebahasaan. Sektor lain akan di tangani peniliti lain yang juga mumpuni. Segala sesuatu tentang Loca akan mereka dokumentasikan yang hasilnya akan menjadi dokumen penting negara yang akan di bukukan.


"Bang, di sini ada wifi ga?"


Vian menjitak pelan dahi Tiara, menanggapi pertanyaan nyeleneh adiknya itu.


"Ada, tenang aja!"


"Kalau ada apa-apa nanti Tiara hubungi abang pakai email, Tiara ga bawa handphone."


"WHAT?! Apa maksud kamu ga bawa ponsel?"


Nyatanya ponsel menjadi benda wajib yang harus dimiliki manusia di abad ini dan Tiara tidak membawanya.


"Rusak bang, udahlah ga penting." dalam hatinya Tiara menyesal, bagaimana jika Yundhi menghubunginya. Sial. Dirinya bahkan tidak bisa lupa begitu saja akan sosok pilot itu.


Telunjuk Vian naik turun di depan wajah Tiara tanda kesal.


"Kamu, ya Tuhan Tiara gimana bisa?"


"Nanti gue email bang, jangan tegang gitu!" ujar Tiara santai, tapi dalam hati dia juga ragu bisa bertahan tanpa smartphone.


Kali ini tidak saja khawatir, Vian mulai takut meninggalkan Tiara. Gadis itu sekarang benar-benar sebatang kara, di tempat yang asing pula. Bagaimana jika terjadi sesuatu, bagaimana kalau Tiara membutuhkan sesuatu dan tidak bisa mendapatkannya di pulau itu. Pikiran mengerikan Vian mulai muncul.


"Udah mau sore bang, mending balik gih!"


"Kamu, Ra, bisa-bisanya ga mikirin diri sendiri."


"Kalau gue ga mikirin diri sendiri, abang bakal lihat gue hancur kalau sekarang gue ga di sini." Tiara memberi jeda, "percaya sama gue bang, gue bakal baik-baik saja dan akan sembuh di tempat ini."


Vian mengangguk mencoba memberi kepercayaannya pada Tiara.


"Pokoknya kalau ada apa-apa hubungi abang!"


"Beres, bang pinjam ponsel abang bentar!"


***


Yundhi seperti menemui kebuntuan. Dia sudah mencoba mencari ke beberapa tempat yang biasa Tiara kunjungi dan tentu mendapat hasil yang sia-sia. Dia juga pergi ke sekolah tempat Tiara mengajar, belum saja masuk ke gedung sekolah satpam lebih dulu memberitahunya bahwa Tiara tidak masuk. Yang lebih membuatnya kesal, tak ada yang bisa di tanyai. Kedua sahabat Tiara, Jenny dan Mimi tidak ada di tempat karena mengikuti pelatihan guru di luar kota.


Hari sudah mulai gelap dan Yundhi tak mendapat sedikitpun informasi mengenai keberadaan Tiara. Tubuhnya mulai lelah, bahkan ia melewati makan siang karena sangat fokus mencari Tiara.


Yundhi tiba di rumah dengan penampilan kacau. Membuat penghuni rumah mengukir wajah keheranan, karena biasanya Yundhi adalah orang yang teliti masalah penampilan. Meski begitu, Citra tetap saja tak mempedulikan Yundhi. Tentu saja karena ia kesal atas sikap Yundhi pada Tiara. Biarpun Yundhi tidak sengaja melakukannya, tetap saja Yundhi tidak seharusnya pergi berduaan dengan wanita lain.


Hans, Citra, dan oma Ranti duduk di ruang keluarga membahas masalah Tiara. Tapi begitu Yundhi datang, mereka secara serentak berhenti berbicara. Citra malahan memilih berdiri, menatap ke arah Yundhi dengan tatapan marah dan tidak suka, kemudian meninggalkan ruangan begitu saja.


Yundhi tentu merasa risih. Ia merasa tidak melakukan kesalahan pada ibunya. Ia sadar melakukan kesalahan dengan mengabaikan Tiara, tapi bukankah orang yang lebih berhak marah adalah Tiara, kenapa malah mamanya yang berwajah murka.


Yundhi menghempaskan badannya di sofa. Ikut bergabung dengan Hans dan oma Ranti.


"Bagaimana, sudah bertemu Tiara?" tanya Hans yang memilih bersuara paling awal.


Yundhi memijit pelipisnya sembari menggelengkan kepala. Ia benar-benar putus asa.


"Tiara menghilang, Pa," ungkap Yundhi dengan suara berat. Ia seperti akan menangis.


"Apa yang menimpa dia memang sangat berat, mungkin dia butuh waktu menenangkan diri sampai bisa menerima kenyataan," ujar Hans lagi.


"Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini, kenapa dia ga hubungi Yundhi."


Hans dan Ranti saling bertatapan. Ternyata Yundhi belum mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi pada Tiara.


Yundhi tertegun, mencoba memahami ucapan omanya. Melewati beberapa hal? Apa lagi yang tidak ia ketahui tentang Tiara.


"Pernikahan kamu ___"


"Yundhi tetap akan menikah dengan Tiara. Yundhi pastikan akan bawa Tiara ke rumah ini sebagai istri Yundhi," ucap Yundhi tegas dan kemudian berdiri, pergi meninggalkan Hans dan Ranti.


Kali ini tujuannya adalah Citra, ia harus bicara dengan mamanya. Jika mamanya menolak, ah, Yundhi tidak menerima penolakan, bagaimanapun caranya mamanya harus memberitahunya apa yang tidak ia ketahui tentang Tiara.


***


Tiara memilih mengurung diri di kamar. Dia menunda rencananya berinteraksi dengan orang-orang di sekitar perumahan yang ia tempati saat ini. Badannya juga masih terasa lelah.


Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Secara beruntun ingatannya memutar kembali kejadian-kejadian yang di alaminya baru-baru ini. Wajah ayahnya, Helma, Wahyu dan Yundhi silih berganti berputar dalam ingatannya. Tiara merasa sangat tersiksa, kepalanya berdenyut hebat, dan lagi-lagi matanya berair.


Isakan kecilnya terdengar di dalam kamar itu. Tiara tidur meringkuk memeluk kakinya. Sesekali bibirnya menggumamkan nama Yundhi. Tiara tidak bisa mengelak, dia masih mencintai pilot itu meski Yundhi menorehkan luka di hatinya.


***


"Kamu mau mama mulai dari mana?" Citra berbicara sambil memunggungi Yundhi. Ia bahkan enggan melihat anak kandungnya sendiri.


"Yundhi pengen mama ceritain semuanya. Terakhir ketemu, Tiara pergi sama mama kan setelah Yundhi berangkat."


"Ah, kamu benar. Itu hari terburuk, hari terburuk Tiara yang kamu mulai."


"Maksud mama?"


"Harusnya hari itu kami senang-senang. Mama membayangkan bahagianya Tiara belanja sama mama beli beberapa kebutuhan buat pernikahan kalian," kenang Citra.


"Tapi...tapi kamu mengacaukannya."


Yundhi tersentak, tidak memahami maksud ucapan Citra.


"Kamu kaget kan, sama, mama juga kaget, jangan di tanya Tiara, dia yang paling menderita sekarang."


"Yundhi ga ngerti."


"Kamu jalan sama gadis lain, di depan kedai gellato, ketawa, gandengan tangan, kamu lupa?" Citra bahkan harus mengepalkan tangan saat menceritakan kejadian itu pada Yundhi. Ia masih bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang Tiara alami.


Yundhi merasa kakinya lemas, tidak menyangka bahwa mamanya dan Tiara melihatnya dengan Emmy.


"Dia menutupi luka dan perasaannya sangat sempurna Yundhi. Dia masih bisa tertawa di depan mama. Dia cegah mama hampiri kamu karena khawatir kamu akan kehilangan fokus saat bertugas." Cintra menjeda karena air matanya yang mulai berlinang.


"Di waktu yang hampir bersamaan Tiara juga harus menghadapi kepergian ayahnya. Mama sengaja nelpon dia karena khawatir tapi temannya yang angkat dan kasih tahu musibah yang menimpa Tiara, katanya Tiara ga bisa berhenti histeris, jadi mama nyusul dia ke rumah sakit. Dia selalu manggil nama kamu meski dalam keadaan ga sadar. Mama udah coba nelpon kamu, berharap Tiara bisa dengar suara kamu supaya bisa lebih tenang."


Sekujur tubuh Yundhi tarasa bergetar mendengar cerita mamanya. Dia tidak menyangka dengan kenyataan lain yang menimpa Tiara.


"Kamu ga bisa di hubungi, mama ga tahu kamu ngapain lagi sama gadis lain itu. Mama lihat kamu bahagia sama dia."


"Ma ___" Yundhi ingin membela diri dengan menjelaskan hubungannya dengn Emmy, namun Citra tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari anaknya itu.


"Itu belum selesai. Ujian Tiara datang lagi dengan kemunculan tante Helma dan Wahyu. Mama rasa untuk masalah ini kamu pasti udah tahu. Mama ga nyangka Tiara bisa sekuat itu, dia bisa nerima tante Helma."


"Anak itu, Tiara, dia benar-benar sendirian sekarang Yundhi, kenapa kamu setega itu sama Tiara."


"Ma, Yundhi sama Emmy cuma teman."


"Itu menurut kamu, tapi gimana sama Tiara," nada bicara Citra meninggi. Kali ini dia akan meluapkan segala kekesalannya meski Yundhi adalah anaknya.


"Apa kamu pernah bilang ke dia kalau kamu punya teman bernama Emmy? Apa kamu sudah cerita tentang Emmy sama Tiara, hah? Apa kamu kira tingkahmu sama temanmu sesuatu yang wajar di mata Tiara?"


"Mama, mama ga sudi kamu menikahi perempuan lain. Apapun yang terjadi kamu harus bawa Tiara ke hadapan mama, NGERTI KAMU?!" Citra meninggalkan Yundhi di kamarnya, rasanya ia telah meluapkan segala kekesalannya pada anaknya sendiri dan merasa lega. Ia merasa telah mewakili isi hati Tiara.


Tubuh Yundhi luruh ke lantai. Kali ini penyesalannya semakin dalam. Benar kata Citra. Dia belum menceritakan tentang Emmy pada Tiara, tentang pertemanan mereka. Tiara hanya tahu bahwa Emmy adalah mantan kekasihnya. Tiara pasti menyangka bahwa ia masih memiliki perasaan pada Emmy. Tangannya yang terkepal beberapa kali menghantam lantai tapi Yundhi seakan tak merasakan sakit. Hatinya lebih sakit menyadari kebodohannya.


Kamu dimana sayang?


Please, jangan sembunyi terlalu lama


Aku akan bawa kamu ke sini


Ke tempat yang seharusnya kamu pijaki