
Iringan mobil mewah datang mengelilingi gudang tua itu. Yaris dan Rey kembali siaga. Terkejut hebat mengira bahwa musuh mereka makin bertambah jumlahnya.
"Itu Om Hans." Yaris berteriak kaget.
"What?"
"Tunggu, semua...."
Reyhan berdiri dari selojorannya, kakinya lemas setelah melumpuhkan puluhan orang, kegiatan yang sudah lama tidak ia lakukan.
"Jonathan, Frans, Erik, wow," tak ada yang bisa menyembunyikam ketakjubannya, terutama Reyhan, " oke, semua trah Prasetya datang, dari mana mereka tahu kita di sini?"
"Sukur deh, paling ga kita ga harus repot-repot ngurusin mayat-mayat itu." ucap Yaris penuh kelegaan.
Hans melihat ke arah Rey dan Yaris.
"Get down!" teriaknya pada dua sahabat anaknya.
"Kita ketahuan." Yaris tahu persis mereka akan mendengar kemarahan Hans saat turun nanti.
***
"Coward as usual," secara terang-terangan Yundhi mengejek Lingga yang hanya berani di belakang.
"Oh ya, lihat siapa yang pengecut?"
Tangan Lingga mengarah pada leher Tiara, lengkap dengan belatinya, namun,
shoot
Satu tembakan Yundhi mengenai belati itu hingga terlepas dari tangan Lingga.
Tiara terkesiap, tubuhnya bergetar hebat. Baru kali ini di depan matanya, melihat senjata api di gunakan, dan itu di lakukan oleh suaminya.
"Stay away, urusan lo sama gue, lo sentuh dia, mata lo gue butain."
"Uuuuwuh, aku takut." Lingga dengan intonasi menyebalkan, niat mengejeknya sangat kentara di mata Yundhi.
"Tujuh tahun lo harus repot-repot sewa banyak pengawal, gue minta maaf soal hal itu, lo masih kesepian ternyata, sampai sekarang ga nu temen yang satia?" balas Yundhi sengit.
Mata Lingga berubah nyalang. Langkahnya menjauhi Tiara. Yundhi berhasil menyentil egonya.
"Hand with hand," tantang Lingga.
"Serius? Oke, gue lebih senang kita bertarung dengan tangan kosong."
Yundhi melemparkan senjatanya, mendekati Lingga yang sudah memasang kuda-kuda.
Tiara yang sudah lelah kembali harus melihat adegan baku hantam suaminya. Mulutnya sudah bebas dari lakban tapi satu katapun tak bisa ia ucapkan. Matanya tak berhenti berair. Rasa cemas, takut, khawatir, senang, menjadi satu. Terlalu banyak emosi yang ia rasakan membuat dadanya sesak.
Yundhi lebih dulu membiarkan Lingga memukulnya. Hantaman keras mantan temannya itu mengenai beberapa anggota tubuhnya. Ya. Yundhi sengaja. Sengaja membiarkan Lingga meluapkan amarahnya. Dia tidak keberatan. Anggap saja sebagai ucapan permintaan maaf Yundhi atas perlakuannya tujuh tahun lalu.
Aksi pukul memukul itu terus terjadi, hingga Yundhi tersungkur tepat di bawah kaki Tiara. Lemah dan berdarah. Tiara melihat Yundhi yang mengeluarkan darah dari sudut bibir dan lebam di pipi. Pandangan mereka bertemu saat Yundhi menegakkan badan.
"Maaf, kamu harus nunggu lama, kamu ga apa-apa?" Tiara mengheleng cepat, sempat-sempatnya Yundhi menanyakan keadaannya saat tubuhnya sendiri sudah babak belur.
Mata Yundhi memindai tubuh Tiara, hingga pandangannya melihat tangan Tiara yang berdarah.
Lingga membuat kesalahan besar, menyulut kembali kemarahan Yundhi dengan melukai istrinya. Darah amarah Yundhi berdesir kencang melihat tangan Tiara yang terluka dan masih basah. Mata pilot itu berubah merah membara.
"Lingga, it's my turn."
Entah kapan Yundhi melakukannya, tiba-tiba suara pukulan kembali terdengar, Tiara makin terkesiap, takut di waktu yang sama. Yundhi hampir tak terlihat di ruangan itu. Suara hantaman dan erangan kesakitan silih berganti mengudara. Suasana mencekam.
Perkelahian sengit sedang terjadi di salah satu sudut.
Siapa yang memukul dan di pukul tak bisa di lihat Tiara. Yundhi dan Lingga menjauh di salah satu sudut yang tidak terkena cahaya. Gelapnya ruangan tidak mendukung rasa cemas Tiara terhadap sang suami.
***
"Mana Yundhi?" telak Hans pada Yaris dan Rey ketika dua sahabat anaknya itu tiba di hadapannya.
"Di dalam Om."
"KALIAN!" Telunjuk Hans berada tepat di depan batang hidung Yaris.
"Maaf Om, ini atas perintah Yundhi, kita cuma nolong, suer." Rey bicara dengan wajah tertunduk.
Gudang itu punya beberapa ruang, Yundhi pastinya ada di salah satu ruangan. Reyhan melihat pada jam tangan yang melingkar.
"Ini sudah dua puluh menit Yundhi di dalam." suara Reyhan terdengar khawatir.
"Tim Om Erik dan Om Jo sudah masuk, Yundhi pasti sudah di tolong."
"REY! REY! Medis, gue butuh lo, cepat masuk!" suara Yundhi berteriak kencang di earphone membuat telinga Yaris dan Rey pengang sekaligus membuat mereka saling lihat dengan raut cemas.
Rey menyambar tasnya yang berisi perlengkapan medis. Meninggalkna Hans yang masih kesal akan ulah mereka bertiga. Dia merangsek masuk ke dalam gudang melewati pengawal Prasetya yang hilir mudik mengangkat mayat. Yaris ikut berlari di belakang. Siapa yang terluka mereka belum tahu. Yang pasti Yundhi ketakutan, jelas dari suara sahabat mereka itu, sesuatu yang serius sedang terjadi.
Sebuah pintu besar yang terbuka menyambut Rey.
"Di sini!" teriak Yundhi dari dalam.
Rey berlari masuk. Ruangan itu sedikit terang dari sebelumnya karena pintu besar yang terbuka.
Tiara tergeletak tak sadarkan diri di pangkuan Yundhi.
"Buka jaket lo, alasi kepalanya, kepala dan badan harus lurus, biar gue periksa."
Dengan tubuh yang juga bergetar Yundhi melakukan apa yang di perintahkan Rey. Raut pucat Yundhi membuat Yaris yang melihat mereka tertular rasa cemas yang dahsyat. Tiara terlihat tak berdaya, wajah dan bibirnya tak mberwarna. Wanita itu sepertinya baru melewati derita yang hebat.
Rey mengeluarkan beberapa peralatannya.
"Rey!" suara Yundhi berbisik, "Tiara lagi hamil."
"What the..." secepat kilat Rey melakukan pertolongan, memeriksa denyut nadi dan jantung Tiara. Wanita hamil yang tidak sadarkan diri cukup berbahaya, di tambah Tiara baru melewati masa sulit.
"Dia gagal napas, gue harus CPR," Rey mengambil posisi, "gue tahu lo bakal ga ngijinin gue nyentuh istri lo, begitu gue bilang 'sekarang' lo kasih napas lo ke mulut dia, ngerti!" jelas Rey cepat pada Yundhi.
Yundhi mengambil posisi. Tangan Tiara yang dingin dan sempat di sentuh Rey membuat dokter itu sedikit ketakutan.
"One two three, know!"
"One two three, know!"
"One two three, know!"
Yundhi seperti cekatan menjalankan instruksi Rey, dalam pendidikannya juga pernah di ajarkan bagaimana memberi napas bantuan pada orang yang mengalami seperti yang di alami sang istri. Rey menepuk nepuk pipi Tiara.
"One more,"
"One two three..."
"One two three..."
"One two three..."
Rey mulai lemas, Tiara belum merespon.
"TIARA ED MAU DI IMUNISASI, DIA NANGIS NYARI LO."
Mata Yundhi menatap bulat pada Rey yang berteriak sangat kencang di telinga istrinya.
Satu detik
Dua detik
"Tu kan apa gue bilang, dia sadar."
Rey merentangkan tubuh satu meter dari posisi Yundhi, mengembalikan tenaga tubuhnya yang hilang karena mencemaskan keadaan Tiara.
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana leganya Yundhi melihat Tiara yang mulai membuka mata.
Deru helikopter terdengar mendekat dari atas gedung. Kembali, Prasetya dengan segala kekuatannya menunjukkan diri. Lingga sudah di amankan, tidak akan di serahkan ke polisi sebelum Hans membuat perhitungan.
**Guys, ga dukung ga vote ga apa-apa, tapi aku pengen baca komen kalian, plis.
Boleh absen asal kota dong. sapa tau bs silaturrahmi abis korona.
@amin.lia see u on instagram**