
"Dua bulan lagi kelulusanku, aku akan lamar kamu." ucap Yundhi di tengah makan malam terakhirnya dengan Emmy kala itu. Setelah beberapa hari menghabiskan liburan bersama Yundhi akan kembali melanjutkan sekolah pilotnya, Emmy juga akan segera mengakiri masa libur kuliahnya.
Emmy tidak menjawab, iya atau tidak. Dia bisa saja egois menjawab 'baiklah', tapi teringat kembali hasil pemeriksaan kesehatannya yang ia terima di hari sebelumnya. Melihat raut antusias Yundhi dia tidak tega menolak secara langsung ajakan itu.
"Makannya pelan-pelan, sampai belepotan gitu, kayak anak kecil." Emmy mengelap sudut bibir Yundhi yang bersih tanpa noda makanan, itu hanya upayanya menghindari pembicaraan pernikahan*.
Seorang Suster jaga datang membuyarkan lamunan Emmy, memeriksa monitor yang tersambung dengan tubuh lemah Emmy, memeriksa tekanan darahnya, mengecek selang infus yang menggantung dan berbagai prosedur pemeriksaan lain yang perlu diawasi sangat intens.
"Miss Emmy, bagaimana perasaannya?"
"Seperti biasa sus."
"Perkembangannya bagus, semoga miss Emmy bisa pulih, miss Emmy yang kuat ya, saya yakin miss Emmy bisa mengalahkan penyakit ini." suster itu menyemangati. "Satu jam lagi, oke." imbuhnya.
Emmy, mengangguk lemah. Di ruangan itu ia kembali sendiri setelah suster yang memeriksanya pamit undur diri.
Lagi, kenangan indahnya bersama Yundhi, terlintas, hal yang selalu terjadi saat dia menjalani kemoterapinya, seolah kenangan itu adalah bagian dari obat penyembuhnya.
Andai aku punya kesempatan lagi, sekali saja menghabiskan waktu dengannya. Emmy menatap nanar layar ponselnya, Yundhi dengan seragam pilotnya terlihat gagah, dan Emmy tidak pernah bosan menatap foto itu.
***
Tiara menatap ke langit-langit rumahnya. Memutar kembali semua kejadian yang dialaminya dengan Yundhi. Laki-laki itu selalu saja berhasil meluluhkannya, membuatnya kasmaran, terpesona dan besar kepala. Perlakuan istimewa Yundhi mengubur pikiran negatif Tiara tentang laki-laki itu, rasa ragunya juga pupus ketika Yundhi berbicara sangat serius tentang rencana pernikahan mereka. Di tambah lagi tante Citra sudah menagih agar mereka mencicil persiapan pernikahan mereka karena wanita itu tahu Yundhi dan Tiara sama-sama sibuk.
Suara penyanyi wanita idola Tiara asal Jepang, BoA, menemaninya memutar ingatan Tiara awal pertemuannya dengan Yundhi, makan bersama pertama mereka, kencan pertama, pertengkaran yang sering terjadi tapi berbaikan di waktu yang sama, membuat Tiara senyum sendiri. Beberapa ingatan buruk juga kembali terlintas, kemunculan Ivan, kedatangan Emmy, sedikit merubah suasana hati Tiara. Lancarkah nanti pernikahannya jika orang dari masa lalu mereka kembali.
Ah, ngomong-ngomong masalah Ivan, Tiara berencana akan menemuinya tapi lupa meminta pendapat Yundhi. Sebenarnya Tiara bisa saja tidak meminta pendapat Yundhi, toh mereka belum terikat pernikahan, Tiara hanya ingin meminimalisir kesalah pahaman yang bisa saja terjadi jika Yundhi mengetahui dirinya bertemu Ivan di belakang.
Suara ketukan pintu memutus pikiran menerawang Tiara, "Ra, udah tidur? Makan dulu ni!" suara Adib terdengar dari luar, membuat Tiara bangkit dari tempat Tidur menuju pintu kamarnya. Kebetulan ia juga ingin membicarakan rencana pernikahannya dengan sang ayah, tepatnya keluarga Yundhi ingin memastikan kapan pertemuan keluarga bisa di laksankan.
"Ayah masak? Tiara udah siapin lauk juga kan di dapur." ujar Tiara melihat sayur dan lauk yang masih mengeluarkan asap mengepul.
"Lagi pengen, lagian masakan kamu dingin, kurang garem, pertanda anak gadis pengen dinikahin." jawab Adib penuh sindiran. Seketika wajah Tiara berubah merah tapi tetap mengerucutkan bibirnya kesal.
Tiara mengakui ayahnya lebih jago memasak daripada dirinya dan hasilnya pun selalu enak di lidah Tiara. Sejak ibunya meninggal, ayah Tiara mengambil semua tugas rumah termasuk urusan dapur. Karena itu Tiara kadang tidak merasa ibunya telah tiada kare peran ganda sang ayah.
Mereka kini sudah duduk di tempatnya masing-masing, Tiara mengambil piring ayahnya dan mulai menyendok nasi.
"Itu sayur apa yah? Tiara ga pernah liat."
"Ayah juga baru coba, itu daun cabai rawit."
"What?" Tiara meletakkan piring berisi nasi di depan ayahnya dan memeriksa dengan seksama sayur bening yang ada di depannya dengan sendok sayur. Mata Tiara mengernyit melihat bongkahan cabai rawit hijau juga ikut berkumpul di sana.
"Heh, ga sopan, ga bakal pedes kayak rasa cabainya, rasanya sama seperti sayur bening yang lain semisal bayam." ujar Adib seolah membaca pikiran Tiara.
"Bukan gitu, Tiara mah biasa makan pedes, kepikiran ayah aja, kan ga bisa pedes, kirain rasanya bakal sama kayak buahnya."
"Yang jelas ini enak, ayo makan dulu!"
Tiara menikmati makanan yang ada di hadapannya, benar kata sang ayah sayur daun cabai itu rasanya seperti daun bayam, tidak ada rasa pedas sama sekali, kecuali cabai rawit yang masih hijau yang sengaja ayahnya masukkan di sana ikut termakan.
"Keluarganya Yundhi nanya yah, kapan mereka bisa datang untuk pertemuan keluarga?" Tiara membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka menikmati makan.
"Bilang saja minggu depan, ayah mau hubungi saudara ibumu dan saudara ayah yang jauh dulu. Pertemuannya ini ga langsung lamaran kan?"
Tiara mengangguk pelan.
"Ayah boleh nanya?"
"Nanya aja yah."
"Kamu yakin sama Yundhi?"
Tiara terdiam, menyerapi pertanyaan ayah, mencari jawaban menelisik hatinya, benarkah ia yakin akan menghabiskan sisa hidupnya dengan pria itu.
"Kenapa ayah nanya gitu?"
"Ayah mau memastikan kalau ayah tidak salah merestui kamu sama Yundhi, kamu sudah yakin dengan pilihan kamu?"
"Tiara yakin pa," menjeda beberapa saat, "Tiara yakin Yundhi adalah laki-laki yang tepat buat Tiara, jodoh Tiara, ayah jangan khawatir lagi, Tiara yakin Yundhi akan bikin Tiara bahagia." suaranya sedikit bergetar, tanpa ia minta setitik cairan kristal lolos di sudut mata Tiara.
"Ayah, nanti gimana, ayah ikut Tiara ya, Tiara ga mau ayah sendirian." tidak lagi setetes, air mata Tiara kini tumpah sepenuhnya, mengingat ia pasti akan tinggal bersama Yundhi setelah ia menikah dan ayahnya pasti sendirian di rumah itu.
Suasana makan itupun berubah haru, seolah-olah perpisahan antara anak dan ayah itu akan terjadi esok hari, Adib juga yak kuasa menahan perasaannya, bayang-bayang Tiara akan meninggalkannya terpampang jelas di hadapannya kini.
"Kamu jangan khawatir, ayah udah biasa sendiri, dari dulu, setelah ibu kamu wafat. Lagian teman ayah banyak, jadi bisa sering-sering pergi mancing sama mereka, jangan khawatirin ayah, sudah sudah jangan nangis lagi!"
Tiara beranjak dari kursinya dan menghamburkan diri memeluk Adib, memeluk cinta pertamanya yang akn segera ia tinggalkan, entah sudah berapa lama terakhir kali ia memeluk laki-laki paruh baya itu.
"Tiara minta maaf ya yah, Tiara sering bikin ayah marah, sering bikin ayah khawatir, suka keras kepala, suka ngelawan ayah, maafin Tiara belum bisa jadi anak baik buat ayah, belum bisa balas jasa ayah."
"Ssst, kamu ga perlu balas apapun, itu sudah kewajiban ayah, jangan membebani diri kamu, cukup jadi istri yang baik buat suami kamu, hormati keluarga suami kamu, itu sudah cukup buat ayah." ujar Adib sambil menepuk tangan Tiara yang belum juga mau melepas pelukannya.
Suara deheman yang tiba-tiba terdengar di ruangan itu membuyarkan suasana haru yang sedang berlangsung. Tiara menerka-nerka milik suara itu sambil tetap memeluk sang ayah. Yang jelas itu bukan suara ayah.
"Aku boleh ga di peluk juga kayak gitu...ayah."
Tiara melepas pelukannya, menoleh ke sumber suara.
"Kamu, ngapain kesini, ganggu." ujar Tiara dengan mata basah dan sesenggukan.
"Idiiih cengeng." Yundhi ikut bergabung dengan Tiara dan Adib di meja makan.
Tiarapun kembali duduk di tempat semula sambil sibuk menghapus air matanya yang masih saja keluar.
"Sini-sini aku bantuin, cup cup cup dedek jangan nangis lagi, malu, kan debas dede besar!" Yundhi dengan ledekan garingnya mencoba menenangkan Tiara dan menghapus jejak air mata di pipi calon istrinya itu. Adib terkekeh melihat tingkah anak dan calon menantunya. Setitik rasa lega menghinggapi dadanya, merasa bahwa Yundhi memang pantas menjadi pendamping anaknya.
"Apaan sih, kamu timingnya salah, ngapain kesini, seharian ketemu, nyelonong lagi masuk rumah orang." protes Tiara, meski begitu dia diam saja membiarkan Yundhi menghapus sisa air matanya dengan tisu makan.
"Aku udah sesuai aturan, salam, ketuk pintu, lima kali lagi, ga ada yang nyaut." Yundhi membela diri. "Aku buka pintunya, eh ga di kunci, ya udah masuk aja."
"Harusnya ga usah motong, kita kan lagi nangis-nangisan."
"Sudah jangan protes lagi, ayo Yundhi ikut makan!" Adib mencoba menengahi.
"Huh, alesan, bilang aja laper!" Tiara sewot.
"Tiara!" Adib memperingati dengan nada suaranya. Membuat Tiara sadar dan beranjak mengambil piring untuk Yundhi.
"Calon suami lho ini, di sewotin terus." sela Yundhi, "Ayah sehat kan, kok agak pucat, kurusan lagi." imbuhnya.
"Ayah sehat, mungkin kecapekan, baru pulang dinas dari luar kota, agak lama memang." jelas Adib.
"Mau sayur daun cabe rawit?" ujar Tiara tiba-tiba, ia sudah siap dengan piring berisi nasi untuk Yundhi.
"Hah? pedes ya, enggak deh."
Meski Yundhi menolak Tiara tetap mengambil sayur itu memasukkannya di piring nasi Yundhi. "Ga pedes, ini rasanya kayak bayam, hati-hati ada buahnya juga, sapa tahu keselip."
"Gitu dong, jadi adem, jangan di protes terus harusnya dimanisin kayak gini, bener kan yah?" Yundhi meminta pembelaan.
"Hm."
Tiara memutar bola mata malas membalas ocehan Yundhi, ia kembali giat menikmati makanan yang sempat ia abaikan tadi.
***
Sambil melepas selang yang menempel di tubuh Emmy, perawat senior yang mendampingi Emmy di rumah sakit itu tersenyum hangat, "Tampan sekali, pacar miss Emmy ya?"
Emmy menggeleng lemah.
"Oh, kalau begitu suami?"
Kali ini Emmy tertawa lebar. "Enggak sus, kami ga punya hubungan apa-apa, saya cuma pengagumnya." jelas Emmy jujur.
"Kenapa tidak di jadikan pacar, kalian terlihat serasi di foto itu."
"Dengan kondisi saya yang sekarang," Emmy menjeda, " Saya harus realistis sus."
"Don't do that! Tidak boleh pesimis, kesembuhan itu mungkin saja terjadi, harus berusaha dan berpikir positif, oke."
Emmy tidak menanggapi. Pandangannya nanar ke arah ponsel yang ada di genggamannya. Sekali saja Tuhan, beri aku kesempatan bersamanya.
"Kabar baik miss Emmy, pengobatan tahap ini lebih singkat, hanya sampai besok, miss Emmy bisa kembali ke rumah lusa." jelas sang suster bersemangat.
"Sungguh? Kalau begitu saya akan kabari keluarga di rumah." Emmy tak kalah bersemangat. Ia sudah bosan terkurung sendiri di rumah sakit selama berharu-hari.
"Tentu."
***
"Bawa apa ni?" Tiara menatap bingkisan di atas meja tamu yang tinggalkan Yundhi.
"Intinya kue, ga tau kue apa, itu dari mama." jawab Yundhi sekenanya. "Yah, tiara keren lho hari ini dapat empat kue sekaligus."
Mereka bertiga kini duduk bersama di ruang tamu rumah Tiara. Tiara lalu meraih bingkisan itu dan membawanya ke dapur.
"Iya, salah duanya dari saingan kamu kan?" skak mat, Adib menghantam Yundhi tepat sasaran.
"Iya jangan di pertegas juga kali ayah, kejutan Yundhi yang terbaik."
Mereka tertawa lepas, melepas candaan masing-masing menimbulkan suasana hangat.
"Tiara udah cerita, orang tua kamu tanya tanggal pertemuan keluarga." kali ini Adib bicara dengan nada serius. Kini hanya tertinggal dia dan Yundhi.
"Iya yah, kira-kira kapan keluarga saya bisa ketemu sama ayah?"
"Pertemuannya kita adakan minggu depan saja, ayah harus menghubungi keluarga besar ayah dan keluarga besar almarhumah ibunya Tiara dulu, nanti ayah beritahu hari tepatnya."
Yundhi mengangguk mengerti.
"Ayah titip Tiara, tolong jaga dia, kalau dia salah bimbing untuk memperbaiki dirinya. Dia satu-satunya putri ayah. Ayah minta jangan sampai air matanya keluar karena kamu, kalau kamu tidak sanggup, katakan sekarang!"
Yundhi tersentak mendengar tembakan kata-kata dari calon mertianya, kalau sudah begini tidak mungkin dia mundur.
"Saya berjanji yah, akan menjaga Tiara, menyayangi dia sepenuh hati, membahagiakan dia dengan segenap jiwa raga saya, dan tidak akan membiarkan Tiara menangis karena saya." ucap Yundhi lantang.
Adib tersenyum puas mendengar kesanggupan Yundhi, perasaannya pun semakin lega. Tiara tidak salah menerima Yundhi sebagai calon suaminya.
"Ayah pegang kata-katamu."
Tiara yang mendengar percakapan itu di balik tembok merasa di hujani berbagai rasa, senang, bahagia, terharu, bangga, dan jantung dan perutnya terasa dialiri cairan hangat hingga membuat tangannya bergetar, ia harus kembali ke dapur menetralkan perasaannya agar nampan yang berisi teh dan kue yang ia bawa tidak jatuh dari tangannya.
"Kalian sudah lakukan persiapan apa saja?" kali ini Adib terdengar lebih santai.
"Belum ada sih yah, masih diskusi aja, saya sama Tiara agak beda pendapat, tapi saya ngikut aja deh maunya Tiara.
Adib tertawa lebar mendengar kepasrahan Yundhi. "Belum apa-apa lho, kamu udah kalah."
"Ya daripada dianya ngambek, terus minta fi undur lagi, ga enaknya di saya lho yah."
"Bener juga sih, kasihan kamunya auto kebelet."
Kali ini Yundhi ikut tertawa, meski di ledek calon mertua sedikitpun tidak merasa tersinggung, malah di tanggapinya santai.
"Ngomongin apa sampai lebar begitu?"
Tiara datang dengan nampan berisi teh dan kue yang di bawa Yundhi tadi.
"Rahasia." Yundhi dan Adib menjawab bersamaa.
"Kita di satu tempat lho ini, aku bisa dengar."
"Ya udah dengar aja."
**Hai readers, part ini dan beberapa part sebelumnya adalah part tenang sebelum badai ya, jadi sorry kalau agak flat. Tunggu kelanjutan kisah Yundhi-Tiara ya! Jangan pelit komen, like atau share, aku baca lho semua komen kalian.