
Meski telah memiliki sendiri rumah apik dan mewah, nyatanya Tiara masih merasa berat meninggalkan rumah mertuanya. Setelah acara syukuran terlaksana dengan sangat sukses, Tiara memilih menginap semalam saja dulu di rumah baru. Itupun dengan syarat anggota keluarga yang lain juga ikut menginap.
Telah terbiasa melakukan apapun sendiri sejak umur yang masih sangat muda, nyatanya tidak menjamin Tiara rela kesepian lagi seperti dulu. Dua tahun belakangan ia terbiasa tinggal bersama tambahan sanak keluarga, membuatnya merasakan lebih nikmatnya berkumpul dengan banyak orang. Bukannya dia tidak mau menjadi keluarga mandiri yang tinggal hanya dengan anggota inti. Tapi, ada rasa yang tidak bisa ia jabarkan di sini, tentang kehadiran sang Ibu Mertua yang kadang memanjakannya.
Citra dan Tiara memang klop dalam beberapa hal. Kehadiran Citra membuat Tiara kembali merasakan rasa kasih seorang ibu yang cukup lama tidak ia dapat. Citra juga menjadi mentornya ketika awal-awal Tiara melahirkan. Bagaimana merawat bayi, segala seluk beluk mengurus bayi, semua Tiara pelajari dari Citra. Jadi wajar saja, Tiara belum siap sepenuhnya tinggal mandiri dengan Yundhi dan Edward saja.
"Oke, setiap akhir pekan atau waktu aku tugas terbang kamu bisa nginep di rumah utama."
Begitu akhirnya Yundhi memutuskan saat dia berdiskusi dengan Tiara di atas tempat tidur. Pillow talk yang terjadi ketika semua anggota keluarga yang lain telah beristirahat karena lelah.
"Makasi," Tiara tersenyum lebar di ikuti kecupan singkat di pipi Yundhi. "Satu lagi."
"Apa?"
"Kalau adiknya Ed sudah lahir, janji jangan kurangi perhatian kamu ke Edward. Aku kasian, dia harus punya adik dalam usia sedini sekarang."
"Pasti lah, tanpa kamu minta juga aku bakal lakuin."
"Tapi jangan terlalu dimanjakan juga."
"Kalau yang itu mungkin agak susah."
"YUNDHI!"
"Iya, iya ga di manjain, tapi kalau Ed minta, selama aku mampu, ya aku kasih."
"Ck."
"Kalau masih dalam batas wajar," sambung Yundhi cepat.
"Gitu dong," Tiara pun lega. Pasalnya, Tiara tidak ingin Ed tumbuh menjadi anak laki-laki yang manja yang hanya mengandalkan orang tuanya tanpa mau berusaha. Dan dalam hal ini, Yundhilah yang harus banyak berperan.
"Mau diskusi apa lagi?" tanya Yundhi begitu mereka hening sesaat.
"Ga ada sih, kamu capek? Istirahat aja, aku belum ngantuk."
"Bentar, aku tanya yang di dalam." Yundhi menyingkap melimut yang menutupi tubuh mereka, kemudian mendekatkan wajahnya pada perut Tiara.
"Nak, Papa boleh bertamu ga?" kini Yundhi menempelkan telinga, "tu, katanya silakan Ra."
"Enggak, kita istirahat." Tiara mencium bau lembur.
"Mumpung kamu belum ngantuk."
"Sekarang udah ngantuk."
"Hari ini bersejarah lho, syukuran dan make love at the first time in our new house," ungkap Yundhi gamblang. Lantang. Bersemangat.
"Iya, jadi the most tired day in our life juga," tolak Tiara tak mau kalah.
"Katanya belum ngantuk."
"Udah, nih aku merem."
"Tapi ga tidur."
"Ini mau tidur."
"Momen langka Ra, biar afdol, hawa do'a syukuran tadi masih ada nih."
"Ga ada hubungannya."
"Aku kasih hadiah ke Singapore," Yundhi modus.
"Enggak mempan."
"Kita ke Bali."
"Kenapa tawarannya tambah turun?"
"Sawah satu hektar di Ubud."
"Jauh, ga bisa bawain kamu bekal."
"Nolak suami dosa, di kutuk malaikat sampai besok pagi, mau?"
"Oke, fine, kamu menang."
Dan Yundhi kesenangan, "nah gitu dong."
Yundhi menang banyak.
***
Hampir lima belas menit mencoba mengutak atik nama, baik Yundhi atau pun Tiara, nyatanya tak ada satu pun akun yang keluar atas nama keduanya.
Bahkan Karenina menjelajahi semua akun dengan nama belakang Prasetya, tapi sama sekali tidak menemukan akun Tiara atau Yundhi.
"Masa iya mereka tidak punya akun media sosial?" Karen kembali menggerutu saat usahanya menemui titik kesia-siaan.
Karenina menyerah. Sungguh pasangan itu tidak bisa ia jangkau. Bahkan, pemilik akun dengan nama belakang Prasetya tidak menerima permintaan follownya.
"Apa mereka punya platform pertemanan sendiri? Aaaaaaakh, susah."
***
Tiga bulan kemudian
Belakangan Yundhi kembali terlihat jarang menyambangi kantor dan itu cukup membuat Karenina uring-uringan. Selain tidak bisa intens memandang wajah idolanya, dia juga baru mengetahui bahwa Yundhi seorang pilot. Maka dari itu, dia di landa penasaran hebat dengan bentuk penampakan Yundhi mengenakan seragam pilot. Dasar sinting. Lupakan Karenina yang tidak penting.
Di lain tempat, setelah mewujudkan liburan bersama keluarga kecilnya ke luar negri, Yundhi gencar mengambil jadwal terbang demi agar bisa menemani Tiara saat melahirkan nanti. Tiara sempat protes, tapi kemudian menerima dengan lapang dada saat Yundhi memberi tahu alasannya.
"Yang sekarang berapa hari?" Tiara bertanya dalam posisi memasangkan dasi untuk Yundhi, dan Yundhi memainkan tangan di perut buncit Tiara.
"Cuma empat hari, setelah ini aku off sampai kamu lahiran."
"Ga kecepetan? Lahiran masih lama."
"Enggak, karena aku urusin kantor juga. Sekarang maskapai resmi bernaung di bawah Prasetya Uni Corporation. Jadi, setelah ini aku kerja di darat."
"Oh, oke. Aku ambilin topi dulu."
Dengan langkah yang mulai lambat karena perut yang semakin membesar, Tiara menuju tempat di mana topi kebesaran Yundhi ia simpan. Sebenarnya Yundhi bisa saja mengambil topinya sendiri, tapi dia senang melihat Tiara yang berjalan kesusahan dengan perut blendung. Pemandangan yang akan ia rindukan jika nanti Tiara benar-benar memasang pengaman dalam jangka waktu lima tahu.
Iya, Tiara telah berorasi padanya untuk menunda kehamilan lagi selama lima tahun ke depan. Tiara ingin mencurahkan kasih sayang sebayak-bayaknya untuk dua buah hatinya nanti. Hingga mereka berada pada usia yang siap menerima adik, barulah ia akan melepas pengaman itu.
Meski sempat beradu argumen dengan paduka suami, toh akhirnya Tiara menang dengan iming-iming bersedia melahirkan empat keturunan Prasetya.
"Kamu kapan berangkat ke rumah Mama?" tanya Yundhi menunduk, menyamakan tinggi agar Tiara bisa memakaikan topi pilotnya.
"Mungkin nanti sore, setelah ruang baca beres."
"Rak bukunya datang hari ini?"
"Iya."
"Astaga, aku baru ingat," Yundhi menggelengkan kepala sambil berkacak pinggang, kecewa pada dirinya sendiri.
"Kenapa?"
"Kamu jangan ikut geser-geser barang, minta bantuan Pak Mus sama yang lain."
Pak Mus adalah sopir baru Tiara yang di rekrut Yundhi setelah melewati seleksi ketat, ada pula satpam dan pembantu yang di pekerjakan di rumah baru mereka. Semua pegawai melewati beberapa tes, penyelidikan latar belakang, dan sumpah setia. Arogan? Tentu. Aneh? Mungkin. Masalahnya pengalaman telah memacu Yundhi untuk selektif dengan orang-orang yang akan berada di sekitar keluarganya. Dia tidak ingin mempekerjakan orang yang salah.
Mungkin hanya suster Ana yang tidak melewati rangkaian itu, karena Yaris sudah lebih dulu melakukannya. Dan Yundhi sangat percaya pada Yaris. Mereka bertiga sepemikiran dalam hal ini.
"Iya, nanti aku minta bantuan mereka. Udah rapi. Ayo!" Tiara menarik tangan Yundhi untuk keluar kamar, tapi keadaan berbalik dalam sekejap saat Yundhi menarik tangannya.
"Nanti telat lho," Tiara mengingatkan saat Yundhi malah memeluknya.
"Bisa delay."
"Ga bisa arbitrary gitu dong, aku ga mau makan gaji buta."
"Kan cuma delay, ga sampai ninggalin tugas."
"Tapi kan..."
"Aku ga suka lho momen kita pisah kayak gini. Lima menit aja."
"YUNDHI!" Yundhi hafal nada penentangan itu.
"Tiga menit."
Tiara pun pasrah, membiarkan Yundhi memeluknya. Melakukan apa yang lelakinya itu inginkan.
"Tumben, ini baru dua menit," celetuk Tiara saat Yundhi melepaskan pelukan.
"Iya, satu menitnya yang ini."
Plup.
Yundhi menyatukan bibir mereka, ******* lembut bibir sang istri. Menyalurkan gelombang rasa cinta yang setiap saat ia pupuk untuk wanitanya. Cara Yundhi, mengungkapkan betapa dirinya memuja Tiara, dan Yundhi berharap Tiara menangkap setiap isyarat yang ia salurkan.