
"Lingga yang teman sekolah kamu itu, yang minta di adopsi sama Papa kamu terus ngintilin kamu kemana-mana, dia pelakunya?"
Citra menghabiskan seluruh volume suaranya menanggapi cerita Yundhi di kamar rawat inap itu, padahal Ed sedang tidur di samping Tiara.
"Astaga, maaf maaf Mama kelepasan," volume pun di kurangkan, "kurang ajar anak itu." Emosi melanda jiwa Citra, mendadak ia menyesal pernah memperlakukan Lingga bak anak sendiri. Dirinya dulu sering memasak masakan khusus untuk teman anaknya itu, bahkan pernah berniat merayu agar Hans mau mengadopsinya. Untung saja niatnya itu belum disampaikan.
"Terus gimana, di mana dia sekarang?" Tanya mertua Tiara itu lagi.
"Udah di urus para tetua."
"Maksud kamu?"
"Om Frans, Om Jo, sama Om Erik."
"Waaaaah jadi yang baru tahu kejadian ini cuma Mama doang? Terus kamu kemarin bohongin Mama dong?"
"Demi kebaikan Ma, kalau Yundhi jawab jujur, Mama histeris terus jantung Oma kumat, sama bahayanya."
Citra manggut-manggut mengerti, membenarkan penjelasan dan alasan anaknya.
"Terus Tiara gimana, kandungan kamu ngaruh ga? Ada luka serius? Kamu diapain sama dia?"
Tiara yang tadinya terfokus pada Ed yang tidur di sampingnya menoleh, "baik-baik aja Ma, cuma dokter haruskan bed rest tiga hari ke depan."
Ada kelegaan yang keluar dengan hembusan napas Citra, jika sesuatu terjadi pada menantunya, ia bersumpah akan menghajar sendiri si Lingga itu.
"Tiara minta maaf ya, harus ngerepotin Mama lagi. Salah Tiara kemarin ga mikir panjang, smsnya meyakinkan banget bilangnya Yundhi drop waktu pemeriksaan dan di bawa ke dokter Reyhan. Aku main percaya aja, langsung kemari ga ngasih tahu Mama. Kejadiannya cepat banget."
Kembali, desahan napas keluar dari mulut Citra, entah yang ke berapa kali, "ya sudah, kejadiannya sudah lewat, jadi pelajaran buat kita semua biar lebih hati-hati, yang penting kamu ga kenapa-napa."
"Panasnya udah mulai turun," ucap Tiara sembari meraba dahi Edward, "udah keringetan juga," imbuhnya.
"Syukur deh, kayaknya memang benar-benar kangen ibunya."
"Kalau gitu biar Ed nginep di sini aja, sampai dia sembuh, biar bisa sama aku."
Yundhi menatap tajam pada istrinya, yang benar saja Ed yang belum genap setahun mau diinapkan, "ga bagus Ra, kamu tahu sendiri lingkungan rumah sakit.
"Kalau gitu kita minta pulang aja ke Reyhan."
"Kamu masih sakit, aku ga mau ambil resiko, lagian bukan Rey yang menganjurkan bed rest, tapi dokter kandungan kamu."
"Aku udah sehat, udah ga apa-apa, bener deh, Ed lebih butuh aku."
"Calon bayi kita juga butuh Mamanya buat istirahat biar dia tetap sehat di sana."
"Sayang, tapi Ed..."
"Nah, sekarang kamu udah lupa kalau udah janji ga mau debat aku sebelum aku di bawa polisi."
Dan kalimat terakhir Yundhi berhasil membuat Tiara bungkam. Mulutnya langsung tertutup, semua kalimat sanggahan yang akan di keluarkan untuk menimpali Yundhi lenyap saat itu juga. Dan mata itu, meski tak bicara, mata yang sekarang Tiara tampakkan mampu meluluhkan hati Yundhi, namu ia segera mengalihkan penglihatannya pada arah lain.
Bagaimanapun Tiara baru saja mengalami kejadian berat. Perasaannya saja yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Terpancing emosi karena keadaan Edward, anak mereka yang tengah sakit. Tapi, perintah dokter yang mengatakan bahwa istrinya harus istirahat total di atas tempat tidur masih terngiang jelas di kepala Yundhi. Kalau Tiara berada di rumah, tak ayal akan membuatnya melakukan pekerjaan lainnya yang dapat memengaruhi proses penyembuhan.
"Percaya deh sama Mama, ada Eyang sama Opanya yang jaga Ed, kita juga sudah sewa suster Ana. Besok kita bisa bawa Ed ke sini lagi klau dia kangen, tapi kalau nginap aku ga setuju." Kata Yundhi tegas dan sangat jelas tidak mau ada bantahan lagi.
Citra dan suster Ana yang masih ada di ruangan itu juga tidak bisa berbuat banyak. Memang seharusnya Yundhi yang paling berhak mengambil keputusan di sini.
"Suami kamu ada benarnya sayang, biar nanti Edward sama Mama, sudah ada suster Ana, kamu tahu sendiri gimana kemampuan kerjanya, jadi ga perlu khawatir. Besok Mama bawa Ed ke sini lagi kalau kamu yang kangen, ya!"
Apalagi yang bisa Tiara lakukan selain mengangguk. Ini pertama kali dirinya absen menemani Ed yang sakit selama lebih dari dua puluh jam, kalaupun pernah, dulu hanya beberapa jam saja meninggalkan Ed saat sakit untuk urusan bimbel. Ada rasa bersalah yang menganga sebagai seorang ibu, orang yang selama ini paling dekat dengan sang anak, tapi dia juga tidak boleh egois. Ada calon adiknya Ed yang masih singgah di rahimnya.
"Ya udah, nanti kalau sudah di rumah, siapin plester demam, buat jaga-jaga kalah Ed panas lagi. Ed ga terlalu suka bubur biarpun dia lagi sakit, masakin nasi tapi agak lembek. Lauknya jangan kasih garam banyak-banyak. Siapin air minum di kamarnya, Ed suka haus tengah malam kalau demam."
***
Kini hanya tinggal mereka berdua. Citra dan suster Ana telah membawa Ed pulang sejak satu jam yang lalu.
"Makan ya Ra."
Dan sejak saat Edward di bawa pulang, Tiara mendiamkan Yundhi hingga tak mau melihatnya.
"Atau kamu ada makanan lain yang mau di makan, biar nanti aku cariin atau kita delivery."
Tiara masih dalam posisinya memunggungi sang suami sambil menangis tanpa suara di atas bantal. Wajahnya makin di tenggelamkan saat Yundhi mengajaknya bicara.
Dan dia kembali dalam mode tidak siap patuh seutuhnya pada suami. Jiwa pembangkang dan ingin selalu di turuti ternyata belum sepenuhnya hilang dari diri Tiara. Jiwanya merasa terluka saat Yundhi bicara tegas tidak mengijinkannya pulang demi menjaga sang anak yang sakit. Memang dasar wanita.
"Makan sedikit aja, nanti kita bicara sama dokternya biar kamu bisa pulang besok. Makanya sekarang makan dulu, biar kondisi kamu cepat pulih."
Tiara bergeming. Yundhi hampir emosi dengan mengepalkan tangan ke udara dan gigi mengerat geram di belakang Tiara. Buru-buru dia merubah ekspresi seakan takut Tiara menyadari tingkahnya. Baru tadi pagi mesra-mesraan, sekarang berantem lagi.
Tapi hal ini harus dia lakukan, sedikit lebih tegas demi kebaikan istri dan calon anak keduanya. Seolah ada yang mendorong Yundhi untuk melakukan hal itu, mimpi buruk yang menghinggapi tidurnya.
"Mau aku ceritain tentang Mba Ralin?"
Tanpa di lihat Yundhi, kelopak Tiara melebar dan tangisnya terhenti. Ia mengingat lagi pembicaraan mereka waktu itu, ketika menjemput suster Ana. Ajaibnya senjata Yundhi kali ini berhasil. Tiara menoleh padanya. Dalam hati ia menggerutu, masa iya dirinya berbaikan harus dengan ghibahin orang. Astaghfirullah.
"Aku hampir lupa kamu belum kasih tahu, belum cerita masalah itu." Tiara tampak tertarik.
Ralat, cerita ya bukan ghibah. Maaf mba Ralin.
"Aku ceritain sambil makan."
"Suapin."
Mode manja on.
Dengan gerakan pelan Tiara mengambil posisi duduk dan bersandar di punggung tempat tidur. Yundhi mengambil nampan berisi makanan dan lauk pauk yang disediakan rumah sakit. Syukur Tiara tidak cerewet menolak menu apapun yang ada, berhubung nasi dan lauk rumah sakit itu memang terlihat menggiurkan. Tapi bisa jadi jiwa anti mubazir sang istri juga berpengaruh. Siapa tahu?
***
"Jadi mba Ralin ga punya rahim? Terus Arya?"
"Mereka mengadopsi Arya dari keluarga jauh Yaris di Palembang. Arya punya saudara kembar."
"Di adopsi dari bayi?"
"He eh, dari masih di dalam perut malah, mba siapa namanya aku ga ingat, dari masih hamil lima bulan udah janji ngasih anaknya ke Ralin."
"Oo gitu. Tapi mba Ralin sakit apa sampai ga punya rahim, tumor? Kanker? Mium?"
Yundhi menghentikan kegiatannya menyuapi Tiara, menatap sedikit sendu pada sang istri. Hembusan napas berat mengiringi ceritanya kali ini.
"Kecelakaan motor, Ralin ketabrak di daerah tebing waktu perjalanan KKN. Aku lupa apa nama daerahnya," jeda menggantung sebelum Yundhi melanjutkan, "makanya aku suka takut dulu lihat kamu bawa motor kebut-kebutan, kamu minta di bonceng pakai motor pas hamil besar waktu itu aku beneran gemeteran selama perjalanan. Takut kalau hal yang sama terjadi sama kamu."
Desiran hangat mengaliri sekujur tubuh Tiara. Melihat perubahan wajah Yundhi saat bercerita dan mengungkapkan perasaannya membuat perasaan Tiara membuncah. Entah oleh rasa senang atau rasa bersalah.
Senang menyadari bagaimana suaminya memikirkan dirinya di banding memikirkan diri sendiri. Menjadikannya prioritas dalam segala hal. Mengkhawatirkannya tanpa Tiara sadari. Dan rasa bersalah juga merayapi atas keegoisan dirinya yang merasa harus selalu ditiruti keinginannya. Tanpa berpikir baik dan buruk. Tanpa memikirkan perasaan suaminya. Istri macam apa dirinya?
Tiara kembali teringat bagaimana dirinya tadi merajuk karena Yundhi tidak mengijinkannya pulang sebelum di acc oleh dokter, dan yang lebih buruk dia malah berinisiatif menginapkan Ed bersama dirinya di rumah sakit. Astaga, tobat Ra!
"Maaf ya!" Ucap Tiara pelan, Yundhi hampir tidak mendengarnya.
"Maaf? Kenapa minta maaf."
"Belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, belum nisa jadi ibu yang baik buat Ed." Tiara berucap dengan mata penuh.
Yundhi sendiri bingung dengan arah pembicaraan mereka. Perasaan tadi dia bercerita tentang Ralin, kenapa sekarang istrinya ganti topik. Apa mungkin dirinya memang kurang peka?
"Siapa bilang?"
"Ngerasa aja."
"Aku ga suka kamu ngomong gitu," Yundhi meletakkan nampan yang tadi ia pangku, "mau di lihat dari segi manapun kamu sudah jadi yang terbaik buat kami."
Dengan hati-hati Yundhi meraih tangan Tiara dan meletakkannya di wajah, "kalau kamu bilang belum jadi istri dan ibu yang baik, berarti perasaan kamu salah."
"Egois, childish, moody, aku belum bisa kontrol diri. Itu jauh dari kata baik."
"Ya wajar, kamu lagi hamil. Aku malah senang hadapi kamu yang moodyan, jadi tantangan buat aku. Justru kayaknya aku yang belum mampu jadi suami yang peka, masih harus banyak belajar. Hebatnya, kamu yang bisa tahan dengan aku yang begitu. Anak, orang tua dan harta itu titipan, kamu adalah pilihan, aku yakin ga salah pilih dan pilihanku ga pernah salah."
Senyum manis Tiara semakin mengembang, Yundhi benar-benar membuatnya besar kepala.
"Ada yang mau aku kasih tahu."
"Apa?"
"Jangan kaget atau goyah atau berhenti sayang sama aku."
"Astaga, jangan ngawur, sekalian ga usah kasih tahu."
"Oke, dengerin, Lingga ngaku sama aku kalau dia yang menularkan penyakit itu ke Emmy."
"Aku tahu." Jawab Yundhi cepat, di luar dugaan Tiara.
"Kamu udah tau?"
"Hm, semua udah tahu kok, dia ngaku sendiri waktu di introgasi."
"Terus kamu ga marah?"
"Tadinya iya, tapi kalau di pikir-pikir ya mungkin memang sudah jalannya, gara-gara perbuatan dia secara ga langsung bikin aku ngebet sama kamu."
Kalau di telaah lebih jauh memang alurnya akan menjurus ke hubungan Tiara dan Yundhi. Akibat dari perbuatan Lingga pada Emmy, membuatnya memutuskan hubungan dengan Yundhi dan takdir mempertemukan Yundhi dengan Tiara.
"Ga usah mikir macam-macam lagi, apapun itu yang bikin kamu setres buang jauh-jauh. Fokus sama kehamilan kamu terus lahiran, karena rencananya aku mau bikin kamu hamil lagi setelah adiknya Ed yang kedua lahir....aduh, sakit Ra."
***
Tiara baru saja terpejam setelah Yundhi menemaninya tidur sambil bercerita beberapa saat lalu. Di banding kemarin, sekarang Tiara terlihat lebih tenang dan tidak lagi mengigau. Malah sebaliknya, Yundhilah kini yang tidak bisa memejamkan mata. Padahal intensitas tidur mereka hampir sama, tapi sedikitpun Yundhi belum merasa kantuk menyerangnya.
Besok Tiara sudah diperbolehkan untuk pulang. Rey dan dan dokter kandungan Tiara membolehkan untuk Tiara di rawat di rumah dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Merasa sedikit bosan Yundhi memilih keluar sebentar mencari udara segar. Malam belum begitu larut, tapi suasana di lantai tempat mereka di rawat sangat sepi dan hening. Begitu keluar dari pintu, Yundhi berpesan pada dua orang penjaga yang ada di depan kamar inapnya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke kamar, tanpa terksecuali, meski itu seorang perawat atau dokter yang akan memeriksa sekalipun.
Yundhi menuju ruangan Reyhan, tapi tidak menemukan temannya itu. Pintu ruangannya pun sudah terkunci. Langkahnya kemudian menuju lift, pikirannya ingin mencari minuman ringan di mesin penjual minuman di lantai dasar. Namun ketika pintu lift terbuka, Yundhi menyadari bahwa dia tidak membawa apa-apa dan hanya mengenakan piyama rumah sakit.
Akhirnya Yundhi memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Melangkah dengan ringan di selingi siulan kecil dengan nada tidak jelas. Namun langkah ringan dan santai itu tidak bertahan lama. Tubuh Yundhi menegang dua meter dari jarak dirinya dan pintu kamar inap yang ia tempati.
Dua orang penjaga yang harusnya berdiri tegak terbaring di lantai tak sadarkan diri. Pikiran Yundhi berkecamuk dengan dada bergemuruh dahsyat. Mendadak dunia rasanya berhenti berputar.
Apa yang terjadi? Siapa yang melakukannya?Siapa yang masuk ke dalam kamar itu saat Tiara sendiri di sana dan dalam keadaan tertidur.
Yundhi sudah menyalakan signal tidak baik di kepalanya. Dengan langkah pelan dan hati-hati ia melangkah mendekati pintu kamar yang kini ada di hadapannya. Sekelebat mimpi buruknya kemarin terlintas.
Tidak.
Tidak kali ini atau kapanpun.