
Take care for someone who make you smile accidentally. ~AN
Kalimat itu salah satu yang membuat Tiara bertahan. Bertahan pada Yundhi. Bertahan pada kesungguhan pria itu. Tidak karena materi semata. Tiara mampu bertahan, berdiri dengan kakinya sendiri karena memiliki usaha yang mumpuni. Sedari muda dia juga terbiasa membiayai segala keperluannya entah pendidikan atau kebutuhan primer lainnya. Ada yang lebih penting dari itu semua. Cinta.
Salah satu kebutuhan pokok untuk jiwa manusia.
Cinta yang tidak di dapat Tiara dari yang lain. Rasa yang menggenapi dirinya sebagai manusia. Keinginan kecil yang selalu diimpikannya. Yundhi selalu bisa membuatnya tersenyum tanpa sadar, saat lelaki itu mengungkapkan perasaannya baik dengan kata atau perbuatan. Dari cinta seorang Yundhi, Tiara bisa merasakan bagaimana menjadi seorang pendamping, istri dan menjadi seorang ibu dari buah cinta mereka. Bukannkah semua itu adalah mimpi seriap wanita di dunia?
Tiara bertahan karena semua rasa itu bisa ia peroleh dari lelaki yang sekarang menjadi suaminya. Meski untuk mempertahannkannya Tiara herus melewati banyak rintangan dan cobaan. Adanya cobaan itu menjadi pelatih Tiara untuk mengokohkan fondasi rumah tangga mereka. Terbukti, sebesar apapun masalah yang menimpa, Tiara bisa bertahan dan amarahnya hanya sekejap saat cinta mengujinya.
"Kamu belum mandi."
Yundhi masih memeluknya di dapur, saat Tiara mengambil alih interkom dari Bik Jo demi menjawab instruksi Yundhi.
"Kenapa kamu ga bilang dari awal kalau kamu isi lagi?"
"Aku lupa, keburu kepikiran nenangin kamu kemarin," desahan panjang keluar dari bibir, "udah mau punya dua buntut kamu masih kekanakan."
Yundhi meregangkan pelukannya, memindai tubuh Tiara dari atas hingga bawah, "ada yang sakit?"
"Ga ada," Tiara melihat perutnya yang masih datar, "cuma pegel."
"Kita nyari babysitter aja nanti, biar ada yang bantu kamu pegang Ed."
"Harus ya?"
"Harus! Aku ga mau ambil resiko."
Sejak awal Tiara sudah bertekad mengurusi Ed tanpa bantuan pengasuh, tapi di luar kuasanya, dia kembali di beri kepercayaan lagi.
Jadi wajar saja Yundhi merasa Tiara membutuhkan seorang pengasuh untuk membantu istrinya menjaga Ed. Ed sedang dalam masa pertumbuhan emas, sedang lincah-lincahnya bergerak, hanya bisa diam beberapa menit setelah itu bisa berjalan berlari ke sana ke mari. Dan Tiara sedang hamil muda, akan beresiko jika mengikuti gerak lincah Ed. Babysitter akan menjadi solusi terbaik kegundahannya.
"Nanti aku minta rekomendasi dari Ralin, mungkin dia tahu yayasan yang menyediakan babysitter." putus Yundhi dan tidak mau di bantah.
Tiara hanya pasrah menerima perkataan Yundhi. Memang ada benarnya, mereka butuh pendamping untuk menjaga Ed meski selama ini Tiara juga di bantu Citra dan Ranti, adakalanya Eyang dan Oma Ed itu tidak bisa fulltime membantunya.
"Mandi dulu!" selangkah Tiara mundur dari tempat Yundhi berdiri sambil menutup hidung, " kamu bau."
"Bau-bau gini juga suami kamu."
"Ya emang, siapa bilang suami orang, tapi ih,beneran aku mual." Tiara buru-buru pergi dari hadapan suaminya, tidak seperti hamil Ed dahulu, kali ini kemampuan indra penciumannya meningkat tajam.
***
Citra berteriak kegirangan saat Yundhi secara resmi mengumumkan kehamilan ke dua sang istri di meja makan pagi itu. Nenek muda itu langsung menghambur pelukannya pada sang menantu, mengucapkan beberapa kali kata selamat dan terima kasih secara bergantian.
Hans tak luput dari rasa suka cita. Tapi sedikit raut wajah rasa ingin tahu akan satu hal terukir pada kakek Edward. Ada rasa yang ingin dia ungkapkan.
"Ada yang mau papa tanyakan." Hans tiba-tiba berkata dengan nada berat, membuat semua orang yang ada di sekelilingnya menoleh dan menghentikan aktivitas mereka.
Hans menatap pada Yundhi dan Tiara dengan pandangan serius, membuat seisi ruangan di landa ketegangan. Tidak biasanya Hans berbicara serius saat makan bersama.
"Kehamilan kamu yang ke dua ini bisa di setting ga biar jenis kelaminnya perempuan?"
Tiara dan Yundhi saling tatap, Citra melongo lebar, Ranti juga mengernyit heran. Semua yang ada di sana kompak berpikir kalau pertanyaan seorang Hans yang bijak nan karismatik itu terdengar...nyeleneh.
Suara tawa menggelegar seketika saat mereka mencerna keinginan Hans.
"Papa mau cucu perempuan?" Tanya Yundhi di sela tawanya.
Hans yang tidak ikut tertawa menganggukkan kepala.
"Papa sudah tahu rasanya punya anak laki-laki, cucu laki-laki, tapi belum pernah merasakan punya anak cucu perempuan." Hans berhenti sejenak, "lagi pula keturunan Prasetya banyak di dominasi kaum Adam, cuma Bella yang perempuan di trah kita, kalau ada teknologi yang bisa membentuk janin berjenis perempuan, cari dokter mana yang bisa melakukan itu, berapa pun biayanya akan Papa bayar." Ungkap Hans dengan sedikit bersemangat.
"Setting setting, di kira barang elektronik apa bilang setting segala, lagian Papa ngeremahin Yundhi? Di kira Yundhi ga mampu."
"Bukan ngeremehin kamu, sebagai ungkapan saja, besar harapan Papa cucu yang ke dua ini jenisnya perempuan."
Entah kenapa Tiara merasa terenyuh mendengar keinginan mertua laki-lakinya. Di saat banyak orang di luar sana menginginkan penerus laki-laki, mertuanya justru ingin merasakan kehadiran cucu perempuan. Tiara malah belum berpikir sampai ke sana.
"Tiara pernah baca kok Pa, salah satu usaha untuk mendapat keturunan perempuan ibu hamil di anjurkan lebih banyak mengkonsumsi makanan berupa sayur dan buah. Ada zat yang berpengaruh dari makanan itu yang katanya, katanya lho ini Pa, Tiara juga ga paham-paham banget, bisa berpengaruh besar dalam pembentukan kelamin calon bayi. Kalau mau dapat anak laki-laki katanya bisa lebih banyak konsum daging-dagingan. Ga tahu ada bukti ilmiahnya atau enggak. Ya di samping faktor keturunan dan campur tangan Sang Pencipta, bisa saja, ada benarnya. Nanti deh kita tanya dokter kandungannya." Dengan lugas Tiara menjelaskan pada mertuanya, membuat Hans mengangguk mengerti, dan sedikit ada rasa lega. Harapan kehadiran cucu perempuan tidaklah mustahil.
"Kalau gitu minta Bik Jo ke pasar, borong sayur sama buah nanti."
"Segitu ngebetnya Opa Hans," celetuk Yundhi, "kalau Yundhi sih apa aja, ya kalau di kasih cowok lagi, ya bikin lagi, ciwok lagi ya bikin lagi, gituuuu terus sampai dapet anak cewek, Yundhi mah sanggup-sanggup.... addddoh, pedes Ra."
"Gitu terus ya? Mau punya ekor berapa? Di kira bikin mainan, tek dung brus tek dung brus gitu?" Tiara gemas, mendaratkan cubitan sedikit nan nyelekit pada pinggang Yundhi. Ilmu tokeknya bekerja baik di saat seperti itu.
"Iya, kan biar rame Ra." Alasan Yundhi membuat Tiara memutar bola mata, enggan menimpali lagi pembicaraan itu.
Sebagai sesama wanita yang pernah mengandung, Ranti dan Citra mendukung tindakan Tiara memberi Yundhi cibitan gemas, yang lama kalau perlu.
"Hamil memang keinginan semua wanita, tapi bawa perut besar selama sembilan bulan lebih itu ga gampang, susah ngapa-ngapain, ga nyaman, susah gerak, belum kalau ada bawaan bayi, ga bisa makan ini itu, morning sick dan lain-lain. Kamu laki-laki makhluk yang lebih kuat aja belum tentu mampu. Itu baru hamilnya, belum melahirkan, menyusui, merawat, itu prosesnya seumur hidup si ibunya."
"Kan bisa sewa babysitter Ma, buat bantuin, gampang, problem solved." ceoat Yundhi menimpali dengan ringannya.
Mendengar ucapan Yundhi Tiara tak tanggung menguarkan wajah garang, seakan ingin menelan suaminya bulat-bulat, tapi Citra mendahului dengan ceramahnya yang bijak.
"Gampang gigimu, ga semua ibu mau anakanya di pegang babysitter dari lahir, sentuhan ibu itu yang paling baik buat bayi. Keterikatan batin akan terbentuk antara bayi dan ibunya dari sentuhan-sentuhan kecil itu Kamu mau anak kamu lebih nyaman sama babysitternya daripada sama ibunya?"
"Ga lah Ma."
"Nah itu, sewa babysitter boleh, tapi jangan all out juga, sekedar ringanin aja, sekedar di jagain bayinya waktu ibunya mau makan atau mandi. Sisanya ya bagusan di pegang ibunya mah kalau menurut Mama, sepemikiran sama Tiara."
"Yundhi dulu gimana, di baby sitter-in kayaknya, Mama Papa kan sibuk terus waktu Yundhi kecil."
Tiara menoleh pada suaminya setelah mengucapkan kalimat itu. Yundhi memang mengatakannya tanpa beban, tanpa maksud, tapi ia takut jika Citra....
"Kalau itu..."
Benar saja, wajah Citra berubah canggung begitu mendengar ungkapan Yundhi, Hans melihat pada istrinya seperti ingin meminta persetujuan.
"Kalau itu..."
"Itu karena Papa yang minta," suara Hans mengambil alih untuk menjawab.
"Pa," Citra menyentuh lembut punggung tangan suaminya.
"Yundhi sudah harusnya tahu, dia sudah jadi ayah," Hans akan menyambung kalimatnya, matanya beralih pada Yundhi, "Papa yang minta kamu di rawat sama Oma, bukan tanpa alasan, Mamamu harus menjalani perawatan dulu, setelah kamu lahir, baru ketahuan ada tumor di rahim mama kamu, selama hamil sama sekali ga bisa terdeteksi. Begitu kamu di lahirkan yang waktu itu Papa memilih agar Mamamu di secar, baru saat itu dokter memvonis demikian, tapi melahirkan kamu ga bisa sekalian gitu aja mengangkat tumornya. Harus melalui tahapan-tahapan pengobatan lain, termasuk operasi lagi beberapa bulan setelah Mamamu melahirkan kamu. Papa jadi kayak orang sibuk ya karena nemenin mama kamu pengobatan, di dalam dan di luar negri, Papa mau memberi pengobatan yang terbaik buat Mama kamu sampai penyakit itu hilang tak berbekas."
Ada emosi lain yang menguar ketika Hans menceritakan rahasia itu di meja makan untuk kali pertama.
Dulu memang, Yundhi sangat dekat dengan Ranti, segala keputusan besar dalambhidupnya lebih banyak melibatkan Ranti. Pun menyetujui untuk dekat dengan Tiara adalah campur tangan Ranti.
"Wow." Rasa takjub berpadu kaget membuat Yundhi melepas alat makannya, memandang penuh arti pada dua orang tua di hadapannya.
"Kenapa baru sekarang Papa cerita?" terselip nada kecewa dalam kalimat itu saat Yundhi bicara.
"Kamu masih terlalu kecil buat mengerti hal seperti ini, lagi pula sekarang Mama sudah sembuh." Citra menjawab anaknya dengan memandang arah lain, menghindari tatapan tajam Yundhi.
"Tapi..." Yundhi memutus kalimatnya begitu Tiara menyentuh punggung tangan.
"Dulu semua itu ga mudah, Mama juga berat sering ninggalin kamu sama Oma, sama Bik Jo, tapi demi keinginan agar bisa sama kamu lebih lama, Mama menguatkan diri, ada kalanya kamu mungkin merasa di abaikan, tapi itu lebih baik daripada kamu juga ikut menanggung beban yang belum pada waktunya. Mungkin kamu ga ingat, setiap Mama dan Papa kembali dari perjalanan, kami berusaha membuat kenangan manis yang berkualitas sama kamu," Yundhi tampak berpikir, "ya intensitasnya memang sedikit, tapi setidaknya ada kenangan manis yang Mama dan Papa torehkan setiap kami punya waktu. Di sini Papa mu malah yang paling banyak menaggung beban, antara pengobatan Mama, pekerjaan dan perannya sebagai ayah yang terlewat karena itu semua." bicara tanpa mengeluarkan air mata, membuat rasa kagum Tiara pada mertuanya perempuannya itu makin membuncah, "kamu ga akan tahu gimana bahagianya Mama lihat kamu sekarang."
Hal tak terduga terjadi, malah Yundhi yang tampak emosional di ruang makan itu. Wajahnya menyiratkan pergolakan rasa tidak terima.
"Yundhi minta maaf kalau dulu pernah mikir yang enggak-enggak sama Papa, tapi harus ya nunggu sampai Yundhi berumur dua sembilan baru kalian mau cerita." Hans memalingkan wajah tidak bisa menjawab, "Oma?" tatapan menuntut di lemparkan Yundhi pada Ranti.
Ranti terlihat lebih tenang dari Citra atau Hans.
"Kenapa?"
"Selama Yundhi sama Oma, Oma ga pernah cerita."
"Kamu mau Oma jawab pertanyaan yang kamu udah tahu jawabanny"
"Maksud Oma?"
"Oma kasih jawaban ringkas aja ya, Mama kamu tuntas dari pengobatannya setelah kamu SMP, selama sekolah itu, ya tugas kamu cuma belajar bukan mikirin masalah orang tus, SMA, kamu lebih sibuk, masuk dunia kuliah meski sebentar, kamu makin sibuk, terus kamu pindah ke penerbangan, di asrama bertahun-tahun, percaya deh, memang sekarang waktunyang tepat kamu tahu tentang hal ini, kalau kami kasih tahu kamu dulu, kami takut kamu akan menyalahkan diri mengira kalau kamu sebagai penyebab mama kamu sakit. Sekarang waktu yang tepat karena pemikiran kamu sudah matang."
Ada jeda yang membentang sebelum Ranti menyelesaikan ceritanya, ternyata dia tidak bisa meringkas jawaban panjang itu.
"Oma yakin kalau kami tahu lebih dulu, bukan Yundhi yang sekarang yang akan duduk di sini." Ranti mengakhiri sesinya. "Ah hampir saja, Oma juga harus perawatan jantung kalau kamu lupa."
Yundhi tersenyum mengerti, dia kini menyadari semua yang di lakukan orang tuanya dulu adalah demi kebaikannya.
"Dalam rumah tangga," Citra kembali bersuara, "ada hal yang bisa kalian ceritakan, ada juga hal yang harus kalian simpan, yang tidak perlu orang lain tahu termasuk kami, rahasia dapur, itu sah-sah saja."
Mata Yundhi berbinar tak terduga. Perubahan suasana terjadi lagi dengan cepat.
"Kalau gitu kita pindah yuk Ra, biar kamu bebas teriak kalau kita berantem, biar kamu ga nahan diri teriak kalau kita main di kam...sakit Ra, ampun!"
"Kenapa sih kamu mulutnya ga bisa di tahan?"
"Kamu ga denger tadi Mama bilang apa, rahasia dapur kita biar ga bocor, kita pindah rumah, biar bebas kita teriaknya." jawab Yundhi lugas.
Citra, Ranti maupun Tiara masih tidak bisa menangkap arah bicara Yundhi.
"Ngomong apa sih kamu?"
Tidak ada yang menyadari Hans dan Yundhi saling melempar tatapan misterius. Saling menangguhkan siapa yang akan bicara.
"Ya kita pindah, ke rumah sendiri."
"Maksud kamu ke villa?"
"Rumah Ra, bukan villa. Rumah. Home. House, baity bahsa Arabnya."
"Rumah yang mana? Aku ga berencana pindah."
"Tapi aku udah beli rumah."
"Apa sih Yundhi? Jangan aneh-aneh, aku suka di sini."
"Nanti kamu lihat dulu, baru putusin!"
"Kamu beli rumah ga ngasih tahu aku?"
"Ini aku kasih tahu kan, Ra."
"Tapi setelah kamu beli."
"Buat hadiah, kalau kamu tahu duluan namanya bukan hadiah kejutan."
Kali ini Tiara melihat pada Hans, mencium adanya persekongkolan seperti sebelum-sebelumnya.
"Papa ga ikut-ikutan kan?" tanya Tiara langsung ke inti.
"Enggak, cuma dukung aja."
"Dari rumah sakit, sampai maskapai, villa..."
"Kalau villa murni uangku Ra." sambay Yundhi cepat.
Tiara melotot tajam, Yundhi membuka kedoknya sendiri.
"Oke, rumah sakit, maskapai sekarang rumah, kamu sekongkol sama papa? Main di belakang aku?" tanpa berniat menyembunyikan kemarahannya Tiara berucap.
""Papa cuma nombokin Ra. Sedikit." kata Hans dengn suara terkecil dan memandang arah lain.
"Ya tetep aja sekongkol, ih Papa ya, baru juga Tiara nambah respect sama Papa, sekarang di robohin lagi."
Citra dan Ranti memilih mengeluarkan diri dari obrolan, mereka fokus dengan makanan di piring masing-masing.
Tiara masih bersungut, jengkel denga ulah suami dan ayah mertua yang selalu memutuskan sesuatu sesuatu tanpa melibatkan dirinya.
Dasar Prasetya.