
Yundhi berdiri dengan baju serba putih dengan beberapa orang mengitari sebuah gundukan tanah merah yang masih basah. Semua orang terlihat tenang, tanpa isak tangis. Dua orang wanita setengah baya yang tidak ia kenal menabur bunga berbagai kelopak di atas gundukan tanah itu.
Suasana yang tadinya tenang tiba-tiba pecah oleh jerit tangis seorang anak laki-laki yang tersembunyi di balik kerumunan. Anak laki-laki itu di tuntun ke depan, ke atas gundukan tanah yang tertutup taburan bunga. Anak itu makin menjerit, tidak menemukan orang yang ia cari, melainkan harus berhadapan dengan gundukan tanah tertutup bunga.
Tidak ada yang bicara, tidak ada yang menjelaskan, tidak ada yang berusaha menenangkan anak itu. Mereka membiarkannya menangis sejadi-jadinya.
"Ed mau mama Ed mau mama Ed mau mama balikin mama Ed, Papa, minta Papa balikin mama." Teriak anak itu di sela tangisnya.
Yundhi terperangah, kemana orang tua anak itu? Kemana ayahnya?
"Ed mau sama Mama Tiara, balikin Mama Tiaranya Ed."
Tunggu
Kenapa anak itu menyebut nama istrinya, Yundhi maju satu langkah, mencoba melihat apa yang terjadi di depan sana. Barisan beberapa orang di depannya menghalangi pandangan untuk melihat siapa sebenarnya anak yang namanya memiliki nama yang sama dengan anaknya.
"Ed mau Mama Tiara, Mama jangan tinggalin Ed."
Yundhi makin penasaran, sekarang bukan hanya nama anak itu, nama ibu yang ia panggil juga seperti nama sang istri. Yundhi mencoba menembus kerumunan di depannya dengan sedikit memaksa.
Tunggu dulu, ada apa ini?
Kenapa semua orang yang ada di depan gundukan tanah itu adalah orang-orang yang ia kenal. Hans, Citra, Helma, Om Erik, Jonathan, dan Frans juga ada di barisan itu, Elok yang kini maju menenangkan anak laki-lak... Kenapa anak itu sekarang makin mirip dengan anaknya Edward, siapa yang di tangisi anaknya.
Yundhi melihat batu nisan yang baru di tanam di atas gundukan tanah itu tapi tunggu, tunggu, dia belum bisa membacanya, kenapa ada yang menarik-narik kakinya.
Dia ingin melihat nama yang tertulis di sana tapi tarikan pada kakinya makin kuat, siapa yang melakukan ini padanya?
Siapa?
Tarikan itu makin kuat, Yundhi ingin memaki siapapun pelakunya. Dia merasa badannya semakin turun dari sandaran.
"Aaawuh." Sekrang orang itu semakin berani, malah kini mencubitnya, kurang ajar, Yundhi membuka mata.
Penglihatannya masih samar.
"Bangun ga lo, gue mau periksa pasien gue."
Yundhi mengangkat sedikit kepalanya, Reyhan sedang berdiri di bawah kakinya lengkap dengan seragam putih kebanggaan.
Jadi tadi dia hanya bermimpi.
"Ngapain sih lo?" Suara Yundhi masih serak.
"Pasien gue harus di periksa."
Yundhi menoleh ke samping kirinya, ia baru menyadari Tiara yang masih tidur di atas tangannya. Entah kenapa sekarang dia di banjiri perasaan lega yang dahsyat. Mimpi itu mengerikan. Naudzubillah.
"Bisa ga sih lo periksanya nanti setelah dia bangun? Tiara agak susah tidur tadi malam."
Tawa kesal mengalun pelan dari mulut Rey, andai Tiara sudah bangun mungkin dia akan tertawa lebih kencang.
"Kita pasien khusus di sini, kalau lo lupa." Tegas Yundhi yang terdengar tak ingin di bantah.
Reyhan tak habis pikir, setelah kemarin di tolong menghabisi musuhnya, jiwa semena-mena sahabatnya itu ternyata masih tertanam dan makin subur.
"Lo pasien kurang ajar, ngapain lo nyelip di tempat tidur istri?" Reyhan bicara dengan gigi mengatup, hanya bibirnya yang bergerak naik turun, gemas.
"Gue udah bilang, dia susah tidur jadi gue temenin, kelonin, ga kayak lo, ninggalin istri mulu." Yundhi menoleh lagi oada Tiara dengan suara meringis, "tangan gue kebas Rey, tapi lihat Tiara pules gini, gue ga tega, sumpah."
Reyhan memutar bola mata melihat sepasang suami istri itu yang tidur di satu brankar yang menurutnya akan menyiksa jika di tempati dua orang. Oke, selain semena-mena, Yundhi ternyata punya sisi feminis, rasa tidak tegaan yang hanya berlaku untuk Tiara.
"Setengah jam lagi, kalau Tiara belum bangun, lo bangunin."
"Enak aja, ga bisa gitu, terserah dia kapan bangunnya."
"Pasien gue banyak gila, harus di rapel sama yang kemarin."
"Urusan lo."
Tu kan, pasien kurang asem, jiwa tak tega Yundhi tidak berlaku pada yang lain. Teman tidak tahu diri memang.
"Oke terserah lo sampai kapan bisa nahan kebasnya."
Reyhan beranjak pergi meninggalkan Yundhi, namun langkahnya terhenti saat meraih knop pintu. Yundhi memanggilnya dengan suara pelan.
"Kenapa lagi?"
Catet, seorang Yundhi bilang makasih.
"Buat?"
"Buat bangunin gue tadi, gue mimpi buruk."
"Oh, baca do'a lo, ayat kursi, kamar ini banyak penunggunya kayaknya."
Apa harus membangunkan seorang Yundhi baru kita akan di berikan ucapan terima kasih, kemarin di bantuin nembak empat puluh orang makasihnya apa kabar?
"Dukun amatir, pergi lo dedemit."
***
"Panasnya 39 derajat bu, den Edward manggil mamanya terus, nangisnya ga mau berhenti sejak tadi."
Di kamar Ed, kini Citra ketar-ketir berdua dengan suster Ana merawat Ed yang tiba-tiba demam pagi tadi begitu dia bangun tidur.
"Tu anak kemana lagi, sebentar sus, saya telpon bapaknya."
Citra bergegas menuju kamarnya, mengambil ponsel dan segera menghubungi Yundhi. Cucu kesayangannya mungkin sedang merindukan ibunya hingga suhu badannya tiba-tiba naik. Ed biasanya tidak meraung-raung seperti ini jika sakit meski tidak ada Tiara di sampingnya. Baru kali ini saja hingga membuat Citra sedikit panik.
"Yundhi bisa pulang ga, ini Ed tiba-tiba panas manggil mamanya, kalian kemana sih? Hah, rumah sakit? Siapa yang sakit? Mama bawa Ed ke sana maksudnya bagaimana sih?"
"Kita berdua yang di rawat Ma, sekarang Mama bawa aja Ed ke rumah sakit, sekalian nanti di periksa di sini, nanti Yundhi cerita."
Kepala Citra bekerja lambat untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi, bisa-bisanya anak dan menantunya sama-sama di rawat di rumak sakit. Apa msalahnya? Apa babymoon yang mereka lakukan sangat ekstrim sampai mereka harus di rawat di rumah sakit? Apa Yundhi tak henti-hentinya menggarap sang istri di tengah masa hamil mudanya? Tidak ada yang memberitahunya dari kemarin. Bertanya pada sang suami pun rasanya percuma. Hans sudah berangkat ke kantor sedari tadi.
Sadar suster Ana menunggunya, Citra segera kembali ke kamar sang cucu. Menyiapkan segala keperluan Ed dan membawanya bertemu dengan orang tuanya.
***
"Ed sakit, tiba-tiba demam."
Yundhi bicara begitu menutup sambungan telpon. Tiara yang baru membuka mata refleks menegakkan badan ingin turun dari tempat tidur.
Melihat istrinya yang tiba-tiba bergerak, tangan Yundhi menahan Tiara, "mau kemana?"
"Mau pulang, tadi kamu bilang Ed sakit."
"Tunggu di sini, nanti Mama yang bawa Ed ke sini, kamu juga masih sakit sayang."
"Bisa-bisanya aku lupa anak sendiri." Gurat kecewa pada dirinya terpancar dari wajah bantal Tiara. Yundhi memperhatikan istrinya yang mulai menekuk.
"Siapa bilang kamu lupa, terus tadi malam yang nyebut-nyebut nama anak pas lagi tidur siapa, yang ada kamu lupa sama suami."
"Masa? Aku ngigau? Perasaan enggak."
"Kalau sadar ya bukan ngigau namanya. Kamu sayang ga sih sama aku?"
"Apaan sih Yundhi," Tiara mencoba mengelak saat Yundhi mulai menjelajah area lehernya.
"Tu kan ga sayang, ga mau di cium suami sendiri, dosa lho,"
"Kita di rumah sakit kalau kamu lupa, dan ga mau di cium bukan berarti ga sayang, aku belum mandi."
"Kemarin kan sudah di mandiin sama suster, sekarang kamu juga masih wangi, sekali aja Ra, morning kiss deh, kilat."
"Morning kiss kenapa ke leher segala kayak gini, nanti ada yang masuk lho."
"Enggak ada yang bakal berani, aku udah pesan sama Rey kok," aksinya tak mau berhenti, "kalau gitu morning kissnya boleh di sini ya," menunjuk bibir istrinya, "deal."
Suasana seketika berubah intim. Yundhi yang sudah di kuasai gejolak, tidak bisa bertahan lagi. Ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Tiara. Sepertinya sudah lama rasa rindu itu tak tersalurkan. Tiara yang sudah dalam kekuasaan Yundhi hanya bisa menerima dengan suka rela keinginan suaminya. Kilatan kejadian kemarin terlintas sesaat dalam benak Tiara.
Tiara mencoba bicara saat Yundhi menjauh untuk mengambil udara. "Terima kasih," bisiknya. Dua kata sederhana untuk mewakili perasaannya saat ini.
"Terima kasih, sudah mau terluka seperti ini," jarinya menyentuh ringan wajah Yundhi yang terluka, "terima kasih untuk tidak menyerah mencariku," ucapnya dengan kening menyatu.
Ada emosi yang naik ke permukaan karena baru Tiara sadari kemarin adalah kejadian yang mempertaruhkan nyawa dirinya dan suaminya. Kejadian paling mengerikan yang pernah ia alami. Tanpa Tiara sadari, dua sudut matanya telah berair.
"Kalau kemarin kamu ga ketemu, aku bisa gila."
"Aku mencintaimu Yundhi Prasetya, bukan sekedar sayang."
Tiara merengkuh wajah Yundhi, menciumnya lebih dulu. Sesuatu yang jarang ia lakukan. Memberi suaminya sebuah ciuman yang berlangsung lama dan dalam. Tidak sekedar morning kiss kilat atau french kiss biasa. Ciuman yang menyalurkan gelombang dan perasaan sebaik mungkin ingin ia hantarkan melalui denyut demi denyut ciuman. Semoga tak ada satupun yang luput terbaca oleh Yundhi.