When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Masa Lalu



Yundhi, Yaris dan Rey sudah berteman sejak semasa sekolah menengah. Pertemuan secara tidak sengaja. Yundhi bertemu Yaris saat menolong Yaris di tengah jalan karena ban motornya pecah dan oleng menabrak trotoar. Dan Rey, adalah teman masa kecil Yaris sehingga dengan sendirinya mereka bertiga menjalin pertemanan.


Bahkan tanpa perjanjian lebih dulu mereka bersekolah di sekolah yang sama. Mereka seperti murid kebanyakan. Tidak membentuk kelompok secara khusus, berbaur dengan yang lain. Hanya setiap pulang sekolah mereka berkumpul di salah satu tempat nongkrong yang sedang hits kala itu. Hampir setiap hari.


Hingga tanpa mereka sadari ada seseorang yang menaruh perhatian pada mereka bertiga dan ingin menjadi bagian dari Yundhi, Yaris dan Reyhan.


Lingga Kasavi, sangat mengidolakan Yundhi dan kawan-kawan. Ingin bergabung dengan mereka dan mengira bahwa kelompok Yundhi itu sebuah genk khusus anak orang kaya.


Baik Yundhi, Yaris dan Rey sangat welcome dengan orang yang ingin berteman dengan mereka. Tidak ada aturan khusus yang mereka terapkan. Yundhi membiarkan Lingga bergabung jika mereka hang out di kafe, tidak keberatan Lingga pindah sekolah ke tempat Yundhi bersekolah, selalu mengekori Yundhi kemana pun Yundhi pergi. Bahkan sampai menginap di rumah Yundhi.


Hingga pada satu titik, Yundhi merasa terganggu akan ketergantungan Lingga padanya. Lingga memaksa ikut saat Yundhi akan berkencan pertama kali dengan Emmy. Tentu saja Yundhi keberatan dan tidak ingin privasinya terganggu. Dia sudah meminta baik-baik agar Lingga jangan mengganggunya dalam hal ini, tapi diam-diam Lingga mengikuti Yundhi seperti penguntit.


Emmy memergoki Lingga dan merasa tidak nyaman atas apa yang Lingga lakukan hingga memancing emosi Yundhi. Sudah di beri peringatan baik-baik tapi malah tidak menghormati keputusannya, Yundhi memberi pelajaran pada Lingga dengan sedikit berlaku kasar.


Lingga merasa tersinggung. Tadinya dia mengira Yundhi akan membelanya karena mereka berteman. Lingga lebih dulu mengenal Yundhi dari pada Emmy. Nyatanya dia salah. Yundhi membela kekasihnya. Wanita yang baru saja ia kenal. Wanita yang mungkin akan merusak pertemanan mereka. Lingga marah dan mengadu pada Yaris dan Reyhan.


Mengira lagi dirinya akan di bela Yaris dan Rey, nyatanya Lingga salah. Tentu saja Yaris dan Rey membenarkan tindakn Yundhi yang menghajarnya. Mereka menasehati Lingga agar menghormati privasi Yundhi. Lingga semakin murka.


Padahal niatnya baik. Hanya dia. Hanya Lingga yang merasa niatnya baik untuk mengawasi Yundhi. Menjaga Yundhi agar tidak mengorbankan pertemanan mereka. Agar Yundhi tidak selalu fokus pada Emmy. Bahkan akan mencoba menjauhkan Emmy dari Yundhi.


Tahu akan hal itu, Yundhi terpaksa memberi peringatan keras pada Lingga karena Lingga sudah di luar batas. Rasa pertemanan Lingga bukan rasa pertemanan lagi, tapi melainkan rasa obsesi yang tidak baik dalam pertemanan.


Yundhi mulai menjauhinya. Yundhi tidak lagi nongkrong di kafe tempat biasa mereka berkumpul. Tidak memberikan ijin Lingga menginap di rumahnya. Tidak menegur Lingga saat di sekolah. Hanya dirinya. Hanya Yundhi. Dia tidak mengajak Yaris atau Reyhan melakukan hal yang sama dengannya. Tapi seperti orang yang terkena penularan penyakit latah, Yaris dan Rey malah mengikuti apa yang Yundhi lakukan tanpa di minta. Dan Lingga tidak tahu itu.


Lingga mulai menyalahkan Yundhi atas apa yang terjadi. Menyalahkan Yundhi karena Yaris dan Rey tidak mau lagi berteman dengannya. Hari demi hari rasa benci Lingga makin subur dan berkembang. Di jauhi Yundhi membuatnya di jauhi hampir semua siswa di sekolah mereka. Padahal Yundhi tidak berniat melakukan itu. Begitu besar pengaruh seorang Yundhi. Yundhi hanya ingin memberi Lingga peringatan agar tidak begitu lagi. Yundhi ingin Lingga berteman seperti biasa. Bahkan kalau Lingga minta maaf, Yundhi akan memaafkannya.


Lingga mulai tersisihkan dari pergaulan di sekolah. Dirinya seperti sampah yang tidak dianggap keberadaannya. Tidak ada yang mau menegur sapanya.


Pernah sauatu hari Yundhi ingin bicara dan meluruskan apa yang terjadi, tapi Yundhi menundanya karena harus menemani Emmy. Padahal Lingga sudah berharap mereka bisa berbaikan, tapi Lingga terlanjur salah mengartikan sikap Yundhi yang lebih mementingkan kekasihnya. Sejak saat itu Lingga menyimpan dendam pada Yundhi, Yaris dan Rey.


***


"Sudah sadar Nyonya Prasetya?"


Mata Tiara melebar dengan kepala yang menoleh ke kanan kiri mencari sumber suara yang di dengarnya.


"Penasaran siapa yang melakukan penculikan ini pada salah satu keluarga Prasetya?"


Suara itu mengalun lembut tapi terdengar menakutkan di pendengaran Tiara. Membuat Tiara di jalari rasa takut dan kengerian yang sangat.


"Kamu, Tiara Prasetya, wanita yang sangat beruntung. Bisa menjadi salah satu anggota Prasetya adalah sebuah anugrah bukan?"


Suara langkah kaki terdengar dari belakang tubuhnya membuat tubuh Tiara mulai bergetar halus, merasakan adanya bahaya.


"Aku bahkan pernah meminta Papa Hans mengadopsiku agar bisa menjadi bagian keluarga Prasetya, tapi sayang Hans menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan anggota keluarga yang jenius seperti diriku."


Lingga bicara sambil memainkan rambut Tiara, membuat Tiara semakin ketakutan Matanya terpejam menyemburkan air mata. Tiara bahkan belum melihat wajah orang yang memainkan rambutnya sekarang.


"Aku pernah menggagalkan jalan seorang wanita untuk menjadi anggota Prasetya," jeda beberapa waktu, "kau tahu Emmy bukan? Mantan kekasih suamimu?"


Lingga berjalan menjauh, mengitari meja dan duduk di kursi. Sayangnya Tiara masih belum bisa melihat wajah orang di depannya karena cahaya lampu yang menggantung di atas meja itu tak berpendar hingga mengenai wajah orang asing di depannya.


"Aaah apa suamimu sudah menceritakan tentang mantan kekasihnya itu? Wanita kurang ajar yang merusak pertemanan kami?"


"Kau tahu?" Lingga mencondongkan tubuhnya hingga Tiara bisa melihat wajah Lingga di bawah cahaya lampu, "Aku menularkan penyakit leukemia pada wanita itu tanpa dia sadari, bukankah itu jenius?" suara tawa menyebalkan Lingga kembali mengudara, membuat rasa sesak yang di rasakan Tiara makin hebat.


Lambat-lambat suara tawa itu menghilang, berganti lagi suasana mencekam pekat.


"Suamimu tentu saja juga tidak tahu aku menularkan wanitanya penyakit mematikan itu. Dia sangat bodoh. Dibutakan oleh cinta."


"Dan kau, kau sangat beruntung bisa lolos dari pengawasanku. Kau bisa lolos menjadi seorang Prasetya. Aku bisa merasakan rasa cinta yang kau dapatkan dari semua anggota Prasetya, bagaimana rasanya? Indah bukan?"


Suara tawa itu kembali terdengar.


"Aku jadi penasaran bagaimana takutnya mereka sekarang kalau tahu aku menculikmu, apalagi nanti saat mereka hanya akan menemukan jasadmu."


Tangis bisu Tiara makin hebat, mendengar pengakuan laki-laki asing di depannya yang terang-terangan mengatakan ingin menghabisi nyawanya. Tiara mulai sadar orang di hadapannya ini adalah orang yang sangat berbahaya.


"Apa kau mau memilih cara yang kau inginkan untuk menjemput ajal? Mau lambat seperti Emmy, atau cepat tanpa harus merasa sakit?"


"Tapi kalau cepat-cepat akan tidak seru."


Lingga beranjak berdiri. "Bagaimana kalau kita membuat beberapa tanda?" Tangannya mengeluarkan belati kecil dari saku celana.


Lingga memain-mainkan belati itu di depan wajah Tiara.


"Mungkin Yundhi akan merasa sakit seperti yangbaku rasakan dulu jika melihat bekas luka di jasadmu di bagian ini."


Goresan cepat di atas kulit punggung tangan Tiara membuat Tiara menjerit dalam bekapannya. Air mata terus menderas tanpa bisa ia tahan. Darah segar mengalir dari atas punggung tangannya.


"Ups, sepertinya aku terpeleset, harusnya tadi mengenai nadimu saja Nyonya Prasetya." Lingga bicara dengan nada menyebalkan yang di buat-buat.


Tiara yakin orang di depannya adalah seorang psikopat.


"Bagaimana kalau kita buat tanda lagi di..." belati itu bergerak halus di atas kulit leher Tiara. Tiara merasa kematian semakin mendekatinya. Matanya terpejam dalam. Pasrah.


Dering ponsel berbunyi.


"Wah lihat, siapa yang mengganggu kesenanganku? Tuan Yundhi Edward Prasetya, suamimu tercinta, sepertinya dia sudah merindukanmu. Dia menelponku sejak tadi, tapi aku malas mengangkatnya, aku malas bicara dengannya karena dia tidak lagi menganggapku teman, bagaimana kalau sekarang aku angkat saja, tapi kau yang bicara, apa kau mau mewakiliku bicara dengan suamimu?" Tiara mengangguk cepat, merasa ini kesempatan terakhirnya bicara dan mendengar suara Yundhi.


"Baiklah, aku akan mengangkatnya sekarang, silakan, ucapkan salam perpisahan!"


Lingga menggeser tombol hijau dan menaruh ponsel di telinga Tiara.


"Mph...mph.."


"Ah, maaf aku lupa membuka lakbanmu."


Satu tarikan keras dan cepat yang di lakukan Lingga untuk membuka lakban Tiara membuat Tiara meringis menahan sakit. Dengan susah payah Tiara menahan diri agar berhenti menangis, menenangkan diri agar bisa bicara dengan jelas, menarik dan membuang napas pelan.


"Ha...hallo, sayang, ini aku," ada jeda yang terjadi saat Tiara mendengar suara Yundhi, karena tidak fokus Tiara tidak bisa menangkap dengan benar apa yang di katakan suaminya di seberang sana, matanya terpejam, bayangan Yundhi dan Ed berputar di kepalanya. Suara itu yang ia rindukan, suara iti yang selalu mendebatnya, tapi juga mengatakan cinta di waktu yang sama.


"Aku mencintaimu, sampai kapanpun, dari awal sampai selamanya," pertahanan Tiara runtuh, tangisnya memecah di sambungan itu, "ka...katakan pada Ed aku juga mencintainya, jangan mencariku, aku sayang kalian."