When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Jangan Libatkan Perasaan



"Yundhi kemana mang?"


"Anu, tadi den Yundhi katanya ada keperluan mendadak, ndak bisa jemput, aden belum ngasih tau ya?"


Tiara menggeleng, sedikit kecewa karena Yundhi tidak mengabarinya lebih dulu, tapi segera ia tepis, mungkin Yundhi memang memerlukan waktu untuk dirinya sendiri, toh sudah benerapa hari ini Yundhi yelah menjadi sopir pribadinya dan mereka sering mengjabiskan waktu bersama.


"Kita ke tempat bimbel aja mang!" ujar Tiara dari kursi penumpang dan di sambut anggukan dari mang Jay.


Hari ini dia berencana mengecek hasil renovasi dari para tukang yang telah ia sewa. Jika sesuai perhitungan hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja dan tempat itu bisa segera di gunakan.


Tiara segera menghubungi teman-temannya yang ia libatkan dalam proyek itu. Tak terkecuali Mimi dan Jenny, Razkan juga Putri. Tiara telah menyiapkan skema kepengurusan dan pembagian tugas untuk mereka.


***


Yundhi masih belum keluar dari mobilnya meski ia sudah sampai di tempat tujuan. Tatapan matanya tak lepas dari rumah mewah yang dulu sering ia kunjungi. Tapi jika tidak di selesaikan sekarang, mungkin ia tidak akan punya kesempatan lagi.


Tanpa pikir lagi Yundhi segera mendekatkan mobilnya pada gerbang besar di depannya dan membunyikan klakson. Kedatangannya di sambut baik oleh penjaga yang telah mengenalnya.


Sementara di tempat lain, Tiara tersenyum puas melihat hasil kerja pegawai yang telah merenovasi ruko yang akan menjdi lokasi bimbelnya. Papan namapun telah terpasang. Perabotan telah tertata rapi. Lantai dasar akan di jadikan kelas. Ruangan yang luas itu telah di sekat menjadi beberapa ruangan. Di lantai dua akan menjadi kantor merangkap ruang istirahat para tutor. Satu lagi ruang kelas yang tak terlalu besar khusus untuk kelas privat.


"Lo yakin Ra ga nyari sponsor lagi?" tanya Putri ragu.


"Ga sayang tabungan lo, biaya nikah mahal lho Ra." Jenny menambahi.


"Jamaah sekalian, semua udah gue perhitungkan, kalian ga perlu khawatir, kemampuan finansial gue mumpuni buat buka bimbel ini dan memang gue udah siapin dana bimbel ini udah bertahun-tahun lalu, kalau ga ada sponsor yang nerima proposal gue artinya gue ga perlu berbagi keuntungan dengan pihak manapun, jadi gue kaya sendiri tapi gaji kalian aman, sampai sini paham kan. Please, jangan protes lagi atau nyoba goyahkan pendirian gue kalau kepala kalian ga mau gue sleding."


"Ah satu lagi, masalah nikahan gue pake dananya Yundhi, udah, kalian tinggal duduk manis, bantuin gue jalankan bimbel ini, jadi tutor gue yang loyal saya jamin kalian sejahtera." Tiara menambahkan penjelasannya.


Mimi, Jenny dan Putri tersenyum bangga dengan teman mereka yang satu itu. Tiara memang nekat tapi semua sudah ia perhitungkan jadi mereka sedikit tenang. Tiara tidak mungkin ceroboh dalam msalah ini.


Dengan penuh kehati-hatian Tiara menaruh fotonya dan Yundhi di atas meja kerja. Foto saat mereka bari jadian, di acara Redepsi Nadia. Tiara tidak akan melupakan malam bersejarah itu. Ia memutuskan mencetak gambar itu setelah mengambilnya di akun instagram Yundhi. Sebuah tulisan kecil bertengger di sana, 'The first night I own you.'


Tiara melihat ponsel, Yundhi belum mengabarinya, sedang dimana calon suaminya itu. Apa ia telpon duluan saja? Tiara mencari kontak Yundhi dan menghubunginya. Sayang, suara operator menyambutnya, tidak seperti biasa ponsel Yundhi tidak aktif. Perasaannya sedikit tak enak. Tiara berusaha mengalihkan pikiran menghubungi tutor lain yang akan ia rekrut. Mungkin memang Yundhi sedang dalam kepentingan, tapi kepentingan apa sampai tidak menghubunginya dan ponselnyapun di non aktifkan.


Di lain tempat Yundhi menyimak penjelasan Emmy. Alasan kenapa Emmy meninggalkannya telah ia dengar dari mulut Emmy sendiri.


"Aku udah biasa dengan penyakit ini, kamu jangan liatin aku kayak gitu!" seru Emmy yang terlihat pucat di depan Yundhi.


"Kamu ga ngerasa keterlaluan baru kasih tau aku sekarang?" Yundhi menjeda dan berdecih, "Ternyata aku memang ga ada artinya buat kamu."


"Kamu salah, justru karena kamu terlalu berarti buat aku, aku ga mau menghambat karir kamu, aku tahu apa yang akan kamu lakukan kalau sampai tahu penyakitku dulu. Jadi aku harap kamu bisa hormati keputusan aku."


' Jangan libatkan perasaan, jangan libatkan perasaan' Yundhi terus melafalkan kalimat itu dalam hati layaknya mantra. Yundhipun menganggukkan kepala, memahami posisi Emmy dan keputusannya meski ia sendiri kecewa.


"Kamu ga perlu merasa bersalah, lihat kamu sekarang aku tambah yakin keputusan itu yang terbaik buat kita." tambahnya. "Jadi kamu mau kita berteman?" Emmy mengulurkan tangan dan Yundhi butuh beberapa saat menerima jabatan itu.


"Kita putus, dan sekarang berteman." ucapnya mantap dengan senyum getir tersirat. Walau bagaimanapun Emmy dulu salah satu alasan bahagianya. Wanita baik yang mengisi hari-harinya dengan berbagai kenangan indah. Saling melepaskan diri karena sebuah penyakit mematikan tentu tidak ada dalam pikirannya atau Emmy. Jika Emmy tidak mengidap leukemia, mungkin mereka sudah...


Yundhi menghentikan pikiran liarnya.


"Sebagai teman apa aku boleh minta satu hal?" ujar Emmy tiba-tiba.


"Apa?"


"Pengobatan berikutnya, aku ingin ke Jepang tapi kamu yang jadi pilotnya?"


Yundhi tertegun mendengar permintaan Emmy, ia berpikir sejenak kemudian mengangguk sambil tersenyum.


"Dikabulkan."


Emmy tersenyum puas, matanya berbinar.


"Lima hari lagi aku bakal balik ke sana, kamu janji ya!"


Entah karena lupa atau sengaja Yundhi tak sedikitpun menyebut Tiara dalam pembahasan mereka. Yundhi hanya memfokuskan diri tentang ia dan Emmy. Mungkin untuk menjaga perasaan wanita itu, ia tidak enak hati menceritakan dirinya yang sudah mendapatkan pengganti.


***


Haripun berlalu, Yundhi dan Tiara tenggelam dalam kesibukan persiapan pernikahan mereka. Perdebatan kecil masih sering terjadi, entah itu untuk warna baju mereka, konsep foto pre wedding, bahkan sampi menu makanan menjadi bahan pertengkaran tak berfaedah Yundhi dan Tiara.


"Hari ini Yundhi terbang kan tante?" tanya Tiara sambil menikmati kue yang di sajikan Citra untuknya.


"He eh, tu lagi siap-siap, kamu ga mau nyamperin ke atas."


"Ga deh, ntar berantem lagi." tolak Tiara dengan bibir mengerucut.


"Jangan bad mood dulu, hari ini kamu kencam sama tante, kita ke mall dan nyari bahan buat bridemaids." ujar Citra bersemangat.


"Hm, mending persiapannya banyakan sama tante deh, sama Yundhi ada aja yang bikin ribut."


"Itu wajar, kalian banyak tekanan jadi emosi tapi ga ada yang mau ngalah, ini masih lama lho dari hari H, tapi kalu udah deket hari pernikahan nanti kalian beneran deh ga usah ketemu, tante khawatir potensi bahaya pertengkaran kalian. Nanti biar tante pingit kalian sebulan deh."


Tiara dan Citra tertawa bersamaan.


"Lagi ngetawain apa sih, heboh banget."


Yundhi turun dari tangga dengan pakaian seragam rapi yang seperti biasa menambah kadar ketampanannya di mata Tiara.


Yundhi mengecup kening Tiara dan mamanya bergantian.


"Ga lagi ngetawain apa-apa." Tiara bangkit dari duduknya mendekati Yundhi dan memeriksa kerapian seragam calon suaminya itu. Ia mulai dengan merapikan dasi yang melingkar di kerah baju Yundhi.


"Kamu terbangnya berapa lama?" tanyanya sambil menggeser dasi Yundhi. Wajah mereka sedikit berdekatan. Tangannya kemudian ia kebaskan di kedua bahu Yundhi.


"Semingguan mungkin." jawabnya dengan senyum di tahan melihat wajah sendu Tiara.


Entah kenapa mendengar jawaban Yundhi, ada perasaan tak rela pada diri Tiara melepas kepergian orang terkasihnya itu.


"Katanya tadi mau banyakan sama mama lho persiapannya, kayaknya sekarang udah berubah pikiran." Citra mengomentari kedua pasangan itu sambil beranjak membawa piring kotor ke dapur.


Tiara terkekeh pelan mendengar ledekan calon mertuanya.


"Bener kamu bilang gitu?" tanya Yundhi dengan senyum menggoda.


"Mama bohong, aku ga bilang gitu." elaknya.


Tiara refleks memeluk Yundhi. Entah dorongan dari mana, dia semakin tak merelakan Yundhi berangkat bekerja seperti biasa. Dulu bahkan ia tidak peduli kapan Yundhi berangkat atau kembali.


"Kamu jangan bandel, jangan genit sama awak pesawat kamu yang cantik-cantik, jangan ada bekas lipstik merah di kerah baju, cepetan balik, ada yang mau aku kasih tau." beo Tiara yang belum melepaskan pelukannya.


"Kalau kamu meluk gini, aku bisa-bisa ga jadi berangkat."


Tiara tersadar dan segera melepaskan pelukannya.


"Kalau aku kasih tau sekarang kamu ga punya bahan buat mikirin aku."


Yundhi menarik nafas, mengamati calon istrinya lekat. Ia menyadari perubahan mood Tiara yang drastis, padahal tadi sebelum ia turun, Tiara tertawa bersenda gurau dengan mamanya.


"Jangan cemberut gitu, nanti aku usahakan pulang cepat, kamu juga jangan bandel selama aku ga ada, minta antar mang Jay, jangan naik motor!" Tiara memberi anggukan.


Yundhi memindahkan tangan ke saku belakang celananya dan mengeluarkan dompet dari sana.


"Nih, udah waktunya kamu yang pakai." ujarnya sambil menyerahkan sebuah kartu debet pada Tiara. "Udah tau pinnya kan?"


Tiara menerima kartu itu dengan perasaan sedikit berat yang entah datang dari mana.


***


"Sebelum ke bandara, kita mampir ke mall dulu ya, aku kangen gellato yang biasa kita beli di tempat biasa itu." pinta Emmy pada Yundhi yang duduk di belakang setir. "Kamu masih punya waktu kan?"


"Masih lah, jadwal keberangkatan kita masih lama."


Hari ini Yundhi akan menjadi pilot pada penerbangan Emmy menuju Jepang. Ya, hari ini ia akan memenuhi janjinya. Tidak hanya menjadi pilot, Yundhi berjanji pada dirinya sendiri akan menemani Emmy selama benerapa hari untuk menjalani pengobatan.


***


"Kita kemana dulu ni tante?" tanya Tiara setelah mereka tiba di mall besar tempat toko bahan kain langganan Citra.


"Kita nyari bahan buat bridemaidsnya dulu deh, nanti pasti milihnya lama."


"Hm, oke."


Mereka melangkahkan kaki menuju toko kain besar yang masih terletak di lantai dasar. Tiara membiarkan calon mertuanya memilih bahan karena ia sedang merasa tidak mood untuk memilih sendiri. Meski begitu ia selalu menjawab dengan sopan setiap Citra meminta pendapatnya.


"Yang ini oke deh tante, aku suka warnanya."


"Hm, baiklah, kita ambil yang ini, tante juga suka jenis kain dan warnanya."


Mereka telah menentukan pilihan, Tiara dan Citra tak menyangka akan begitu cepat.


"Kita bakalan punya banyak waktu, nanti ke salon juga ya Ra!" pinta Citra.


"Beres tante."


Mereka masih menunggu kain yang sedang di potong oleh petugas toko. Tiara terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Masih lama ya tante motongnya?"


"Kenapa?"


"Aku pengen ke toilet."


"Ya udah sana, jangan di tahan, tante tunggu di sini, cepet blik, setelah ini kita ambil baju buat om Hans dan ayah kamu."


"Siap tante."


Tiara segera menuju pintu keluar toko itu. Berbelok ke arah kanan menuju toilet terdekat. Tapi langkahnya segera terhenti, ia menangkap sosok yang tidak asing meski sekilas.


Ia pun berbalik, melangkah beberapa jengkal. Sebuah pemandangan indah berputar di depannya. Tapi sungguh itu bukan tontonan yang ingin ia lihat secara live.


Tiara mematung, menikmati adegan demi adegan dua insan yang terlihat serasi itu. Meski menonton dari arah samping, ia bisa melihat wajah tampan Yundhi yang mempesona.


Yundhi dan Emmy berdiri di sebuah kedai gellato yang cukup terkenal di mall itu. Meski tidak melakukan sentuhan tubuh, ia bisa melihat wajah sumringah mereka menanti pelayan menyiapkan pesanan.


Tiara masih setia di tempatnya. Jarak yang cukup jauh membuat Yundhi tidak menyadari kehadirannya.


"Tiara kok masih di si__"


Citra terperangah melihat Tiara yang tidak mendengar sapaannya. Ia masih keheranan melihat Tiara tak bergeming meski telah ia panggil beberapa kali. Citra lalu mengikuti arah pandangan Tiara. Ia masih kebingungan ke mana arah retina calon menantunya itu, dan hampir terlambat menyadari jika saja tidak familiar dengan warna jas yang biasa di pakai Yundhi.


"Itu Yundhi kan?"


Citra bisa melihat tangan wanita lain merangkul lengan Yundhi dengan mesra. Meski dari arah belakang, ia bisa melihat Yundhi dan wanita itu tertawa sambil menikmati makanan.


Citra segera melangkah ingin mengejar mereka. Tentu saja ingin meminta penjelasan tentang perbuatan anak kandungnya itu.


Baru beberapa langkah Tiara segera mencegat calon mertuanya.


"Jangan tante! Tiara yakin Yundhi punya alasan sendiri, Tiara ga marah, Tiara akan nunggu penjelasan Yundhi."


"Tapi dia ___"


"Yundhi mau terbang tante, Tiara ga mau Yundhi banyak pikiran dan ga konsen. Tiara bisa nunggu, ya." Tiara mencoba menenangkan calon mertuanya, padahal dia sendiri merasa hatinya terkoyak parah di dalam.


Tiara mencoba tenang, dan bersikap dewasa. Ia yakin Yundhi akan menjelaskannya nanti setelah ia kembali.


"Kalau udah selesai, kita ambil baju buat om sama ayah yuk!" Tiara berusaha mengalihkan perhatian.


***


"Kamu masih suka vanilla kan?"


"Kamu masih ingat?"


"Masih lah, minta yang rasa vanilla satu sama coklat satu ya mba!" Yundhi mengucapkan pesanan mereka. Sambil menunggu ia dan Emmy bercerita tentang masa lalu ketika masih berpacaran.


"Bedanya gellato sama es krim apa sih, perasaan sama aja."


"Tanya google gih, aku malas jelasin ke kamu." jawab Emmy yang tanpa sadar melingkarkan tangannya pada lengan Yundhi.


Mereka tertawa sambil melangkah meninggalkan kedai itu. Masih bercerita tentang hari-hari yang mereka rayakan di beberapa tempat makan yang ada di mall itu.


"Kamu ngebosenin, ga mau pindah resto, mau makan di situ-situ aja." kenang Emmy.


"Ya daripada pindah terus makanannya ga enak, mending stay, udah pasti enak."


"Ga seru."


"Biarin."


Tanpa Yundhi sadari, ada sepasang mata yang melihatnya dengan perasaan sakit dan terluka. Meski hanya melihat punggung Yundhi, Tiara tidak menyangka akan sesakit itu melihat wanita lain berjalan di samping Yundhi. Tiara harus menarik nafas dalam beberaoa kali agar tangisnya tak keluar dan emosinya tetap stabil.


Yundhi ga munhkin selingkuh, dia pasti punya penjelasan, Yundhi pasti ga selingkuh. Kalimat itu terus ia lafalkan dalam hati.