When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Drive Me Crazy



"Jadi deal ya kamu nginap di sini, ga ke hotel lagi."


Malam itu Tiara memutuskan untuk kembali ke rumahnya, tidak lagi menginap di hotel seperti sebelumnya. Yundhi berhasil membuatnya berubah pikiran. Andai dia tak memaksa, mungkin Tiara masih mendiamkan Helma. Selepas makan malam, mereka mengobrol di ruang tamu dan Helma sedang menidurkan Wahyu.


"Hm, terima kasih atas paksaannya."


Yundhi hampir bersemu merah, merasa kalimat Tiara kali ini adalah pujian untuknya. Tapi lagi-lagi ia teringat seseorang. Deki.


"Apa acara pelunasan hutang kami besok ga bisa di batalin?" Yundhi mendesah, "Aku ga ikhlas kamu dinner sama dia." Tiara tertawa pelan melihat wajah putus asa Yundhi.


"Aku seneng lihat kamu kayak gini." Yundhi menoleh cepat. Apa maksudnya? Tiara senang melihatnya tersiksa? Begitu?


"Kamu senang lihat aku sedih?" tanya Yundhi dengan mata melebar. "Bisa ya kamu sadis kayak gitu, senang lihat pacarnya menderita."


"Dengerin dulu!"


"Apa?"


Tiara tersenyum melihat Yundhi yang cemberut dan tidak mau melihatnya.


"Jadi, aku ngerasa seperti barang antik yang ga boleh di lihat dan di sentuh sembarang orang, kecuali pemiliknya, dan asal kamu tahu aku senang bisa merasakan itu."


Jawaban yang ia dengar membuat Yundhi tersenyum tipis. Ia senang Tiara sudah tahu posisinya, bahwa dialah pemilik wanita itu, tapi melihat bagaimana Deki memandang Tiara denga tatapan yang benci ia artikan, tatapan suka, Yundhi merasa Tiara akan di rebut oleh guru baru yang sepertinya berkasta sama dengan dirinya.


"Bukannya kita sudah sepakat bermain kepercayaan?" sambung Tiara, "Aku percaya kamu, kamu juga harusnya gitu. Tapi kayaknya ini ujian yang berat buat kamu, iya?"


Ada hembusan napas yang terbuang saat keduanya diam.


"Enam bulan kita jeda, baru baikan beberapa hari, terus sekarang aku langsung ketemu rival, kamu pikir aku bakal tenang?" Yundhi menjawab santai, tidak mau kentara paniknya, "ini malah lebih sulit dari pada tugas pertama kali bawa pesawat dengan penumpang."


"Yundhi, Deki itu cuma teman. Hanya... kebetulan dia orang pertama yang nolong aku waktu ayah pergi, saking kalutnya, aku ga tahu apa yang terjadi setelah pingsan di rumah sakit, begitu sadar semua...." Tiara tidak melanjutkan kalimatnya, "dia pasti kerepotan ngurus semuanya sendiri," tutup Tiara dengan pikiran yang memutar kejadian dulu. Dimana saat itu dia bertekad menghilangkan Yundhi dari hidupnya. Membenci pria di depannya itu dengan segenap jiwa dan raga.


Di lain sisi, mendengar penuturan Tiara, rasa bersalah Yundhi kembali tersulut. Tidakkah seharusnya dia yang berada di posisi Deki saat itu? Iya harusnya begitu. Mengingat hari laknat itu, rasanya Yundhi ingin muntah mengingat kebodohannya.


"Ini hanya bentuk ucapan terima kasih, kamu khawatirnya jangan berlebihan!" Tiara harus membuat kalimat menenangkan karena ia bisa melihat perubahan reaksi wajah Yundhi yang drastis, Yundhi masih merasa orang yang paling bersalah dan paling bodoh karena mengabaikannya.


Yundhi meyandarkan kepalanya di sofa, sedikit mendongak sambil menutup wajah dengan ke dua tangannya, mengulang kalimat 'ini hanya makan malam biasa' berulang kali dalam hati.


"Besok biar aku yang nganter, jangan lupa bawa handphone, kalau ada apa-apa langsung kabari aku, pulangnya juga, kalau perlu aku tunggu deh sampai selesai," beo Yundhi yang mungkin tidak sadar dengan ucapannya sendiri karena frustasi.


"Iya. Terserah kamu." Itu jawaban Tiara untuk menenangkan pria disampingnya.


"Kalau gitu aku pamit, kamu langsung istirahat aja, besok pagi aku jemput, kita bawa Wahyu jalan-jalan, barang-barang kamu biar nanti aku yang urus ke hotel." Mereka berdiri bersamaan. "Bisa antar aku sampai mobil?"


"Ga usah di minta, ini juga mau di anterin, tapi kenapa mesti sampai mobil sih?" tanya Tiara.


"Udah, ikut aja." jawab Yundhi misterius, dia menggandeng tangan Tiara menuju mobil.


"Lho kok?" tentu saja Tiara heran melihat Yundhi membukakannya pintu penumpang, memintanya duduk di sana. Yundhi kemudian menyusul dan duduk di belakang setir. Tiara masih di landa rasa heran, bukannya tadi dia sudah bilang akan kembali ke rumahnya. Iya kan?


"Lihat atas deh Ra!" pinta Yundhi.


Tiara menurut seperti anak kecil dan memandang ke atas begitu saja, hanya terlihat kabin bagian atas mobil Yundhi, tidak ada apa-apa di sana, tapi kemudia ia merasakan sesuatu menyentuh kulit ceruknya, Yundhi sudah tenggelam di sana, di sela leher putih jenjang membuat Tiara syok.


Tiara mendorong tubuh Yundhi yang sedang menyerangnya.


"Yundhi!" ujar Tiara tegas.


Suaranya berhasil menghentikan aksi Yundhi namun bibir Yundhi tepat berhenti di depan telinganya.


"Please Ra, cuma ini yang bisa bikin aku tenang." bisiknya lirih. Tiara meremang, matanya melihat ke samping wajah Yundhi yang masih ingin tenggelam di sana. Mata mereka tidak bertemu. Tiara membisu dan Yundhi menganggap itu sebagai persetujuan.


Yundhi kembali mengisap ceruknya dalam dan membuat gelenyar tak tahu malu dalam tubuh Tiara hampir muncul ke permukaan. Yundhi ingin membuat tanda kepemilikan di sana. Semoga hanya perasaannya, tapi ia yakin Yundhi tidak akan melebihi batas. Pria itu hanya ketakutan akan miliknya yang ia rasa terancam. Setelah di rasa puas, Yundhi menjauhkan diri, memastikan karyanya tampak cantik di leher Tiara.


Gila.


Memang. Yundhi memang gila karena ulahnya sendiri. Ia harus menegaskan pada Deki, bahwa Tiara miliknya tanpa harus berkata secara langsung, dan ini ia rasa satu-satunya jalan, cupangin leher anak gadis orang.


"Besok, pas dinner sama guru itu, Yundhi malas menyebut namanya, kamu harus pakai baju dengan leher terbuka sampai sini!" telujuk Yundhi membuat garis di sekitar leher Tiara. Tiara refleks memukul lengannya keras.


"Kamu tu ya, ya ampun." Tiara tak habis pikir, menatap miris lehernya di kaca spion, ada beberapa tanda merah tercetak di sana. Dia salah mengira jika Yundhi hanya ingin meluapkan rasa frustasinya, ternyata laki-laki itu kekeuh ingin memastikan miliknya tidak akan di sentuh orang lain.


"Kalau boleh, aku mau bikin lagi di sini," sambil menunjuk leher Tiara yang masih kosong.


"Ih, aku ga percaya kamu semesum ini sekarang."


"Aku ga mesum Ra, aku cuma ga mau jadi gila mikirin kamu makan sama cowok lain tanpa kehadiranku di sana, paling enggak tanda ini menjadi penegas kamu cuma milikku, kalau bisa cewek hamil dalam semalam___" sebelum Yundhi melanjutkan ucapannya Tiara lebih dulu memukul lengan Yundhi membabi buta, "Aku ga sakit Ra, tapi awas tangan kamu nanti merah." Tentu saja Yundhi sudah lebih dulu menyalakan mode mengunci.


"Biarin, biar otak kamu jalannya bener." Tiara menghentikan pukulannya saat tangannya terasa kebas. Ternyata setelah enam bulan lengan itu masih kuat seperti dulu.


"Tu kan, aku bilang juga apa." Yundhi meraih tangan Tiara dan mencium punggung tangan Tiara yang kemerahan.


"Tangan kamu nanti ga boleh buat yang lain-lain," sambil mengangkat kedua tangan Tiara, "Ini cuma buat ngelus-ngelus aku," sambungnya dengan nada menggoda. "Ngerti Nyonya Prasetya?"


"Udah ah, aku ngantuk, kamu pulang gih sana!" Tiara berpaling membuka pintu mobil tapi Yundhi menghentikannya dan saat Tiara menoleh, lagi-lagi Yundhi menyambar bibirnya.


Tiara hampir kewalahan, tapi Yundhi membuat mereka seimbang.


"You drive me crazy Ra, and thank you for that, good night, sleep thight!"


Yundhi melepaskan tengkuk Tiara, dan membukakan Tiara pintu. Tiara tersenyum dan melanjutkan niatnya.


"Udah puas kan jahilnya, cepet pulang!"


Yundhi tertawa di balik setir, melihat Tiara mengibas-ngibaskan tangan mengusirnya. Sepertinya malam ini mereka tidak akan bisa tidur.


Nyonya Prasetya you're mine.