When Teacher Meets Pilot 2

When Teacher Meets Pilot 2
Honeymoon (extra part)



"Ini sempurna sayang, di sana menara Eiffel, di sini ada kamu."


Yundhi mulai bekerja, entah bibir, tangan bahkan kakinya sibuk menjamahi Tiara. Meski mereka baru saja tiba di hotel dan menempuh perjalanan belasan jam untuk tiba di negara yang katanya penuh dengan romantisme itu, Yundhi tidak mau menunda lagi untuk menikmati hidangan utamanya yang sempat tertunda. Beberapa hari sebelum akad, Tiara mengalami datang bulan, wal hasil setelah akad pun Yundhi mati-matian menahan hasratnya menyentuh Tiara. Sampai keesokan hari setelah Tiara bersih, mereka harus menunda lagi kegiatan ritual pengantin baru karena harus segera terbang ke Paris.


Dan sekarang, ketika mereka baru saja tiba, bahkan koper mereka belum di buka, Yundhi lebih memilih membuka baju Tiara satu per satu dan memulai beraksi.


"Ini valid ya kamu udah bersih?" tanya Yundhi sambil membuka mantelnya.


"Mau ngecek sendiri? Nanti juga kamu, ah." Tiara refleks memekik karena ulah Yundhi.


Ia merasa tubuhnya melayang, Yundhi menggendongnya menuju tempat Tidur, tidak ada percakapan lagi, yang ada tubuh mereka yang bekerja. Yundhi mengambil langkah agresif. Ia benar-benar tidak tahan. Bibirnya ******* penuh bibir Tiara, tidak ingin ada bagian yang tertinggal. Tidak akan ada lagi penghalang dirinya untuk menyalurkan gelombang hasrat. Sedang Tiara, benar-benar menyerah di bawah kuasa Yundhi. Lelakinya itu seperti lepas kendali, tapi Tiara memaklumi kenapa Yundhi seperti itu.


Tiara yang masih menyesuaikan diri dengan napas naik turun bisa merasakan Yundhi menyusuri kulit lehernya, pelan dan lembut. Tiara bisa melihat bagaimana Yundhi menatapnya penuh memuja. Melihat kabut yang pekat menutupi mata bening pria itu. Ia bisa merasakan bagaimana Yundhi menikmati kegiatan mereka, dan juga membuat dirinya merasa hal yang sama. Tiara sadar mereka sama-sama salinh menginginkan.


Tiara menahan diri tidak mengeluarkan lenguhan saat Yundhi bermain di titik yang tepat di area dadanya. Tiara mengerang, menggigit bibir bawahnya lama.


"It's okay Babe, keluarin, aku mau dengar."


Seolah terpanggil, Yundhi melesakkan lagi mulut dan kepalanya di dada putih Tiara. Tangan dan kepalanya seakan menemukan mainan yang selama ini hilang. Segala bentuk pekerjaan yang sejatinya di lakukan dengan tangan terhadap sebuah mainan sedang di lakukan Yundhi. Tiara hampir ragu kalau dia adalah wanita pertama yang terjamah oleh lelakinya melihat bagaimana Yundhi memperlakukannya sekarang.


"Ah Yundhi..."


Sesuai permintaan Tiara mengeluarkan lenguhan yang tertahan, belum sampai di puncak, tapi Yundhi benar-benar membuatnya terlena. Tiara harus mengakui keahlian Yundhi dalam hal foreplay.


Yundhi menatap tubuh Tiara dengan tatapan memuja yang tidak bisa disembunyikan.


Tiara yang di tatap mulai merasakan sedikit ketakutan karena dari cerita yang ia dengar, bagian paling awal adalah bagian yang paling sakit dan paling sukar bagi orang yang bercinta.


"Yundhi, please pelan-pelan!"


"Sure Baby, I'll try my best."


Jika tidak karena Yundhi yang menenangkannya dengan gerakan lembut tapi agresif mungkin Tiara tidak akan bisa mengendalikan rasa takut. Yundhi sangat membantu membuat tubuh Tiara secara alami menerima apa yang di lakukan Yundhi.


Di awal kunjungannya, Yundhi masuk dengan hentakan halus agar tidak menyakiti Tiara, tapi tetap saja Tiara merasakan sakit itu hingga harus meremas pinggiran tempat tidur sampai punggung Yundhi untuk menyalurkan rasa sakit.


***


Baik Yundhi maupun Tiara, saat ini sedang merasakan pengalaman pertama mereka melakukan percintaan. Entah ilmu dari mana, tapi Yundhi melakukannya dengan sangat profesional. Tiara meraih ponsel di atas nakas dengan susah payah karena Yundhi masih bekerja di atasnya. Setelah melewati bagian pertama yang menjadi bagian paling sulit, kini setelahnya Yundhi bisa dengan leluasa menuntun juniornya keluar masuk peraduan.


Ia mencoba menghidupkan layar dengan mata mengernyit, pukul empat dini hari. Tiara ingat betul mereka memulai aktivitas itu sejak pukul sembilan. Entah sudah yang ke berapa, empat atau ke lima kalinya. Hanya satu sesi saja Tiara bermain di posisi atas, sisanya Yundhi yang istiqomah melakukan gempuran.


"Yundhi..."


"Kenapa?"


Suara serak geraman, lenguhan Yundhi terus menyerang pendengaran Tiara. Jujur saja, suara-suara itu berperan penting dalam menaikkan gairahnya di atas ranjang. Suara Yundhi yang paling seksi adalah ketika ia sedang merasakan puncak kepuasan. Itulah sebabnya Yundhi bisa dengan mudah memintanya melakukan percintaan hingga berjam-jam seperti sekarang. Setiap tiga puluh menit mereka beristirahat, kemudian Yundhi akan meminta lagi lagi dan lagi.


"Kamu ga capek?" Tiara mengeluarkan suaranya dengan susah payah karena Yundhi masih bergerak dengan ganasnya.


"He-eh, kita udah tujuh jam sayang."


"Masa? Aku ngerasa kita baru."


Gila, dari mana datangnya tenaga pria itu. Apa tadi dia bilang? Baru? Baru dari Hong Kong."


Tadinya Tiara mengira saat dia mengingatkan Yundhi akan tujuh jam kegiatan mereka, Yundhi akan mengistirahatkannya. Boro-boro istirahat. Tubuh Tiara makin bergetar hebat karena ulah Yundhi.


"Sayang! Yundhi! Oh my..." Tiara tidak mampu menyelesaikan kalimat. Mereka mencapainya, kepuasan yang hakiki, surga dunia yang di capai dengan cara begitu indah.


Dan untuk yang kesekian kalinya, tubuh Tiara lemas, napasnya naik turun. Tak lama berselang Yundhi menyusulnya, tubuh Yundhi jatuh dia atas tubuh Tiara. Napas mereka bersahutan, berebut oksigen mengisi paru-paru mereka yang terasa sempit.


"Wow...wow, sayang, you're so good."


Setelah mengucapkan kalimat itu, tubuh Yundhi menyingkir dari tubuh Tiara, beranjak ke samping, mengisi bagian yang kosong dari tempat tidur. Ia meraih selimut yang terdampar di lantai menutup tubuh polos mereka.


"Capek ya?" Yundhi baru mendapatkan kewarasannya yang tujuh jam yang lalu entah melayang kemana. Melihat tubuh istrinya yang lemas, Yundhi merasa iba. Kenapa baru sekarang mas?


"Aku manusia Yundhi, kamu masih nanya kayak gitu."


Yundhi meraih tubuh Tiara untuk tidur diatas lengannya, tangannya yang lain menggapai perut Tiara agar mereka semakin dekat. Tiara mengeratkan tangan pada selimut agar tubuhnya terjaga dari Yundhi.


"Aku lebih hangat lho dari selimut itu, lepasin biar aku yang peluk!"


Wajah Tiara merona, Yundhi kembali menguasai dirinya.


"Ga usah malu gitu, aku udah tujuh jam pelototin kamu kenapa masih merah-merah kayak gitu sih?"


Tiara makin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Yundhi.


"Tetap aja aku malu." Tiara berkata-kata dengan suara yang paling lemah.


"Thank you sayang udah bikin aku ngerasain yang terbaik malam ini. Kamu tahu ga, kamu luar biasa, you're rock Bay."


"Tidur!"


Bolehkan Tiara besar kepala atas pujian itu? Alih-alih besar kepala, Tiara merasa wajahnya memanas mendengar kalimat Yundhi. Rasa malu lebih mendominasi kepalanya, jadi lebih baik mereka mengistirahatkan diri sekarang.


Tiara merasakan tangan Yundhi mengelus perut Tiara lembut, please jangan bilang dia mau lagi.


"Semoga langsung jadi, aamiiin!"


Tiara tersentak, mendongak sejenak pada wajah Yundhi. Tidak menyangka jika Yundhi akan mengucapkan kalimat itu. Ternyata pikirannya jauh melewati perkiraan Tiara. Yundhi menginginkan sesuatu yang serius untuk keluarga kecil mereka dan keinginan suaminya itu membuat dada Tiara berdesir hangat.


Ia kembali dalam pelukan Yundhi dengan bulir haru yang ingin Tiara sembunyikan, diam-diam ia juga mengaminkan permintaan suaminya. Yundhi membelai rambut Tiara pelan sambil sesekali mencium pucuk kepala wanita yang telas sah menyandang Nyonya Muda Prasetya.


Selang beberapa menit Yundhi merasakan napas Tiara yang mulai teratur membuatnya mengukir senyum bahagia. Ia bisa membayangkan betapa lelah Tiara melayaninya selama itu. Badan istrinya pasti akan terasa sakit setelah bangun tidur dan Yundhi berjanji pada diri sendiri bahwa besok ia tidak akan membiarkan Tiara melewatinya sendirian.