
Tiara merebahkan diri dengan posisi menyamping. Tangannya erat memeluk foto Yundhi dalam pigura berukuran kecil. Sesekali air matanya meleleh, menahan rindu yang teramat dalam. Dorongan rasa cemas tak kalah bergejolak dalam dirinya. Namun, Tiara mebahan diri agar tidak mengalami tekanan berlebih mengingat bayi yang masih dalam kandungannya.
"Do'ain Papa baik-baik ya nak, Mama takut."
Untuk pertama kalinya, Yundhi belum pulang dari tugas terbang. Sudah melewati masa empat hari dari jadwal yang ia beritahukan pada Tiara. Bagaimana Tiara tidak di serang rasa cemas dan takut.
Sekelebat tadi Tiara juga membaca head line berita di televisi tentang kecelakaan pesawat. Mengingat itu, Tiara kembali menangis dalam diam. Dalam mata yang tertutup, Tiara mengingat kegiatan terakhir yang di lakukannya dengan Yundhi. Bagaimana Yundhi memberinya ciuman perpisahan yang menurutnya terasa manis. Bagaimana Yundhi masih saja ingin memeluknya saat harus segera berangkat.
Ah, lagi-lagi hati Tiara pilu, menahan rindu yang semakin tak terperi.
Semalam, Tiara tidak bisa menghubungi Yundhi. Itu pula yang menyebabkan dirinya di serang gundah. Padahal, biasanya Yundhi akan rutin melakukan panggilan, entah video call, telpon, atau bertukar pesan. Sejak tadi malam, mendadak kegiatan rutin itu tidak terjadi.
"Sudah-sudah, kamu yang tenang, harus berpikir positif, banyak berdo'a, jangan mikir aneh-aneh!"
Citra yang kembali menyambangi menantunya untuk ke sekian kali, tidak bisa berbuat banyak. Tiara menolak ajakan makan, tidak mau bicara, dan hanya menjawab irit jika di tanya.
"Di makan dulu yuk Ra nasinya, kamu belum makan siang, kasian bayi kamu lho."
"Tiara kangen Yundhi, Ma."
"Iya, Mama tau. Makanya sekarang makan dulu, jaga kesehatan kamu, biar nanti kamu bisa sambut Yundhi pulang."
"Tiara takut. Takut Yundhi kenapa-kenapa."
"Tuh kan, negatif lagi, ga boleh gitu dong. Ayo makan, nanti Mama kasih hadiah." Bak anak kecil, Citra membujuk Tiara.
Dan ajaibnya cara itu berhasil, Tiara mencoba bangkit, duduk bersandar di ujung tempat tidur.
"Mau mama suapi?"
"Biar Tiara sendiri," Tiara mulai menyendok nasinya, "maaf ya Tiara nyusahin Mama."
"Iiih, kata siapa? Kamu anak perempuan Mama, ga ada istilah nyusahin, kapan lagi coba bisa dapat anak perempuan langsung gede, anak Mama cuma Yundhi doang."
Tiara mengukir senyum, memahami maksud mertuanya.
"Di habisin, jangan kasih sisa!" Citra mencium aroma Tiara akan menyelesaikan makan, padahal baru empat sendok yang berhasil masuk tenggorokan.
"Ga muat Ma."
"Ga bisa gitu dong Ra, mana cukup buat kamu sama anak kamu, tambah ya, pelan-pelan deh."
Tiara menurut, mencoba tidak menyusahkan lebih jauh lagi.
Citra memandang iba menantunya.Hanya ini yang bisa ia lakukan. Dia juga merasa apa yang Tiara rasa. Bedanya, dia mengkhawatirkan Yundhi sebagai seorang anak. Entah apa yang terjadi pada Yundhi hingga tidak bisa di hubungi maupun menghubungi mereka. Untuk pertama kali hal ini terjadi. Tapi jika Citra ikut-ikutan bersedih, situasi akan semakin buruk karena kondisi Tiara yang sedang hamil. Setidaknya ada orang yang harus mendukung, menyemangati menantunya saat ini.
"Gitu dong, di habisin." Wajah Citra cerah seketika melihat nasi Tiara yang tandas tanpa sisa.
"Tunggu di sini, Mama mau ambil hadiah kamu."
"Ga usah lah Ma, Tiara udah lebih baik."
"Ooo ga bisa, ini memang sudah sepantasnya kamu terima."
Tiara sudah ingin menyuarakan penolakan, tapi Citra sudah berlalu keluar meninggalkannya.
Tak lama, wanita paru baya yang masih terlihat cantik itu kembali, dengan sebuah kotak berukuran kecil, berwarna biru elektrik di tangan.
"Coba kamu buka!"
"Ini apa?"
"Buka aja!"
Meski bisa menebak apa isi kotak itu, paling tidak Tiara harus memastikan, mungkin saja Citra mau memberi tahu di awal.
"Cantik banget, kenapa di kasih ke Tiara? Ini punya Mama, Tiara ga mau."
Tiara menutup kotak itu, tapi Citra menahan tangannya untuk tidak bergerak.
"Ini cicin neneknya Yundhi dari pihak Mama. Sudah waktunya Mama kasih ke kamu. Entah ini firasat, kayaknya calon bayi kamu kayaknya perempuan. Semalam mimpi ketemu beliau soalnya."
Citra menghela napas, tersenyum manis pada Tiara. "Sekarang kamu yang simpan. Kalau anak kamu perempuan, berikan ke dia jika sudah waktunya."
Tiara tampak haru, tidak menyangka akan mendapat kejutan ini sekarang.
"Kalau Tiara pakai muat ga ya?"
"Sini Mama pakaikan, harusnya Mama kasih kamu waktu lamaran, tapi kok lupa, saking gembiranya dulu Yundhi jadi nikah sama kamu, uh Mama seneng banget waktu itu."
Citra tampak takjub melihat cincin berbatu rubi berwarna biru itu melingkar cantik di jari putih Tiara.
"Tuh, pas banget. Kalau sama jari Mama itu agak kekecilan, sempit. Jari neneknya Yundhi itu kecil kayak jari kamu. Duh, Mama seneng lihatnya. Jangan di lepas kalau gitu, ya!"
"Makasih, Ma."
Sejenak Tiara melupakan kesedihannya.
"Lagi ngobrolin aku ya? Ayo ngaku!"
Suara seseorang di ujung pintu.
***
Yundhi mendaratkan pesawat dengan mulus. Rekan, co-pilot di sampingnya tersenyum bangga. Mengingat perjalanan yang baru mereka jalani, Yundhi merasa kali ini dirinya beruntung. Badai hebat yang mengguncang pesawatnya, mampu ia lewati dengan baik berkat kerjasama dirinya dan rekan juniornya. Tak lepas pula dari campur tangan para awak kabin dan rekan-rekan mereka di menara pengawas.
"Have a long day off Cap, saya bakal kangen."
"Huh, cari muka, saya di kantor kalau kamu kangen."
Tawa mereka lepas, namun harus terhenti saat petugas medis menghampiri mereka.
Yundhi bersuara lebih dulu, "ada apa?"
"Pemeriksaan biasa Cap, rapid test kok, tapi ya itu, nginap satu malam. Di luar sedang heboh kasus pandemi, hanya untuk antisipasi, saya harap Kapten Yundhi tidak keberatan." Terang petugas itu sambil mengambil alih koper yang Yundhi bawa.
Yundhi tidak keberatan, mereka saling mengenal, dan Yundhi paham tugas medik tersebut, tapi dia gundah karena belum menghubungi Tiara.
"Koper dan isinya di steril ya Cap."
"Iya, silakan."
Saat ini mereka telah nerada di ruang isolasi rumah sakit bandara.
Yundhi dan juniornya telah menempati satu ruang di rumah sakit itu. Baju merekapun telah di ganti dengan baju steril rumah sakit. Yundhi tidak bisa seenaknya mengambil ponselnya yang ada di dalam koper. Ini sudah termasuk langkah yang harus ia patuhi.
Darah mereka juga telah di ambil untuk di periksa.
Keadaan hening dan sunyi itu terpecahkan oleh suara nyeleneh co-pilot, rekan Yundhi.
"Saya ga jadi kangen Cap."
***
Suara tangis Tiara memenuhi ruang kamar mereka, lagi. Tapi, kali ini mungkin adalah ungkapan tangis kelegaan. Tanpa berniat melepaskan pelukannya dari Yundhi, Tiara kembali mengoceh.
"Jadi kamu nginap semalam di rumah sakit bandara?"
"Iya."
"Ga di apartemen perempuan lain?"
"Ga lah."
"Kamu ga selingkuh, kan?"
"Duh, emang boleh?---Adoh."
"Coba kalau berani."
Tangis Tiara kembali menderu. Yundhi mengusap lengannya yang kena pukul.
"Udah dong nangisnya, aku kan udah balik."
"Kenapa ga ngabarin sih?" tanya Tiara di sela tangisnya yang mulai berhenti.
"Namanya juga di isolasi, semua barang aku di ambil biat di steril juga, jadi ga sempat."
"Petugas medisnya ga tau apa ada istri yang kangen suaminya."
"Kamu mau aku tuntut petugas itu?" bucin Yundhi, pura-pura.
"Lain kali kalau aku ke bandara, ajak aku ketemu dia."
Mulut Yundhi melebar karena tawa.
"Istri siapa sih ini, kok ngegemesin sekarang." Yundhi menangkup lembut ke dua pipi Tiara yang mekar.
"Udah selsai kan sekarang tugas terbang kamu?"
"Iya, Nyonya Prasetya. Mulai sekarang aku stand by sana kamu." Yundhi mengubah posisinya lebih dekat dengan posisi Tiara, dan Tiara mencium bau pertempuran yang tertunda.
"Jadi mau aku obatin kangennya sekarang? Kayaknya anak kita juga kangen."
Hadeuh, dasar lelaki.