
"Sasha, lari. Cepat lari, jangan ke sini." Seorang wanita menyuruh anaknya pergi dari tempat itu.
"Ibu, ibu dimana? Ibu!" Sambil menahan tangis, gadis kecil itu bersembunyi di balik bunga bougenville berwarna pink.
Melihat ibunya diseret dua orang lelaki, gadis kecil itu mulai berteriak mencari ayahnya.
"Ayah, tolong ibu yah, ayah," teriak gadis itu. Seketika terdengar suara ledakan, gadis kecil itu berlari keluar arah jalanan tanpa alas kaki, dirinya terus berlari tanpa arah hingga badan nya terasa lemah dan tersungkur disebuah parit.
"Ibuu...," gumam Alexa sontak terbangun dari tidurnya. Wajahnya menjadi pucat pasih, sementara peluh membasahi seluruh badan nya, tangan dan kaki nya seakan menggiggil menahan kepedihan.
Aku bermimpi buruk lagi. Padahal sudah hampir 5 tahun aku tidak memimpikan gadis kecil itu. Pikir Alexa.
Alexa meringkuk didalam selimut tebalnya sambil memikirkan kengerian dalam mimpinya barusan, dirinya terlalu takut jika tertidur kembali, takut jika mimpi itu datang lagi.
Alexa beranjak menuju wastafel di dekat pintu kamar mandi kemudian membasuh wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk nya.
Biasanya aku hanya melihat gadis kecil itu berlari sendiri , kini ada seorang wanita disana, siapa wanita itu? Dua orang itu terasa begitu nyata namun wajahnya mereka begitu samar.
Dirinya berjalan menuju lemari pendingin mengambil sebotol air mineral kemudian meneguk habis isi dalam botol tersebut.
Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.15, untuk mengurangi gelisahnya pagi itu Alexa joging disekitar apartemennya sekedar menghirup udara segar. Tanpa terasa Alexa telah berlari sejauh dua kilo meter dan kini dia harus kembali ke apartemennya sebelum dirinya terlambat ke kantor pagi itu.
Siang harinya.
Alexa berjalan terburu-buru menuju kantin perusahan meninggalkan Lisa dan Shanen yang masih membenahi meja mereka
Huffttt laper, ngantuk dan lemes. Akibat joging kejauhan trus gak sempet sarapan pagi tadi ya gini deh jadinya. Pikir Alexa.
Dirinya memesan 1 porsi nasi ayam goreng dan 1 mangkok soto ayam untuk mengisi kembali tenaganya.
"Elo tega banget Lex ninggalin kita," ucap Lisa yang tiba tiba sudah berdiri di belakang nya.
"Jadi dia tadi ninggalin kita karena kelaperan," ucap Shanen yang sudah ikut nimbrung dimeja tempat Alexa berada.
"Maaf gaes, jika nungguin kalian aku nggak mungkin makan habis 2 porsi ini," kata Alexa kemudian menghabis kan suapan soto terakhir yang ada di piring nya.
"Oh ya Lex, tadi kamu di cari pak Steve," kata Lisa.
"Ada perlu apa?" tanya Alexa.
"Nggak tau tuh, paling urusan kerjaan," jawab Lisa.
Mereka kembali ke ruangan mereka setelah menghabis kan makan siang mereka. Tanpa di sadari Alexa, Ken terus memperhatikan dirinya dari sudut ruangan kantin yang agak jarang didatangi karyawan.
"Pak Steve, apa tadi bapak mencari aku?" tanya Alexa diruang pak Steve yang pintunya saat itu terbuka.
"Oh bukan saya Alex, tadi boss mencari kamu. Apa kamu tidak bertemu dengan nya di kantin?" tanya Steve tak melirik Alexa. Matanya sibuk mengerjakan laporan pada laptopnya.
"Nggak pak, nggak ketemu," kata Alexa.
"Nanti saya panggil kamu jika dia mencari mu lagi," ucap Steve.
"Baik pak, aku permisi," kata Alexa, kemudian keluar dari ruangan itu.
Didepan pintu ruangan Steve suara lift berbunyi, Alexa melirik melihat bos Ken keluar dari dalam lift. Alexa berjalan cepat masuk ke ruangan nya, menarik pouch berisi bedak lipstik dan peralatan make up miliknya.
Alexa menyapukan warna lipstik yang agak terang ke bibirnya kemudian bedak berulang ulang disapukan ke wajahnya.
"Kenapa lo?" tanya Lisa sambil melihat ke wajah Alexa dengan raut wajah heran.
"Begini nih kalau pagi-pagi gak sempat dandan," kata Alexa.
"Kenapa?Ada apa pak Steve mencari mu?" tanya Lisa curiga.
"Nggak, bukan pak Steve tapi boss Ken yang mencari aku," kata Alexa.
"Hallu, itu boss Ken baru keluar dari diruang Pak Steve, dia nggak nyari kamu tuh," ejek Shanen.
"Masa iya sih?" Alexa berdiri kemudian melihat ke arah ruangan pak Steve.
"Ya udah lo samperin aja, paling-paling dia masih di depan lift," kata Lisa memberi saran.
"Ogahh, mungkin aja tadi pak Steve salah sebut nama," jawab Alexa dengan nada kecewa.
"Ya udah, besok lo tabrak aja dia, kita-kita akan bantu lo. Tapi aku nggak janji ini bakal berhasil ataupun berlangsung lama, lo tau sendiri sifat boss. Begitu dia dapetin lo, lo tamat," kata Lisa sakratis.
"Maksudnya tamat apa? langsung putus?" tanya Alexa polos.
"Iya, begitu putus berarti kamu sudah masuk dalam daftar hitam," kata Shanen menambahi.
"Tega nya, masa iya langsung dicampak kan," ucap Alexa kecewa.
"Hmmm jadi mending lo pikir pikir dulu deh, kalau udah siap sakit hati ya maju aja," kata Lisa.
Alexa menarik satu lembar tisu kemudian melap lipstik yang menempel di bibirnya, raut wajah kecewa terpancar dari wajahnya.
-------
Hari ini dia terlihat lemes dan letih namun dia masih bisa makan dua porsi makanan, atau mungkin dia penggemar nasi ayam goreng dan soto ayam. Pikir Ken sambil terus memperhatikan Alexa.
Dirinya sudah terbiasa di kejar-kejar dan di rayu oleh wanita-wanita cantik di luar sana. Kini dirinya bingung bagai mana cara untuk mendekati Alexa.
Dia bahkan kehabisan kata-kata saat melihat Alexa.
trrrr trrrrrr
Getar ponsel di saku Ken.
"Yah aku dikantin," kata Ken diponselnya.
"...."
"Yaudah kamu bisa langsung ke sini," kata Ken pada Gugun.
Begitu Alexa dan dua orang teman nya memasuki lift untuk kembali ke ruangan. Gugun tiba dari arah pintu masuk lobby.
"Bos ngapain disini?" tanya Gugun.
"Lagi liat-liat," jawab Ken asal.
"Liat-liat apa?" tanya Gugun dengan wajah menyelidiki.
"Lihat-lihat kantin ini, mungkin kualitas makanan disini tidak baik, akhir akhir ini jarang ada yang makan disini." Kata Ken mencari alasan.
"Bukan karena sepi, sekarang semua orang labih memilih makanan yang murah. Mereka sudah beralih membeli makanan melalui aplikasi. Langsung di antar dan harga terjangkau. Sedang kan kantin Kantor hanya di jangkau oleh karyawan-karyawan yang gaji nya gede," kata Gugun menjelas kan.
"Ohh, kata Ken kemudian melepas topi yang ada dikepalanya kemudian memberikan topi itu ke tangan Gugun.
"Oh ya, kembalikan topi itu ke ruangan Steve," perintah Ken.
trrr trrrr trrr
Ken mengangkat telpon dari kantongnya.
"Yes Imelda," jawab Ken.
"Darling, sudah lama nggak ketemu, aku kangen nih. Jemput aku dong, kita dinner," kata Imelda seorang gadis blasteran Spanyol Indonesia.
"Oke, aku jemput kamu selesai jam kantor," jawab Ken.
"Aku tunggu yah, bye," Imelda kemudian mengakhiri panggilan telpon nya.
Akhir-akhir ini aku terlalu serius memikir kan gadis itu. Sedikit hiburan malam ini mungkin bisa sedikit mengurangi rasa penasaran aku padanya.
Sore itu selesai jam kantor lift yang ditumpanginya Ken dari lantai 23 berhenti di lantai 21. Alexa yang berdiri didepan pintu lift ragu untuk melangkah masuk, Alexa menatap Ken sebentar kemudian melangkahkan kakinya masuk.
"Sore pak," sapa Alexa.
"Sore." jawab Ken singkat.
Alexa tak lagi menghiraukan Ken, setelah hampir dua bulan Alexa bekerja di kantor Ken diri nya sadar kini bahwa bos nya itu hanyalah angan-angan belaka, dirinya tak lagi peduli saat itu hanya mengenakan kaos polos, rok pendek dan sepatu snikers putih melekat dikakinya.
Toh boss nya gak bakalan berduli dengan penampilannya.
Tapi makasih pak boss, sudah menjadi teman masa kecilku, sudah menemani ku berangan hingga aku bisa berada di tempat ini, dan kamu sudah pernah membuatku memiliki harapan. Sekarang waktunya aku move on, aku gak mau berharap berlebih kepada mu lagi. Alexa berpikir menundukkan kepala nya sambil memain main kan sepatu diatas lantai lift.
Kekecewaannya dengan Ken serta mimpi buruk nya yang masih jelas dalam ingatan nya membuat dirinya tak menyadari Ken yang sedari tadi berbicara dengan dirinya.
Begitu pintu lift terbuka Alexa langsung beranjak keluar dari ruangan lift itu, tangan nya tiba-tiba ditarik oleh seseorang dari belakang.
"Alexa kamu kenapa?" tanya Ken.
Orang yang menarik dan menggenggam tangan nya adalah Ken.
Alexa tidak berkata satu kata pun, matanya hanya menatap tangan Ken yang menggenggam pergelangan tangan nya kemudian matanya beralih menatap wajah Ken.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ken lagi.
Alexa mengangguk bengong tak percaya.
"Sedari tadi aku memanggil kamu tapi aku dicuekin haha," kata Ken sambil tertawa kecil.
"Maaf pak, aku nggak dengar," jelas Alexa.
"Apa kamu punya waktu sekarang?" tanya Ken.
"Aku ingin kamu ikut dengan ku, nggak boleh nolak karena ini perintah," kata Ken agak kaku. Dirinya masih bingung mencari kata-kata yang tepat mengajak makan wanita didepan nya itu.
"Baik Pak," jawab Alexa dengan mulut menganga, dirinya masih tak percaya yang menggenggam tangan nya saat ini adalah Ken dengan jarak yang begitu dekat.
Bersambung