
Setelah kehadiran si kembar, hidup Alexa dipenuhi berbagai kesibukan sebagai seorang ibu, mulai dari makanan sehat sang anak, kesehatan dan pendidikan anak harus dipikirkan dengan baik.
Biasanya dia akan tidur sepanjang hari saat week end, tapi kali ini rutinitas membawa anak anak nya jalan jalan di taman bermain sekitar rumah membuatnya harus menyiapkan segala keperluan anak anaknya. Bu Ratih dan Papa Bond yang tak pernah mau ketinggalan bermain bersama sikecil, ikut serta dengan berbagai makanan cemilan dan tikar untuk mereka duduk ditaman itu.
Halaman berumput hijau dan pemandangan danau buatan yang tak seberapa besar membuat pengunjung ramai datang ke taman itu sekedar joging dan camping.
Sedangkan kedua bocah kecil dengan pakaian warna senada asik merangkak diatas rerumputan hijau. Bu Ratih dan papa Bond ikut merangkak bersama kedua bocah itu dengan senyum dan tawa lebar di wajah mereka.
Alexa menyaksikan tawa lebar papa bond yang asik menggoda cotton dengan sebuah bola ditangan nya.
"Chocho, catch this ball. Here here Chocho, catch this ball from endpa," ucap papa Bond.
Alexa tertawa lebar ketika Chocho menangis karena tak berhasil menangkap bola di tangan endpa nya.
"Cho, don't listen to endpa cho. Let endpa play alone. Cho play with your Sisie, honney," teriak Alexa melihat anaknya yang tak berhenti menangis.
Sisie atau yang biasa dipanggil Snowie Ball oleh Alexa menatap abangnya yang tak henti menangis.
"Sie, persuade your brother," ucap Alexa pada Snowie.
Snowie mendekati Cotton kemudian memeluk abangnya erat. Snowie memberikan mainan yang ada ditangannya pada Cho kemudian tersenyum. Seketika itu juga Chocho diam dan mulai tertawa begitu ceria.
Alexa kembali mengalihkan pandangan ke handphone yang ada ditangannya. Suara Ibu dan Papanya terdengar kembali tertawa bersama anak anaknya.
Aku ingin menelpon Rani tapi di Jakarta sekarang sudah pukul dua pagi. Mungkin dia sudah tidur, tapi tumben malam ini dia tidak sedikitpun menelponku. Hmm sebaiknya menunggu pagi disana baru ku telpon.
Mata Alexa terus tertuju pada handphone yang ada digenggaman nya, sambil menyimak pesan terakhir yang dikirim Rani.
Baru saja Alexa hendak menaruh handphone ke dalam tasnya, tiba tiba handphone itu bergetar dan berdering.
Alexa segera mengangkat panggilan yang memang sudah ditunggunya sejak pagi tadi.
"Rani," sapa Alexa.
"Sha, maaf baru sempat mengabarimu. Aku baru saja tiba di apartemen. Tadi aku start dari Bandung jam sebelas karena mampir ke rumah ibu ya jadi agak telat balik," jelas Rani.
"Ya nggak apa apa Ran, gimana kabar ibu?" tanya Alexa.
"Ibu baik baik aja, ada sepupuku yang tinggal bersamanya dan seorang pekerja baru jadi aku bisa sedikit lebih tenang sekarang," kata Rani.
"Baguslah, abis ibu gak mau tinggalkan warungnya. Coba ibu mau ikut kamu ke Jakarta, pasti kita gak kepikiran dia sendirian disana kan?" ujar Alexa.
"Hmmm ibu mana mau, setiap hari ku paksa Sha tapi terep gak mau. Untung Sari sepupuku sekarang bersama ibu, hufftt bisa tenang sekarang Sha," jelas Rani.
"Trus makan malam kamu dengan pak Indra Gobel gimana?" Tanya Alexa lagi.
"Tadi pak Indra nggak datang Sha. Dia hanya nengutus seorang asisten wanitanya dan sekertaris menggantikan dirinya. Besok pagi jam 10 aku diundang langsung ke kantor nya di jln Daan Mogot," ucap Rani.
"Ok, jadi jam 6 jam 7 nanti malam aku tunggu info kamu lagi Ran," kata Alexa.
"Iya aku akan langsung menghubungi kamu begitu selesai bertemu pak Indra," kata Rani sambil menguap pelan.
"Ya udah, kamu tidur gih. Semoga berhasil dengan misi kita besok," kata Alexa menyemangati.
"Byee."
"Bye Rani," Alexa mengakhiri panggilan telponnya kemudian langsung mendekati kedua anaknya dan bermain bersama.
Alexa bermain bersama Chocho dan sisie beberpa menit lagi hingga akhirnya kembali pulang ke kediaman mereka.
"Nanny we are coming...," kata Alexa begitu tiba dirumah. Snowie yang berada dalam dekapannya langsung beranjak turun dari pelukan Alexa.
"Ya Bu," jawab seorang baby sitter yang baru saja tiba dirumah itu.
"Nanny temani anak anak main ya, aku mau siapkan air mandi mereka," kata Alexa.
"Baik Bu," ucap Nanny.
"Endma, Chocho kan udah besar. Jangan digendong terus dong nanti endma capek," kata Alexa sambil berlalu meninggalkan ruangan itu menuju kamar anak anak.
Kegiatan yang sangat dinikmati Alexa setiap hari, bermain, memandikan dan menyuapi anak anak. Tapi setiap kali ia melakukan hal hal itu Alexa langsung memikirkan Ken. Disaat dirinya bahagia bersama buah hatinya, dia tak tau apa yang dilakukan Ken. Alexa hanya terus berharap Ken baik baik saja dan selalu bahagia dimana pun Ken berada.
Siang itu usai Alexa memandikan dan memberi makan anak anak, Alexa menuju ruang makan dimana ibu dan papa sudah menunggunya makan.
Papa Bond sudah terlebih dahulu menyantap makanan yang dihidang kan di meja. Alexa ikut nimbrung memakan beberapa potong kentang rebus dan daging sapi yang hanya direbus sesuai pesanannya.
"Sha makan begitu apa kamu kenyang?" tanya papa.
"Kenyang lah pa," jawab Alexa dengan sepotong kentang penuh dalam mulutnya.
"Makan yang banyak Sha, kamu kan mengurus anak, gak boleh sakit," kata Ibunya sambil menambahkan sepotong daging ke atas piring Alexa.
"No no no.. Bu, Sasha susah payah menurunkan berat badan kok ibu malah...," protes Alexa sambil mengembalikan sepotong daging itu ke atas piring ibunya.
"Yang penting makan bergizi bu, gak harus makan banyak," sela papa Bond.
"Iya pa, Sasha ingin bulan depan badan Sasha sudah kembali seperti dulu atau Sasha akan diketawain Lisa dan Shanen," ucap Alexa.
"Jadi gimana? Rekomdasi perusahan yang papa berikan padamu?" tanya papa Bond.
"Sasha memutuskan mengakuisisi perusahan Gobel Sonic. Rani sedang mengurus disana terlebih dahulu," jelas Alexa.
"Ya analisa mu sangat bagus Sha, itu perusahan besar dengan segudang prestasi. Dan pemiliknya saat ini sudah berumur. Didalam anggota keluarga Gobel tidak ada yang tertarik dengan bisnis, kamu coba beli saham adik pak Indra terlebih dahulu," jelas papa Bond.
"Sudah pa, siang ini Rani akan bertemu langsung dengan pak Indra. Karena izin dari pak Indra sangat dibutuhkan untuk membujuk adiknya itu," lanjut Sasha.
"Keluarga adiknya pak Indra sedang terlilit masalah hutang. Kamu datang disaat yang tepat. papa lihat ada beberapa orang yang melirik ke perusahan itu, makanya kamu harus bergerak cepat," ujar papa.
"Papamu juga sudah mengurus semuanya disini, jadi kami bisa ikut pindah bersama kamu," kata bu Ratih.
Sasha menatap senyum ke arah ibunya.
"Rumah Sasha di Jakarta tinggal finishing, setiba kita di Jakarta sudah bisa dirempati," ucapa Sasha.
"Oh ya, Rani temen kamu itu bisa dipercaya kan?" tanya bu Ratih.
"Iya lah bu, dia sudah seperti saudara perempuan Sasha. Saat Sasha terlantar di Bandung, dia dan ibunya yang mengurus Sasha. Dan setahun ini dia yang mengurus segalanya. Pokoknya ibu gak usah khawatir deh," ucap Alexa menenangkan ibunya.
"Ibu belum pernah melihat anaknya, ibu hanya takut kamu dicurangi," kata bu Ratih.
"Nggak lah bu, nanti ibu lihat seperti apa orangnya. Pasti ibu juga akan suka," ucap Alexa.
Usai makan siang itu Alexa menuju ke kamar anak anaknya yang sudah terlelap.
Alexa duduk ranjang menatap wajah kedua buah hatinya, setiap menatap wajah Cho Alexa langsung teringat akan Ken. Wajah Cho sungguh mirip wajah Ken.
Sebulan lagi anak mu akan berulang tahun sayang, tapi kamu belum pernah melihat mereka. Aku sangat berharap ada kamu di perayaan one year mereka. Kamu berada dimana Ken? Sudah hampir dua tahun kamu menghilang...
Beberapa hari berlalu, Alexa dan bu Ratih sibuk membenahi barang barang penting yang akan lebih dahulu di kirim ke Jakarta. Ticket pesawat untuk enam orang sudah disiapkan, dan tanggal keberangkatan tidak kurang dari satu minggu lagi.
Bersambung...