Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
I Finally found you



Keesokan pagi setelah pembicaraan Ken dan tante Ratih, Ken langsung berkendara menuju Bandung.


Ken duduk dibalik kemudi Land cruiser Prado milik nya mendmbus kepadatan kota Bandung hingga tiba dihalaman parkir sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang berada dipinggiran kota Bandung tempat dimana Alexa pernah dirawat.


Ken menuju sebuah meja informasi untuk bertanya.


"Siang mbak, pasien atas nama Alexa Corrina berada diruangan apa?" Tanya Ken.


Wanita dihadapannya terlihat mengetik komputer mencari nama Alexa tanpa basa basi.


"Maaf pak, didata ini tercatat pasien atas nama Alexa sudah keluar rumah sakit seminggu yang lalu." jawab wanita itu.


"Boleh saya tau alamat tinggalnya sekarang?" Tanya Ken lagi.


Wanita itu melirik lagi ke data Alexa yang berada dilayar komputer.


"Disini alamat nya Bogor, sesuai dengan KTP." Jawab wanita itu lagi.


"Hmmm,"


Ken berdiam diri dan berpikir sejenak.


Jika saya bertemu dokter yang menanganinya mungkin saya bisa dapat informasi lebih.


"Mbak, dokter yang menangani Alexa dokter siapa? Saya hanya ingin konsultasi dengannya." Kata Ken.


"Jam segini biasa nya dokter ada dipoliklinik." Kata wanita itu sambil menyerahkan alamat dan nomor hp dokter Siska di selembar sebuah kertas.


Selesai dari situ Ken langsung menuju poliklinik rumah sakit.


Ken langsung masuk ke ruangn dokter setelah menunggu antrian selama beberapa menit.


"Siang dok." Sapa Ken.


"Ya Siang," dokter menatap Ken sejenak.


"ada keluhan apa?" Lanjut dokter Siska.


"Saya ingin konsultasi soal pacar saya, beberapa hari yang lalu dia adalah pasien rawat inap yang ditangani dokter." Jelas Ken.


"Pasien atas nama?" Tanya dokter Siska.


"Alexa Corrina."


Alexa Corrina? Dokter Siska berpikir sejenak.


"Umur?" Tanya dokter lagi.


"Umur Dua puluh tiga tahun, dia pasien tanggal tiga di ruangan cempaka." Jelas Ken.


"Ohhh wanita cantik itu?" Tanya dokter Siska setelah ingat.


"Oh ya, ada keluhan apa dengan nona Alexa?" Dokter.


"Apa dia baik baik saja dok? Dia sakit apa?" Tanya Ken.


"Alexa baik baik saja, kemaren dia hanya pingsan karena dehidrasi. Dia bahkan hanya dirawat selama satu malam disini. bukukan sebuah penyakit yang serius." Jelas dokter Siska.


"Saya kehilangan informasi mengenai dirinya sekarang, setelah keluar dari Rumah Sakit saya tak tau dia kemana dan keadaanya bagaimana." Jelas Ken.


"Saat itu dia diantar seorang wanita muda kesini, mereka sepertinya teman akrab." Jawab Dokter.


"Baiklah dok, terimakasih," Ken menyodorkan selembar kartu namanya ke tangan dokter.


"Nanti, hubungi saya jika ada informasi mengenai Alexa dirumah sakit ini, saya mohon dok. Saya masih harus mencarinya sekarang. Saya permisi." Kata Ken.


"Baiklah, saya akan menelpon jika saya bertemu dengannya lagi." Kata dokter.


Dari situ Ken langsung melajukan kendaraannya menuju jalan pahlawan di Cimenyan.


Setelah menemukan simpang tiga, Ken menatap sebuah rumah pertama di sebelah kiri jalan.


Sesuai dengan denah alamat yang diberikan tante Ratih.


Langkah Ken berpacu menuju pagar putih setinggi dua meter yang sedang terbuka beberapa centi meter.


tok tok tok


Ken mengetuk pintu sebantar, kemudian seorang wanita tua keluar dari arah pintu dapur.


"Siang nek." Sapa Ken.


Nenek terlebih dahulu menyimak wajah tampan Ken sebelum membalas ucapan Ken."


"Ya siang, ada perlu apa?" Tanya Nenek.


"Nek apa seorang wanita pernah kesini, wanita berkulit putih berambut coklat." Kata Ken sambil mengeluarkan phonsel dari sakunya.


"Wanita yang mana ya?" Tanya si Nenek sambil menggaru garuk kepalanya.


Ken memperlihatkan wajah Alexa yang ada di hp miliknya.


"Oohh neng cantik ini? Dia ke sini sekitar seminggu yang lalu." Kata nenek.


"Apa nenek tau dia dimana sekarang?" Tanya Ken.


"Nenek nggak tau, waktu itu dia ke sini mencari orang tuanya. Dia bertanya nomor hp dan alamat tuan dan nyonya tapi nenek nggak punya alamat tuan dan nyonya di Bandung." Nenek.


"Ini kartu nama saya nek, jika Alexa ke sini lagi tolong hubungi saya. Atau jika bisa nenek tanya dimana dia tinggal kemudian hubungi saya." Kata Ken sambil menyerahkan selembar kartu nama.


"Nanti nenek usahakan menghubungi den jika ada kabar soal dirinya." Kata Nenek.


"Baiklah terimakasih bantuannya nek." Kata Ken kemudian meninggalkan si nenek yang masih berdiri di depan pintu.


Sudah dua hari Ken nginap di hotel kecil yang ada di Cimenyan, Ken terus mencari keberadaan Alexa. Ken bertanya ke setiap orang yang kewat dijalanan bermodalkan sebuah foto Alexa yang ada ditangannya.


Seandainya nya kamu melintas disini. Pikir Ken saat memarkir mobilnya di parkiran sebuah pasar yang banyak orang lalu lalang.


Ken memegang foto Alexa ditangannya kemudian terus bertanya ke setiap orang yang dijumpainya saat itu.


Pagi harinya di hari ke tiga, Ken meninggalkan Cimenyan. Suasana jalanan begitu sepi, Ken hanya berpas pasan dengan beberapa kendaraan yang melintasi jalanan keluar kota saat itu. Hingga memasuki kota Bandung lalu lintas berubah menjadi padat dan crowded.


Tak ada arah dan tujuan, kemana diri ini harus aku bawa supaya bisa menemukan mu? Begitu sulit aku menemukan mu bahkan dengan uang yang aku punya. Apakah aku tidak pantas untuk bertemu kamu lagi?


Pikiran Ken terus bergejolak, dalam batin nya hanya doa yang terucap. Setiap tatapan matanya dia selalu berharap orang didepannya adalah Alexa.


Langkah tanpa arah dan tujuan Ken mengarahkannya ke sebuah perkampungan di pinggiran kota Bandung. Sebuah tempat yang sudah tidak asing dimatanya.


Mobil Ken terhenti dibawah gapura bertuliskan, Panti Asuhan Jati Luhur.


Mengapa aku malah datang ke sini? Sejak sibuk memimpin perusahan aku sudah tidak pernah mampir ke sini. Bagai mana kabar anak anak dan ibu panti?


Ken berdiri bersandar disamping mobilnya menatap ke dalam panti. Nampak beberapa anak laki laki sedang saling kejar si kulit bundar.


Mata Ken kemudian tertuju ke sebuah pohon ketapang yang tumbuh subur di halaman samping panti.


Pohon besar itu adalah tempatnya duduk dengan sebuah buku ditangannya.


Sasha.. gadis itu.


Sejak bertemu Alexa aku sudah tidak pernah memikirkannya.


Ken mengayunkan langkah ke tengah halaman dimana anak anak bermain bola.


Ken ikut bermain bersama anak anak itu sekedar mengobati rasa rindunya akan masa kecilnya, keceriaan masa kecil yang tidak akan pernah bisa kembali.


Ken begitu asik mengejar si kulit bundar bersama anak anak.


Tanpa sadar dibalik jendela kaca, sepasang mata seorang gadis sedang menatap pria tampan ditengah halaman. Dirinya begitu terkesima dengan sosok pria itu.


Apa ada malaikat disiang bolong?


Siang siang dikasih pemandangan indah, abis cuci piring sekarang cuci mata. Lumayanlah, ke sini beberapa hari temani Alexa bisa lihat cogan nyasar.


Tapi sepertinya aku pernah melihatnya?! Wajah nya tidak asing, aku lupa dimana aku pernah melihatnya.


Rani berjalan mengendap keluar pintu sambil terus menatap Ken.


Ken melihat Rani yang sudah berada di depan pintu, kemudian menghampirinya.


"Siang mbak, ibu panti ada?" Tanya Ken


Rani hanya menatap tak menggubris pertanyaan Ken.


Wajahnya ini semakin tidak asing, dimana ya aku melihatnya??? Pikir Rani.


"Mbaak. Mbak apa ibu panti ada? Saya ingin bertemu!" Tanya Ken berulang.


"Ya ada." Jawab Rani singkat.


Sedangkan dari arah dalam Alexa keluar dengan sedikit buru buru sambil mendumel. Rani yang disuru memanggil anak anak makan tak kunjung kembali ke dapur.


"Pasti nih ikut anak anak main bola, kelakuannya seperti anak kecil,"


"Raniiiiii." teriak Alexa.


Teriakan nya terhenti seketika saat berdiri dibelakang Rani, dirinya menatap sosok pria yang berada di depan pintu.


"Ken." Ucap Alexa pelan.


Langkah kakinya yang hendak maju ditahan, badan nya ingin segera berlari ke pria itu namun hatinya terus melarang.


Seperti inilah rasa nya saat otak tak dapat mengontrol hati kita. Aku merindukannya namun aku??


Ken menatap wajah Alexa, masih tidak percaya jika itu adalah dirinya, itu adalah Alexa yang berada didepanya.


"Alex, ada yang mencari bu sukma." Kata Rani.


Seketika Ken melewati Rani dan langsung memeluk Alexa.


"Apakah ini mungkin? Disaat aku hampir menyerah kamu tiba tiba muncul ditempat tak terduga ini." Ucap Ken lirih.


Kebahagiaan dan kesedihan terpancar dari wajah Ken.


Tangan nya begitu erat melingkari tubuh mungil Alexa.


Kecupan hangat mendarat ditelinga Alexa dengan bisikan


"Aku hampir putus asa mencari mu, aku mohon jangan pernah buat aku semenderita ini lagi."


Bersambung...