Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Hari yang tak terduga



Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah kain gorden dikamar hotel Shangri Ta Tokyo.


Kamar suit room yang begitu mewah menjadi sangat berantakan, kaleng-kaleng minuman berserakan dan sisa makanan beserta bungkus makanan terhambur diatas meja dan lantai.


Seorang wanita berjalan keluar dari kamar mandi dengan kaki menjinjit seakan tak ingin menginjak sisa-sisa makanan yang berserakan dilantai. Dengan selembar handuk menutupi sebagian badannya wanita bermata sipit itu mengambil pakaiannya diatas sebuah sofa kuning kemudian mengenakannya.


"Ken Ken." Wanita itu berulang kali menyebut nama Ken berusaha membangunkannya.


Ken hanya mengigau dan makin terlelap saat itu seakan tak ingin diganggu oleh nya.


"Ken, sudah jam sebelas, aku pulang dulu. Bentar aku tlp," kata gadis itu kemudian keluar dari pintu kamar itu meninggal kan Ken yang masih antara sadar dan tidak saat dirinya berpamitan.


Ken Samuel husada seorang pemuda berusia 26 tahun yang saat ini sering diperbincangkan dan digandrungi oleh banyak wanita. Tak pernah dikabarkan menjalin hubungan tetap dengan wanita manapun dan hanya sibuk dengan pekerjaannya.


1 jam sepeninggal wanita tadi, Ken bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Jalan nya masih sempoyongan dan linglung namun dia harus memaksakan dirinya mengingat jam 3 dia akan terbang menuju Jakarta.


Dengan mengenakan kaos putih dan celana jeans hitam Ken terlihat begitu tampan, jarang melihat nya bergaya begitu casual..


Siang itu sebelum turun ke loby untuk sarapan sekaligus makan siangnya Ken mendial no seseorang dari hp nya.


"Gun, aku ke lobby sekarang. penerbangan kita jam 3 sore ini," kata Ken.


Sudah hampir jam 1, Ken memesan beberapa makanan siap saji, kemudian seorang pria berbaju putih mengantar kan sebuah amplop berisi ticket pesawatnya dan Gugun. Gugun yang saat itu sedang check out dari situ langsung mengambil koper ke mobil disusul Ken berjalan tak jauh di belakangnya.


-----


Back to activity.


Aku sudah siap tempur ! pikir Alexa.


T'shirt putih longgar, celana kain skiny dan sepatu kets yang menempel di kakinya membuat nya tidak terlihat seperti Alexa diminggu awal dia bekerja.


Alexa keluar kamar kemudian duduk dimeja makan bersama oma Anna.


"Lho kamu nggak ngantor hari ini?" tanya Oma Anna.


"Aku ngantor kok, ini mau mkn dikit trus langsung jalan. Oma jika butuh sesuatu langsung tlp Alexa aja ya," kata Alexa santai.


Oma melihat kebawah kaki, ke celana trus ke rambut Alexa yang di gulung ke atas.


"Apa ke kantor seperti itu? Rambutmu terlihat seperti belum dikeramas dan kamu persis seperti orang yang akan pergi ke pasar," Oma menatap ngeri ke arah Alexa.


"Dikantor kami tidak ada peraturan dalam berpakaian, selagi itu sopan dan nyaman dipakai maka kita bisa pakai. Lagian hari ini aku banyak kerjaan oma, aku harus fokus seharian didepan laptop jadi gaya seperti ini adalah yang paling nyaman buatku," Alexa memberikan alasan membuat oma Anna tak bisa memaksa nya berganti pakaian lagi.


Setelah habis sepotong roti di piring nya Alexa mencium tangan omanya kemudian berlari keluar.


"Alexa pamit oma, byee," teriak Alexa.


Mang kasim menurunkan Alexa di tempat biasa pas beberapa meter di depan pintu masuk lobby.


Alexa berjalan memasuki lobby kemudian matanya terfokus pada mobil sport hitam yang berhenti dibelakang mobil mang Kasim.


Waw, keren. Nanti aku mau 1 yang seperti itu. Pikir Alexa.


Seorang pria bersetelan santai keluar dari mobil tersebut, pria itu berjalan masuk beriringan di belakang Alexa kemudian berdiri disamping nya menunggu lift turun.


Beberapa orang karyawan yang ikut berdiri disitu memberikan salam.


"Selamat Pagi pak," kata beberapa karyawan yang berada disitu.


Sontak Alexa kaget,


Bapak? Pikir nya


Alexa menatap pria itu melalui pantulan lift namun terlihat samar karena lift tersebut terbuat dari jenis stainless yang agak buram.


Saat pintu lift terbuka Alexa langsung bergegas masuk.


Tiba tiba suara langkah berlarian kecil seseorng yang baru saja tiba mengucapkan salam


Alexa kaget bukan kepalang hingga berjalan dan membentur dinding lift.


"Ougghhh," jeritnya pelan menahan sakit.


Alexa tak berani mengangkat kepalanya karena malu, mungkin karyawan lain di dalam lift itu sedang menertawakan kebodohan diri nya saat itu dan semua hanya diam tak bergeming.


Alexa terus saja menunduk, tiba tiba terasa ada tangan yang menyentuh pundak nya.


"Kamu baik baik saja?" tanya Ken


Alexa membalikkan badan nya menghadap ke arah pintu namun masih tetap menunduk.


"Aku baik baik saja pak, maaf," jawab Alexa


"Mau ke lantai berapa?" tanya Ken lagi


"21," jawab Alexa singkat jelas dan padat sambil tangan nya memijat benjol dijidatnya(wkwk)


Beberapa menit disitu terasa begitu lama, Alexa menghitung satu persatu karyawan yang keluar dan masuk ke dalam lift.


Muka Alexa sudah menjadi merah padam, badan nya terasa panas dan keringat sudah menyucur keluar dari pori-pori kulitnya.


Aku jadi kepanasan, entah kepanasan karena malu atau karena saat ini aku sedang berada di samping Ken. Pikir Alexa


Alexa keluar terburu buru dari lift langsung menuju ke dapur karyawan lantai 21.


Alexa mengompres benjol dikepalanya dengan es batu sambil memikirkan kejadian barusan.


o my god, gimana sih. Bete banget. Kejedot sih gak masalah malu didepan karyawan lain juga gak masalah tapi penampilan ku pagi ini sangat berantakan, Oma bahkan berpikir aku akan pergi kepasar dengan gaya seperti ini. Pikir Alexa kesel se kesel keselnya.


Hufftttt, seandainya aku memakai setelan cantik hari ini pasti aku gak akan terlalu malu seperti ini. Bukan kah pertemuan pertama itu penting? Untung saja aku terus menundukkan kepalaku, jadi Ken tidak melihat mukaku. pikir Alexa berusaha menghibur hatinya.


Alexa bejalan masuk ke ruangan nya masih dengan bekas merah di jidat nya.


"Alexa kenapa muka lo?" tanya Shanen


Alexa dengan tak menjawab, dia masih dengan muka keselnya bersandar diatas mejanya.


Aku gagal menatap wajah nya hari ini, yang aku tatap hanya sepatu nya saja. Kok bisa aku tak mengenalinya saat turun dari mobil? Pikir Alexa.


Rasa malu dan kecewa terus muncul dalam batin Alexa, bahkan saat makan siang dia tidak ke kantin untuk makan.


Lisa dan Shanen yang sudah dari kantin menghampiri Alexa,


"Lo kenapa hari ini? Terlihat seperti orang yang sudah bosan hidup?" tanya Lisa.


"Iya aku bete hari ini. kamu lihat penampilan ku? Terlihat seperti ini membuat mood ku sangat buruk sepanjang hari," jelas Alexa Asalan.


"Iya sih, melihat mu hari ini karayawan lain pasti akan berpikir keluarga mu baru saja jatuh bangkrut," kata Shanen


"sebaik nya hari ini kalian gak dekat aku nanti ketularan sialku hari ini," kata Alexa dengan masa bodoh.


Siang itu Alexa berusaha fokuskan otak nya pada analisa sistem perusahan sejak awal perusahan didirikan, membandingkan dan membuat laporan.


Pukul empat sore perut Alexa sudah mulai keroncongan, tapi dirinya harus menunggu 1 jam lagi baru bisa pulang.


Leo salah seorang Staf pria menginfokan


"Gaes, info dari pak Steve besok pagi jam 8 ada meeting dilantai 22 diharap kan kerjasama yang baik buat semuanya," kata Leo dengan suara agak besar.


Begitu jam 5 teng Alexa langsung pulang dengan langkah agak terburu buru.


"Manteman aku duluan pulang ya, aku laper banget nih," kwata Alexa


"Yah, see you," balas Lisa dan Shanen hampir bersamaan.


Bersambung