Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Engagement II



Sambungan telepon Donita akhirnya terhubung.


"Dimana kamu? Dari tadi dihubungi nggak diangkat," tanya Donita dengan suara agak marah.


"Maaf Nona, tadi kondisi tidak memungkin bagi saya untuk mengangkat telpon anda," ucap pria dibalik kemudi mini van silver.


"Tadi kamu bilang mereka ada acara direstauran Moonlight? Apa perkembangan laporan kamu?" tanya Donita.


"Iya nona, ternyata itu bukan sebuah acara besar. Itu hanya sebuah acara lamaran tuan Ken terhadap target kita." jawab pria itu.


"Apa? Hanya sebuah acara lamaran katamu? Kamu memang gak pernah becus! Kapan kamu bisa menghabisi wanita murahan itu?" teriak Donita.


"Kata Nona aku harus melakukannya dengan bersih, aku belum mendapat kesempatan untuk menabrak atau apa pun itu. Dia tak pernah sendirian." jawab pria itu.


"Jika Nona mengijinkan saya akan masuk ke apartemennya malam ini juga, saya akan membakarnya hidup hidup malam ini juga," lanjut pria itu.


"Aku tidak peduli lagi dengan rencana kamu, buat dia mati kecelakaan secepatnya!" ucap Donita.


"Baik Nona,"


"Dimana posisi kamu sekarang?" tanya Donita.


"Saya masih mengikuti mereka, sekarang sedang mengarah ke kantor," ucap pria yang sibuk fokus dibalik kemudi mini vannya.


"Cari tau rencana mereka selanjutnya, jangan lupa dapatkan terus info dari OB dan cleaning servis diperusahan Ken," perintah Donita.


"Baik Nona."


Donita memutus sambungan telpon dengan pembunuh bayaran profesional nya.


Sepertinya aku terlalu lengah, mereka sudah sampai ke tahap ini. Lihat saja Alexa, kamu menganggap remeh teror yang aku kirim berarti kamu sudah siap menghadapi kematian kamu!


------


Sementara itu dikantor Alexa..


"Wah Shane, loh liat gak tuh ada yang kinclong tuh. Gile, Diamond nya segede jagung loh," ucap Lisa.


"Lo baru dilamar Lexa?" tanya Shanen.


"Sepertinya sebentar lagi pesta kedua akan dilaksanakan," uca Lisa.


"Udah udah, pembahasan lamaran pesta ntar aja dibahas ya? Kerjaanku harus selesai sore ini juga," jawab Alexa.


"Hmmm, emang jika lagi bahagia pasti lupa sama temen," sindir Lisa.


"Bukan gitu Lis, ini gara gara kalian juga kan kerjaanku menumpuk. Beberapa hari aku sibuk kerjakan laporan kalian. Gimana kalau sekarang kalian bantu aku untuk duduk diam dulu?" ucap Alexa serius.


"Oke Oke, perintah calon ibu bos harus dilaksanakan," kata Lisa sambil mengangguk angguk.


"Lisa, udah deh," ucap Alexa sambil terus fokus pada layar laptop yang dipenuhi berbagai macam simbol pemrograman.


Alexa mengerjakan satu file dalam satu jam dan ketiga file pekerjaan akhirnya rampung pukul 16:45 sore itu.


Setelah streatching Alexa melihat kotak surat di bawah deskboard laptopnya.


Ada email lagi, hffttttt.


Alexa mengarahkan kursor ke icon email disudut kanan laptopnya.


Kamu terlalu berani, kamu pikir ancaman ini hanya sebuah lelucon? Lihat saja apa yang akan aku lakukan atas kebahagiaan kamu hari ini! Kamu akan menyesal seumur hidupmu pernah dekat dengan Ken!!


Dilihat dari kata kata email yang masuk sepertinya orang ini sedang cemburu, tidak mungkin ini perbuatan tante Amel. Imelda?


Aku sudah mencari seorang mata mata yang dapat dipercaya, semoga bisa secepatnya menemukan orang yang tepat untuk terus melacak aktivitas Imelda.


"Lex, bengong tuh handphon di tas lu bergetar noh." sapa Lisa membuyarkan kecamuk dalam pikiran Alexa.


"Oh ya?" kata Alexa sambil merogoh ponsel didalam tasnya.


"Ini dari ibuku," Alexa mendial kembali no panggilan masuk dari ibunya.


"Bu, maaf tadi aku sibuk banget nggak dengar ponsel ditas." kata Alexa.


"Nak, mang kasim sudah menuju ke kantor kamu sekarang. Kamu langsung kerumah sakit ya, ini juga sudah jam pulang kantor kan?" ucap bu Ratih dengan nada panik.


"Ada apa bu? Ibu baik baik saja kan? Bagaimana Oma? Bu, aku segera ke sana." Alexa langsung mengshutdown laptop nya kemudian menggantung tas hitam ke pundaknya.


"Lis, Shanen aku duluan, aku harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Alexa kemudian buru buru keluar.


"Ya, hati hati Lex," teriak Lisa.


Semoga ibu baik baik saja, semoga oma tidak kenapa kenapa. Ya Tuhan, jangan biarkan sesuatu yang buruk menimpa ibu dan oma.


Alexa teringat Ancaman ancaman dari emailnya.


Alex langsung membuka pintu dan masuk ke dalam mobil tersebut.


"Mang, ibu kenapa mang? apa ibu baik baik saja? Oma gimana?" tanya Alexa panik.


"Non tenang dulu, ibu Non baik baik saja. Tadi dia menyuruh mang jemput Non, sepertinya ibu baik baik saja. Mungkin oma kesehatan nya makin memburuk, Non tenang ya agar ibu Non tidak semakin panik," ucap mang Kasim.


"Iya mang, buruan ya. Kasihan ibu sendirian dirumah sakit," ucap Alexa.


"Iya Non" Jawab mang Kasim.


Alexa mendial kembali nomor telpon ibunya.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkau.." suara dari dalam ponsel Alexa.


"HP ibu nggak aktif mang," ucap Alexa.


"Pasti HP nya lowbat. Non yang tenang, ibu mu pasti akan semakin panik jika melihat Non seperti ini," ucap mang Kasim.


Mobil biru metalic itu meluncur memasuki halaman rumah sakit Wira Sucipto rumah sakit terbaik yang ada di Jakarta.


Alexa berlari memasuki lobby rumah sakit menuju ruangan VIP dimana oma nya dirawat.


Ibu Ratih terlihat sedang duduk termenung memegang tangan oma Anna yang tubuh nya kini dipenuhi berbagai macam selang.


"Omaa," ucap Alexa dengan isak tangis yang tertahan. Air mata Alexa jatuh berderai melihat berbagai alat fentilator yang menempel ditubuh oma Anna. Selang Oksigen yang menempel dihidung oma Anna dan selang infus yang kian banyak bergantung ditiang menuju nadi oma Anna.


"Bu, Oma kenapa bu? Bukan nya kata ibu kemaren Oma sudah bisa makan?" tanya Alexa. Air mata menetes membasahi kedua pipinya.


"Oma kamu tiba tiba kesadaran nya menurun sejak jam tiga tadi, tim dokter baru saja pergi. Sepertinya fungsi paru dan otot jantung nya bermasalah nak," ucap ibu Ratih. Matanya yang bengkak dan memerah menahan sedih membuat Alexa tersadar, kalau ibunya merasa lebih menderita dari dirinya.


"Siang tadi oma menanyakan kamu dan Ken, tapi ibu menjawabnya kamu dan Ken sedang sibuk dikantor," tatap bu Ratih.


"Kenapa ibu tidak langsung menelpon Alexa bu? Alexa bisa aja langsung ke sini kok,"


"Ibu pikir oma kamu hanya sekedar bertanya, ibu tidak tau jika oma kamu akan mendadak menurun kesadarannya," jelas bu Ratih.


"Ya sudah ibu yang sabar. Oma pasti akan baik baik saja, ibu harus kuat ya," kata Alexa sambil memeluk ibunya.


Ibu Ratih mengangguk sambil membalas pelukan anaknya.


Beberapa tim dokter dan perawat memasuki ruangan oma Anna sembari menarik sebuah nakas berisikan peralatan medis.


"Nyonya Bond, kami akan memeriksa pasien, bisa keluar sebentar?" ucap seorang dokter yang baru masuk diruangan itu.


"Oh, iya Dok. Silahkan," ucap Alexa sambil membawa ibunya keluar dari ruangan itu.


"Bu, kita duduk disini dulu," Alexa membawa ibunya duduk diruangan tamu kamar vvip itu.


"Ibu sudah makan?" tanya Alexa.


"Tadi siang ibu makan bersama oma, ibu makan begitu bersenangat karena melihat oma kamu sudah sehat," ucap bu Ratih dengan mata sendu dan sedih.


"Tapi sekarang kan sudah hampir jam enam, Shasa pesankan makan malam buat ibu ya," kata Alexa sambil mengambil hp dikantong tas nya.


Barusan Ken menelpon.. dua panggilan masuk tapi aku tidak mendengarnya.


Alexa mendial nomor ponsel Ken.


"Sayang, aku lagi pesan makanan, setengah jam lagi aku tiba dirumah sakit," kata Ken dari sebrang telpon.


"Aku baru saja mau pesankan ibu makanan," kata Alexa.


"Ya udah, aku tunggu kamu aja. Bye sayang," ucap Alexa kemudian menutup telponnya.


"Bu, Ken akan segera kesini membawakan ibu makanan," ucap Alexa.


"Apa dia sudah melamar kamu nak?" tanya bu Ratih setelah melihat cincin dijari manis Alexa.


"Dia memberiku ini siang tadi bu. Aku nggak bisa menolaknya lagi," kata Alexa.


"Memang nggak seharusnya kamu menolaknya, segeralah menikahinya. Tak baik berpacaran terlalu lama," ucap bu Ratih.


"Tapi bu," kata Alexa.


"Ibu tau kedua orang tuanya tidak merestui hubungan kalian, tapi ibu yakin Ken lebih tau apa yang terbaik untuk hubungan kalian," ucap bu Ratih menyemangati putri semata wayangnya itu.


"Dari mana ibu tau?" tanya Alexa.


"Ibu selalu tau nak, setiap terjadi sesuatu pada mu feeling ibu selalu lebih kuat dari sebuah radar," ucap bu Ratih sembari memeluk putrinya.


"Terimakasih bu," kata Alexa.


Bersambung...