
Cerahnya sinar sang mentari menembus masuk kedalam celah kaca jendela mobil yang dikemudi Alexa. Alunan suara merdu penyanyi Duo Lipa setia menemani perjalanan Alexa pagi itu.
Hingga saat dirinya memasuki halaman kantor. Alexa mencoba berhati hati berjalan di disekeitar mobil mobil yang sudah rapih terparkir dihalaman parkir pagi itu.
Sebuah mobil hitam perlahan mundur mencoba keluar dari parkiran pagi itu. Sesaat fokus Alexa buyar karena menatap mobil yang tak asing didepannya. Hingga tanpa sengaja benturan keras pun tak bisa dia hindari, bamper depan mobil Alexa telah mendarat dibekakang kiri mobil hitam tersebut.
Alexa memejamkan matanya sejenak, benturan dagunya di stir mobil membuatnya mengerang menahan sakit.
"Ouuhgghhhhh, sial banget. Siapa orang yang berani mengambil parkiranku?" umpat Alexa kesal.
Sambil memejamkan matanya Alexa menahan dagunya yang masih nyeri. Sedangkan pria yang mobilnya ditabrak telah berdiri disamping pintu mobil sambil mulai mengetok pintu mobil Alexa.
"Tok tok tok."
Ken dengan marah mengetuk pintu mobil silver itu dengan agak tergesa.
"Please deh," sungut Alexa dari balik kemudinya sambil membuka pintu mobil.
Ken menatap Alexa keluar dari balik kemudi mobil sambil meringis.
"Sayang," ucap Ken. Nggak percaya namun benar wanita yang menabrak mobilnya itu adalah istrinya.
Dengan perasaan senang dan gembira Ken menarik pundak Alexa untuk berdiri tegap.
Ken hendak memeluk istrinya itu namun tangan Alexa menepis tangan yang menempel dipundaknya.
"Tunggu, apa hak kamu? Aku ...," Alexa tak melanjutkan kata kata yang terbata bata karena menahan tangis.
Alexa membalikkan badannya mencoba kembali masuk ke dalam mobil.
Dengan sigap Ken menarik lengan Alexa.
"Sayang," tangan kiri Ken mencoba mengapai telapak tangan Alexa. "Apa kamu tidak ingin melihatku lagi?" Ken dengan suara berat seakan memohon agar istrinya itu menoleh.
Alexa enggan membalikkan badannya, bulir dan air mata sudah mengalir keluar dari pelupuk matanya. Suara isak pun samar terdengar ditelinga Ken.
"Sayang, maafkan aku. Aku nggak pernah berniat meninggalkan mu." Suara berat Ken makin menjadi.
Alexa membalikkan badannya kemudian menatap ke arah Ken. Pria yang ada dihadapannya terlihat begitu menderita dan terluka.
"Apa kamu masih berniat untuk pulang?" tanya Alexa.
"Setiap detik aku begitu merindukanmu, aku begitu ingin pulang menemui mu, aku begitu tersiksa tanpa mu." Genangan air bersinar dari pelupuk mata Ken, menatap wanitanya menangis dan kecewa terhadap dirinya.
Ken menarik tangan Alexa masuk ke mobilnya. Ken membawa mobilnya keluar dari gedung itu.
"Nggak baik jika kamu menangis diparkiran, masa iya bu direktur menangis dihalaman parkir?" ucap Ken mencoba mencairkan suasana.
Alexa berusaha membersih kan Airmata yang mengalir di pipinya. Berulang ulang dia membersihkan pipinya yang basah namun air mata tak pernah berhenti menetes dari pelupuk matanya.
Ken menepikan mobilnya dijalanan yang agak sepi. Menarik selembar tisu dan mengusap perlahan pipi Alexa.
"Maaf sudah membuatmu menderita selama ini. Aku merasa makin bersalah melihatmu terus menangis seperti ini," ucap Ken sambil menempelkan tisu dipipi Alexa. "Please, don't cry."
"Jadi aku harus gimana? Aku sendiri nggak tau kenapa air mata ini nggak bisa berhenti mengalir," kata Alexa terus termehek mehek.
"Coba lihat aku," tangan Ken menarik wajah Alexa ke arah wajahnya. "Apa kamu nggak kangen dengan suamimu ini?"
Alexa akhirnya memeluk Ken erat dengan isak tangis yang semakin menjadi. "Aku benci kamu, kamu sudah membuatku sangat khawatir. Kamu tega meninggalkan aku, kamu nggak pernah memberi kabar sedikitpun."
"Bukan aku sengaja pergi meninggalkan kamu, aku juga sama menderitanya dengan kamu. Aku minta maaf." Ken membalas memeluk Alexa sambil mengusap kepalanya, membuat tangis Alexa semakin menjadi.
"Sshhh, sudah tenanglah, aku jadi ikut sedih melihat istriku yang cantik menangis." Kecupan ringan mendarat didahi Alexa. Ken mengusap kembali airmata dipipi Alexa.
"Kamu kemana saja, kenapa aku begitu kesulitan mencari mu? Kamu seperti menghilang tanpa jejak sedikitpun?! Aku bahkan sudah menyerah mencarimu, aku hanya bisa menunggu kamu kembali," kata Alexa dengan nafas yang sudah lebih tenang.
"Aku sudah sangat sering mengecewakan kamu, hhhh." Terdengar suara nafas panjang keluar dari mulut Ken. "Malam itu, saat papa mengumum kan pertunangan. Aku mengejar mu keluar dari pintu aula. Dalam pikiranku, kamu pasti begitu marah. Kamu pergi begitu saja. Jadi aku memutuskan untuk menyusulmu. Tapi siapa yang menyangka akan terjadi kecelakaan itu," jelas Ken sambil memegang lembut pipi Alexa.
Alexa menggeleng kan kepalanya dan kembali memeluk Ken.
"Aku nggak marah, sedikitpun aku nggak marah dengan mu, aku pergi malam itu karena ibu menelpon. Oma meninggal dan ibu sendirian saat itu, aku tak bisa berpikir apa apa lagi selain pergi menemui oma saat itu juga," Alexa kembali meneteskan air matanya.
"Oma? Jadi? sayang maaf aku.." Saat dia dalam keadaan berduka, aku malah pergi meninggalkannya. Ya Tuhan aku sungguh bukan suami yang baik.
Ken menitikan airmata.
"Sudah lah ini bukan salah kamu, takdir lah yang menentukan jalan hidup kita." Alexa menatap wajah Ken sendu.
"Tidak." Ken menggelengkan kepanlanya. "Aku belum bisa tenang sebelum Donita dijerumuskan ke penjara," ucap Ken.
"Apa Donita melakukan sesuatu yang jahat?" tanya Alexa.
"Aku hanya belum memiliki bukti, dia membuatku lumpuh bertahun tahun hingga aku nggak bisa pulang." jelas Ken.
"Donita?" tanya Alexa.
"Dia mengurungku sebagai pesakitan, dia tidak membuat aku sembuh saat kecelakaan itu. Dia malah membawaku ke Australia untuk menjadi tawanannya, dalam keadaan cacat dan terancam hingga aku nggak bisa berbuat apa apa," kata Ken penuh amarah.
"Australia? Aku bahkan tak menemukan jejakmu dibelahan bumi manapun. Jadi Donita dalangnya, dia terlihat baik. Ternyata teror itu, semua dari dia," ucap Alexa pelan.
"Apakah dia melukai kamu?" tanya Ken.
Alexa menggeleng sambil mengingat beberapa jejanggalan yang terjadi tiga tahun silam.
Sejak malam itu, teror dan penguntit mini van silver itu menghilang. Pasti dalangnya adalah Donita.
Ken meluruskan badannya menghadap ke depan.
"Aku akan membawamu pulang, kita nggak mungkin ngobrol disini hingga siang hari," ucap Ken.
Alexa masih terus duduk menyamping mengarah ke pria yang sibuk mengemudi mobil menuju rumahnya.
"Apa kamu baik baik saja?" tanya Alexa lagi.
Ken melirik sebentar ke wajah Alexa."Ya aku baik baik saja," jawab Ken.
"Kamu pasti begitu menderita, tanpa keluarga disisimu dengan keadaan lumpuh,"
"Gugun, dia selalu ada disisiku. Dia yang menemaniku. Dan dia yang membawaku kabur dari Donita. Aku berhutang sangat besar dengannya," jelas Ken.
"Ah Gugun, dimana dia sekarang?" tanya Alexa.
"Dirumahnya, dia pasti merindukan keluarganya. Aku ingin dia beristirahat sebulan dirumah. Aku nggak akan menghubunginya," ucap Ken.
Alexa mengusap lembut wajah Ken yang terlihat lebih gelap dari biasanya, tulang pipinya terlihat lebih menonjol dan rambut nya tak terlihat rapih seperti dulu.
"Aku masih belum percaya kamu kembali. Semoga ini bukan mimpi, disaat aku terbangun dan kamu sudah tidak lagi disisiku," ucap Alexa sambil mencubit cubit lengan kirinya.
"Kamu bisa mencubitku sekeras kerasnya, jangan mencubit tangan mu. Karena ini bukan mimpi sayang," ucap Ken tersenyum melihat tingkah Alexa, sambil tangan kiri Ken mencolek dagu Alexa.
"Ouuhgghhh." Rasa nyeri didagu Alexa akibat benturan sebelumnya.
Alexa memegang pelan dagunya. "Ternyata ini memang bukan mimpi, rasa sakit ini beneran," ucap Alexa sambil meringis.
"Kenapa sayang, dagu mu kenapa?" Ken memperhatikan dagu Alexa yang memang terlihat agak bengkak dari sebelumnya.
"Udah kamu nyetir aja, aku gak pa'apa," kata Alexa.
"Udah kita akan segera sampai," ucap Ken.
"Sampai ke mana? Kita dimana ini?" Alexa menyadari tujuan mereka bukan ke arah rumahnya.
Tiva tiba Ken sudah menghentikan mobil didepan pagar rumahnya sambil membunyikan klakson mobil.m beberapa kali. Pagar sudah dibukakan oleh pak Adil.
"Kita dirumah papa, tadi pagi papa memintaku membawa pulang menantunya," Ucap Ken.
"Benarkah?" tanya Alexa.
"Ya, ini permintaan papa." Ken memarkir mobilnya tak jauh dari pintu masuk.
"Tapi aku..."
"Tapi apa? Kamu istriku, cepat atau lambat aku pasti akan bawa kamu bertemu mereka," ucap Ken.
Alexa membenahi rambut dan riasan nya dari sepotong kaca kecil yang menempel dimobil. Alexa seakan risau dengan penampilannya pagi itu. Matanya bengkak dan rambut yang terlihat berantakan.
"Sayang." Ken mendaratkan ciuman lembut ke bibir Alexa. "I miss you," ucap Ken sambil menikmati bibir Alexa yang lembut dan semanis madu.
Alexa tak bisa berkata sepatah kata lagi. Bibirnya terlalu sibuk menikmati sentuhan lembut bibir Ken.
Aku begitu setia dengan rinduku, aku percaya dia akan kembali suatu saat nanti. Untuk itulah aku terus menunggu.
Bersambung...