
Tengah malam Ken tiba dirumah sakit, semua orang sudah tidak berada disitu.
Gugun sudah tertidur pulas dalam kamarnya sedang Steve Lisa dan Shanen sudah pulang.
Ken menghampiri Alexa yang sudah empat hari terbaring koma.
Alexa maafkan aku, aku belum bisa melindungi mu, aku akan mencari dokter terbaik didunia ini dan membawamu ke sana... Ken menggenggam tangan Alexa dan menciumnya.
Pagi hari sebelum ke kantor nya Ken menemui Dokter Roy.
"Pagi Dok, maaf minta waktu sebentar." Kata Ken.
"Ya Ken bicaralah." Dokter
"Menurut Dokter apa aku bisa membawa Alexa ke luar negeri dengan situasinya seperti sekarang ini?" Tanya Ken.
"Kamu ingin membawanya pergi? Bisa saja." Jawab Dokter singkat.
"Apa ada saran dari Dokter Roy dimana rumah sakit yang memiliki dokter dan fasilitas terbaik?" Tanya Ken.
"Aku paham Ken, kamu pasti berpikir rumah sakit ini belum maksimal dalam merawat Alexa. Kamu bisa saja membawanya ke mana saja, saya akan memberikan rekomendasi rujukan ke Dokter saraf terbaik seperti yang kamu inginkan.
Dokter dimana saja mungkin sama, tapi fasilitas dan tanggap pasien disana memang lebih baik." Kata Dokter Roy.
"Kapan sebaiknya saya membawanya Dok?" Tanya Ken.
"Alexa masih dalam tahap observasi kami hingga tiga hari kedepan. Jadi jika sudah sesuai prosedur ya kamu bisa membawa nya. Kata Dokter Roy.
"Kalau begitu saya akan melakukan persiapan nya dalam beberapa hari ini. Mungkin minggu depan Alexa sudah bisa keluar." Kata Ken.
"Ya, tetap semangt Ken." Dokter Roy menyemangatinya.
"Baik terimakasih Dok, saya permisi."
Ken meninggalkan ruangan Dokter Roy.
Usai dari ruangan Dokter Ken langsung menuju kantornya.
Perencanaan untuk membawa Alexa keluar negeri sudah rampung, Jet pribadi yang akan membawa Alexa sudah siap. Ken tinggal menunggu scedhule yang tepat untuk terbang membawa Alexa ke London.
Hari ini adalah hari ke delapan, namun belum ada tanda Alexa akan siuman. Cidera kepala dan pinggang Alexa yang retak sudah pulih namun Alexa masih enggan untuk membuka matanya.
Senin pagi seperti biasa Ken berpamitan dengan Alexa sebelum berangkat ke kantor.
"Honey, ini sudah hari ke delapan kamu seperti ini. Aku rindu kamu.
Walau kamu berada disampingku namun tidak dengan jiwamu. Kembalilah sayang, cepatlah bangun."
"Hari ini aku akan ke kantor, sebentar lagi ada perawat yang akan menjaga mu disini sayang. Kamu nggak usah khawatir, sore aku sudah disini lagi menemani kamu. I Love you Sayang."
Ken mencium dahi Alexa kemudian melangkah keluar dari pintu meninggalkan Alexa sendiri diruangan itu.
Antara sadar dan tidak Alexa mendengar setiap perkataan Ken.
I love you too.
Ken aku disini...
Alexa seakan ingin menahan langkah Ken yang makin menjauh dari keberadaan nya.
Ken..
Terasa kaku di setiap persendian badan Alexa saat akan digerakkan.
Alexa berdiam diri sejenak beradaptasi dengan rasa ngilu diseluruh badannya.
Alexa perlahan menggerakkan jari telunjuknya, dan mencoba membuka matanya.
Pandangan matanya tertuju ke cahaya lampu yang begitu samar.
Alexa kembali menutup matanya kemudian berusaha mengingat kejadian yang terjadi kepadanya.
Apa yang terjadi? Kenapa tubuh ku kaku, kepalaku terasa sakit sekali.
Ahhh, apa yang terjadi?
Alexa teringat sore itu saat dirinya hendak menemui kekasihnya, sesuatu menghantam tubuhnya.
Sore itu terdengar seperti suara Donita berteriak minta tolong.
Alexa mengingat tante Ratih, Charlote, Lisa, Shanen, Oma Anna dan Ken.
Kemudian pikiran Alexa makin mundur jauh ke belakang saat dirinya masih berusia sekitar enam tahun.
Alexa mengingat sebagian kenangan masa lalunya.
Ibu...
Bayangan ibunya kini muncul dalam benaknya.
Ayah...
Biasanya wajah sang ayah tak pernah muncul dalam benaknya, kini Alexa mengingat bagaimana sosok sang ayah. Sosok yang selama ini tak pernah terbayang dalam ingatannya.
Ada apa ini? Apa yang terjadi?
Alexa mulai menitikkan airmatanya.
Bagaimana bisa selama ini aku melupakan semua hal tentang kalian. Aku selalu mengira kalian yang meninggalkan aku.
Alexa kembali mencoba membuka matanya, ruangan kamar sudah terlihat jelas dimatanya.
Alexa mencoba mengangkat tangannya keatas, kemudian perlahan menggerakkan kakinya.
Alexa meraba perban yang menempel di pelipis kiri atas, kemudian memegang pinggangnya yang terasa agak nyeri.
Alexa terus berusaha menggerakkan badannya.
Aku belum bisa memaksakan diriku saat ini.
Alexa berdiam diri beberapa saat, menyelami apa yang sudah terjadi.
Ayah, Ibu..
Kalian tidak pernah meninggalkan aku, tapi akulah yang meninggalkan kalian.
Alexa teringat gadis kecil yang selalu berada dalam mimpinya, air mata nya kembali membasahi pipinya mengenang peristiwa 18 tahun silam itu.
Gadis bernama Sasha itu adalah diriku, dan wanita itu adalah ibuku.
Kenapa saat itu ibu menyuruhku lari? Kemudian Ibu diseret kedua orang berbaju hitam.
Mimpi itu adalah kenangan masa laluku, dan itu semua adalah sebuah kenyataan.
Tapi kemudian aku berlari keluar, aku meninggalkan mereka saat itu!
Ada begitu banyak pertanyaan dalam benak Alexa. Pikiran nya begitu kacau, rasa ingin taunya akan keberadaan Ayah dan Ibunya, suara ledakan dalam mimpinya, dua orang pria berbaju hitam, semua hal itu mengganggu pikirannya.
Tangan Alexa memegang kepalanya. Semakin dipaksa mengingat kejadian itu, semakin menusuk nyeri yang dirasakannya.
Aku ingin memastikan semua itu. Aku harus kembali ke tempat kejadian itu.
Tapi bagaimana dengan Ken? Dia pasti akan mencariku.
Masa laluku masih samar, aku takut hal ini akan menjadi bumerang pada hubungan kami.
Dan aku tak ingin hidup dalam mimpi buruk bayangan masa laluku. Jika aku terus menghindar, masalah ini tak akan pernah berakhir dan aku akan selalu hidup dalam ketakutan.
Sebaiknya aku pergi sekarang, aku akan mencari ayah dan ibuku terlebih dahulu.
Alexa menggerak gerakkan kakinya kekiri dan kekanan.
Sudah tidak sekaku tadi.
Alexa mencoba beranjak dari pembaringan nya ke posisi duduk sambil menurunkan kedua kakinya menggantung di atas ranjang.
Aku berada dirumh sakit dilihat dari interior ruangan dan peralatan medis dibelakang.
Dimana tasku.
Alexa melepas selang Infus yang masih menempel ditangan nya kemudian berjalan pelan menuju lemari besar di sisi ruangan.
Nggak mungkin aku keluar dengan pakaian pasien ini.
Alexa melihat tas nya yang terakhir dipakainya saat kecelakaan beserta handpon yang sudah rusak tak karuan.
Nggak Ada satupun bajuku disini.
Kaos milik Ken ini pasti muat dibadanku.
Alexa memegang sebuah kaos hitam dan memakainya.
Alexa mengeluarkan dompet dari dalam tasnya kemudian keluar dari pintu itu.
Besar sekali ruangan ini.
Alexa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu mencari sebuah cermin untuk memperbaiki penampilannya.
Rambutnya dibiarkan tergerai agar menutupi perban luka di pelipis kirinya.
Lantai 18 khusus untuk pasien VIP terlihat begitu sepi, jam yang menempel di ujung lorong sudah menunjukkan puku 09.12.
Alexa terus berjalan menuruni tangga darurat hingga lantai 15 untuk menghilangkan jejak para perawat yang berada didekat lift lantai 18. Kemudian turun ke lobby dengan menggunakan lift.
Didepan parkiran dekat pintu masuk terdapat beberapa taxi yang mangkal disitu.
Alexa berjalan sekitar 30 meter menuju taxi berwarna biru sambil membuka dompet ditangannya.
Satu juta dua ratus ribu, ini pasti cukup sampai Bandung.
"Mau ke mana neng." Tanya sopir taxi.
"Jalan Garuda pak"
Setiba dijalan Garuda Alexa berhenti dipinggir jalan kemudian mengganti taxi lain menuju Bandung.
Perjalanan ditempuhnya selama lima jam hingga tiba di kota Bandung.
Bersambung...