
Taxi yang ditumpangi Alexa tiba didepan kantor pukul 07.50.
Bergaya bak seorang wanita karir, Alexa mantap melangkahkan kakinya menuju ruangan HRD yang terletak dilantai dua gedung itu.
Hanya dengan satu tanda tangan nya maka Alexa sudah resmi menjadi seorang karyawan PT Gobel Sonic yang sebenarnya adalah perusahan miliknya.
Alexa memutuskan menaiki anak tangga yang berada diujung lobby tak jauh dari lift berada. Saat tumpukan karyawan sedang menunggu didepan pintu lift, pilihannya untuk melalui tangga adalah yang paling tepat.
Beberapa karyawan pria yang berdiri tak jauh dari tangga memalingkan wajah mengikuti ke arah Alexa berjalan.
"Dia karyawan baru?" bisik seorang karyawan.
"Iya, baru kali ini aku melihatnya," ucap karyawan yang satunya sambil berbisik.
"Sangat cantik," ucap seorang lagi.
Obrolan beberapa karyawan itu tak terdengar lagi di telinga Alexa begitu dia memasuki ruang pak Rian menejer HRD.
Ruangan HRD sudah mulai ramai, beberapa karyawan berseliweran kesana kemari mengingat jam kantor baru akan dimulai pukul 8 pagi setiap hari.
"Mbak Alexa ya? tanya seorang asmen wanita yang datang menghampiri Alexa.
"Iya," jawab Alexa.
"Pak Rian sudah menunggu mbak diruangannya," ucap asmen itu. "Mari ikut saya." Wanita asmen itu berjalan terlebih dahulu menuju sebuah ruangan.
"Tok tok tok,"
Tanpa menunggu aba aba wanita itu langsung membuka pintu.
"Pak Rian, mbak Alexa sudah berada disini," ucap wanita itu.
"Ya suruh dia masuk," suara pak Rian terdengar jelas ditelinga Alexa.
"Mbak silahkan masuk," ucap wanita itu mempersilahkan.
Setelah berada diruangan pak Rian, Alexa langsung mengambil kursi dihadapan pak Rian.
Tanpa berpikir dan berkata kata pak Rian langsung menarik sebuah map merah dimejanya. Beberapa berkas di keluarkan dari dalam map itu.
"Semua nya sudah saya siapkan sejak semalam, biar pagi ini tinggal ditanda tangani.
Bu Rani menitip mbak Alexa kepada saya, katanya bekerja sama lah dengan baik. Jadi ini maksimal yang bisa ku lakukan untuk mbak Alexa," pak Rian terus berbicara panjang lebar, sedang Alexa hanya berdiam mendengar setiap ocehan pak Rian sambil sesekali senyum ke arah pak Rian.
Pak Rian menyerahkan beberapa lembar kertas untuk dibaca dan dipahami Alexa.
Kemudian menandatangani perjanjian/kontrak kerja.
Setelah selesai menanda tangani Alexa menjabat tangan pak Rian.
"Terima kasih pak, mohon bimbingan bapak. Saya akan bekerja sebaik baiknya disini," ucap Alexa.
"Oh ya mbak, apakah bu Rani adalah kerabat atau keluarga mbak?" tanya pak Rian.
"Nggak pak, saya dan bu Rani tidak ada hubungan darah apa pun, tawaran kerja ini memang dari bu Rani. Ya mungkin karena beliau melihat latar belakang pendidikan saya, makanya mengundang saya bekerja disini," ucap Alexa.
"Ohh, baik lah mbak Alexa, terimakasih. Di luar Asmen saya akan mengantar mbak ke ruangan produksi dilantai lima," ucap pak Rian.
Belum seminggu mbak Rani memegang jabatan, dia sudah menaruh orang orang kepercayaannya di setiap departemen. Pikir pak Rian.
Alexa keluar dari ruangan pak Rian. Asmen wanita yang tadi sudah berdiri didepan pintu menunggu aba aba dari pak Rian.
"Rekha, antar mbak Alexa ke lantai lima," teriak pak Rian dari dalam ruangan.
"Mbak Alexa ayok," ajak wanita itu yang ternyata bernama Rekha.
Alexa diam sambil mengikuti arah rekha berjalan.
"Apa pak Rian adalah keluarga mbak?" tanya Rekha ceplas ceplos.
"Aku dan pak Rian gak ada hubungan darah atau hubungan lain dalam bentuk apa pun," ucap Alexa.
Rekha menatap wajah Alexa yang terlihat jujur dalam berbicara.
"Habis, tumben pak Rian pagi pagi sudah datang kantor," kata Rekha.
Alexa diam saja mendengar perkataan Rekha, seolah pak Rian yang sering terlambat sudah hal biasa.
Alexa dan Rekha terus menuju ke ruang produksi dilantai lima.
Rekha menemui Dyah yang saat itu sudah menunggu Alexa.
"Pagi," sapa Rekha begitu tiba di ruangan itu.
"Hai pagi Kha," jawab Dyah yang sudah menunggu mereka.
"Ini Alexa Dy, aku sudah mengantarnya. Silahkan berikan dia petunjuk selanjut nya," ucap Rekha pada Dyah. Mereka sepertinya sudah berteman Akrab.
"Pagi, saya Alexa," sapa Alexa.
"Ya Alexa, sini ikut dengan ku," ucap Dyah.
"Makasih mbak Rekha sudah mengantarku," ucap Alexa pada Rekha yang hampir berlalu dari ruangan itu.
Sebelum meninggalkan Alexa Dyah menjelaskan singkat apa saja yang akan dikerjakan Alexa.
"Pak Juan baru saja menelpon ku, tugas kami adalah memberikan setiap laporan pekerjaan kami ke mbak Alexa. Jadi sepertinya kami disini adalah bawahan mbak Alexa," ucap mbak Dyah.
"Baiklah," jawab Alexa singkat. "Apa karyawan karyawan lapangan absen disini tiap hari?" tanya Alexa.
"Saya kurang tau pasti mbak Alexa," jawab Dyah.
"Berapa banyak karyawan diruangan ini?" tanya Alexa lagi.
"Jika sama orang lapangan, saya nggak tau persis," kata Dyah.
"Kapan terakhir kali diadakan meeting?" tanya Alexa.
"Saya lupa tanggalnya, tapi mungkin itu dua bulan yang lalu," jawab Dyah. Dirinya merasa seperti sedang diinterogasi oleh karywan baru. Kesal dan jengkel langsung meliputi pikiran Dyah saat itu.
"Sudah berapa lama kamu bekerja disini?" Alexa melanjutkan pertanyaan.
"Sudah dua tahun empat bulan," jawab Dyah.
Gila kali ini karyawan baru tapi gayanya selangit! Gerutu Dyah dalam hati.
"Sebelumnya kami diawasi langsung oleh pak Juan, dan yang bertanggung jawab disini adalah pak Juan Gobel," jelas Dyah sedikit menekan kata 'Gobel' dalam kalimatnya.
"Pak Juan sudah ada?" tanya Alexa.
Pertanyaannya Alexa dijawab dengan menggeleng kepalah oleh Dyah.
"Jam berapa dia datang?" tanya Alexa.
"Gak menentu, biasanya di atas jam sepuluh, terkadang juga gak masuk kantor," jawab Dyah.
"Sampaikan ke karyawan yang lain, kita akan meeting setelah pak Juan tiba," ucap Alexa kemudian mulai menyibukkan dirinya dengan laptop yang baru saja dikeluarkan dari tas nya.
"Baik, saya permisi," ucap Dyah kemudian berlalu dari situ.
Setelah dua tahun, akhirnya aku kembali menjadi seorang karyawan. Tapi sayang nya ini bukan perusahan milik Ken, ini adalah perusahan ku. Perusahan ini hanyalah batu loncatan buatku untuk bisa kembali ke PH.corp.
Tapi, hufftttt... perusahan ini. Perusahan yang ku beli ini tak memiliki menejemen yang jelas, karyawan dan menejernya semua semerawut kerjaan nya.
Alexa sedikit menggaruk dan mengacak kepalanya yang tak terlihat gatal itu.
Sudah pukul sembilan tiga puluh, pak Juan belum juga menampakkan batang hidung nya.
Apa yang harus aku kerjakan sekarang?
Alexa mendatangi beberapa karyawan wanita disitu.
"Berikan job description kalian, aku akan mencoba menganalisa sedikit pekerjaan kalian," kata Alexa pada wanita yang letaknya dipaling kiri.
Alexa meninggalkan flash disk diatas meja kerja wanita itu kemudian kembali ke meja nya.
Saat Alexa sibuk membuka buka laman utama perusahan, tiba tiba pak Juan sudah berdiri dihadapannya.
"Wah, maaf Alexa. Saya agak kesiangan, saya tadi singgah dipabrik jadi agak terlambat," ucap pak Juan.
"Bapak bukan bawahan saya, kenapa harus melapor dan minta maaf?" ujar Alexa datar.
"Ah iya juga, saya sampai buru buru ke sini, tapi sebagai menejer disini bukankah tugas saya memperkenalkan anda pada karyawan lain?" ujar pak Juan dengan senyum manis dibibirnya.
"Oh iya pak, saya pikir sebaiknya saya memperkenalkan diri diruangan merting saja," kata Alexa.
"Ruang meeting??" kata pak Juan agak bingung.
"Iya pak, diruang meeting. Kita akan meeting sebentar," jelas Alexa.
"Kapan?" tanya pak Juan.
"Ya sekarang pak," ujar Alexa.
"Baiklah, ayok ke ruang meeting," kata pak Juan sambil berjalan ke meja meja karyawan lain yang letaknya agak jauh dari meja Alexa.
"Ayo girls, kita meeting sekarang. Saya tunggu kalian diruang meeting," ajak pak Juan pada karyawan karyawan disitu.
Alexa menatap pak Juan sambil menggeleng kepala.
Perusahan ini seperti tak ada aturan. Apa aku bisa mendongkrak naik perusahan ini dengan cepat?
Di lihat dari sifat semu karyawan, sepertinya ini akan sulit. Dan lagi pak Juan adalah putra bungsu dari pak Indra Gobel, bagaimana mungkin aku yang hanya karyawan kecil ini bisa mengatur dirinya?!
Alexa menatap setiap karyawan wanita yang berjalan dibelakang pak Juan menuju Ruangan meeting.
Mereka semua wanita? Apa tak ada satupun karyawan pria disini?
Dan apa mereka sedang saling menggoda?
Pikir Alexa setelah menatap tingkah para karyawan dan boss yang bercanda seperti tak ada batasan.
Bersambung...