
Minggu siang itu diparkiran rumah makan Sopan&Sopin mang Kasim menurunkan Alexa di pintu masuk rumah makan. Alexa berjalan memasuki rumah makan, seperti biasa saat jam makan siang pelanggan akan ramai datang untuk mengisi perut.
Shanen, Lisa dan Leo sudah menunggu di lantai dua rumah makan menanti kedatangan sahabat yang sudah sebulan lebih tidak pernah menampakkan batang hidungnya.
Akexa melangkah menuju meja sahabat2 nya berada.
"Gaes, maaf agak telat, macet banget soalnya" sapa Alexa.
Lisa menatap ke arah Alexa tak percaya.
"Lex, lo kok sekurus ini? Kenapa wajah lo jadi sekusam ini?" Kata Lisa ceplas ceplos.
"Ya, hampir sebulan aku jarang makan dan minum, kemaren kalau nggak dibawa ke rumah sakit mungkin aku nggak akan sadar," jelas Alexa.
"Kok bisa Lex?" tanya Shanen prihatin.
"Aku sangat terpuruk sejak kematian oma dan kepergian Ken malam itu," kata Alexa.
"Lex, jika kami tau. Kami pasti akan menjenguk dan menyemakngati mu. Kami pikir kamu sengaja menghindari kami sejak pertunangan boss Ken dengan Donita," Kata Lisa.
"Aku juga nggak sadar, kepergian oma dan ditinggalkan Ken akan berdampak basar pada diriku,"
"Sudah, aku nggak peduli. Sekarang apa pun yang terjadi kami akan menemani kamu Lex, kita ini teman!" kata Lisa.
Leo mengangguk mengiyakan sedangkan Shanen menggenggam tangan Alexa.
Alexa terharu menatap ketiga sahabatnya itu..
"Aku mau ketemu kalian ingin menanyakan keadaan kantor," Alexa menatap satu persatu para sahabatnya itu. " Aku ingin menanyakan keadaan Ken," ucap Alexa lirih.
"Itu lah Lex, para karyawan semua kebingungan. Bos seperti menghilang ditelan bumi sejak pertunangan malam itu, bahkan Gugun pun nggak pernah muncul dikantor lagi," kata Lisa.
"Atau keluarga Ken mungkin sengaja menutupi jejaknya," kata Shanen.
"Mungkin juga Ken sedang dikurung karena melawan orang tuanya," kata Leo.
"Apa Ken anak kecil? yang bisa dikurung selama satu bulan?" ucap Lisa.
"Ayah Ken begitu mencintai perusahan, nggak mungkin dia akan membiarkan perusahaan tidak di urus," kata Leo.
Alexa mengangguk. "Ya, akhir akhir ini saham perusahan terus merosot," kata Alexa. "Apa Gugun juga tidak sekali pun muncul di kantor?" tanya Alexa.
Lisa, Shsnen dan Leo menggeleng.
"Kamu kan simpanan Steve, masa gak bisa dapat info dari nya, mereka kan akrab," ujar Shanen pada Lisa.
"Enak aja simpanan, kami akan menikah. Tapi Steve menunggu boss Ken muncul dulu," jawab Lisa.
"Lisa, bisa tolong aku?" tanya Alexa.
"Iya tentu bisa dong Lex," ucap Lisa.
"Management perusahan sekarang seperti apa? Siapa yang mengontrol perusahan sekarang? Setiap perintah dan istruksi perusahan sekarang pasti masuk melalui email ke setiap menejer menejer perusahan melalu email mereka," ucap Alexa.
Leo terlihat paham sambil mengangguk angguk.
"Jadi aku harus melakukan apa?" tanya Lisa.
"Aku ingin tau siapa orang yang mengendalikan perusahan saat ini dari hp Steve. Aku tidak berniat merusak perusahan, aku hanya ingin menelusuri keberadaan Ken saat ini, percayalah," kata Alexa serius.
"Apa kamu yakin seperti itu? Atau aku berikan email Steve ke kamu, kamu pasti bisa melihat langsung siapa saja yang berhubungan dengan Steve dan yang mengatur perusahan saat ini," kata Lisa.
"Apa tidak apa apa jika aku manfaatkan email nya, bagaimna jika dia marah," kata Alexa.
"Nggak apa apa, kamu cukup mendapatkan info orang itu kan?" tanya Lisa.
Alexa mengangguk.
"Ya udah, ini hanya rahasia kita. Steve gak perlu tau, nanti malam aku akan mendapatkan emailnya secara diam diam," kata Lisa.
"Oke, tenang aja,"
"By the way Lex, seingat aku... Dimalam acara ulang tahun perusahan Pak Ken datang ke meja kita mancari kamu, dia pergi mencari ke toilete kemudian berlari keluar dari gedung saat itu juga, ya kan Lis?" kata Shanen.
Lisa mengangguk. "Boss Ken bertanya padaku kamu dimana, ya aku bilang aja ke toilete. Aku nggak liat lagi boss ke arah mana setelah itu," jelas Lisa.
"Tapi aku lihat kok boss Ken berlari keluar saat itu, aku kan duduk menghadap ke pintu," kata Shanen merasa yakin.
"Di saat acara ulang tahun belum selesai, boss Ken dan semua keluarga nya langsung meninggalkan gedung. Pak Gungun juga tidak pernah kelihatan sejak malam itu," kata Leo menambahi.
"Wahh daebakk, apa mereka menyekap boss karena mengejar kamu malam itu?" Lisa menebak asal namu masuk logika.
Alexa berdiam sejenak, menelaah semua hal malam itu. Mengingat Ken yang tak mungkin pergi begitu saja meninggalkan dirinya hati Alexa menjadi gundah.
Mengapa tak pernah terpikirkan dalam benak ku jika suami ku tertimpa hal buruk. Apa mungkin keluarganya mengurung dirinya? Ya Tuhan, aku baru sadar sekarang setelah satu bulan. Ken dimana kamu?
Alexa mulai menitikan airmatanya.
"Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi dengannya?" ucap Alexa.
"Lex jangan berpikiran buruk dulu, kita akan membantu kamu menemukan boss Ken," kata Lisa.
"Iya Lex, kamu gak perlu khawatir. Kita akan mencari tau detail kejadian yang terjadi malam itu," bujuk Shanen.
"Ya makasih teman teman," ucap Alexa sambil melap tetes airmata di pipinya.
"Masalahnya pak Gugun juga ikut menghilang. Lis, jika kamu bisa mencari tau sesuatu dari pak Steve, dia tidak mungkin tidak tau sesuatu," kata Leo pada Lisa.
"Ya baiklah, aku akn mencoba bertanya padanya," kata Lisa pada Leo.
"Mbak pesanan kami sudah siap? Aku kelaperan," teriak Lisa pada pelayan yang berdiri tak jauh dari situ.
Menjelang sore setelah ngobrol hingga lupa waktu dengan sahabat sahabatnya Alexa menuju ke rumah Ken. Rumah putih mewah yang sebelumnya pernah dianggap sebagai rumah nya juga.
"Tiiiinn tiiiiin"
Beberapa kali mang Kasim membunyi kan klakson namun tak ada tespon dari dalam rumah.
"Mang aku keluar sebentar mengecek," ucap Alexa kemudian keluar dari mobil. Kepalanya mengintip di sela sela pintu pagar menatap ke pos sekuriti di sudut pagar dekat pintu pagar tersebut.
"Pak Duan, Pak Barto," teriak Alexa pada beberapa sekuriti yang biasa berjaga disitu.
Pintu pos terlihat tertutup rapat, penampakan dari luar memang seperti tidak ada orang. Bahkan pagarnya terkunci gembok besar.
Semua orang yang berhubungan dengan Ken seakan menghilang. Rumahnya jadi terlihat asing.. Ken, apa yang terjadi?
Pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran Alexa. Rasa penasaran dan curiga Alexa semakin besar, dirinya ingin segera menemukan keberadaan suaminya itu.
"Non, sepertinya tidak ada orang didalam, ayo kita pulang," teriak mang Kasim dari dalam mobil.
Mang kasim keluar dari mobilnya menghampiri Alexa yang masih memencet bel berharap seseorang keluar dari dalam rumah.
"Non kita bisa kembali lagi besok, atau non bisa menyuruh orang berjaga disini," ucap mang Kasim.
Alexa menatap mang kasim.
"Ya mang, aku butuh seorang detektif atau pun preman yang bisa dibayar berapa pun untuk mencari Ken," ucap Alexa.
"Ya tapi sekarang non harus pulang dulu dan beristirahat, ingat kondisi non yang tidak boleh terlalu lelah," mang Kasim mengingatkan.
"Baik mang, ayok kita pulang sekarang," ajak Alexa.
Alexa buru buru kembali ke Bogor, ingin sekali dirinya segera menemukan orang yang ahli yang bisa menemukan suaminya. Semakin lama ditunda perasaanya ini semakin membuatnya tidak nyaman dan gelisah.
Bersambung...