
Genggaman Ken, semakin erat menahan ku disini. Tapi ini urusan kalian aku tak ingin mendengar perdebatan kalian.
"Please," ucap Ken sambil menatap Alexa.
Mata sendunya seolah berkata jangan meninggalkannya.
"Ken, aku ingin bicara berdua dengan mu," ucap Imelda lembut.
"Alexa tak akan kemana mana, dia bagian dari hidupku sekarang. Aku hanya tak ingin ada kesalah pahaman diantara kami," ucap Ken tegas.
"Ta.. tapi, ini masalah serius kita, jika kamu tidak memberi diriku kesempatan. Bukankah kamu begitu egois?" ucap Imelda.
"Kamu tau dengan pasti Imelda, tak pernah ada cinta dalam hubungan kita. Bahkan sudah sejak setahun yang lalu aku tak pernah menghubungi mu lagi. Setelah kamu menjalin hubungan dengan beberapa orang kini kamu akan datang lagi padaku?" kata Ken.
"A-aku selama ini hanya berniat membuatmu cemburu Ken," ucap Imelda memohon.
"Sudah lah Imelda, kamu tau aku tak pernah cemburu dengan mu , itu artinya aku tak pernah mencintai kamu," ucapan Ken terdengar begitu tajam. Gugun dan Alexa yang masih berdiri diantara mereka menjadi sangat canggung dengan situasi ini.
Alexa tak bisa berkata apapun, kaki nya tak bisa melangkah kemanapun. Dirinya hanya merelakan digenggam begitu erat oleh Ken.
"Ken, coba pikirkan kembali saat sa...," ucapan Imelda terputus mendengar suara besar Ken.
"Imelda, jangan membahas masalalu, aku jadi curiga kamu ke sini hanya untuk memprofokasi hubungan aku dan Alexa?" Bentak Ken.
Gila nih laki laki, apa dia bisa membaca gerak gerikku? Hmmm Donita, kamu sudah kalah, trik ini tak akan berhasil memisahkan mereka. Ken sudah benar benar jatuh ke pelukan gadis ini. Bahkan aku sendiri tak berhasil menggoyah kan hatinya. Apa aku harus beracting dengan airmata dan memohon padanya?
"Ken, aku nggak akan pernah berhenti menunggu mu. Saat gadis ini sudah tiada kamu bisa datang mencariku, aku bisa menjadi pengobat sedih mu," ucap Imelda. Dengan senyuman sinis tersungging dibibirnya yang cantik Imelda pergi dari ruangan itu.
"Gun, bagaimana bisa kamu membiarkannya berada disini? Sejak kapan aku mengijinkan dia bisa berada disini?" ucap Ken.
"Aku sudah menyuruhnya pergi tapi dia memaksa ingin menunggu bapak, lagian hp bapak ditelponin nggak diangkat angkat," jelas Gugun.
"Lagi ngetes sound system gimana bisa dengar telpon masuk Gun," balas Ken.
"Aku mau ke ruangan ku aja deh," kata Alexa.
Ken menarik Alexa ke Ruangannya.
"Tapi kamu sudah berada disini, tadi kamu mau ngapain kesini?" Tanya Ken.
"Aku hanya merindukan mu, aku nggak nyangka datang ke sini malah akan bertemu Imelda," ucap Alexa dengan nada yang letih.
"Maaf kamu harus menyaksikan hal seperti itu, aku pikir setelah tidak komunikasi lama Imelda tidak akan menghubungiku lagi." Ken berusaha menenangkan Alexa.
"Kamu pasti sibuk banget sayang, ulang tahun perusahan tinggal enam hari dari sekarang, ada yang bisa aku bantu?" tanya Alexa.
"Hmm, kamu cukup percaya dan mendukung ku seperti sekarang aku sudah sangat bahagia," Ken memeluk Alexa. "Terimakasih sayang." kata Ken.
"Iyaa, hmm kalau gitu aku balik deh. Jika aku disini terus kamu gak akan kerja," kata Alexa. kemudian pergi dari ruangan Ken.
Rasa laparku langsung hilang setelah bertemu Imelda, sepertinya aku masih harus menahan beberapa jam lagi baru bisa mengisi perutku.
Alexa menuju meja kerjanya, Lisa dan Shanen terlihat sedang membahas beberapa program baru perusahan.
Alexa yang baru saja tiba langsung ikut menatap ke laptop Lisa yang sedang bingung dengan angka angka ganjil dalam layar laptopnya.
"Eh, lex lo dah balik? Gimana makan siang lo ma camer?" tanya Lisa.
"Oke. Dia seorang wanita yang sangat luar biasa ramah," ucap Alexa mengingat kelembutan dari tutur kata tante Amel.
"Kamu beruntung banget ya, aku pengen mertuaku juga sebaik dia," harap Lisa.
"Pada ngapain sih kalian?" tanya Alexa bingung.
"Lo nggak liat kami lagi bingung menbedakan produk update yang baru ini?" ucap Lisa sambil menunjuk beberapa angka didalam laptopnya.
"Aku dah bilang, ini harus dihilangkan tapi dia nggak mau. Kesalahan nya tadi kamu inputnya duble." ucap Shanen.
"Hmm, kalian ribet banget ya. Itu masalahnya karena kalian belum input kode temanya. Karena ini pembaruan versi 10.20.03 maka kodenya haris diganti." Jari Alexa menunjuk pada sebuah titik yang tidak mereka copas.
Jari jari Lisa langsung melakukan seperti apa yang dikatakan Alexa, kemudian ada beberapa warna merah pada input yang muncul.
"Nah itu dia, sekarang sudah tau kan? Itulah bedanya system yang sekarang ama yang dulu," ucap Alexa lagi.
"Daebak banget lo Lex, kamu emang jenius banget. Thankyou yah," ucap Lisa begitu senang.
"Haha, kayaknya otak kita udah karatan deh Lis," Shanen menimpali kemudian kembali ke kursinya.
Alexa membuka laptop hitam yang ada dihadapannya, dengan sentuhan jempol kanannya laptopnya langsung log in.
Sebuah gambar amplop dengan angka 5 berwarna merah tertera diujung kanan laptopnya.
Beberapa hari ini banyak sekali spam aneh yang masuk.
Kusor mouse mengarah ke amplop yang berada diujung kanan.
Jika kamu tidak menyerah jangan salahkan aku jika aku melakukan hal itu lagi.
07.07.2020-15:06
Pesan pesan ini masuk dua hari yang lalu.
Sebaiknya kamu pergi jauh dari sini. Atau kejadian 18 tahun lalu akan terulang lagi.
07.07.2020- 21:20
Aku akan terus mengawasimu!!!
07.07.20202- 23:48
Ingalah, waktu mu semakin sedikit. Tinggalkan perusahan itu.
08.07.2020- 11:14
Aku berpikir kamu sudah mati, apa kamu ingin pemerkosaan terjadi lagi?
09.07.2020- 13:15
Pesan yang terakhir masuk satu jam yang lalu.
Alexa melacak asal dari pesan itu namun sia sia, DNS server dan IP address semuanya berbeda beda.
Orang ini pasti bodoh, dia sedikit tau tentang masa laluku. Seolah dia adalah dalang dibalik pemerkosaan aku dan ibu. Tapi dia nggak sadar kalau aku lebih tau apa yang terjadi waktu itu. Jelas jelas ini adalah sebuah ancaman agar aku pergi dari sini.
Tapi siapa pelakunya? Apakah tante Amel? seperti yang dikatakan Donita tadi? Atau Imelda?
Pikiran Alexa dipenuhi berbagai pertanyaan yang dia sendiri masih belum tau kejelasan nya.
Apa yang harus aku lakukan, yang pastinya Ken gak perlu tau tentang hal ini. Bagaimana jika ini perbuatan ibunya, dia pasti akan sangat kecewa.
"Kamu ngapain Lex?" tanya Lisa tiba tiba.
"Ah, enggak. Ini masih mengerjakan yang tadi," jawab Alexa
"Lex, sini dong. Bantuin yang ini lagi dong, aku agak bingung nih," pinta Lisa.
Alexa mendorong kursinya mendekat ke meja Lisa.
"Sini berikan laptop kamu," Alexa menghadapkan laptop itu ke arah wajahnya. "Perhatikan yang baik ya. Sebenarnya membuat perbandingan perbandingan seperti ini adalah keahlianku, kamu tenang aja. Kita akan tau dimana cacat nya sebuah software dan aplikasi dengan cepat," ujar Alexa.
Alexa menggerakkan jari jemarinya diatas keyword laptop Lisa dengan cepat.
Hanya dalam beberapa menit Alexa sudah menyelesaikan satu aplikasi lengkap dengan laporan dan penjelasan tentang kekurangan dari aplikasi tersebut.
"Sudah paham?" tanya Alexa.
"Kalau kamu mengerjakan secepat itu aku mana mengerti Lex," kata Lisa dengan wajah cemberut.
"Haha Lis, butuh sehari buat kamu menyelesaikan kerjaan mu, sedangkan Alexa hanya butuh 15 menit saja." Shanen mengejek Lisa.
"Kamu juga sama kalee, itu hitung hitungan kamu juga belum selesai selesai." Lisa membalas Shanen tak mau kalah.
"Lex, otak kamu bisa dipinjam gak? Mau aku bawa pulang, besok aku balikin." Canda Lisa
"Hmmm, jika kerjaan ku sudah selesai aku akan bantu kalian. ok?" Kata Alexa.
Sejenak Alexa melupakan ancaman ancaman yang masuk ke emailnya.
Fokus pada pekerjaan membuatnya lupa akan kejadian hari ini.
Hingga sore hari menjelang.
Alexa meninggalkan kantor dengan taxi langsung menuju ke supermarket terdekat.
Belanja kebutuhan masak untuk hari ini hingga beberapa hari kedepan, membuatkan makanan buat ibu oma dan Ken.
Tiba tiba perasaan dirinya sedang diikuti muncul. Seseorang dibalik rak rak supermarket m, seorang lelaki mengenakan topi hitam berdiri lama menatap ke atas rak yang salah.
Pria itu terlalu lama berdiri situ sementara itu rak pajangan lipstik, dan kepalanya sesekali menatap ke arahku.
Pantulan pria itu terlihat jelas dibalik cermin bedak compact powder yang baru dibuka Alexa.
Aku hanya harus pura pura tidak tau, disini terlalu ramai, dia tidak mungkin melukaiku disini.
Alexa melanjutkan aktivitas belanjanya. Setelah troli belanjanya terisi penuh. Alexa berdiri mengantri di sebuah kasir. Sopir taxi sudah menunggunya pas didepan pintu keluar supermarket.
Aku hanya harus waspada hingga beberapa hari lagi, setelah itu aku akan memberitahukan hal ini pada Ken dan melaporkan ini ke polisi. Entah ini perbuatan ibunya atau Imelda, aku nggak peduli lagi!
Bersambung...