Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Come Back Again



Aroma tropis langsung tercium dihidung Alexa begitu keluar dari bandara udara international Soskarno Hatta. Terasa baru kemarin Alexa pergi dari negri ini, kini dia harus kembali pulang ke negri tercintanya. Tak ada yang berubah, semuanya tetap sama, hanya saja kali ini Alexa kembali pulang dengan membawa kedua buah hatinya.


Alexa menggendong Snowie sedangkan Cotton bersama Nanny yang saat itu ikut pulang ke Indonesia bersama sama.


Bu Ratih dan dan Mr.Bond menggunakan jasa porter untuk mengangkat bagasi, mengingat barang bagasi mereka yang telah over load. Sambil ikut menunggu bagasi bersama, Mr Bond membantu porter memilah milah jumlah koper yang mereka bawa.


Alexa dan Nannynya telah terlebih dahulu keluar dari dalam bandara menemui Rani yang sudah menunggu pas dipintu keluar.


"Sha," teriak Rani sambil melambaikan tangannya diatas kepala.


Mata Alexa langsung menangkap sosok Rani begitu keluar dari pintu.


Sambil melepas kaca mata hitam yang menempel pada wajahnya Alexa langsung memeluk Rani erat. Snowie menatap asing wanita yang yang dipeluk erat ibunya.


Melihat wajah Snowie yang kebingungan Rani langsung melonggarkan pelukannya.


"Hey anak cakep, pasti kamu Sisie kan," kata Rani sambil mengulurkan tangannya ke arah snowie. "Sini tante gendong, ibu kamu pasti capek" ajak Rani.


Snowie menatap heran ke wajah Rani kemudian mengalihkan pandangan ke ibunya.


"Ayok, itu tante Rani sayang. Anak pinter salim dong ama tante," kata Alexa kemudian menyerahkan Snowie ke dalam pelukan Rani.


Chocho yang sedari tadi berjalan bersama nanny nya baru saja tiba dan berdiri disamping Alexa.


"Ohh, kamu pasti Chocho kan," sapa Rani ramah.


Chocho tertatih melangkah mendekati Rani yang sedang menggendong Snowie sambil sesekali menarik baju Rani.


"Bu, Chocho minta ikut digendong," kata nanny.


"Haa, kamu juga mau?" tanya Rani. "Gimana caranya aku menggendong kalian berdua sekaligus?"


Rani berusaha menurunkan sedidikit badannya kemudian menggendong Chocho dengan tangan kanannya sambil berbincang bak anak kecil.


Kedua bayi itu berada dalam dekapannya Rani saat bu Ratih keluar.


"Pa itu pasti yang namanya Rani," kata bu Ratih pelan.


"Iya bu sepertinya begitu," jawab Mr Bond tak terlalu peduli.


"Ya lumayan, anak anak aja bisa langsung menyukainya," kata bu Ratih.


"Bu, dia itu sudah menjadi pilihan Sasha untuk menjadi tameng. Nantinya semua saham dan aset perusahan dan lain lain akan menjadi atas nama Rani Winarko. Belajar lah percaya dengan kepitusan anakmu," ucap Mr Bond.


"Apakah itu aman?" tanya bu Ratih.


"Pakai surat kuasa bu, bikin hitam diatas putih maka semusnya akan aman. Ibu tenang aja, gak usah khawatir," jelas Mr Bond.


"Ok baik lah."


Bu Ratih menghampiri Alexa sambil tersenyum ramah menatap Rani yang kewalahan dengan kedua bocah dalam gendongannya.


"Nanny, ambil Sisie. Mbaknya kerepotan tuh," ucap bu Ratih.


Tangan Nanny langsung mengambil salah satu dari tangan Rani.


"Oh ya Ran, ini ibuku," ucap Alexa memperkenalkan.


"Bu, saya Rani. Senang bertemu ibu," ucap Rani kemudian memberi salam dan mencium tangan bu Ratih.


"Iya nak Rani,"


"Ran itu papaku," ucap Alexa memperkenalkan papanya.


"Oom," sapa Rani kemudian mencium tangan Mr Bond.


"Chocho ke mommy dulu ya, tante Rani akan mengambil mobil," ucap Rani. Rani menyerahkan Chocho ke tangan Alexa kemudian berlalu dari situ menuju parkiran mobil yang tak jauh dari tempat menjemput penumpang.


"Tiinnn tiiinnn tiiinnn.." suara klakson mobil Rani.


Dalam perjalanan suara rewel Sisie yang saat itu tengah mengantuk membuat Rani bergegas melajukan kendaraan menuju rumah baru Alexa.


Rumah mewah bergaya modern dua lantai ukurannya tidak sebesar seperti rumah Ken, tapi di rumah ini Alexa merasa lebih cocok untuk dirinya dan anak anak.


Sebuah taman cantik yang luas, sebuah kolam dan ruangan rumah yang sebagian atap open membuat sirkulasi udara yang terus berganti setiap saat.


"Ya sesuai budget dong Sha," kata Rani sambil tertsenyum lebar. "Oh ya, asisten rumah tangga baru akan tiba besok Sha, sedangkan pekerja taman akan datang setiap dua hari," ucap Rani.


"Ok gapapa, hari ini kita juga belum belanja," kata Alexa.


"Nanny, tolong bawa Chocho dan Sisie ke kamar mereka," panggil bu Ratih pada Nanny yang saat itu tengah membenahi barang barang ke dalam rumah.


"Baik endma." Nanny kemudian membawa Chocho terlebih dahulu ke kamar kemudian kembali mengambil Sisie.


"Bu hari ini mau makan apa? Semuanya pasti capek, kita pesan makan aja dulu," ujar Alexa sambil merebahkan tubuhnya disofa empuk yang ada dihadapannya.


"Aku mau jalan, kalian mau makan apa? Biar aku belikan," ucap Rani.


"Jangan Ran, mendingan kamu bantu pesankan kami pizza meat melalui gofood," kata Alexa.


"Ok," kata Rani sambil masuk kedalam aplikasia tersebut dihp nya. Rani memesan dua pan pizza meat lovers ukuran medium sesuai yang diinginkan Alexa.


"Kamu sini aja Ran, aku ingin detail PT. Gobel Sonic." kata Alexa.


Rani mulai menjelas kan proses akuisisi saham adik pak Indra Gobel hingga akhirnya mendapatkan sebagian saham pak Indra. Semua nya berjalan diluar dugaan. Kini nama Rani telah memasuki jajaran penguasa muda tanah air. Rani menjadi pemegang saham 35 persen di PT Gobel melebihi pak Indra Gobel. Sebagai pemegang saham mayoritas Rani berhak menjalankan perusaha sebagai direktur PT Gobel Sonic.


Hanya dalam waktu seminggu setelah pengalihan saham kini Rani akan mulai berkantor di kantor pusat PT. Gobel Sonic di jalan Jendral Sudirman Jakarta Selatan menggantikan posisi pak Indra.


Setelah mendengar cerita Rani pak Bond merasa puas dengan kinerja Rani. Pak Bond pun mulai mengeluarkan pendapatnya.


"Tapi ingat, sebenarnya target kalian itu PT.PH corp. Rani tetap fokus menjalankan Gobel, jika kesulitan akan sesuatu bisa langsung menghubungi Sasha. Soal PH corp, biar diurus setelah Gobel sonic sudah lebih baik, sekarang ini kita harus naikkan saham," jelas pak Bond.


"Tapi pa, kalau nunggu Gobel bukannya kelamaan? Sepertinya perusahan itu sudah berada dititik paling bawah," ujar Alexa panik.


"Sekarang mereka masih belum menyerah Sha, setengah tahun lagi jika Ken masih belum ada kamu bisa dengan mudah mendapatkan perusahan itu," jelas pak Bond.


"Jadi artinya Ken menghilang? Keluarganya juga sedang menunggunya?" tanya Rani.


"Itu masih asumsi kami Ran, kami belum tau apa yang terjadi," ucap Alexa. Wajah nya kembali murung ketika mengingat Ken.


"Seperti perintah mu, aku terus mencari. Detektif juga belum mendapatkan kabar dari dalam keluarga Ken. Mereka seperti bungkam dan menutup diri dari dunia luar," jelas Rani.


Alexa menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan segala usaha Rani dalam mencari Ken.


Semoga dirimu baik baik saja..


Beberapa saat, makanan yang mereka pesan tiba di depan pintu. Bu Ratih terlebih dahulu keluar mengambil dua kotak pizza kemudian menghidangkan dihadapan Pak Bond, Alexa dan Rani yang masih asik berbincang.


"Ran, apa kamu butuh bantuan?" tanya Alexa sambil mulai memasukkan sepotong pizza ke mulutnya.


"Maksud kamu?" tanya Rani.


"Ya kamu direktur nya dan aku bisa kan menjadi manajer kamu," jawab Alexa singkat.


Pak Bond menatap wajah Alexa yang tidak terlihat serius dengan kata katanya.


"Ya boleh juga, kamu masuk ke sana dan bantu Rani," kata pak Bond.


"Kalau kamu mau semua bisa diatur," jawab Rani.


"Oke, aku akan segera mengirimkan lamaranku segera setelah kamu dilantik," ucap Alexa.


"Kamu pindahkan dulu menejer produksi, aku ingin jabatan itu," kata Alexa.


"Bisa diatur," jawab Rani lagi.


"Haha, kalian seperti sedang bermain main," ucap pak Bond.


"Wah papa, apa papa sedang meremehkanku? Apa aku tidak layak untuk jabatan itu?" tanya Alexa memelas.


"Tentu kamu layak, otak kamu diatas standar, pendidikan kamu sangat layak dan perusahan itu adalah milikmu. Kamu bisa jadi apa saja di sana, tapi bagaimana anak anak mu, papa curiga kamu hanya akan bekerja selama beberapa minggu disana," ucap pak Bond kemudian tertawa.


"Hmm, aku akan menambah seorang Nanny lagi biar ibu yang mengawasi. Aku kerja beberapa bulan sampai perusahan stabil," kata Alexa.


"Ya jika itu keputusan kamu. toh ada ibu," sambung bu Ratih yang duduk tak jauh dari situ.


Percakapan panjang mereka terus berlanjut hingga sore hari, saat si kembar bangun Alexa terpaksa meninggalkan Rani berbincang dengan Ibu dan papanya.


Bersambung...