
Susana kaku dan hening diruangan Ken membuat suaran desahan nafas panjang Ken terdengar jelas di telinga tante Ratih..
"Nak Ken, apa dia tidak diculik? Tante Ratih bertanya dengan nafas tertahan.
"Itu nggak mungkin Tante, sore setelah beberapa jam Alexa meninggalkan rumah sakit dia mengirimi aku email.
Aku tau itu darinya karena dia sengaja mengacak DNS dan IP addressnya, dia tidak ingin kita mengetahui keberadaannya." Jelas Ken.
"Rumah sakit? Apa telah terjadi sesuatu dengan nya?" Nada panik Tante Ratih terdengar jelas seiring menunggu jawaban Ken tante Ratih mengulas dadanya.
"Ya Alexa memang sempat dirawat dirumah sakit, akibat kecelakaan sebulan lalu. Dia mengalami koma selama depapan hari setelah sadar dia meninggalkan rumah sakit tanpa kabar berita hingga hari ini. Semua salahku, aku tidak benar benar menjaganya." Kata Ken.
"Ini Tante yang salah, seharusnya tante tidak mengusulkannya kembali ke sini, niatku supaya dia benar benar bisa mengobati dirinya sendiri dari penyakitnya. Tante Ratih menyesal dengan mata berkaca kaca.
Bulir air mata yang tadinya tertahan kini menetes jatuh ke pipi wanita paruh baya itu.
Wajah cantiknya seakan ingin menutupi setiap penyesalannya kini.
"Maksud tante? Alexa sakit apa?" Tanya Ken serius.
"Begini nak Ken. Saya mengadopsi Alexa sekitar tujuh tahun lalu. Saat Alexa memasuki bangku SMA, dia gadis penderita PTSD ganda. Dia sering menderita kecemasan berlebih, tidak ingin bersosialisasi, dan menutup diri dari orang luar. Saya membawanya ke London untuk sekolah dan melakukan perawatan. Dia hanya menuangkan emosinya untuk belajar dan bersembunyi dari tatapan orang orang. Tak jarang dia pingsan saat dalam kepanikan. Alexa sudah mulai bersekolah disekolah umum setelah setahun melakukan perawatan dokter spesialis, dia rutin mengkonsumsi obat setiap harinya untuk menghilangkan kecemasannya. setahun terakhir dibangku kuliah Alexa tidak lagi tergantung akan obat obatannya, dan dia sudah mulai keluar berbaur dalam kegiatan kampus. Saya pikir saat ini Alexa perlu kembali ke Indonesia untuk benar benar mengobati PTSD nya secara tuntas seperti saran Dokternya. Tapi ternyata saya salah besar, sekarang Alexa malah makin menjauh. Aku tak tau apa yang terjadi dengan nya kini." Tante Ratih kemudian menangis menyalahkan dirinya sendiri.
Ken termenung sambil mendengar cerita tante Ratih kemudian teringat saat saat pertama bertemu Alexa.
Sejak pertama bertemu dengan nya seharus nya aku sudah tau. Aku kurang fokus dengan gerak gerik Alexa yang selalu tak ingin menjadi pusat perhatian orang orang.
Sungguh ini semua seharus nya aku yang disalahkan atas kepergiannya.
"Tante tenang dulu, sampai kini aku masih terus mencari keberadaan Alexa. Aku akan mengerahkan lebih banyak orang untuk mencarinya hingga ke pelosok Jakarta." Kata Ken.
"Terimakasih nak Ken."
"Oh ya, tante nggak bisa berlama lama karena hari sudah sore. Tante meninggalkan nomor HP tante, jika ada apa apa Ken bisa langsung menghubungi nomor ini. Tante mohon kabari tante sesegera mungkin begitu ada kabar." Tante Ratih menyodorkan sebuah kertas berisi nomor HP dan alamat rumahnya di London.
Tante Ratih berdiri menyalami Ken kemudian keluar dari ruangan Ken.
Alexa, banyak yang sayang dan peduli padamu. Kamu hanya perlu tetap berada disisiku, biar aku yang melindungimu.
Pikir Ken sepeninggal tante Ratih dari ruangan itu.
----
Disuatu tempat disebuah warung bubur sederhana tempat Alexa bernaung. Warung bu Idah seperti hari biasanya dipenuhi pelanggan, sore hari semua dagangan bu Idah sudah laku terjual.
Alexa dan Rani terlihat akrab bercanda sambil membersihkan sisa sisa makanan di atas meja, Alexa mengambil sapu lantai dan mulai mengayunkan sapu pada lantai yang banyak berjatuhan sisa sisa makanan.
"Lex bentar kita ngebaksho yuk? Kita makan baksho Pak Dadang di gang 7, sudah lama aku nggak makan disitu" Ajak Rani.
"Yalah terserah kamu, yang penting baksho nya enak. Kalau nggak enak mending aku makan bubur buatan Ibu, aku nggak akan pernah bosan makan bubur ibu tiap hari." Kata Alexa menggoda Ibu Idah yang masih mengangkat panci dari dalam gerobak.
"Enak tuh nak Alex, nanti kalian bungkus kan ibu juga." Sahut bu Idah.
Selesai mandi sore itu Rani mengemudikan mobil pick up membawa Alexa menuju warung pak Dadang berjarak kira kira 1,2 kilo meter dari warung bubur bu Idah berada.
Rani memarkir mobilnya beberapa meter dari warung pak Dadang kemudian berjalan memasuki warung diikuti Alexa yang berjalan dibelakangnya.
Warung reot pak Dadang agak sepi, mungkin jarang ada pengunjung yang akan datang makan ditempat jelek seperti itu. Dinding kayu yang sudah usang dengan bangku dan meja yang terlihat tak simetris seperti hampir mau roboh. Dilihat dari gubuknya, pak Dadang pasti sudah sangat lama berjualan disitu.
"Kamu racik sendiri ya" Rani menyodorkan sambal kecap saos tomat ke hadapan Alexa.
Warna baksho yang agak bening kini berubah menjadi hitam kemerahan dengan berbagai macam tambahan bumbu ke dalam mangkok kedua wanita itu.
"Enak, bener. Aku sukak" Kata Alexa.
"Iya dong, pak Dadang ini masternya bakso disini. Tapi sayang jarang ada yang mau makan disini karena tempatnya jelek. Sebagian yang datang hanya membungkus untuk dibawa pulang makan dirumah." Jelas Rani.
Sambil makan Rani berbincang dengan pak Dadang. Rani dan ibunya sudah lama berlangganan baksho disini, tak heran jika mereka akrab.
"Neng Rani lama nggak pernah mampir." Kata pak Dadang mendahului percakapan.
"Iyah pak, sibuk di warung ibu. Lagian ini ada temanku nginap dirumah jadi aku jarang keluyuran akhir akhir ini." Jawab Rani.
"Ohh temennya cantik seperti orang barat, Neng cantik baru pertama kali ya kesini?" Tanya pak Dadang.
"Dia baru sebulan yang lalu datang disini, dahulu kecilnya dia memang tinggal disini. Temenku ini kembali ke sini untuk mencari keluarga nya yang terpisah darinyasekitar 17 tahun yang lalu." Kata Rani.
"Oh ya, jadi neng kesini mencari ofang tua neng ya?" Tanya Pak Dadang.
"Iya Pak, sekarang Cimenyan tidak seperti tujuh belas tahun yang lalu, waktu itu umurku baru sekitar enam atau tujuh tahun jadi ingatan ku agak samar. Lagian bangunan bangunan disini sekarang serba bangunan baru semua, saya jadi bingung harus berpatokan dimana. Aku hanya ingat sekolah taman kanak kanak tempat aku bersekolah hanya berjarak seratus meter dari rumah, aku jelas ingat karena tiap hari aku dan ibu berjalan kaki dari rumah ke sekolah." Jelas Alexa.
"Saya sudah enam belas tahun jualan baksho disini, sebelum ada warung ini saya jualan bakso keliling dengan gerobak.
Seingat saya sih TK di cimenyan sini cuman ada empat waktu itu. Apa neng TK nya di yayasan Masjid Darusalam? Itu berarti TK neng masih ada hingga sekarang di samping Masjid itu. TK itu termasuk TK tua yang terkenal disini. Sekarang mah TK yang baru semakin banyak dan bagus bagus semua." Kata Pak Dadang.
"Nggak pak, saya nggak ingat ada Masjid di samping TK saya." Kata Alexa mengingat ngingat lagi.
"Kamu dulu berjilbab gak waktu sekolah?" Tanya Rani yang ikut menyimak percakapan Alexa dan pak Dadang.
"Nggak Ran. Aku nggak berjilbab." Jawab Alexa.
"Kalau nggak salah ada toko mainan didekat TK saya, karna saya biasa singgah belanja mainan disitu bersama ibu." Kata Alexa lagi.
"Didekat sini ada SD SMP SMA Bina Nusantara, disamping gedung SMA ada gang kecil masuk ke TKnya. Dahulu sebelum ada SMP dan SMA TK nya terletak di pinggir jalan. Tapi sekarang TK nya dimundur dan dibangun gedung SMP dan SMA." Lanjut pak Dadang mengingat ngingat.
"Ada SD di TK kamu waktu itu?" Tanya Rani.
"Apa TK nya dahulu dicat berwarna biru muda pak Dadang?" Tanya Alex penasaran.
"Ya kalau nggak salah hingga sekarang warna cat bangunan TK SD SMP dan SMA disitu masih berwarna biru. Bangunan TK nya nggak keliatan sih karena berada di belakang gedung SMA." Jawab pak Dadang.
Pikiran Alexa kembali ke saat masa kecilnya dengan rambut dikuncir dan seragam sekolah rok biru muda dan kemeja putih serta dasi berwarna senada dengan rok nya.
Apakah itu? Beberapa meter dari sekolah itu adalah rumah aku.
"Terimakasih pak Dadang, sekarang aku tau cara menemukan rumah Alexa. Kita kunjungi semua kakek kakek dan nenek nenek yang tau seluk beluk Cimenyan untuk bertanya." Kata Rani penuh semangat.
"Ah neng Rani bisa aja." Pak Dadang terkekeh melihat tingkah Rani yang semangatnya melebihi Alexa.
"Aku rasa sekolah TK Bina Nusantara itu adalah sekolahku dulu." Jawab Alexa
"Benarkah? Ya udah ayo kita ke sana sekarang." Ajak Rani menggebu.
Bersambung...