Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Escape



Pagi itu, setelah seminggu berada divilla itu akhirnya tante Amel akan kembali ke Singapore. Tanpa asisten rumah tangga dan pengurus pengurus rumah, Donita kewalahan selama beberapa hari mengurus tante Amel dan Ken.


Seperti saat itu Donita sibuk membuat sarapan didapur sedangkan tante Amel asik bercengkrama bersama Ken dan Gugun.


"Gun ingat ya, rawat Ken dengan baik. Selama tante nggak ada kamu temani Ken terus. Sebenarnya tante nggak tega ninggalin kalian, tapi om Hendry juga masih butuh perawatan intensif. Jika dia melihat Ken yang seperti ini dia pasti akan sangat sedih." ujar tante Amel penuh prihatin.


"Tante tenang aja, Gugun akan selalu ada disamping Ken, apapun yang terjadi," jawab Gugun penuh keyakinan.


"Gun, kamu bisa balik Jakarta jika Ken dan Donita sudah resmi menikah," kata tante Amel.


"Apa tante, menikah?" tanya Gugun kaget.


Waduh, Ken kan sudah punya istri. Gimana ini? apa aku jujur saja? Tapi..


"Iya menikah, tante sudah mengijinkan Donita mengatur pernikahan mereka. Mungkin dalam dua bulan kedepan tante akan kembali kesini bersama om Hendry untuk pernikahan mereka," jelas tante Amel.


"Tante, apakah tante berencana akan alihkan saham perusahan ke atas nama Donita?" tanya Gugun.


"Ya kenapa nggak? Toh mereka sudah menikah. Tante akan hadiahkan perusahan dan alih kan semuanya ke Donita. Nggak mungkin kan tante atau oom yang mengurus perusahan, melihat kondisi sekarang ini hanya Donita lah yang pantas melanjutkan perusahan," kata tante Amel.


"Gimana jika Ken tidak setuju tante?" tanya Gugun.


"Gun, apa kurang nya Donita? Setahun lebih dia mengurus Ken. Jika mereka nggak segera menikah, apa nanti kata orang orang?" ucap tante Amel.


"Yah, maksud aku soal perusahan. Bos Ken tidak akan setuju jika tante menyerahkan saham atas nama Donita," selah Gugun.


"Toh Donita sudah jadi Istri Ken, sudah sewajarnya jika dia yang mengurus perusahan. Melihat kondisi Ken seperti ini, tante bersyukur sekali Donita masih ingin menikahinya dan membantu menjalankan perusahan," tante Amel memegang tangan Ken. "Makanya kamu cepat sehat sayang, mama sedih melihat kamu duduk terus menatap laut itu," kata tante Amel.


Tante, seandainya tante tau apa yang sudah dilakukan Donita! Dia ingin menguasai perusahan dan bahkan dengan sengaja menghambat kesembuhan Ken. Jika tante tau apa tante masih akan menikahkan mereka?


"Tante Amel, ayok sarapan dulu. Sarapannya sudah siap ini," Teriak Donita dari luar pintu.


"Ya udah, mama makan dulu nak," ucap tante Amel kemudian mengusap kepala anaknya. "Gun, berikan sarapan Ken ya. Setelah sarapan tante harus langsung ke bandara," ucap tante Amel.


"Iya tante. Biar Gugun yang mengurus Boss," jawab Gugun.


Tante Amel segera menuju dapur dan mencicip beberapa potong roti dan jus yang sudah disiapkan Donita. Beberapa saat setelah selesai makan Donita terlihat menuju ruangan kerjanya. Ruangan yang biasa dipakainya untuk bekerja.


Donita meraih ponsel dari dalam lacinya kemudian menelpon seorang kepala premannya.


"Aku akan keluar, sepuluh menit dari sekarang kalian bisa langsung menuju ke sini. Kembali perketat penjagaan dan perbaiki beberapa CCTV yang akhir akhir ini rusak. Password gerbang diganti dan langsung di tutup begitu kalian tiba," kata Donita dalam bahasa inggris.


"Baik Boss," jawab kepala preman itu dari seberang telpon Donita.


Donita Kembali keluar dari ruangan itu kemudian menarik keluar koper tante Amel dari sebuah kamar.


"Gun, minta perawat melakukan MRI dan CT scan buat Ken, aku ingin lihat hasilnya begitu aku kembali," kata Donita.


"Baiklah," jawab Gugun singkat.


Apa Donita mencurigai sesuatu? Ah wanita itu memang selalu penuh kewaspadaan.


Setelah tante Amel berpamitan dengan Ken dan Gugun, tante Amel langsung menuju ke bandara. Gugun mulai mendorong Ken dikursi roda menuju ruang makan untuk menyiapkan makanannya.


"Gun, CCTV dibeberapa titik sedang rusak. Jika kamu ingin pergi dari sini, sekarang lah saatnya. Sebelum pengawal pengawal itu kembali kesini. Percaya lah, beberapa menit lagi pengawal pengawal Donita akan tiba disini," suara Ken tiba tiba dengan setengah brrbisik.


"Ya boss, mumpung kedua Dokter itu lagi memperbaiki mesin CT Scan, aku rasa sekarang lah saatnya," jawab Gugun tak kalah pelan sambil mulai menyuap bubur ke dalam mulut Ken.


"Bos tenang aja kita akan pergi dari sini bersama," ucap Gugun yakin.


"Tidak Gun, ini akan sangat berbahaya buat kita. Mana mungkin kamu bisa lolos dengan seorang cacat seperti ku. Kamu bisa pergi terlebih dahulu dan kembali mencariku jika semua sudah lebih baik," ujar Ken.


"Boss, tenang aja. Aku pasti bisa membawa Boss pergi sekarang." kata Gugun.


"Gun, apa kamu harus keras kepala seperti ini?" Ingat, aku saja bisa dijadikan lumpuh oleh Donita. Bagaimana jika Donita kembali dan mendapati dirimu yang merusak beberapa CCTV dan mesin CT Scan, tidak Gun kamu tidak boleh berakhir seperti aku. Cepatlah pergi dari sini sekarang," perintah Ken agak marah.


Selang beberapa saat setelah percakapan Ken dan Gugun, terdengar suara mesin mobil memasuki halaman vila itu.


Gugun berdiri mengintip dari sebuah jendela kaca yang menghadap ke arah gerbang masuk. Gugun menyaksikan kedua buah mobil yang baru saja berhenti tepat di depan villa. Kurang lebih dua belas orang pengawal dengan setelan hitam turun dari mobil itu.


Beberapa pengawal terlihat berbincang sambil menunju ke arah beberapa CCTV yang rusak saat itu. Seketika itu mata Gugun tertuju pada seorang pria berkepala plontos yang keluar dari kursi pengemudi.


Aku harus mendapatkan kunci mobil itu. Aku harus pergi sekarang selagi mereka sibuk membenahi CCTV. Tapi kunci mobil, pria itu memasukkan kunci mobil di saku jas hitamnya.


Gugun kembali mendekati Ken.


"Bos sebelum mereka memberes kan CCTV diruangan ini, aku harus mendapat kan kunci mobil dari pria itu. Jika terjadi apa apa dengan ku, Boss tetaplah bertahan seperti orang lumpuh maka Boss akan tetap aman," ucap Gugun dengan gelagak rada panik.


Ken meraih tangan Gugun dan menahannya.


"Pergilah Gun, pergi lah tanpa menggunakan mobil, bukan kah kata mu ada tersedia sepeda didekat garasi?" kata Ken.


Gugun tak menghiraukan kata kata Ken, pikiran nya saat itu sudah bulat bahwa dia harus keluar dari tempat itu bersama Ken.


Gugun terlihat memilah milah beberpa pisau dari dalam laci dapur dan meraih sebilah pisau tipis dan runcing kedalam saku celananya. Setelah mengintip beberapa kali dijendela kaca Gugun kemudian keluar dari pintu menuju sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari vila.


Ken yang melihat hal itu berusaha mendorong kursi rodanya menuju ke arah pintu.


Owh please Gugun. Kamu akan melakukan apa?


Mata Gugun teliti memantau dua orang sekuriti dipintu masuk yang sedang membenahi password pintu gerbang. Sedangkan si pengemudi mobil yang menjadi sasarannya asik bercengkrama dengan kedua orang lainnya.


Beberapa pengawal lain tersebar diberbagai arah membantu perbaiki CCTV. Pisau yang berada saku bajunya kemudian ditancapkan dikedua ban mobil disisi kiri mobil.


Gugun mendengati pria botak itu sambil memikirkan topik pembicaraan dalam benaknya.


"Tuan, kedua dokter didalam butuh bantuan mu. Mereka sedang memperbaiki mesin CT Scan atas permintaan nona Donita. Mungkin ada alat yang dibutuhkan mereka saat ini," ucap Gugun dalam bahasa inggris.


Pria berkepala botak itu segera mengikuti Gugun berjalan masuk menuju kedalam vila.


Hingga didalam vila, sebuah sandaran kursi menghantam kepala pria berjas hitam itu. Badan pria itu terhantam kedinding kemudian tersungkur ke lantai. Pria itu mencoba bangkit dari lantai namun pukulan kedua Gugun berhasil membuatnya pingsan dengan darah segar keluar membasahi sebagian badannya.


"Gun, apa kamu sudah gila?" teriak Ken yang menyaksikan dari dekat jendela kaca.


"Ayo bos, suara berisik akan mengundang kedua dokter itu keluar. Ayo kita pergi sekarang," ucap Gugun kemudian merogoh kunci mobil dan dompet dari pria yang masih tak sadar dilantai itu.


"Gun, sejak kapan kamu menjadi nekat begini?" ucpa Ken setelah melihat apa yang baru saja dilakukan Gugun.


Gugun mendorong kursi roda Ken secepat mungkin menuju mobil. Kemudian secepat kilat menuju gerbang yang saat itu sedang terbuka lebar.


Mobil Gugun melejit cepat menuju arah pantai utara benua Australia.


Bersambung...