Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Silent At The Shore 2



Seperti berada diatas awan, hatiku selalu tenang. Aku males memikirkan dunia yang riuh, aku bosan melihat hal hal yang tidak membuatku tertarik. Kebahagiaanku kini hanya menatap pada warna cerah diluar sana. Saat ku lelah ku kan menutup mataku dan terlelap. Perasaan ku sungguh tenang, aku bahagia dengan setiap hal yang ada dihadapanku kini. Warna warni baru yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku tak peduli siapa diriku, aku tak peduli masa laluku bahkan masa depanku. Aku tak ingin tau lagi, aku sungguh ingin seperti ini.


Selama setahun setelah kecelakaan yang menimpa Ken, pria ini menjadi seperti seorang mayat hidup. Dokter mendiagnosa Ken mengalami kerusakan saraf pusat akibat kecelakaan. Dirinya sulit mengendalikan tubuhnya dan bahkan Ken sulit untuk menggunakan daya pikirnya. Itu menurut dokter, dan saran dokter saat itu adalah fisioterapi secara rutin akan memperbesar peluang sembuh nya. Ditambah Ken masih sangat muda, dia pasti akan pulih lebih cepat.


Namun kenyataannya sudah setahun lebih, Ken malah tidak ada perubahan yang signifikan. Penyembuhannya terlihat sangat lambat, bahkan untuk makan Ken masih harus makan bubur.


Siang itu setelah dua hari berturut turut suntikan X dikurangi dosisnya Ken mulai menampakkan perubahan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Jari jarinya terasa lebih ringan dan daya pikirnya makin jauh ke depan.


Siang itu juga setelah setahun, ada harapan baru dalam diri Ken, dia bisa mengenal suara yang sudah tak asing ditelinganya. Bahkan setelah nama Alexa disebut...


Ah suara ini, apakah itu mama?


Sungguh lidah ku kelu, ma aku bisa mendengar mu.


Saat itu kesadaran Ken mulai kembali perlahan, dirinya tau mamanya berada disitu dengan suara tangis pedih menatap dirinya yang mematung.


"Mama janji padamu nak, mama akan terus mencari wanita sial itu. Mama akan balaskan dendam kamu kepadanya. Jika bukan karena Alexa sial itu kamu pasti tidak akan jadi seperti ini!" kata kata mama Amel.


Ken memejamkan matanya. Alexa, Alexa, Sasaha... Dalam hati Ken memanggil manggil nama Alexa. Seketika itu wajah Alexa terbayang dalam benaknya. Bulir bulir air mata memenuhi pelupuk matanya.


Pedih, rasanya hatiku terkoyak hingga ke relung yang paling dalam. Saat membayangkan istriku namun aku tak bisa menggerakkan badanku. Apa yang terjadi? Dalam diam Ken mencoba mengerahkan segala tenaga untuk menggerakkan tangannya.


"Sayang, kamu bisa melihat mama? Barusan mama melihat tangan mu bergerak," kata tante Amel senang.


"Donita, coba lihat. Ken bisa menggerakkan tangannya loh," kata tante Amel ke Donita.


"Iya tante. Terapi yang kita lakukan akhir akhir ini memang sangat membantu. Bahkan Ken sudah mulai menggeleng ken kepalanya nya," ucap Donita.


Tante Amel menganggukkan kepalanya. "Tante ingat beberapa bulan yang lalu saat Ken masih terbaring lemah dan papanya masih belum sadarkan diri. Tante selalu kebingungan, entah harus melakukan apa. Sekarang melihat anakku seperti sekarang dan semakin sehat tante sudah sangat senang." Tante Amel mengenang masa sulitnya beberapa bulan yang lalu.


Ditengah percakapan mamanya dan Donita, ingatan Ken menerawang jauh ke belakang saat malam ulang tahun perusaan.


Yaa, Papa mengumumkan pertunangan ku dan Donita. Saat itu Sasha pergi meninggalkan perusahan. Aku mengemudi mobil kemudian terjadi ledakan kecil pada mesin mobil. Dan antara sadar dan tidak aku mendengar percakapan Donita dan seorang dokter dalam bahasa mandarin. Dokter itu mendiagnosa aku mengalami kelumpuhan.


Akibat pengaruh obat yang disuntikkan Donita, Ken lupa akan segalanya. Saat ini kesadarannya sudah kembali, dengan segala kejanggalan kejanggalan yang ada dalam benaknya mendengar percakapan Donita dan mamanya.


"Tante, tenang saja. Donita akan selalu ada buat Ken. Dan senantiasa memantau perusahan dengan baik," ucap Donita percaya diri.


Ini? Dimana ini? Ada mama dan Donita. Perusahan ditangan Donita? Tidak, aku... Sebaiknya aku tetap diam. ini pasti adalah rencana licik Donita?


Ken mencoba tenang. Dirinya menahan keinginan nya untuk bergerak seperti sebelumnya. Ken mencoba masuk dalam permainan Donita untuk mengurangi tekanan tekanan pada dirinya.


"Gun, kamu bisa istirahat sekarang. Ada aku dan tante Amel yang akan mengawasi Ken," kata Donita pada Gugun yang selalu saja berdiam diri menjaga Ken.


"Baik Non," jawab Gugun kemudian pergi dari situ.


"Ken beruntung punya sahabat baik seperti itu, sudah setahun Gugun disini menemaninya. Bahkan Gugun tak sedetikpun meninggalkan Ken," ucap tante Amel penuh haru.


Itu suara Gugun..


Apa? Setahun? Sudah setahun aku seperti ini? Kenapa aku tidak tahu apa apa? Kenapa aku baru sadar sekarang? Oh Tuhan, apa yang sudah terjadi? Aku seperti dihipnotis, kenapa aku menjadi lumpuh dan tak sadar diri terlalu lama?


Setiap ruang dalam dada Ken seakan sesak. Kenyataan dipermainkan Donita harus diterimanya. Hela nafas Ken begitu berat, setiap tarikan nafas terasa menyesakkan dada. Disela percakapan mamanya dan Donita Ken mencoba menutup matanya, tangis hampir saja jatuh menetes dipipinya. Namun Ken sadar, kini dirinya harus tetap menjadi patung, menjadi seperti apa yang diinginkan Donita.


Ken mencoba menelaah keadaan disekitarnya. Mata nya menatap dua CCTV dikedua sudut atas jendela kaca.


Jika dihadapan ku saja ada dua CCTV, berarti di setiap ruangan dirumah ini pasti memiliki lebih dari 4 CCTV. Jika bukan punya suatu niat, ngapain Donita memantau ku secara berlebihan? Pikir Ken.


"Ibu berencana berapa lama disini?" tanya Donita.


"Paling 4 atau 5 hari. Papa Hendry sudah agak baikan, terapinya lancar. Malah tante disuruh ke sini dan membawa Ken ke Singapore, mungkin papanya kangen dan ingin Ken berobat didekatnya," kata tante Amel.


"Iya sayang, tante juga sudah bilang begitu dengan papanya. Kamu tenang aja, tante pasti bisa membujuk papanya," jawab tante Amel menuruti permintaan tante Amel.


"Asik, makasih tante." Wajah Donita tersenyum begitu senang. Dirinya selalu berhasil membuat tante Amel menuruti keinginannya.


Bahaya, jika oom Hendry sembuh perusahan akan sulit ku akuisisi. Gak mungkin aku terus menerus mengendalikan Ken dengan obat obatan. Aku harus secepatnya ambil alih perusahan, kemudian Ken sendiri yang akan datang mengemis ngemis cinta padaku. Aku kaya, aku memiliki segalanya dia pasti akan tunduk padaku dan takluk dibawah kakiku. hahahaa..


Wajah Donita sumeringah kemudian tertawa begitu besar.


"Wah Donita apa kah merawat Ken bisa membuatmu sebahagia ini?" tanya tante Amel setelah mendengar Donita tertawa besar.


"Hehe, iya tante aku senang sekali," kata Donita dengan suara malu.


Aku harus melayani tante Amel dengan baik, tinggal cari waktu yang tepat baru bicarakan soal saham miliknya.


"Hmm, tante mau makan apa? Donita masakkan sesuatu yang enak deh buat tante," ucap Donita.


"Oh iya, sudah hampir jam makan malam, ayuk kita ke dapur," ajak tante Amel.


"Yuk Ken, ikut ke dapur. Kita temani Donita masak, pasti masakannya enak." Tante Amel mendorong kursi roda Ken keluar dari kamarnya. Ken sengaja dibawa tante Amel ke depan tv besar disebuah ruangan. Ruangan luas tak jauh dari dapur.


Mata Ken tak henti mencuri curi pandang keadaan disekitarnya, memantau seluk beluk ruangan disekitarnya.


Saat itu Donita mulai meracik beberapa bahan dapur yang ada dikulkasnya. Spagheti dan Beef stick menjadi pilihan menu masakan Donita untuk malam itu.


Sementara Donita sibuk didapur, ibunya ikut menyaksikan keahlian masak Donita sambil berbincang bincang ringan disana.


Mereka sedang sibuk, seharusnya tidak ada yang memperhatikan ku sekarang. Ken mecoba mengerlingkan matanya ke sekitar ruangan mencari keberadaan Gugun saat itu.


Gun? Dimana kamu?


Hingga hampir jam makan Ken tidak menemukan keberadaan Gugun disekitar situ.


"Waahh, dari aromanya pasti enak, tante jadi laper," ucap tante Amel.


"Ya udah, tante ayo kita makan." ucap tante.


"Gun," teriak Donita.


Gugun muncul dengan begitu buru buru.


"Ya non," kata Gugun.


"Panggil perawat dan berikan Ken makan malamnya, buburnya ada dalam magic jar," kata Donita.


"Gun, setelah itu kamu bisa join makan disini," kata tante Amel.


"Oh ya Gun, suruh perawat siapkan saja makanan Ken biar tante yang suapi dia," perintah tante Amel kemudian.


"Baik," jawab Gugun.


Gugun membawa Ken kembali ke ruang perawatannya kemudian meminta perawat menyiapkan makan seperti yang diperintahkan Donita.


Gun, kamu begitu patuh dan taat dengan Donita. Apakah kamu masih Gugun sahabatku?


Ken menatap ke arah Gugun lama, mencoba mengenali sahabatnya itu. Selama dua menit mata Ken mengikuti arah dimana Gugun berada. Entah apa yang ada dalam benak Gugun saat itu, Gugun terlihat tenang menatap mata Ken. Kepalanya sedikit digeser ke kiri, mata Ken ikut bergerak kekiri, saat Gugun bergeser ke kanan, mata ken ikut kekanan. Gugun menggeleng sedikit kemudian mengedipkan matanya.


Dia terlihat terlalu berhati hati, dia tau sesuatu dan dia tak ingin memperburuk suasana. Aku harus memikirkan bagaimana cara berkomunikasi dengan Gugun.


Bersambung...