Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
He's The One



Aroma harum telur memenuhi setiap ruangan dalam apartemen Alexa. Serta tumisan bawang bombay kol dan wotel menggugah selera di pagi hari.


Masak apa dia?


Alexa yang sudah rapih bergegas ke dapur.


Ken terlihat sedang menyusun burger beef ke atas piring dengan plating kentang goreng, saos mayonaise dan saos chili di atas piring.


"Hmmm, harum banget sayang." Ucap Alexa dibelakang Ken yang sudah selesai dengan plating cantik dipiring.


Alexa menatap dekat ke arah dua buah burger complete dihadapannya.


"Special buat kamu, silahkan dimakan ya sayang." Ucap Ken.


Alexa mengambil satu buah burger dan langsung melahapnya.


"Ini ditumis ya sayurnya, enak banget sayang." Ucap Alexa pada burger yang kejunya meleleh dalam mulut. Telur dan beef menambah nikmat rasa dalam lidahnya serta dipadukan kesegaran selada hijau.


Ken gembira melihat Alexa begitu menyukai makanan yang dibuatnya.


Gadis ini mah jangan di tanya, dia pasti akan melahap semua yang bisa dimakan nya tanpa ragu.


"Kamu kok liatin aku terus si sayang?" Ucap Alexa.


"Liat cara kamu makan sudah membuat aku kenyang haha." Kata Ken.


Alexa beberapa kali menyuap burger yang ada ditangannya ke mulut Ken.


Setelah menghabiskan satu buah burger jumbo Alexa mencuci tangan nya yang dipenuhi saos sambal dan mayonaise.


Tangan nya meraih sebuah tissue yang berada diatas meja melap sisa sisa sambal dibibir Ken.


"Hmm, dibersihkan dong sayang, kok jadi belepotan gitu." Ucap Alexa.


"Kan ada kamu yang akan melapnya sayang." Ken melingkarkan tangannya dipinggang Alexa yang sedang melap mulutnya.


"Kita lanjutin yang tadi yuk." Ucap Ken berbisik di telinga Alexa. Aksinya mulai mengarah ke leher Alexa.


"Udah hampir jam setengah delapan, ayo buruan atau aku akan terlambat." Ucap Alexa menghindari aksi nakal Ken.


Ken melirik ke arloji yang menempel ditangannya.


"Masih ada sepuluh menit." Mata nya menatap ke arah Alexa yang sudah berada didepan pintu memilih milih sepatu yang cocok dengan warna bajunya.


"Ayuk, atau aku akan ke kantor berjalan kaki." Ajak Alexa.


"Ya udah." Ken meraih kunci mobilnya diatas meja kemudian menyusul Alexa yang sudah terlebih dahulu berada diluar pintu.


"Sayang? Cepet banget sih jalannya." Ucap Ken setengah berlari mengejar langkah Alexa.


"Kita Udah hampir terlambat. Buruan!" Ken memencet tombol open pada remote mobilnya.


Alexa langsung bergegas masuk kedalam mobil.


Mobilnya melaju menuju kantor dalam waktu kurang dari lima menit.


Alexa berlari memasuki gedung kantor menuju kotak absensi, setelah menempel ID karyawan di kotak itu, Alexa langsung membalikkan badannya menatap Ken yang berjalan santai menuju ke arahnya.


"Jadi bos mah enak, bisa selow gitu jalan nya." Ucap Alexa pada Ken yang sudah berada disampingnya.


"Jika aku mengikuti mu berlari ntar aku keringetan, mana tadi didapur udah keringetan. Bisa bisa bau dibadan gue amis dan meeting nanti siang orang orang pada nutup hidung semua." Ucap Ken sambil menunggu lift turun.


Alexa menempelkan hidung dibaju Ken mencium aroma dari baju Ken.


"Emang sih, lo bau bawang sayang." Ucap Alexa sambil merogoh parfum didalam tasnya kemudian menyemprotkan beberapa semprotan ke pakaian Ken.


"Itu kan parfum cewek." Protes Ken.


"Pilih mana? Aroma parfume cewek atau aroma bawang?" Tanya Alexa.


"Yah aroma parfume sih." Ucap Ken pelan.


"Ya udah." Ucap Alexa tak peduli percakapan mereka didengar beberapa karyawan yang ikut menunggu lift disamping mereka. Bahkan beberapa karyawan ada yang menahan tawa saat Alexa menyemprotkan parfume wanita dengan aroma lembut dan manis ke baju Ken.


Beberapa saat pintu lift sudah terbuka dihadapan mereka.


"Silahkan" Ken mempersilahkan beberapa karyawan disitu masuk terlebih dahulu ke dalam lift.


"Terimakasih pak." Ucap para karyawan itu.


"Kalian terlambat?" Tanya Ken dengan penuh senyuman di wajahnya.


"Lain kali nggak boleh terlambat lagi ya." Ucap Ken santai sambil melangkah memasuki lift disamping Alexa


"Baik pak." Jawab para karyawan itu.


Sejak Alexa kembali ke purusahan, CEO mereka itu menjadi lebih ceria, senyuman tak pernah berhenti keluar dari wajahnya. Perusahan berkembang makin baik, persaingan dan harga saham terus meningkat. Para karyawan selalu mendapat bonus, bahkan gaji setiap karyawan sudah naik 10% sejak sebulan yang lalu.


Berita berita positif bermunculan soal hubungan Ken dan Alexa, sebuah surat kabar telah memposting kedekatan mereka beserta foto foto kebersamaan mereka. Setiap karyawan ikut berbahagia dan mendoakan hubungan keduanya.


Dampak positif hubungan Ken dan Alexa ternyata membuat Donita makin meradang. Secara diam diam dengan bantuan ayahnya dia telah mengambil alih saham milik ayahnya dan membujuk beberapa pemegang saham untuk melepas saham mereka ke tangan Donita, Donita rela membayar dua kali lipat untuk mendapatkan beberapa saham dari perusahan Ken untuk tujuan pribadinya.


Walau kepemilikan saham donita masih minoritas dirinya berencana akan mengguncang Ken dari posisi CEO jika Ken menolak bertunangan dengan nya.


Donita juga mulai mengutus orang untuk mengancam Alexa, seolah orang itu adalah musuh dari masa lalu keluarga Alexa.


Beberapa preman dibayar mahal untuk mengganggu Alexa mengatas namakan musuh Frank Carter mendiang ayah Alexa.


Donita seperti ular licin berada dibalik setiap teror yang diterima Alexa.


Siang itu Alexa mendapatkan sebuah spam yang masuk ke emailnya miliknya.


Kematian tak akan mengurungkan niatku untuk menuntut balas perbuatan dimasa lalu.


Alexa membaca spam itu kemudian mengabaikannya.


Fokusnya beralih ke hadapan laptop melanjutkan pekerjaannya hingga menjelang makan siang.


"Lis, kantin yuk." Ajak Alexa.


"Tumben lo nggak makan siang bareng boss?" Ucap Lisa.


"Ken lagi meeting." Kata Alexa.


"Shanen yuk kantin" Ajak Alexa.


"Yuk. Udah Lis, nanti dilanjutin lagi." Ucap Shanen.


"Bentar masih nanggung nih, lima menit lagi." Kata Lisa.


Beberapa saat kemudian hp Alexa berdering.


Unknown number?


"Halo." Sapa Alexa.


"Ya halo, kamu Alexa?" Kata suara dari phonselnya. Alexa mencoba mengenali suara wanita yang menjadi lawan bicaranya.


"Iya, dengan siapa ya?" Tanya Alexa.


"Saya Amelia Husada ibunya Ken. Maaf menelpon mu begitu mendadak. Tadi saya melintas didekat sini, saya langsung teringat dirimu yang sering di bahas anak saya. Bisa kah Alexa menemani tante makan?" Suara tante Amel begitu lembut dan sopan.


"Ya, tentu saja bisa tante. Dengan senang hati." Jawab Alexa.


"Tante sudah menunggu mu diparkiran. Bisa kamu turun sekarang? Aku hanya meminjam kamu selama jam makan siang kok." Ucap Tante Amel ramah.


"Baik tante, Alexa akan turun sekarang." Jawab Alexa tak kalah ramah kemudian menutup telponnya.


"Gaes, hari ini aku nggak bisa ke kantin bareng kalian. Maaf ya, tiba tiba ada telpon penting." Ucap Alexa pada Lisa dan Shanen.


"Ya udah gak papa kok Lex." Jawab Shanen yang masih berdiri dibelakang Lisa.


"Siapa tuh yang barusan telpon, suara lo kok begitu sopan dan ramah?" Tanya Lisa.


"Itu ibunya Ken, dia memintaku menemaninya makan siang." Jawab Alexa.


"Cieeehhh, jadi mau makan bareng calon mertua nih?" Canda Lisa.


"Hmm, aku rada gugup. Ini pertama kali aku akan bertemu ibu Ken." Kata Alexa sambil membenahi bedak diwajahnya.


"Udah cantik kok Lex, buruan turun. Masa iya calon mertua disuru nunggu lama di bawah." Ucap Shanen.


"Baiklah gaes, aku pergi dulu. Bye." Alexa berlalu dari hadapan Lisa dan Shanen.


Walaupun dirinya terlihat biasa saja siang itu namun sebenarnya dalam hatinya begitu gugup.


Aku harus meninggalkan kesan pertama yang baik dimata ibunya, walau mungkin mereka tidak menyukai ku, aku akan menunjukkan kalau aku pantas menjadi bagian dari hidup Ken.


Bersambung...