
Hari-hari bersama mu selalu terasa indah Ken, semakin sering aku bersama mu hati ku semakin betah dan tak ingin menjauh dari mu. Kamu seperti malaikat penjagaku, melindungiku dari hal apapun. Tapi tahukah kamu? Hatiku menjadi takut, semakin aku bahagia bersama mu, semakin buruk mimpi yang menghampiriku setiap malam. Aku seperti berdiri didepan sebuah bayangan hitam yang selalu siap menarikku jatuh. Pikiran Alexa berkecamuk menatap Ken yang sedang berdiri dihadapannya dengan apron dan sendok wajan ditangannya.
"Alexa, tadaaa steak daging buatanku. Kamu adalah orang pertama yang aku masakkan makanan yang lezat ini." Kata Ken sambil menyerahkan sepiring Steak dan kentang buatannya.
"Are you sure?" Wajah Alexa agak ragu.
"Apa aku akan baik-baik saja jika ini kumakan? Hmm, lumayan dari oromanya sudah tercium kelezatannya." Kata Alexa.
"You should try first honey." Kata Ken sambil memotong steak menjadi beberapa bagian kecil.
Alexa mengambil sepotong daging hangat itu dan memasukkan ke mulutnya, Alexa mengunyah dan menikmati perpaduan sempuran hasil masakan Ken.
"Waooooww, luar biasa sayang. Its so delicious. Sini berikan padaku" Tak kurang dari 5 menit Alexa sudah menghabiskan isi dalam piring itu.
"Sejak kapan kamu bisa masak seenak ini?" Tanya Alexa.
"Apa sih yang gak buat kamu honey. Aku akan lebih sering memasakkan steak buat kamu." Kata Ken penuh percaya diri.
"Apa kamu bisa masak gado-gado juga?" Tanya Alexa asal.
"Of course, next time aku masak gado-gado buat kamu" Kata Ken penuh percaya diri.
"Nggak lah honey, aku becanda. Steak kamu saja sudah cukup kok" Kata Alexa.
Hampir setiap malam Ken mampir ke apartemen Alexa untuk masak, bermain game, makan bersama dan terkadang mereka berbincang-bincang masalah kerjaan. Seperti hari-hari sebelumnya setiap jam 10 Ken akan pulang kembali ke rumahnya mengingat keesokan pagi mereka harus sibuk dengan pekerjaan mereka dikantor.
Senin pagi dikantor suasana dilantai 21 begitu crowded. Setiap orang sibuk dengan deadline mereka mengingat launching hp terbaru tinggal dua hari lagi. Terlebih Ken, akhir-akhir ini dia lebih sering turun tangan langsung ke lantai 21, ikut menghandle perencanaan yang sudah sudah 95 persen rampung.
"Ok team, kita semua yang ada diruangan ini adalah jurinya. Kalian berhak memilih game siapa yang paling baik. Kelima team yang bergabung dalam pembuatan game bersiap siap untuk presentase siang ini di ruangan meeting" Briefing Ken saat itu.
Ken mendatangi Alexa dan Lisa yang saat itu sedang berdebat.
"Kalian kenapa?" Tanya Ken yang tanpa sadar memegang dagu Alexa.
"Aku nggak mau jadi presentatornya, kamu lah ya? Kan kamu yang paling banyak sumbangsih dalam pembuatan game ini." Kata Lisa cemberut.
"Aku nggak mau, kesepakatan awal kan kamu kenapa sekarang berubah." Kata Alexa lagi.
"Kenapa bukan Shanen atau Leo? Apa cuma kalian berdua anggota team disini?" Kata Ken mencoba memberi solusi.
"Shanen tak begitu paham bahasa pemrograman, design grafis dan cover adalah tugas nya dan Leo." Kata Lisa. Alexa hanya berdiam diri menatap wajah Ken.
"Tapi.." Alexa terdiam.
"Aku nggak suka jadi pusat perhatian, jika aku berdiri diatas panggung maka semua mata akan ke arahku kemudian aku mulai panik, sakit perut, bahkan aku bisa sampai pingsan. Aku nggak mau itu terjadi, bahkan presentase kita akan gagal jika seperti itu" Kata Alexa.
Apakah dia serius? Selama ini dia memang tak suka jadi pusat perhatian orang-orang. Pikir Ken.
Ken menggenggam tangan Alexa
"Kenapa baru bilang sekarang? Maaf kan Aku." Kata Ken.
"Lo serius?" Tanya Lisa.
"Ya, aku pernah menderita SAD. Tapi sekarang sudah nggak apa, aku sudah sembuh jadi aku akan mencoba nya." Alexa berusaha menguatkan dirinya.
"Nggak-nggak biar gua aja yang bawakan presentasinya, maafin gue Lex. Lo sih nggak pernah cerita." Kata Lisa sambil memeluk Alexa.
"Social Ancient Disorder, perasaan takut melihat orang" Jawab Alexa.
"Ya ampun Alexa maafin gue." Kata Lisa sambil memeluk Alexa.
Ken yang bersandar di meja Alexa, menatap jengah Lisa yang bisa seenaknya memeluk pacarnya.
"Bapak kok sinis banget liatin gue." Kata Lisa sambil terus memeluk Alexa.
"Bapak mau juga ya?" Lanjut Lisa mengejek Ken.
"Lisa kamu mau tugas tambahan digudang?." Tanya Ken mengancam.
"Pak Ken masih disini? Tadi pak Gugun lagi mencari bapak diruangan pak Steve." Kata Shanen yang baru saja tiba di situ.
"Oh ya? Sayang aku ke ruanganku sekarang." Kata Ken.
"Hmmmm cieeehhh" Kata Lisa.
Tanpa mereka sadari sepuluh meter dari situ mata Donita memperhatikan tingkah Ken, Alexa dan Lisa sejak tadi.
Ken, beberapa hari ini kamu selalu berada didekat kedua gadis itu, kamu bahkan memegang wajah gadis itu dan tersenyum bersama mereka. Apakah kamu sedang bermain-main dengan mereka? Pikir Donita.
Siang harinya presentasi diruang meeting. Lisa yang menjadi pembicara di team menjabarkan secara detail game AR MMORPG yang mereka buat, tak ada satupun diruangan itu yang protes atau pun mengkritik hasil game mereka. Mulai dari visual, audio, vidio serta grafis semuanya sempurana. Serta RAM/ROM game yang disesusikan, hanya sekitar 1GB sehingga tidak memerlukan banyak ruang di handpone dan bisa dimainkan oleh jenis hp ios dan android merk apasaja.
Alexa dan teamnya berhasil menciptakan game terbaik. Setiap orang diruangan itu setuju kalau game Alexa adalah yang paling bagus dari segi ide creatif dan kwalitas. Mereka adalah pemenang nya.
Alexa Lisa Shanen dan Leo saling berpelukan setelah diumumkan sebagai pemenang. Ken yang menatap tingkah mereka ikut tertawa sembari bertepuk tangan.
"Selamat" Ucap Ken saat itu.
"Alexa, makasih ya. Berkat ide briliant kamu." Kata Lisa.
"Ini kerjasama team kita dong, kok aku." Kata Alexa.
Dasar gadis gadis bodoh, ternyata mereka merayu ken untuk menjadi juara. Pikir Donita melihat Alexa Lisa dan Shanen dengan tatapan sinis.
Usai meeting Alexa keluar dari ruangan meeting menuju toilete yang terletak disudut ruangan. Ken mengikuti Alexa dengan langkah cepat menghampiri Alexa kemudian menarik tangan nya menuju lift.
"Sayang, kamu?" Kata Alexa.
"Gak ada yang liat sayang, Steve masih briefing dengan semua orang." Kata Ken kemudian memencet tombol 23 pada pintu lift.
Donita yang terus memperhatikan gerak gerik Alexa mengikuti Alexa dari belakang. Donita melihat Ken menarik tangan Alexa menuju lift dan mendengar beberapa potong percakapan mereka.
Jadi ini yang kalian lakukan? Bermain kucing-kucingan disini. Lihat saja nanti! Pikir Donita.
Sudah dua hari Donita membuntuti Ken, setiap malam tujuan Ken hanya ke apartemen Alexa.
Apakah Alexa adalah gadis yang dimaksud Shanti di Clasically caffe? Donita bertanya dalam hatinya.
Jadi kamu lebih memilih gadis rendah itu daripada aku? Lihat saja nanti, gadis itu harus membayar setiap rasa kecewa ini! Ancam Donita.
Bersambung...