
Trrrrr trrrrrr trrrrr
Tiga buah pesan masuk ke phonsel Alexa.
Unknown Number: You need a big Leson!
Unknown Number: *Bi*ch*
Unknown Number: Watch your step
Pesan spam. Pikir Alexa kemudian melanjutkan aktifitas nya di depan laptop.
"Alex, pulang kantor kita makan diluar yuk, kita harus rayakan kemenangan kita. Lo ajak juga bos Ken" Ajak Lisa
"Aku sih oke, nanti aku tanya Ken, kamu tau sendiri acara launching dua hari lagi dia pasti lagi prepare akan banyak hal. Orang perfect kayak dia nggak mau ada satupun yang kurang dalam acaranya" Alexa mengedarkan pandangan nya ke arah Donita.
"By the way kamu sadar gak kalau mata Donita lagi mengawasi kita." kata Alexa
"Alah, dia mah seharian sibuk maen game. Mana dia peduli dengan kita disini" Jawab Lisa cuek.
"Nanti malam kita clubing juga yuk, setelah hampir sebulan kita berkutat dengan kerjaan tenggorokan ku pengen dimanjah nih" Lisa dengan wajah berbinar membujuk Alexa.
"Lisa, clubing nya bisa kan ditunda setelah acara launching?" Kata Alexa.
"Baik lah ditunda tiga hari kedepan gak masalah." Kata Lisa.
"Ntar aku ke toilete" Alexa beranjak dari kursinya menuju toilete wanita.
Toiletenya sepi, maklum wanita diruangan ini hanya empat orang. Alexa menggunakan bilik pertama untuk buang air kecil.
Terdengar suara langkah sepatu high heels memasuki toilet kemudian terdengar suara air keran mengalir.
"Lisa"
"Shanen" Panggil Alexa.
Pasti Donita. Pikirnya.
Alexa keluar untuk membasuh tangan nya, terlihat Donita sudah berdiri menunggunya di depan pintu keluar toilete yang sedang tertutup rapat.
Alexa mencuci tangan menatap Donita dari pantulan cermin.
"Kamu sudah selesai? Sekarang kamu harus berurusan denganku" Kata Donita dengan raut wajah yang penuh kebencian.
"Apa maksud mu?" Tanya Alexa.
"Maksud? Hahaaha"
"Apa kamu pikir kepolosan mu ini bisa membuat aku tertipu? Kamu bisa menipu semua orang diluar sana tapi tidak dengan ku bi*ch" Kata Donita.
Sepertinya pesan pesan spam itu adalah ulah Donita. Pikir Alexa.
"Aku nggak mengerti maksud kamu Donita?!" Kata Alexa.
"Kamu tau Ken adalah calon tunanganku! Semua orang tau hubungan kami, terlebih keluarga Ken. Dan kamu hanyalah sebuah parasit dalam hubungan kami." Kata Donita.
"Aku akan menghancurkan hidup mu jika kamu berani mengganggu Ken lagi." Kata Donita.
"Kamu seharusnya sadar Ken tidak menyukai mu!" Kata Alexa.
Donita mendorong Alexa hingga ke wastafel yang berada dibelakangnya.
"Kamu pikir dia serius dengan kamu? Begitu banyak wanita-wanita diluar sana yang hanya menjadi tempat pemuas nafsunya kemudian ditinggal. Sebaiknya kamu sadar diri kamu bukan siapa-siapa. Jika kamu berani dekati Ken lagi, kamu akan menanggung konsekwensinya." Kata Donita kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Dasar gadis murahan, sudah bertahun-tahun aku mencintai Ken dan dia baru saja muncul sudah berani menggoda Ken. Aku harus membuatnya takut supaya menjauh dari Ken, jika perlu aku akan membayar berapapun harganya. Seperti beberapa gadis sebelum nya yang akhirnya pergi setelah diberi imbalan. Pikir Donita.
Alexa kembali ke mejanya sambil memikirkan tingkah Donita yang agak brutal.
"Ugghhhh." Alexa memegang pinggang nya yang lumayan sakit akibat terhantam di wastafel.
Jika memberitahu hal ini ke Ken, pasti akan mengganggu kesibukannya. Sebaiknya ditunda dulu, lagian Donita hanyalah seorang gadis yang lagi cemburu. Pikir Alexa.
"Lex kita bareng atau?" Tanya Lisa.
"Bentar aku telpon Ken" Kata Alexa sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.
"Sayang aku akan makan bersama Lisa Shanen dan Leo sekarang" Kata Alexa ditelponnya.
"Ok, aku ikut. Aku tunggu kamu depan kantor." Kata Ken.
"Lis, Ken ikut. kamu bareng Shanen aja biar aku dijemput Ken." Kata Alexa.
"Ngomong-ngomong kita Makan dimana nih?" Tanya Alexa.
"Kita makan di RM.Bahari aja, cantik pemandangan laut malam hari disana." Jawab Lisa kemudian keluar duluan bersama Shanen.
"Sayang jangan depan kantor ya jemputnya, jam segini agak ramai." Kata Alexa melanjutkan percakapannya ditelpon.
"Oke aku turun sekarang, aku tunggu kamu disimpang tiga seberang jalan apartmen kamu ya" Kata Ken.
Alexa membenahi meja dan juga laptop yang akan dibawanya pulang kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Alexa meraba kembali pinggangnya yang masih agak nyeri. Berjalan kaki dengan high heels di tambah pinggangnya yang agak nyeri membuat Alexa berhati-hati dalam melangkah. Dirinya menyebrangi jalan dua jalur di depan kantor, dan masih harus berjalan kaki sekitar 80 meter menuju simpang tiga dimana mobil Ken berada.
Belum sempat kaki Alexa menginjak trotoar didepannya tiba tiba ada sebuah mobil menabraknya dari arah belakang.
Alexa terlempar sejauh tiga meter hingga kepalanya membentur beton taman.
Donita langsung keluar dari mobilnya berpura pura berteriak meminta pertolongan.
"Tolong, tolong" Teriak Donita dengan nada panik yang dibuat buat.
"Pak tolongin" Kata Donita pada pengendara motor yang baru saja melintas.
Donita menelpon Ambulance.
Jika aku kabur aku bisa langsung di tangkap polisi. Aku harus membuat seolah olah ini hanyalah kecelakaan yang tidak disengaja. Pikir Donita.
Tiga menit kemudian Polisi sudah berada di tempat kejadian kemudian ambulans. Suasana sudah menjadi ramai dan macet oleh kendaraan yang melintas perlahan.
Ken mengutak atik ponsel kemudian menoleh ke arah jalanan yang agak ramai dan macet.
Alexa masih sempat sempatnya menonton dikeramaian itu, ada hal seru apa disitu? Pikir Ken kemudian kembali mengutak atik ponselnya.
Ambulance dengan suara nyaring lewat pas didepan mobil Ken.
Itu kerumunan ada orang kecelakaan?
Alexa lama banget. Pikir Ken kemudian menghubungi nomor Alexa.
tuuuttt tuuuttt tuuuuutt
"Nomor yang anda tuju tidak menjawab, mohon tinggalkan pesan setelah bunyi nada beep berikut ini" Suara operator dari hp.
Ken terus menghubungi Alexa. Tiba tiba suara seorang pria mengangkat telpon Alexa.
"Hallo" Suara pria itu.
"Alexa" Panggil Ken.
"Pak kami akan membawanya menuju rumah sakit Harapan Kita, Bapak bisa langsung menuju ke sana." Kata pria asing itu.
"Oh God please, why Alexa? Ken seperti orang panik melajukan kendaraan nya berusaha mengejar ambulans menuju rumah sakit. Perasaan bersalah, panik dan takut hinggap dibenak saat itu juga.
Saat Ken tiba dirumah sakit Alexa sudah berada di ruang IGD. Ken yang panik dan ketakutan sesekali mengintip ke dalam ruang tindakan melalui kaca kecil dipintu. Para dokter dan perawat sibuk mengambil tindakan medis, Alexa tergeletak tak berdaya disana dengan darah menutupi sebagian wajah nya. Kemudian salah seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Apa anda keluarganya?" Tanya si dokter.
"Iya dokter" Jawab Ken.
"Kami harus segera melakukan operasi sekarang untuk menghentikan pendarahannya, silahkan anda ke ruang adminstrasi untuk menandatangani beberapa formulir terlebih dahulu." Kata si dokter.
"Baik Dok" Ken bergegas menuju ruang administrasi dan langsung menandatangani formulir yang diberikan.
"Aku mohon tolong selamatkan Alexa, berikan dia perawatan terbaik yang ada disini. Saya akan membayar berapapun asalkan dia selamat." Kata Ken memohon.
"Baik pak, kita serahkan sama ahlinya, mereka pasti akan melakukan yang terbaik." Kata seorang dokter disitu.
Saat akan dibawa keruang operasi Ken ikut mengantar Alexa sampai depan pintu. Darah yang tadinya menutupi sebagian wajah Alexa telah dibersihkan, wajahnya terlihat seputih kertas tanpa rona apalagi senyum yang menghias bibirnya. Ken tak menyangka kalau gadis yang terbujur didepanya itu adalah Alexa kekasihnya.
"Sayang kamu harus kuat." Kata Ken sambil menggenggam tangan Alexa sebelum memasuki pintu ruang operasi.
Gugun tiba beberapa saat kemudian, saat itu Gugun hanya bisa menguatkan Ken yang nampak begitu tertekan. Kepedihan terlihat jelas dari raut wajah Ken, airmata menetes di sudut matanya dengan mulutnya yang selalu bergumam.
"God please jangan sakiti kekasihku, aku tak sanggup melihatnya tak berdaya"
Saat itu Gugun mengerti betapa Ken sangat mencintai Alexa, tak pernah ada seorang gadis pun yang membuat Ken menangis seperti itu.
Steve Lisa dan Shanen saat itu baru saja tiba, Steve langsung memeluk Ken memberikan dukungan.
"Yang sabar bro, Alexa pasti akan baik baik saja" Kata Steve.
Aku tidak menjaganya dengan baik, seandainya aku tidak membiarkannya berjalan kaki sendirian, ini pasti tak akan terjadi. Pikir Ken.
Lisa sedari tadi sudah menangis tersedu dalam pelukan Shanen.
"Apakah dia akan baik baik saja?" Tanya Lisa.
"Tenangkan diri kalian, dokter masih mengambil tindakan, kita tunggu kata dokter sambil berdoa semoga operasinya berjalan lancar." Kata Gugun.
Yah Alexa gadis yang kuat, dia pasti akan baik baik saja. Pikir Ken.
Lampu di ruang operasi padam setelah hampir empat jam menyala. Ken bergegas berdiri didepan pintu menunggu sang dokter keluar dari dalam.
Bersambung...