
Tok tok tok
"Ken"
"Apa sih bang Gugun, kamu? Akuu mau ketemu Ken sekarang!" Kata Donita marah-marah didepan pintu ruangan Ken.
"Mbak Donita nggak boleh sembarangan masuk kesana. Bos tidak mengijin kan siapapun masuk ke sana" Kata Gugun.
"Mbak Donita duduk dulu disini biar saya..." Kata-kata Gugun terputus begitu Ken keluar dari ruangan nya.
Ken mengajak Donita ke sofa merah besar yang berada diruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Ken.
" Ken, kamu kok nggak pernah mau mengangkat telponku? Berulang kali aku menelpon tapi nggak pernah kamu angkat?" Tanya Donita
"Aku kerja disini supaya ada kamu yang bisa aku ajak ngobrol dan diskusi tapi kenapa beberapa hari ini bahkan telponku tidak kau angkat. Aku bosan terus menerus di arahkan ke Steve. Apakah aku telah melakukan hal yang tidak kamu sukai?" Tanya Donita.
"Kamu datang ke kantor ini untuk bekerja kan? Kita hanya akan membahas masalah kerjaan jika berada dikantor. Semua urusan pekerjaan IT kamu bisa konsultasikan semuanya dengan Steve" Kata Ken.
"Kepalaku pusing jika setiap jam kamu menelponku hanya untuk bertanya aku sibuk atau nggak." Kata Ken
"Kalau begitu aku mau bertemu dengan mu diluar jam kantor" Kata Donita.
"Baiklah, kita akan makan malam bersama nanti malam. Kita ketemu di Japaness food jam 7. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Kata Ken.
Japaness food? Hufffttt makan di tempat seramai itu. Yah gak apalah, asalkan dia mau jalan denganku malam ini sudah sebuah kemajuan. Pikir Donita.
"Antar Donita Ke ruangan nya." Kata Ken ke Gugun kemudian masuk kembali ke ruangannya.
Alexa berdiri dibalik kaca didalam ruangan Ken menyaksikan percakapan Ken dan Donita.
"Honey, kamu gak apakan jika aku mengajaknya makan malam ini. Aku harus menjelaskan ke dia, bahwa aku tidak menganggap nya lebih dari seorang teman." Jelas Ken.
"Nggak apa-apa. Lebih cepat lebih baik, tidak baik terlalu lama membuat orang salah paham." Jelas Alexa.
"By the way, apa aku sudah bisa kembali ke ruanganku?" Tanya Alexa.
Ken menatap Alexa menyelidiki
"Yah kamu sudah terlihat jauh lebih baik dari pagi tadi, jika kamu janji nggak akan membuat dirimu terlalu capek maka aku akan mengijinkan mu ke ruangan mu" Kata Ken.
"Aku janji, aku hanya akan duduk dikursiku mengganggu Lisa dan Shanen hingga sore hari kemudian pulang istirahat ke apartemenku." Kata Alexa.
"Ingat, aku menyuruh Steve terus memantau kamu." kata Ken sambil memeluk Alexa kemudian keluar bersama menuju lift.
"Kamu mau mengantar ku?" Tanya Alexa.
"Ya, hanya sampai depan lift" Kata Ken.
" Yaudah balik gih" Kata Alexa kemudian menutup pintu lift.
Alexa memasuki ruangannya tanpa memperhatikan mata Lisa dan Shanen yang menatapnya tanpa henti.
"Halo gaes." Sapa Alexa.
Lisa dan Shanen tak menjawab, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa pada liatin aku terus?" Tanya Alexa.
"Ckckckkk, aku sebel." Kata Lisa sambil manyun.
"Loh sebel kenapa?" Tanya Alexa mendekatkan kursi nya ke meja Lisa.
"Kamu nggak bilang ke aku duluan soal hubungan mu dengan boss. Masa aku dengar berita penting seperti ini hanya dari Shanen." Kata Lisa kesal dengan suara yang sengaja dipelankan.
"Maafkan aku sahabatku alkoholikku, aku nggak bermaksud menyembunyikan hubungan kami. Tapi kamu sendiri yang bilang kalau pacaran sekarang besok dicampakkan jadi aku menganggap itu bukan suatu hubungan seperti yang kalian maksud." Kata Alexa.
"Lex jelasin secara detail, aku nggak paham maksud kamu" Kata Lisa.
"Aku dengan nya blm pernah melakukan hal itu, bagaimana mungkin kami di anggap jadian?" Jelas Alexa.
"Jadi dia belum mendapatkan kamu? Tapi kata Shanen, boss sudah membahas pernikahan dengan kamu?" Tanya Lisa.
Alexa hanya mengangguk kan kepalanya.
"Trus kamu menolak ajakan nikahnya si boss?" Tanya Lisa dengan mimik serius.
Alexa menganggukkan kepala nya sekali lagi.
"Kesimpulan nya kamu berbeda dengan perempuan-perempuan diluar sana, itu tandanya boss bener-bener sudah jatuh cinta denganmu. Hhuhhuuu Aku jadi galau tapi juga happy tau nggak? Kata Lisa dengan suara nangis yang dibuat buat.
"Aku belum yakin jika harus menikahinya dalam waktu dekat ini" Kata Alexa.
" Tuh kan" Lisa memukul mejanya.
"Sejak kapan otak lo jadi penuh pertimbangan? Bukan nya kemaren lo minta dukungan kami buat dapetin boss, eh sekarang lo ragu? Lo tau nggak, jika mangasa sudah di tangan kita harus mengikatnya sebelum angsa liar di hutan mengelabui mangsa dan melepas nya dari genggaman mu" Suara Lisa menggeleggar penuh semangat hingga menyita perhatian beberapa orang disitu termasuk Donita.
"Shhhhhhttttt" Kata Shanen.
"Lo kebawa suasana sinetron Lis, udah deh. Mangsa di genggaman gue itu manusia ngapain pake di ikat segala." Kata Alexa.
"Ehhh, lo nggak tau sekarang angsa liar sudah memasuki kandang mu" Kata Lisa sambil matanya berkedip-kedip ke arah Donita.
"Haha" Suara tawa Shanen pecah seketika.
"Mata produsernya kelilip" Kata Shanen sambil terus terkekeh.
Sepanjang hari itu tak ada yang dilakukan Alexa hingga menjelang pulang kantor.
----
Malam harinya, disebuah rumah makan Jepang yang letaknya tak jauh dari kantor, Ken sudah menunggu kedatangan Donita.
Jari nya tak berhenti saling mengirim pesan dengan Alexa, sehingga membuatnya betah menunggu beberapa menit lebih lama dari waktu yang ditentukan Ken.
"Ken" Sapa Donita.
"Maaf agak terlambat, macet soalnya" Kata Donita kemudian mengambil kursi di hadapan Ken.
"Gak apa" Kata Ken singkat.
"Oh ya mau makan apa." Kata Ken sembari menyerahkan menu buku menu ke tangan Donita. Ken melanjutkan aktifitasnya mengetik pesan ke Alexa.
"Ken kamu makan apa?" Tanya Donita.
"Kamu pesankan saja" Jawab Ken.
Donita memanggil pelayan dan memesan ayam teriyaki dan tempura bento.
"Kenapa kamu mau makan disini? Kita kan bisa ke tempat makan yang lebih baik." Tanya Donita.
"Ya, aku pikir tempat ini nggak seberapa jauh dari kantor jadi bisa lebih cepat untukku tiba disini." Jelas Ken.
"Ken" Raut wajah Donita menjadi serius melihat Ken yang terus menatap ponselnya.
"Ken. Apa kamu tidak menganggapku ada disini?" Tanya Donita.
"Ohh, maaf" Ken meletakkan ponselnya kembali ke kantongnya.
"Apakah makanan sudah tiba?" Tanya Ken lagi.
"Ken, aku sedang ingin bicara dengan mu." Kata Donita.
"Kamu tinggal bicara saja, aku disini" Kata Ken.
"Apa kamu sedang berusaha menghindar dariku?" Tanya Donita.
Ken terdiam menatap keseriusan diwajah Donita.
"Nggak, buat apa?" Kata Ken
"Ok, apa aku bisa bertanya sesuatu yang serius dengan mu. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan hal ini, aku hanya tidak ingin merusak hubungan persahabatan kita dan aku tidak ingin merusak hubungan baik kedua orang tua kita." Kata Ken.
Donita menunggu kata-kata apa yang dimaksudnya itu.
"Apakah kamu mendekati aku karena kamu punya perasaan khusus pada ku? Aku bisa menjadi sahabatmu tapi aku nggak bisa menjadi lebih dari itu. Aku berusaha menjaga jarak dari mu agar kamu tidak menjadi salah sangka dengan sifatku terhadapmu." Kata Ken lagi.
"Tapi Ken kenapa wanita-wanita diluar sana begitu mudah mendapatkanmu. Apa kurang nya diriku?" Tanya Donita.
"Apa kamu ingin menjadi seperti mereka? Langsung ku campakkan begitu aku merasa puas dengan tubuh mu." Kata Ken.
"Jika memang harus seperti itu, aku rela" Kata Donita sambil menunduk.
"Donita kamu itu temanku, aku nggak bisa melakukan hal itu. Aku menghormatimu, aku menghormati ayah mu." Kata Ken.
"Dan satu hal lagi, aku sudah menemukan gadis yang akan ku nikahi. Aku akan segera mengenalkannya dengan kedua orangtuaku." Kata Ken.
Kata-kata Ken barusan mengingatkan Donita akan informasi yang didapatkan dari shanti bahwa Malam minggu kemarin mereka bertemu dengan Ken dan pacarnya di Clasically caffe.
Siapa wanita itu? Pikir Donita.
Donita terdiam beberapa saat, sementara makanan sudah terhidang diatas meja.
Donita hanya memakan dua suap dari makanan yang ada dihadapan nya.
"Kamu bawa kendaraan?" Tanya Ken.
Donita menggelengkan kepalanya.
"Ok, selesai makan aku akan mengantar mu pulang" Kata Ken.
Ken telah menggabiskan seporsi makanannya kemudian menatap ke piring Donita.
Jika itu Alexa dia tidak akan membiarkan makan terbuang percuma seperti itu. Gadis itu punya selera makan tiga kali lebih baik dari pada gadis-gadis diluar sana. Pikir Ken.
"Ayo kita pulang, aku sudah kenyang" Ajak Donita.
Ken membukakan pintu untuk Donita masuk ke mobilnya.
Sepanjang jalan Ken berbincang tak lebih dari sekedar berbincang dengan seorang sahabat, Donita hanya merespon sedikit dari setia kata-kata Ken. 20 menit kemudian Ken sudah tiba di depan rumah Donita.
"Donita kita sudah berada didepan rumahmu" Kata Ken.
"Ken bisakah aku" Donita mencium Ken tepat dibibirnya.
"Maafkan aku, anggap saja itu kecupan perpisahan dariku. Aku nggak akan punya niat lain lagi padamu, aku hanya akan menganggap kamu sebagai sahabatku, teman masa kecilku." Kata Donita kemudian turun dari mobil Ken.
Semoga kamu mendapatkan seorang pria yang tulus mencintaimu Donita. Pikir Ken.
Bersambung...