Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Prepare



Ibu Ratih terlihat panik sambil berdiri menatap ke dalam ruangan oma Anna yang terkunci rapat, para tim masih berada di dalam ruangan tersebut.


"Bu, Oma pasti baik baik saja bu," kata Alexa ikut berdiri dibelakang ibunya.


"Dokter sudah setengah jam berada didalam dan masih belum keluar memberikan kabar," ucap ibu Ratih.


Alexa saat itu harus berpura pura tegar demi ibunya, sebenarnya hatinya begitu rapuh dan sedih.


"Bu, kita hanya selalu bisa berdoa semoga oma bisa melewati masa kritisnya." Alexa menggam lengan dan ikut berdiri disamping ibunya.


Beberapa saat Ken sudah tiba diruangan itu dengan empat kotak makanan dan minuman dalam genggamannya.


"Sayang, ibu? gimana kabar oma?" tanya Ken.


"Oma masih didalam nak bersama beberapa orang dokter," jawab ibu Ratih.


"Sayang, ajak ibu makan dulu ya." Ajak Ken.


"Bu, kita makan ya," bujuk Alexa.


"Ibu belum lapar nak," jawab bu Ratih.


"Tapi ini sudah waktu nya jam makan malam, ibu gak boleh sakit," bujuk Alexa lagi.


Bu Ratih mengarah ke meja makan disudut ruangan dimana Alexa sudah menyajikan makanan milik ibu Ratih di atas meja.


Beberapa saat seorang perawat keluar dari dalam ruangan oma Anna sambil mendorong nakas berisi peralatan medis.


"Suster gimana kabar oma?" tanya Alexa dengan ibu dan Ken ikut dibelakngnya.


"Lambung pasien baru saja dicuci, sepertinya pasien menolak makanan yang masuk ke lambungnya karena tukak lambungnya, mengingat umur pasien yang sudah tua maka kondisi itu bisa segera berdampak pada jantung dan organ lain ditubuhnya. Setelah di sterilkan semoga pasien bisa segera sadar kembali," jelas perawat itu.


"Terimakasih," kata tante Ratih.


"Iya bu, penjelasan lebih jelas nya bisa dengan dokter Danny langsung ya bu, saya permisi," ucap suster itu kemudian keluar dari ruangan itu.


Setelah beberapa menit dokter Danny dan beberapa dokter lainnya keluar dari ruangan oma.


"Dokter, bagaimana kondisi mama saya?" tanya bu Ratih.


"Denyut jantung pasien sudah normal, setelah semuanya kembali normal kemungkinan pasien akan segera sadar," jelas dokyer Danny.


"Saya akan pantau kembali pasien melaui MRI, kemungkinan besar pasien akan diberi ring pada jantungnya mengingat aritmia yang diderita pasien. Setelah beberapa hasilnya keluar saya akan meminta keluarga pasien untuk membahas soal operasinya," lanjut dokter Danny.


"Terimakasih banyak dok," ucap Alexa.


"Baik lah, saya permisi dulu." Kata dokter Danny kemudian keluar dari ruangan itu.


Alexa, ibu Ratih dan Ken bergegas masuk kedalam ruangan oma.


Seorang perawat terlihat sibuk dengan infus dan mencatat angka angka pada monitor di belakang ranjang oma Anna.


"Bu jika Pasien sudah sadar tolong tekan tombol ini, saya akan langsung ke sini." ucap Perawat itu.


"Ya, baiklah. terimakasih," jawab bu Ratih.


"Saya permisi," ucap perawat itu kemudian keluar dari ruangan itu.


Alexa mendekati oma Anna kemudian berbicara pelan ditelinga oma Anna.


"Oma, cepat sadar ya. Alexa dan ibu selalu disini menunggu oma," ucap Alexa sambil mencium dahi oma Anna.


"Alexa, kalian belum makan. Makan gih, ibu akan disini menjaga oma," kata bu Ratih.


"Ayuk sayang, kamu juga belum makan kan?" Alexa mengajak Ken keluar dari ruangan itu.


Sambil mengatur makanan kemasan yang dibeli Ken, Alexa mulai menitikan air matanya.


Disaat seperti ini, begitu besar pergumulan yang harus aku hadapi. Padahal aku juga sangat butuh seseorang untuk menyandarkan kepalaku aku butuh ibu. Tapi aku harus lebih kuat dari ibu, dia pasti akan ikut menangis jika melihatku menangis.


"Sayang kamu kok nangis?" tanya Ken kemudian memeluk Alexa.


"Aku kasihan melihat ibu dan aku tidak bisa berbuat apa apa," kata Alexa.


"Aku ingat aku pernah berjanji pada oma untuk segera menikahi kamu. Aku akan meminta kepada ibu untuk menikahimu secepatnya dihadapan oma, aku sangat ingin menepati janjiku dan melihat oma bahagia agar proses pemulihannya semakin cepat," kata Ken sembari memeluk Alexa.


Alexa mengangguk pelan sambil melap sisa sisa air mata dipipinya.


"Kamu makan dulu ya sayang, makanan ini sekarang sudah agak dingin," kata Alexa.


"Iya nih aku makan," jawab Alexa.


Setelah makan malam itu Alexa beberapa perawat dan seoarang dokter ruangan masuk ke dalam kamar oma.


"Dokter tadi tangan oma sedikit bergerak dan matanya terlihat berkedip, iya kan bu," ucap Alexa.


Dokter memeriksa keadaan oma Anna.


"Pasien sudah sadar, namun kondisinya masih begitu lemah. Beberapa jam mungkin dia akan bangun. Keluarga nya bisa menunggu disini agar begitu dia sadar dia bisa meliahat kehadiaran kalian," ucap Dokter kemudian berlalu dari ruangan itu.


"Baik Dok," jawab ibu Ratih sembari mengantar dokter keluar dari ruangan oma Anna.


"Ken, kamu masih disini?" tanya bu Ratih setelah melihat Ken yang duduk diruangan itu.


"Iya bu, aku akan nginap disini malam ini menemani ibu dan Alexa," ucap Ken.


"Boleh boleh saja asal itu tidak mengganggu pekerjaanmu?" kata bu Ratih.


"Kebetulan aku sudah nggak sibuk banget akhir akhir ini," Ken.


"Loh, bukannya akan ada perhelatan besar diperusahan kamu?" tanya bu Ratih.


"Iya bu, tapi semuanya sudah rampung. Hari H nya tiga hari lagi, jika ibu berkenan hadir saya mengundang ibu untuk hadir juga," kata Ken.


"Bu, aku akan mengumumkan tanggal resepsi pernikahan ku pada acara ulang tahun perusahan. Apa ibu punya saran mengenai tanggalnya?" tanya Ken.


"Kamu maunya kapan?" tanya bu Ratih.


"Satu bulan dari sekarang?" jawab Ken.


"Apa itu tidak terlalu terburu buru? Bagaimana persiapan acaranya?" tanya ibu Ratih.


"Bu, bukan nya Alexa tidak suka keramaian, kami tidak butuh acara mewah, cukup beberapa kerabat saja yang hadir," ucap Ken.


"Iya juga, ya udah Ibu serah kan semuanya sama kamu nak, ibu akan setuju dengan setiap keputusan kalian," kata bu Ratih.


"Bu, begitu oma Anna sadar aku akan menikah dihadapan oma Anna," Kata Ken.


"Hah?" ibu Ratih kaget dengan keputusan Ken.


"Apa Alexa sudah tau," tanya tante Ratih.


"Belum bu, aku harap dia tidak menolaknya. Aku hanya tidak ingin terlambat dan menyesal. Karena aku sudah janji pada oma akan menikahi Alexa dihadapannya," kata Ken.


Bu Ratih mengangguk tanda setuju mengingat kesehatan oma Anna yang kian hari kian memburuk.


"Ibu akan bicarakan hal ini dengan Alexa, ibu yakin dia pasti setuju," kata bu Ratih.


Sementara percakapan berlangsung terdengar suara Alexa yang sedang berbincang dengan oma Anna.


"Sepertinya keinginan kamu akan terwujud nak, sepertinya oma Anna sudah sadar," kata bu Ratih mendengar suara Alexa dari dala kamar.


Ibu Ratih berdiri dari kursinya menghampiri Alexa yang sedang bahagia melihat oma Anna sudah sadar.


"Ma, mama gimana keadaan mama?" ucap bu Ratih sembari mendekati oma Anna.


Tangan oma Anna terangkat seolah ingin menggapai sesuatu sambil matanya nya tertuju pada Ken.


Ken maju beberapa langkah mendekati oma Anna.


"Oma ini aku Ken, aku disini oma," ucap Ken.


Oma Anna menganggukkan kepalanya dengan sedikit senyuman dibibirnya. Mata Oma Anna kemudain menatap Alexa.


"Oma istirahat lagi yah oma, jangan capek dulu," ucap Alexa .


Oma Anna mengangguk kemudian memejamkan mata.


"Sayang ayo kita keluar, jangan ganggu oma dulu, nanti malah oma gak bisa istirahat," ucap Ken sambil mengajak Alexa keluar dari kamar oma.


"Aku senang melihat oma sudah siuman, perasaan ku merasa lebih lega sekarang," kata Alexa sambil melempar badannya diatas sofa empuk diruangan itu.


Ken duduk disamping Alexa sambil menggenggam tangannya.


"Hmmm, sepertinya hati oma senang melihat ada kamu sayang, dia bahkan bisa tersenyum," lanjut Alexa.


"Sayang, kita nikah besok yuk," ajak Ken.


"Hmm," Alexa menyelidiki wajah Ken. "Aku nggak salah dengarkan? nikah?" tanya Alexa.


"Iya, kita nikah secepat nya. Aku mau segera tepati janjiku pada oma. Kita kan masih belum tau kondisi oma saat ini, aku nggak ingin semuanya terlambat," jelas Ken.


"Jadi kamu mau menikahiku karena janji mu pada oma?" tanya Alexa.


"Iya," kata Ken.


"Kita menikah bukan karena kamu mencintaiku ternyata karena oma?" wajah Alexa berubah menjadi cemberut.


"Loh, tentu saja karena aku mencitai kamu sayang," ucap Ken bingung melihat sikap Alexa.


Alexa duduk membelakaingi Ken dengan wajah cemberut.


"Sudah lah jika pernikahan ini hanya terpaksa, aku bersedia asalkan oma bahagia," ucap Alexa.


"Tapi aku mencintai kamu, sudah lama aku ingin kita segera menikah. Moment oma sakit itu hanya sebuah alasan agar kamu tidak menolak akau lagi sayang," jelas Ken.


"Hufffttt, iya deh. Kapan?" Alexa tersenyum kemudian kembali menghadap ke arah Ken.


"Besok pagi," jawab Ken singkat.


"Besok pagi?" teriak Alexa.


"Iya besok pagi," ucap Ken.


"Persiapannya?" Besok Gugun akan membawa penghulu kesini.


"Disini?" tanya Alexa lagi.


"Iya, bukan nya oma harus menyaksikan kita?" kata Ken.


"Tapi aku belum ada persiapan sedikit pun," kata Alexa.


"Sebentar akan ada orang uang mengantar persiapannya ke sini," ucap Ken.


"Kapan kamu mulai menyiapkan ini?" tanya Alexa.


"Sekarang aku akan mempersiapkan semuanya, kamu hanya bilang setuju maka semuanya akan berjalan lancar esok hari," ucap Ken.


Alexa mengangguk mengiyakan dengan senyum diwajahnya.


Ken merangkul Alexa dengan begitu erat.


"Makasih sayang," kata Ken.


Bersambung...