Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
I'm Surender



Pesta meriah yang diiringi nyanyian dari beberapa artis pop ibu kota telah berlangsung selama satu jam. Seorang MC tetkenal yang biasa mengisi acara acara hiburan di TV berdiri mempersilah kan Hendry Husada untuk menyampaikan beberapa patah kata bagi para undangan.


Ken mendampingi Ayahnya berdiri diatas panggung megah dan meriah itu.


Kata demi kata keluar dari bibir Ayah Ken, sesekali mata nya menatap sebuah kertas yang ada dalam genggamannya sebagai isi dari pidatonya malam itu.


----


Sementara itu...


Tak jauh dari meja Alexa, Donita serius mengamati gerak gerik Alexa. Alexa begitu santai menikmati pesta itu bersama teman temannya, sesekali dia terlihat tertawa bersama Lisa dan Shanen. Hingga sebuah telpon masuk ke ponselnya dan membuatnya harus meninggalkan meja itu menuju ke toilet. Donita bejalan mengikuti Alexa dari belakang dan menguntit percakapan Alexa dari balik pintu.


"Bu maaf lagi ramai aku baru bisa mengangkat telpon ibu," ucap Alexa.


"...."


"Ya iya baik lah, ibu tenang dulu, aku segera ke rumah sakit sekarang bu." Alexa panik sambil mendial no telpon genggam lainnya.


Donita mengambil telpon genggam miliknya menghubungi pria pemilik mini van silver yang biasa membuntuti Alexa.


"Dia akan kerumah sakit sekarang, aku akan menahannya beberapa menit. kerjakan mobilnya," perintah Donita pada pria itu.


"Pak pak Duan? Siap kan mobil, aku segera turun," perintah Alexa kemudian bergegas keluar dari kamar mandi.


Donita menghadangnya didepan pintu kamar mandi.


"Alexa, kamu disini?" Donita menyapa Alexa dengan wajah agak kesakitan.


Wajah Alexa terlihat menahan tangis yang sudah hampir keluar dari kelopak matanya.


"Donita kamu kenapa?" tanya Alexa.


"Alexa, kaki ku baru saja terkilir. Kamu bisa tolong papah aku ke kursi itu?" Donita merintih kesakitan sambil tertawa dalam hatinya.


Alexa memegang tangan kiri Donita berjalan menuju sebuah kursi beberapa meter dari pintu toilet.


"Bukan nya kamu mau ke toilete?" tanya Alexa.


"Ya, tadinya aku ingin membenarkan riasan ku. Tapi baru didepan pintu, aduh.." Donita terus melangkah agak pincang sambil menujuk kan mimik muka kesakitan.


Haha wanita tol*l ini begitu naif, sebentar lagi kamu akan pergi untuk selamanya. Bye wanita kotor.


"Donita, maaf aku nggak bisa membantu kamu lebih lama. Kamu bisa meminta orang untuk memapah mu kembali kemeja kamu, aku sangat terburu buru sekali.


Suara riuh dan bisik bisik setiap orang membuat Alexa memalingkan wajahnya ke atas panggung, Hendry Husada papa Ken mengumumkan secara terbuka pertunangan putra nya Ken Samuel Husada dengan Donita. Dan persiapan pernikahan mereka akan dilangsungkan beberapa bulan lagi.


Alexa berjalan keluar dari gedung meriah itu dengan mata berkaca kaca, airmata berlinang membasahi pipinya. Langkahnya dipercepat, dirinya tak ingin berlama lama diruangan asing itu.


Buat apa aku disini? Tenpat ini sama sekali tidak menerima diriku. Alangkah baiknya jika aku menjaga oma, disaat saat terakhir oma aku tidak berada disisi oma.


Sementara dihalaman parkiran mobil perusahan, seorang pria mengendap ngendap di bawa mobil Ken yang terparkir tak jauh dari pintu masuk lobby.


Pria iti memasang ranjau pada mobil yang biasa dipakai Alexa. Sebuah bom kecil telah menempel pada mesin mobil dan siap meledak pada kecepatan di atas 130km/jam, meledak tanpa meninggalkan jejak.


Alexa terlihat keluar dari gedung perusahan menghampiri sebuah taxi yang baru saja menurunkan seorang penumpang didepan pintu masuk lobby.


Maaf Ken, aku akan meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan dirimu! Jika diniamu tidak ingin melihat ku maka aku akan mencoba meninggalkan duniamu.


"Pak buruan bawa aku ke rumah sakit Harapan," ucap Alexa pada sopir taxi.


"Nyonya, nyonya...." Pak Duan sopir Alexa berteriak memanggil dengan perasaan bingung karena nyonya nya tidak menggunakan mobil yang sudah disiapkan nya.


Tetes demi tetes airmata jatuh membasahi pipi Alexa, perasaan kecewa sedih campur aduk menekan hati rapuhnya saat itu.


Memasuki lobby rumah sakit Alexa berlari kencang dengan tangisan yang kian menjadi.


Sesekali dirinya menyebut nama oma dalam setiap isaknya. Perasaan bersalah pada oma Anna disaat terakhir omanya dan rasa rindu yang begitu besar mengingat dirinya baru saja memiliki kasih sayang dari seorang nenek saat itu.


Bu Ratih sedang terseduh seduh menangis berdiri didepan pintu saat Alexa memasuki kamar VVIP dimana omanya dirawat.


Tubuh Alexa berhambur kedalam pelukan ibunya, tangisan sedih akan kehilang bercampur dengan sedih akan rasa kecewanya pada Ken. Alexa hanya bisa pasrah dalam pelukan ibunya.


"Bu bukannya oma sudah baik baik saja tadi?" tanya Alexa sembari melap air mata dipipi ibunya.


"Oma memang sedang baik baik saja tadi siang, oma memakan setiap suapan ibu hingga habis. Tapi ibu juga tidak terlalu memikirkan bahwa sejak kemaren oma tidak pernah bicara sepatah kata pun," isak bu Ratih makin menjadi.


"Maaf bu, maafkan Sasha," ucap Sasha.


Beberapa saat dokter mempersilahkan Alexa dan bu Ratih masuk ke dalam kamar.


Alexa dan ibunya pecah dalam tangis menatap tubuh oma Anna terbujur kaku, sebuah senyuman kecil terkuak dari sudut bibirnya.


Tubuh renta itu begitu pucat dan tak bisa bergerak lagi, oma Anna telah pergi untuk selama nya.


---


Malam itu setelah pidato ayah Ken, Hendry Husada, Ken berbisik dengan senyuman ke telinga sang ayah.


"Pa, aku tak bisa membuat papa malu dihadapan semua tamu ini. Tapi begitu sulit bagi kalian untuk menerima Alexa, dia adalah kebahagiaanku. Perusahan adalah segala galanya buatmu bahkan mengalahkan rasa sayang mu pada putra mu. Maka jangan salah kan aku jika aku juga memilih orang yang aku sayangi," ucap Ken kemudian meninggal kan panggung dimana ayahnya berdiri.


Alexa berjalan menuju meja tempat dimana Alexa berada sebelumnya.


"Lisa, mana Alexa?" tanya Ken.


"Tadi dia ke toilete pak," jawab Lisa.


Mata Ken berjalan ke toilete wanita, matanya terus mencari ke sekeliling.


drrrrttttt drrrrtttt


Ken merogoh ponsel dari kantong bajunya.


"Pak Duan ada apa?" Tanya Ken pada pria yang menelponnya.


"Boss, nyonya baru saja pergi menggunakan taxi. Sa..." suara pak Duan langsung disela Ken.


"Saya segera turun." Ponsel pak Duan langsung ditutup Ken kemudian berlari keluar menuju parkiran.


Ken menghampiri pak Duan disamping mobilnya mengambil kunci mobilnya.


Ken keluar dari parkiran kantor sambil menghubungi ponsel Alexa yang saat itu sudah tidak aktif.


Sayang maafkan aku. Aku sangat bersalah padamu, jika aku lebih keras dengan orang tuaku maka hal ini tak akan terjadi.


Ken dengan frustasi menambah kecepatan kendaraannya menuju rumah sakit dimana oma Anna dirawat.


Saat kecepatan mobilnya melamapui 130km/jam ledakan kecil terjadi dimesin mobil Ken hingga menyebabkan mobil kehilangan keseimbangan.


Setir mobil tak bisa dikendalikan, mobil Ken oleng hingga membentur trotoar jalanan. Mobil Ken terbalik melesat sejauh puluhan meter. Keadaan mobil begitu naas mengingat seluruh body mobil hancur berantakan.


----


Hendry Husada yang baru saja selesai dari pidatonya mengomel tidak jelas pada istrinya.


"Anak itu, dia pikir dia sudah bejasa besar pada perusahan. Baru begitu sudah berani membangkang orang tua!" ucap pak Hendry pada istrinya.


"Sabar dong pa, lagi ramai seperti ini. Ditahan dulu emosi mu," bujuk mama Amel pada suaminya.


"Anak itu langsung pergi begitu saja mencari wanita itu, acara ini belum selesai tapi dia ...," ucap papa Hendry penuh amarah.


"Jadi kemana dia? Donita kamu melihat Ken?" tanya mama Amel.


"Nggak tante, tadi dia sama oom kan?" tanya Donita.


"Iya, tapi setelah pengumuman pertunangan kalian dia pergi mencari wanita itu," ucap mama Amel.


"Apa? Ken kemana?" Donita kaget mendengar kata mama Amel.


Donita mengambil ponsel dari pouch kecil


yang dipegangnya.


Terlihat 3 missedcall dan 2 buah pesan disana.


Boss, target kita pergi menggunakan taxi.


Boss, Pak Ken pergi membawa mobil itu.


"Tante, Ken kemana? Perasaan ku nggak enak, aku akan mencarinya didepan," ucap Donita pada tante Amel.


"Bodoh kamu, kenapa situasinya malah jadi begini? Cepat kamu cari mobil itu dan hentikan," perintah Donita pada anak buahnya. Donita keluar dengan terburu buru menuju parkiran dimana mobilnya diparkir.


Selang beberapa menit saat mobilnya hendak keluar dari parkiran, telpon pria itu masuk lagi.


"Boss, mobilnya kecelakaan dijalan Antasari, .."


"Kamu telpon ambulans sekarang bodoh dan tinggalkan kota ini sementara. Jangan hubungi aku di nomor ini, beberapa hari lagi aku akan menghubungimu." Teriak Donita melajukan kendaraan nya menuju lokasi kecelakaan.


Mobil Ken terlihat hancur dengan percikan percikan api dimesin mobil. Darah segar mengalir keluar dari kaca jendela mobilnya.


Donita berusaha keras membuka pintu mobil nya yang reot hingga tiba beberapa orang polisi bersama mobil ambulance.


Bersambung...