
Alexa dirawat di IGD salah satu rumah sakit terkenal di Bandung.
Rani yang terlihat cemas menunggu didepan ruang didatangi seorang Dokter.
"Gimana sahabatku Dok?" Tanya Rani.
"Temenmu hanya pingsan biasa, mungkin dia terlalu capek hingga mengalami dehidrasi. Setelah dirawat hari ini, besok dia sudah bisa pulang. Tadi kami sudah memberinya obat tidur untuk membantunya beristirahat hari ini."
"Oh ya, pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa ke ruang administrasi sekarang." Kata Dokter cantik tersebut.
"Baiklah, terimakasih Dok." Kata Rani.
Setelah Alexa berada diruangan perawatan, hingga dini hari Rani masih menunggu disamping Alexa.
Ini anak kenapa belum bangun? Dia tidur atau pingsan?
Rani mencoba menyandarkan kepalanya disandaran sebuah sofa yang terletak tak jauh dari tempat Alexa tidur.
Selang beberapa jam setelah Rani tertidur Alexa terbangun, Alexa duduk bersandar disandaran tempat tidurnya sambil menatap Rani yang baru saja terlelap.
Aku beruntung, aku masih punya teman teman yang menyayangi aku. Aku masih memiliki Tante Ratih dan Mr. Bond. Aku masih memiliki Ken.
Ken... Aku merindukannya. Aku mencintanya. Namun aku tak akan pernah sanggup menghadapi dunia bersamanya.
Aku dan ibuku diperkosa dan aib itu akan melekat didiriku selamanya. Hikss
Isak tangis Alexa tertahan, dia tak ingin membangunkan sahabat nya yang sedang pulas dalam mimpinya.
Jam delapan pagi itu Rani terbangun.
Matanya nya langsung mengarah ke Alexa yang sudah duduk dengan senyuman diwajahnya.
"Morning Ran." Sapa Alexa.
"Alexa kamu sudah bangun? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Rani sembari mendekat ke Alexa.
Rani menatap sepiring sarapan diatas meja samping ranjang Alexa yang sudah habis tanpa sisa.
Alexa mengangguk kepala sambil memegang perutnya.
"Maaf aku benar benar laper tadi. Aku sudah menghabis kan semua sarapan dari rumah sakit. Agak hambar, kamu pasti gak doyan" Kata Alexa.
"Ya iya kamu laper, sejak kemaren siang kamu belum makan." Rani
"Trus jika kamu disini, siapa yang temani ibu jaga warung? Ibu akan kewalahan jika sendirian?" tanya Alexa.
"Masih lagi mikirin warung, kamu bisa nggak yah nurut sedikit Lex, kemaren aku mau temani kamu ke rumah itu, kamu gak mau. Nah malah pingsan kan? Untung kamu pingsan udah dekat rumah, kalau jauh siapa yang akan menolong kamu? Kalau jadi apa apa gimana?" Omel Rani.
"Hmmm maaf, tapi aku sudah oke kok sekarang."
Alexa tersenyum menatap Rani yang masih terus mengomel.
"Eh malah senyum." kata Rani setelah melihat ke muka Alexa.
"Itu artinya omelan kamu enak didengar. Jarang ada yang cerewet seperti itu kepadaku. Makanya aku senang." Kata Alexa.
"Iya lah, aku sahabat kamu jadi wajar jika aku panik dan marah. Makanya kamu jangan pernah merasa sungkan lagi, jika kamu kenapa kenapa aku yang akan menjaga kamu." Kata Rani bersemangat.
"Aku mau keluar beli makan, kamu mau nitip apa?" Tanya Rani.
"Aku masih pengen makan dua porsi lagi, terserah makanan apa aja yang kamu pilih akan aku makan." Jawab Alexa.
"Aku sekalian akan kerumah mengambil baju karena mungkin sore nanti kita sudah bisa pulang." Jelas Rani.
"Ok, by the way, jangan lupa bawa laptop kamu ke sini ya, aku mau pinjam." Kata Alexa.
"Ok" Rani kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Jam sebelas siang Rani sudah kembali dengan dua mangkok bubur dan ayam lalapan buatan ibu Idah bersama baju dan laptop pesanan Alexa.
"Ini titipan ibu, katanya dia nggak bisa ke sini jenguk kamu jadi makanan nya aja yang dateng. Tadinya sore ibu mau ke sini, tapi aku larang. Toh sore kita sudah pulang." Kata Rani.
Dengan selang infus yang masih menempel ditangan, Alexa menuju meja sambil mendorong tiang infus. Mereka menghabiskan makan siang itu tanpa sisa.
"Oh ya, kamu bawa laptop kan Ran?" Tanya Alexa.
"Tuh didalam back pack. Ambil aja." Rani.
Alexa mengeluarkan laptop Rani dari dalam tas kemudian kembali ke ranjang.
Jari jari Alexa lihai bermain dengan tuts angka dan huruf yang tertera pada laptop.
"Wuaahh daebak, kamu ahli dalam bidang computer ternyata." Rani Kagum dengan kecepatan jari jari Alexa.
"Kamu kuliah jurusan komputer ya Lex?" Tanya Rani yang masih berdiri disamping Alexa.
"Kamu sambung Internet dimana?" Tanya Rani.
"Hotspot rumah sakit" Jawab Alexa singkat.
"Hmmmm, kenapa kuliah kemaren aku nggak ambil jurusan komputer ya, mungkin sekarang aku bisa berhemat beli data internet" Kata Rani.
"Maksudnya?" Tanya Alexa.
"Ya, aku bisa jebol data tengga." Rani.
"Hmmm. Mank kamu kuliah jurusan apa kemaren?" Tanya Alexa.
"Sekertaris." Rani.
"Bagus juga kok." Kata Alexa.
"Bagus darimana? Sampai kini aku belum dapat kerjaan, sudah beberapa perusahan yang aku datangi. Ujung ujung aku jadi sekertaris di dapur ibu." Kata Rani cemberut kemudian memegang sebuah majalah yang ada di meja.
Saat itu Alexa sibuk meretas jaringan beberapa surat kabar jaman dulu untuk mencari berita pembunuhan di Cimenyan delapan belas tahun yang lalu.
Artikel saat itu tertera di sudut kolom koran JabarPost pada 15 Mei 2002 berjudul,
"Pembunuhan dan pemerkosaan sadis di desa Cimenyan"
Alexa menemukan beberapa dokumen dan beberapa gambar TKP, gambar rumah masa kecil Alexa tertera disitu.
Foto rumah berwarna hitam putih ini adalah rumahku.
Rani yang berada disamping nya ikut membaca artikel yang tertera didalam laptop.
"Ihh Alexa, kamu baca berita apaan? mengerikan tau! Aku jadi merinding." Kata Rani.
"Cerita ini tentang aku dan keluarga ku Ran, ini kejadian dirumah simpang tiga itu." Kata Alexa dengan wajah sendu, menahan gejolak dalam dadanya.
"Benarkah? Maafkan aku, aku nggak tau."
Rani memeluk Alexa,
"Bagaimana cara mu melewati setiap hari dengan kepahitan seperti itu." Rani menangis tersedu sambil mengusap punggung Alexa.
"Karena kehilangan ingatan disaat aku berusia 7 tahun, aku bisa ada sampai kini karena aku tidak ingat apa apa. Aku bahkan tidak tahu jika ayahku meninggal dengan cara seperti itu. Aku tak tau nasib ibuku sekarang seperti apa." Alexa mulai menitikan air matanya.
Tangis yang tertahan sejak dirinya keluar dari rumah itu kini pecah. Rani menjadi saksi, perih didada Alexa telah berganti menjadi linangan air mata.
"Apakah ibuku masih ada atau sudah tiada, aku nggak tau." Alexa terisak makin menjadi.
"Sejak kemaren aku sudah ingat semuanya Ran, bagaimana menggelegarnya suara tembakan itu, bagaimana bisingnya suara suara ancaman kedua pria itu. Dan aku melihat sendiri kedua lelaki itu menyeret ibuku."
"Alex, istigfar sayang, kamu tau Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi dari apa yang kita bisa. Kamu pasti kuat Alexa dan kita akan terus cari ibu kamu. Mungkin sekarang lah waktunya kamu mencari dan bertemu ibumu mungkin itu lah kenapa Tuhan mengembalikan ingatan mu sekarang." Kata Rani.
Alexa mengangguk berulang ulang
"Aku akan mencari ibuku." Kata Alexa.
"kita akan mencarinya bersama sama." Kata Rani.
Alexa sudah agak tenang ketika Rani melepaskan pelukan nya.
"Sini berikan padaku" Rani memgambil laptop yang berada di pangkuan Alexa.
"Kamu ngapain baca ini, ini hanya akan membuatmu makin bersedih." Lanjut Rani.
"Aku hanya mencari info nama dari orang tuaku karena aku ingin mencari ibuku. Tapi disitu nama ibuku hanya ditulis dengan Inisial N R Carter."
"Rani, apakah aku beruntung? Aku mengalami amnesia waktu itu. Bahkan sekarang pun aku tidak ingat jika aku diperkosa. Ingatan ku belum benar benar pulih. Wajah ibu dan ayahku masih begitu samar." Tanya Alexa.
"Sudah Alex, jangan memikirkan hal itu lagi. Kamu anggap saja itu hanyalah sebuah mimpi dimasa lalu yang harus kamu lupakan." Kata Rani yang kini ikut naik ke atas ranjang dan duduk disamping Akexa.
"Sebenarnya Tuhan sudah membantuku mengambil ingatan ku waktu itu, kini aku harus bagaimana Ran?" Tanya Alexa.
"Yang harus kamu lakukan sekarang adalah hidup bahagia demi orang yang kamu cintai, demi ibumu demi teman teman mu. Aku yakin luka hatimu ini tak kalah dari apa yang dirasakan ibumu. Untuk itu jadilah tegar untuk dirinya." Kata Rani
Ya ibuku mungkin lebih menderita daripada diriku, dia juga menyaksikan bagaimana suaminya di bunuh, dirinya dan anaknya diperkosa, dia pasti lebih sedih daripada aku.
Sekarang bagaimana caranya aku menemukan ibuku?
Alexa menghapus sisa sisa air mata yang ada dipipinya.
"Terimakasih Rani." Ujar Alexa yang kini berusaha mengukir sebuah senyuman.
Aku harus kuat untuk mereka.
Bersambung...