
Alexa berjalan lambat dibelakang Ken beberapa meter. Pikirannya teringat sikap Amelia saat bertemu dengannya terakhir. Wanita itu begitu ketus dan tidak menyukai dirinya.
Bahkan sempat terjadi perdebatan diantara mereka saat itu.
Ken menggenggam tangan istrinya yang terlihat enggan masuk kedalam rumah.
Suasana ruangan tamu begitu sepi, bahkan beberapa ruangan berikut tidak terlihat siapapun disana.
Suara sendok dan wajan yang saling beradu mulai terdengar jelas ditelinga Alexa. Semakin lama semakin jelas.
Amelia dan Dan Darsih sedang asik mengolah beberapa bahan makanan hingga aroma harum tumisan sayur memenuhi seluru ruangan saat itu.
"Pa," sapa Ken.
Seketika Alexa mencari seorang pria yang disapa Ken saat itu. Pria itu duduk dikursi roda tak jauh dari dapur sambil membaca sebuah buka dalam genggamannya.
Sentak Hendry menatap ke arah suara yang memanggilnya, begitu pun Amelia.
"Sini lah, mama masih masak. Ayo temani papa ngobrol," kata Hendry ramah.
"Ini Alexa pa," Ken memperkenalkan Alexa pada papanya.
Alexa berjongkok dihadapan Hendry kemudian mencium tangan Hendry. Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Alexa.
"Ma," panggil Hendry.
Amelia keluar dari dalam dapur langsung menuju ke arah Alexa.
Amelia mendekati Alexa yang hendak mencium tangan nya dan disambut dengan pelukan hangat dari Amelia.
Apa ini sebuah kepalsuan? Entahlah, dia tetap ibunya Ken. Aku harus menghormatinya.
"Mama masih masak sayang, mama balik ke dapur dulu ya, kalian temani papa ngobrol." Amelia kembali menyelesaikan masakan yang sedang diolahnya.
Sebuah meja kecil menghadap ke taman tak jauh dari dapur Alexa dan Ken menemani papanya ngobrol.
Permintaan maaf keluar dari mulut Hendry, membuat Alexa yakin papanya sadah bisa menerima dirinya.
"Pap minta maaf, papa sangat bersalah dengan kalian karena sempat melarang kalian untuk menikah, semua kesalahan papa hingga ini semua terjadia. Seandainya papa percaya dengan keputusan anak papa, pasti nggak akan sampai begini. Donita itu ....," ucap Hendry panjang lebar penuh penyesalan.
"Sudah lah pa, sekarang aku sudah tidak mengingat kejadian yang lalu. Sekarang Ken sudah kembali, Ken ingin papa betul betul sembuh dan kembali seperti dulu. Biar semua masalah Donita, Ken yang selelsaikan," ucap Ken.
"Tapi papa masih merasa bersalah dengan Alexa," ucap Hendry.
"Semua sudah terjadi, Sasha tidak menyalah kan siapa pun," ucap Alexa menengkan Hendry.
"Baiklah papa bisa tenang sekarang, terlebih urusan perusahan. Semua papa serahkan pada kalian. Papa lihat Alexa juga sangat baik dalam mengolah perusahan," ucap Hendry.
Percakapan panjang Hendry, Ken dan Alexa berlalu hingga, Amelia keluar dari dapur.
"Ayo makan dulu, mama sudah buatkan makanan special untuk Alexa," ucap Amelia kemudian menggandeng tangan Alexa memuju ke ruangan makan.
Bermacam jenis makanan sudah tersaji diatas meja.
"Bukannya ini berlebihan ma? Kiata hanya bertiga tapi mama masak untuk orang se RT," protes Ken melihat meja yang isinya penuh makanan.
"Ayo makan, mama khusus masakkan ini untuk menantu mama. Mama takut kalau dia nggak suka beberapa menu, kan ada oikihan lainnya," ucap Amelia.
"Terimakasih tante," ucap Alexa ketika disodorkan piring oleh Amelia.
"Ehh, kok tante? Mama dong," ucap Amelia.
Ken menarik kursinya mendekati Alexa. Dengan meja makan yang lumayan besar dengan isi empat kursi tentu membuat jarak mereka sedikit renggang.
Ken memilih menu kesukaan Alexa ke dalam piring Alexa.
"Nih sayang, makan yang banyak." Ken terus menambah lauk ke piringnya.
"Sudah, jangan kebanyakan atau aku bisa gendut. Aku sedang diet," ucap Alexa.
"Diet, sejak kapan kamu belajar diet?" ejek Ken.
Sejak melahirkan anakmu, Ken masih belum tau kehadiran mereka. Aku belum sempat memberitahukannya.
"Sekarang aku makan dikit bisa langsung gendut, bahkan mencium aroma makanan berat badanku naik sekilo." ucap Alexa.
Ken menatap keseriusan diwajah Alexa. "Kamu serius?" tanya Ken.
Alexa mengangguk sambil mulai mengunyah makanan dihadapannya.
"Sudah hari ini kamu nggak usah diet dulu," ucap Ken sambil mengupas kulit udang buat Alexa.
Papa dan mama menatap tingkah Ken bagitu menyayangi istrinya.
"Papa nggak makan nasi?" tanya Alexa begitu melihat menu dipiring Hendry.
"Papa masih diet gula dan kolesterol. Dalam beberapa hari ke depan papa masih harus ke Singapore untuk check up lagi," jelas Hendry.
"Mungkin kami akan berangkat besok sesuai jadwal, sakit papa mu harus terus dalam pantauan dokter," terang Amelia.
"Sore nanti papa akan kerumah mu bertemu mama dan papamu," ucap Hendry.
"Sore ini? Apa nggak terlalu buru buru?" kata Alexa.
"Ya papa takutnya nggak akan sempat lagi bertemu mereka, sewaktu waktu sakit papa bisa aja kambuh lagi. Jadi kalau bisa pergi sore ini kenapa harus ditunda?" jelas Hendry.
Alexa juag Ken terdiam mendengar keputusan papanya.
"Kalian sudah menikah, tapi papa belum melamar Alexa secara resmi buat kamu. Kita akan adakan resepsi secepat mungkin," jelas Hendry.
"Tapi Ken masih ada urusan," ucap Ken.
"Urusan apa yang lebih penting? Jika kalian terus bersama, Alexa keburu hamil dan pernikahan kalian akan terus tertunda untuk waktu yang lama," jelas Hendry.
"Kita buat pesta kecilan dan undang beberapa kerabat kita aja. Jadi begitu mama dan papa balik dari Singapore acaranya bisa langsung diadakan. Gimana menurut kamu Sha?" kata Amelia.
"Sasha terserah Ken aja ma," ucap Alexa.
"Ya sudah, selesai makan kita bisa langsung siap siap ke rumah besan kita, mama bisa ke supermarket untuk beli sesuatu yang bisa dibawa kesana." ucap Hendry.
Percakapan ditengah makan siang itu begitu panjang, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
Ken membawa Alexa berkeliling sekitar rumah orangtuanya.
Rumah yang terlihat kecil dari depan itu ternyata memiliki halaman yang luas dibagian belakang rumah. Berbagai macam tanaman tumbuh disana, membuat Alexa teringat akan rumah omanya dibogor.
"Sayang aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Alexa.
"Ya apa itu," tanya Ken.
"Saat kamu nggak ada, ternyata saat itu aku sedang ha,.." ucapan Alexa terpotong.
"Nak ayo kalian temani mama beli buah," teriak Amelia tak jauh dari kursi taman yang diduduki Alexa dan Ken.
"Emang sopir mama kemana?" tanya Ken.
"Pak Dito hari ini ijin, anaknya sakit," jelas Amelia.
"Ya udah ayo kita temani mama," ajak Alexa.
-----
Menjelang sore hari Ken bersama kedua orangtuanya sudah menuju rumah Alexa dipinggiran Jakarta.
"Kamu kok beli rumah jauh dari kota sih sayang?" tanya Ken.
"Udara disini masih sejuk, kurang dari polusi dan sangat sehat untuk kesehatan," jawab Alexa.
"Yah bagus juga sih, istriku emang pinter," ucap Ken sambil mengusap kepala istrinya.
"Sasha sudah beritahu ibu kita akan datang?" tanya Amelia.
"Sudah ma," jawab Alexa singkat.
Memasuki jalanan kecil dimana terdapat portal pos sekuriti, Alexa menunjuk rumah berpagar tinggi yang berada diujung jalan.
Begitu tiba didepan rumah Alexa, pintu gerbangnya sudah terbuka lebar. Mobil Ken langsung masuk ke parkiran rumah berwarna putih itu.
Alexa membantu Ken mengangkat beberapa kotak dari dalam bagasi mobil ke dalam rumah, sedangkan Amelia mendorong masuk suaminya dari kursi roda.
Ratih dan Bond sudah berdiri diruangan tengah menyambut orang tua Ken.
Ratih memeluk Ken sambil menangis.
"Akhirnya kamu pulang nak, ibu begitu senang begitu ditelpon Sasha tadi. Ibu pikir anak ibu mulai berhalusinasi lagi," ucap Ratih sambil menangis.
"Maaf bu, sudah membuat ibu khawatir selama ini. Bukan Ken sengaja pergi. Tapi saat itu Ken mengalami musibah," jelas Ken.
"Kami juga bersalah, jika kami tak membuat pengumuman pertunangan Ken, mungkin semua ini gak akan terjadi," ucap Hendry.
"Bukan salah siapa siapa, malam itu Sasha meninggalkan acara karena oma meninggal, bukan karena masalah pengumuman itu kok," sela Alexa.
"Mari bu, silahkan duduk," ucap Ratih pada Amelia.
"Terimakasih."
Amelia duduk disamping Ratih sedangkan Alexa dan Ken duduk tak jauh dari Mr Bond dan Hendry.
"Sayang, ini papa." Alexa
"Pa," Ken salim ke papa.
"Sayang, ada yang ingin bertemu dengan mu," bisik Alexa ditelinga Ken.
"Hmm siapa?" tanya Ken.
"Bu, Cho dan Owie mana?" tanya Alexa.
"Tadi Rani sedang mandikan mereka, sebentar lagi mereka pasti turun kesini," jawab Ratih.
"Sebentar aku bawa anak anak ke sini," pamit Alexa ditelinga Ken.
"Anak?" tanya Ken
"Ya, mereka sudah lama menunggu mu," jawab Alexa.
Alexa menuju kamar anak anak nya dimana mereka sedang berpakaian.
"Momie," sapa Chocho dan Snowie bersamaan.
"Sayang, dibawah ada daddy kalian. Kalau sudah cantik dan ganteng ayok kita turun bareng," ajak Alexa.
"Tante Rani sudah membelikan kami bunga sebagai hadiah untuk daddy, Snowie bunga pink yang cantik ini mom," ujar Snowie sambil memegang buket bunga indah yang diambilnya dari nakas.
"Chocho bunga berwarna putih," ucap Chocho tak mau kalah.
"Makasih Ran, sudah membantu mereka," kata Alexa pada Rani yang masih sibuk menyisir rambut anak anaknya.
"Sha, aku senang kok bersama mereka. Kamu nggak usah makasih makasih segala lah," kata Rani.
"Ayok anak anak sudah siap." tukas Rani setelah kedua bocah itu rapih.
"Mom, Cho mau berikan papa hadiah satu lagi ya," ujar Cocho.
"Hadiah apa lagi sayang," tanya Alexa.
Chocho berlari ke arah kotak mainannya mengambil sebuah pesawat mainan kesukaannya.
"Cocho mau berikan ini buat daddy." Chocho kemudian berlari kembali ke arah pintu dengan mimik muka yang begitu gembira.
"Dibawa ada oma dan opa juga, jangan lupa salim dan besikaplah yang sopan. Jadilah anak anak mommy yang baik, ok?" Ucap Alexa pada anak anak nya sebelum keluar dari pintu kamar.
Rona gembira terpancar dari wajah kedua bocah itu, akhirnya yang selama ini mereka nanti nantika datang.
Bersambung...