
Senin pagi...
Alexa keluar menuju taman belakang rumhanya dimana bunga bunga oma Anna tumbuh subur.
Dengan setelan kostum senam Alexa meregangkan otot otot tangan dan kakinya sebagai pemanasan. Dua orang pekerja kebun yang disewa bu Ratih setelah kepergian oma Anna sudah mulai sibuk beraktifitas disekitar taman.
Alexa tak peduli dengan lalu lalang kedua tukang kebun itu, malahan Alexa sengaja berdiri dibawah terik sinar matahari pagi kemudian mengerak gerakkan badannya mengikuti irama lagu pada head set yang menggantung ditelinganya.
"Wah ada angin apa ini," tanya bu Ratih pada bik Asih yang ikut menonton Alexa dari jendela dapur.
"Non terlihat begitu bersemangat," ucap bik Asih.
"Apa dia sudah minum habis susunya?" tanya bu Ratih.
"Sudah bu, bahkan non sudah menghabis kan satu mangkok sop ayam," ucap bik Asih.
"Jadi pagi ini kita makan sop ayam lagi? Aku sudah hampir mual disuguhkan sop ayam setiap hari," kata bu Ratih protes.
"Barusan tadi aku goreng ayam tepung, aroma nya tidak terlalu mencolok jadi non gak tau," ucap bik Asih.
"Oh ya? Berikan aku sepotong bik, mumpung Sasha lagi diluar. Aku bisa memakannya sekarang, aku kangen makanan yang garing," kata bu Ratih penuh semangat.
Setelah lebih dari 30 menit melakukan senam ringan, keringat mulai membasahi seluruh tubuh Alexa. Wajahnya terlihat merah dan merona setelah terpapar sinar matahari pagi itu, bu Ratih sesekali berteriak memanggilnya dari teras dapur.
"Sha, udahan senam nya. Jangan capek dulu nak,"
panggil bu Ratih berulang ulang.
"Bu, mana dia dengar. Itu ada lagu yang menempel ditelinganya," ucap bik Asih.
"Oh iya, jelas dia nggak dengar." Bu Ratih berjalan keluar menghampiri Alexa.
"Nak sudah cukup." Alexa terlihat melepas head set yang menggantung ditelinganya. "Udahan dulu senamnya, ingat kata dokter. Hamil anak kembar beda dengan anak 1 didalam perut. Kamu harus lebih banyak istirahat, sudah hampir sejam kamu disini," saran bu Ratih.
"Iya bu maaf, Sasha keasikan." Alexa berjalan masuk berbarengan dengan ibu nya ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.
Setelah selesai membasuh tubuhnya dari penat dan keringat Alexa menuju ke laptop yang sedari semalam telah menyala.
Seharusnya pesan lisa sudah masuk saat ini.
Alexa membaca dua pesan yang masuk dari Lisa.
Demi mencuri email nya aku sampai tidur diapertemen Steve semalam.
Ini email nya. Steve_PH@ya***.**m
Alexa segera menuju laptop nya setelah mengetik beberapa patah kata terimakasih untuk Lisa.
Jari jemari Alexa mulai asik menari nari lincah dia atas key board laptop, bukan hanya sekedar berselancar dipermukaan. Alexa mulai menyelam kedalam system masuk email Steve tanpa perlu menggunakan password.
Alexa menelaah satu persatu setiap kotak masuk dan keluar sejak sebulan terakhir, kemudian mendapati email atas nama Hendry Husada, email yang selalu menginstruksi kegiatan kantor saat ini.
Benar benar tak ada satu pun email Ken yang masuk. Email Ken sudah sebulan tak pernah aktiv.
Alexa mulai mengetik email Hendry.H@Y***o.c*m pada keyword laptopnya.
Beberapa informasi penting didapatnya disana. Info pembayaran biaya pengobatan dan berbagai macam resep dari Rumah Sakit Mount Elisabeth di singapore.
Siapa yang sakit?
Alexa terus berusaha mencari setiap hal yang mengganjal dalam benak nya.
Siapa yang sakit? Sakit apa? Apa kegiatan pak Hendry, dan siapa saja yang pernah dihubunginya.
Setiap hal terjawab saat itu juga, Alexa mulai mendapat titik terang dari
Pak Hendry yang sakit, dan sakit nya stroke. Jika keadaan pak hendry lumpuh apakah tante Amel yang memonitor perusahan mengatas nama kan pak Hendry? Tapi kemana Ken?
No telpon pak Hendry yang terdaftar di no ini sudah tidak pernah aktif. Sedikit pun tidak ada jejak yang mengarah ke Ken saat ini.
Alexa menelusuri data pribadi tante Amel menelusuri riwayat pendidikannya.
Pikiran Alexa semakin kalut setelah mendapati fakta bahwa suaminya seperti menghilang.
Aku akan terus mencarinya. Pasti sudah terjadi sesuatu dengannya...
"Sha," suara bu Ratih memanggil membuat Alexa terkejut. Matanya langsung menatap jam di pojok laptop nya.
"Sha, kamu gak makan? Ini sudah hampir jam dua." Bu Ratih sudah berada didepan pintu dengan semangkok sop ayam ditangan nya.
"Oh iya bu, maaf. Lagian Sasha bisa kok ambil makan sendiri, ibu nggak usah repot mengurus Sasha," ucap Alexa menyambut makanan yang ada di tangan bu Ratih.
"Udah buruan dimakan, jangan menunda nunda lapar. Ingat kamu akan jadi seorang ibu, bagaimana kamu akan mengurus anak anak mu jika diri sendiri saja tidak bisa kamu urus," ucap bu Ratih mengingatkan Alexa.
"Iya bu," jawab Alexa kemudian menghabiskan semangkok sop dihadapannya itu.
"Bagaimana ibu bisa tenang meninggalkan kamu? Jika seperti ini bisa bisa cucu cucu ibu akan kelaparan selama diperut kamu," celoteh bu Ratih.
Alexa menatap ibunya, langsung terpikirkan dalam benaknya sebelum omanya meninggal ibu sudah berencana balik ke London. Sudah hampir lima bulan ibunya berada di Indonesia.
"Apakah ibu akan kembali dalam waktu dekat ini?" tanya Alexa.
"Mungkin, suami ibu disana. Urusan aset nya masih terkendala beberapa hal, dan dia masih harus mengurus pengalihan kewarga negaraannya. Ibu bingung yang disana dan disini, alangkah baiknya jika kamu mau ikut ibu pulang London," kata bu Ratih panjang lebar.
"Sasha maklum dengan ibu. Tapi sekarang Sasha masih harus mencari Ken. Sasha sudah berusaha mencarinya namun masih belum menemukan jejaknya. Tadi Sasha sudah mencari beberapa orang detektif swasta untuk terus mencarinya, jadi..," jelas Alexa panjang lebar.
"Padahal papa kamu sangat berharap untuk kamu ikut ibu, papa akan mengalihkan aset ayah frank ke atas nama kamu," ucap bu Ratih.
"Hmm, ibu bisa duluan balik. Sasha akan menyusul ibu jika sudah ada titik terang keberadaan Ken," kata Alexa.
"Gimana ibu bisa tenang nak, kamu sedang hamil dan lihat lah, barusan kamu makan jam berapa?" kata bu Ratih cemas.
"Iya bu maaf, Sasha janji mulai saat ini Sasha akan makan tepat waktu, minum susu dan vitamin dengan rutin dan tepat waktu, lagipula kan ada bik Asih yang akan mengingat kan Sasha setiap hari,"
Bu Ratih berpikir sejenak, walaupun bik Asih bisa diandalkan namun akan lebih baik jika dirinya sendiri yang mengawasi Alexa.
"Ya, ibu akan memikirkan kembali gimana baiknya. Ibu jadi pulang atau nggak kita lihat besok aja. Jika jadi besok ibu akan langsung booking ticket untuk minggu depan," kata Bu Ratih.
Hingga menjelang malam harinya Alexa masih sibuk didepan laptop, tidak keluar sedikitpun dari dalam kamar.
Lagi lagi bu Ratih harus memanggilnya keluar untuk makan.
"Sha, udah jam 7 nih, ayo makan," teriak bu Ratih.
"Iya bu," jawab Alexa.
"Nona Sasha lagi bikin apa si bu, beberapa hari ini dia penuh semangat, setelah sebulan tidak ngapain ngapain," ucap bik Asih.
"Dia sudah memilik kembali semangat hidupnya bik, mungkin dia juga akan.." suara bu Ratih terhenti begitu mang Kasim berdiri dibelakangnya.
"Bu, ada 3 orang pria yang ingin bertemu non Alexa," kata mang Kasim.
"Hah, siapa?" Bu Ratih kemudian masuk ke kamar anaknya sambil mendumel pelan. "Sebernya apa yang dikerjakan anak ini, seharian dikamar tiba tiba ada orang asing yang datang," ucap bu Ratih.
"Sha siapa pria pria diluar itu? Ada urusan apa dengan kamu?" bu Ratih bertanya penasaran.
"Hah mereka sudah datang? Aku keluar sekarang," kata Alexa segera keluar dari pintu.
"Shaa, kamu.. Bertemu sembarangan dengan orang asing, gimana jika mereka berniat buruk," Bu ratih mencoba menahan Alexa.
Bu Ratih mengikuti dibelakang Alexa kemudian berdiri dibalik pintu mendengarkan percakapan Alexa dan ketiga orang pria itu.
Jadi anak ku menyewa detektif swasta untuk menemukan nak Ken.
Ibu doakan semoga kamu segera dapat menemukan suamimu nak, ibu juga merasa ada yang mengganjal dengan menghilangnya nak Ken.
Jika sudah begini ibu gak bisa memaksa mu kembali ke London, dan berharap kamu kembali mendapatkan kebahagiaan mu.
Bersambung...