Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
My Daughter



Sementara itu dikota Bogor.


Alexa dimana dirimu nak?


Sudah hampir dua bulan Alexa menghilang, rasa cemas dan gelisah selalu menghampiri Nuratih Rahma nama lengkap dari tante Ratih.


Tak segan segan setiap hari dirinya akan menghubungi Ken hanya untuk bertanya kabar terkini soal Alexa.


Telepon genggam yang sudah berada dalam genggamannya sudah siap untuk menelpon Ken pagi itu.


Tuuutt tuut tuuut


Setelah beberapa detik terdengar, suara Ken dari telpon genggamnya.


"Pagi Tante," sapa Ken.


"Pagi nak Ken."


"Gimana kabar tante? Tanya Ken.


"Tante baik. Kamu?" Tanya tante Ratih.


"Aku juga baik,"


"Oh ya, Tante beberapa anak buah sudah saya kerahkan ke Bandung, mereka mendapat jejaknya disana." Kata Ken dengan nada senang dan penuh semangat.


"Oh ya?" Tante Ratih ikut senang.


"Tapi Tante semoga dirinya adalah Alexa yang kita cari." Jelas Ken.


"Nak Ken bisa kita ketemu siang nanti, biar nggak membahas masalah ini di telpon."


"Tentu bisa," Ken berhenti sejenak bicara.


"Tante kita ketemu dan makan siang di restaurant La Mensa Italian Food di samping perusahan." Lanjut Ken.


"Baiklah." Kata tante Ratih setuju.


"Maaf tante, Ken belum bisa jemput tante. Jam sebelas nanti Ken masih ada meeting. Jika tante bersedia, asisten saya akan menjemput tante." Kata Ken.


"Jangan nak, tante ada sopir yang mengantar. Malah tante merasa sudah merepotkan kamu di jam sibukmu." Kata Tante Ratih.


"Ahh enggak apa apa," jawab Ken.


"Baik lah sampai nanti siang ya tante. Ken ada tamu sekarang" Lanjut Ken kemudian memutus telponnya


Siang harinya tante Ratih sudah lebih dahulu berada di restaurant La Mensa.


Tante Ratih memesan segelas kopi latte sambil menunggu Ken.


Selang 40 menit Ken sudah berada di hadapan tante Ratih.


"Siang Tante," sapa Ken sambil menarik sebuah kursi kemudian duduk.


"Tante belum pesan makan?" Tanya Ken kemudian.


"Sudah pesan, tante pesan spagheti. Nak Ken silahkan pesan makan." Tante Ratih.


Ken memesan spagheti seperti yang dipesan tante Ratih.


Beberapa saat setelah makan Ken mulai mengangkat suara.


"Tante besok pagi aku akan ke Bandung." Kata Ken.


"Oh ya, emang kamu yakin itu Alexa?" Tanya tante Ratih.


"Aku belum yakin, karyawanku baru mendeteksi semalam nama Alexa Corrina terdaftar disebuah rumah sakit di Bandung," kata Ken sembari meneguk air yang ada digelasnya.


"Daftar nama Alexa dirawat adalah tanggal tiga kemarin. Artinya dia sekarang sudah keluar dari rumah sakit itu. Aku yakin dia pasti tinggal disekitar situ." Kata Ken lagi.


Tante Ratih terlihat cemas, sambil jari jemarinya dimain mainkan satu sama lain, mimik muka tante Ratih tidak tenang.


"Tante, apa dimana nama rumah sakitnya?" Tante Ratih bertanya dengan kikuk.


"Dirumah sakit Cimenyan tante." Jawab Ken.


Seperti yang sudah terbesit dalam pikiran ku beberapa hari ini. Dia berada disana.. Pikir tante Ratih.


"Kenapa, apa tante tau tempat itu?" Tanya Ken.


Tante Ratih mengangguk, perasaan letih tersirat dalam tatapan matanya.


"Apa Alexa ke sana mencari diriku?" Nada bicara pelan itu terdengar jelas ditelinga Ken.


"Tante, apa tante baik baik saja?" Tanya Ken.


"Nak Ken, sepertinya ini saat nya tante harus bicara jujur dengan mu."


Wajah yang tadinya letih kini bercampur rasa takut yang aman sangat dalam.


"Ya tante, ada apa?" Tanya Ken penasaran.


Tante Ratih terdiam.


Jika memang Alexa pergi ke sana mencari diriku, itu artinya ingatan nya sudah pulih, sekarang lah saatnya aku memberitahu nya..


Ken sudah seperti keluarga, jika dia tau pasti dia akan lebih mudah mencari Alexa.


Ucapan lirih itu akhirnya keluar juga.


Pengakuan bahwa dirinya adalah seorang ibu akhirnya tercapai, dirinya masih tak tau apakah dirinya pantas disebut seorang ibu.


"Tante..! Tante serius?"


Tante Ratih mengangguk


"Jika Alexa tau hal ini dia pasti akan merasa senang." Ucap Ken


Ken dengan mimik amazing seolah telah menemukan sesuatu yang berharga, berbanding terbalik dengan wajah tante Ratih yang menjadi sangat murung.


"Loh tant...," suara Ken terhenti.


Mata tante Ratih berat, seperti menahan berat genangan air di pelupuk mata yang perlahan menetes jatuh di pipinya.


"Maaf Ken tidak tau harus bagaimana, apa yang sebenarnya membuat tante sesedih ini. Besok Ken janji akan mencari Alexa dan gak akan kembali sebelum menemukannya." Ucap Ken penuh iba.


Tante Ratih berusaha menenangkan dirinya kemudian mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Jika Alexa sekarang berada di Cimenyan itu artinya ingatan nya sudah pulih. Jika dia ke sana itu artinya dia pergi mencari tante." Kata Ratih yang sudah agak tenang.


"Delapan belas tahun yang lalu tante kehilangan Alexa, tante baru menemukannya setela dia duduk dibangku SMA." Jelas tante Ratih.


"Kenapa tante tidak memberitahunya jika tante adalah ibunya?" Tanya Ken.


"Tante hanya nggak ingin melukai hatinya. Tante hanya selalu berusaha agar Alexa bisa melupakan tante, agar alexa bisa melupakan masa lalunya." Kata tante Ratih


Ken berpikir dan menyelami fakta yang baru saja dia dengar.


Masa lalu itu pasti bukan sebuah hal yang menggembirakan sehingga tante Ratih mengambil keputusan seperti itu. Pikir Ken.


"Tante bisa tenang sekarang, aku akan segera membawa Alexa kembali ke sini. Tante tau kalau aku sangat mencintai anak tante, aku pasti akan menemukannya segera." Kata Ken menenangkan tante Ratih.


"Tante akan ikut nak Ken ke sana." Kata tante Ratih.


"Jangan, sebaiknya tante istirahat. Kejadian ini pasti banyak menguras emosi tante, biar Ken kesana mencari Alexa." Jelas Ken.


"Tante sudah menjual rumah itu, alamat nya adalah jalan Pahlawan no 1. Simpang tiga pertama. Rumah nya Pas disudut." Tante Ratih.


"Jadi itu sekarang adalah rumah orang lain." Kata Ken.


"Tante nggak sudi melihat rumah dimana suamiku dibunuh. Aku dan sisi diperkosa..." Tante Ratih kembali terisak. Tangan nya bergetar hebat mengingat kembali kejadian itu.


"Tante, shhhh. Tante tenang, menangis berlebihan malah bisa membuat tante sakit." Kata Ken.


Tante Ratih mengangguk.


"Ya aku harus tenang, Alexa nggak boleh melihat aku sedih. Dia pasti akan ikut menangis." Ucap Tante Ratih.


Alexa lah alasan aku hidup hingga kini, aku nggak boleh menyia nyiakan kepediahan ini mempengaruhi hidup kami. Pikir tante Ratih.


Siang itu Ken mengantar tante Ratih menuju mobil, mang Kasim yang sudah menunggu di depan pintu mobil mempersilahkan tante Ratih masuk kemudian berlalu dari tempat itu.


Ken masih berdiri menatap mobil HRV biru itu melaju makin menjauh, bermacam pikiran muncul dalam benaknya.


Ya Tuhan segitu dalam nya luka yang dialami mereka, ayah nya dibunuh?


Honey, jika kamu tidak kembali ke sini maka aku akan kesana menjemputmu.


Ken kembali ke kantor merampungkan beberapa pekerjaan nya dan menitip beberapa pekerjaan baru ke Steve dan Gugun.


Saat itu Ken melakukan meeting bersama Gugun Steve dan Lisa. Tugas sekertaris Gugun di pindahkan ke Lisa, tugas dirinya diserahkan ke Gugun. Sedangkan Steve terus memantau perkembangan dilantai 21 sambil menjadi mesin pencari Alexa.


Shanen dipercayakan membenahi ruangan dan membereskan file file penting yang ada diruangannya.


Setelah selesai meeting, Lisa, Steve, Gugun dan Shanen berbincang diruangan Steve.


"Bos mau kemana sih?" Tanya Lisa.


"Semalam Alexa sudah ditemukan. Sekarang dia lagi berada di Bandung. Mungkin boss akan kesana menjemput Alexa." Kata Gugun.


"Ya sebaik nya bos menjemput Alexa segera, jika tidak, satu kantor akan dijadikan tempat luapan amarah." Kata Lisa.


"Haha,, sekarang kira sudah punya pembagian tugas masing masing. Sebaiknya aku mulai kerjakan sekarang. Supaya bisa cepat pulang." Kaya Shanen.


"Lo mau bersihkan ruangan boss sendiri ya? Kuncinya?" Lisa mengayun ngayunkan kunci pada jari telunjuknya.


Shanen menatap Lisa dengan sebuah kunci ditangannya.


"Haa,jadi tugas gue adalah tugas seistimewah itu?" Senyum bahagia terpancar diwajah Shanen.


"Ya, jadi kamu adalah karyawan pertama yang masuk ke ruangnya." Kata Steve.


"Dia Baru nyadar setelah 1 tahun." Kata gugun sambil tertawa kecil menatap ke arah Shanen.


"Dan gue adalah karyawan pertama yang kerja bareng boss dilantai 23." Wajah Lisa penuh binar.


"Ishhh" Kata Shanen ke arah Gugun.


Keempat Insan yang sedari tadi hanya bergosip langsung keluar dari ruangan Steve, tugas mereka semakin bertambah dan semakin berat. Itu artinya bukan waktunya lagi untuk berleye leye seperti biasa.


Sore itu setelah pulang kantor Ken langsung berkendara menuju Bandung.


Bersambung...