Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
The Promised that We Made



Pagi hari diruangan VVIP rumah sakit tempat oma Anna dirawat, Gugun dan dua orang wanita sedang menyiapkan ruangan beserta meja buat akad nikah sederhana Ken dan Alexa.


"Buruan di pasang karpetnya, sebentar lagi penghulu akan segera tiba disini," kata Gugun memerintahkan kedua anak buah nya agar bergegas sambil melirik arloji ditangannya yang menunjukan hampir pukul sembilan.


"Siap pak," jawab seorang pendekorasi ruangan.


Seorang dokter dan beberapa perawat sedang menyiapkan Oma Anna naik ke kursi roda tanpa mengganggu selang infus yang masih menempel ditangan oma Anna.


"Wah, ma.. wajah mama seger banget sudah bisa duduk," ucap bu Ratih yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Mana Alexa?" tanya oma Anna.


"Setelah dari salon dia akan langsung ke sini," ucap bu Ratih.


"Akhirnya mama bisa melihat cucu mama menikah," ucap oma Anna dengan suara bergetar pelan. "Mereka menikah dalam kesederhanaan seperti ini hanya untuk mama," sedih dan haru mimik oma Anna.


"Ma, ini hanya akad nikah. Mereka akan melangsungkan resepsinya sebulan lagi. Makanya mama segera sembuh agar bisa menghadiri resepsi pernikahan cucu mama," kata bu Ratih menyemangati oma Anna.


"Sebelum mama meninggal, mama ingin menimang seorang cicit," ucap oma Anna.


"Iya mama pasti akan segera menimang cicit yang ganteng ganteng dan cantik cantik," jawab bu Ratih.


"Ayuk ma kita keluar," ucap bu Ratih setelah merapihkan sedikit riasan diwajahnya pada sebuah cermin compact di tangannya.


"Mana Sasha dan Ken? " tanya oma Anna.


"Itu mereka sudah didepan," jawab bu Ratih.


Beberapa saat kemudian Alexa memasuki ruangan oma Anna menyusul Ken dibelakangnya.


"Pagi Oma, wah oma ku cantik sekali hari ini," sapa Alexa setelah melihat setelan kebaya simpel yang dikenakan oma Anna.


Alexa memeluk ringan oma Anna yang tubuhnya masih menempel beberapa selang dan oksigen dihidungnya.


"Oma bahagia sekali hari ini, kalian memberikan oma kesempatan menghadiri hari bahagia kalian, sekarang oma bisa tenang," ucap oma Anna dengan suara serak menahan tangis.


"Loh oma kok malah sedih, senyum dong. Malah Sasha yang seharusnya bahagia walau dalam kondisi sakit oma masih bisa menjadi saksi dihari yang sangat penting ini," ucap Alexa kemudian mulai mendorong oma Anna dengan kursi roda menuju ruang depan yang telah dihias sederhana.


Beberapa saksi dan wali serta penghulu sudah berada diruangan itu, permadani cantik serta sebuah meja yang sudah dilengkapi beberapa kertas diatas nya serta sebuah Alquran dan beberapa kotak telah tersedia diatas meja.


"Apa masih ada yang ditunggu? Jika semua sudah berkumpul disini sebaiknya kita segera memulai akadnya," ucap penghulu yang sudah mengambil posisi dimeja pendek bersama dua orang saksi dari pihak keluarga Alexa.


Beberapa saat suasana begitu tenang dan syahdu, Alexa yang mengenakan kebaya berwarna putih dipadankan dengan sanggul sederhana serta riasan minimalis diwajah nya tak mengurangi sedikit pun aura cantik dengan rona bahagia diwajahnya.


Alexa melangkah mendekati Ken yang sudah siap dihadapan penghulu. Bu Ratih menutup kepala kedua mempelai dengan seutas selendang berwarna putih, pertanda ijab kabul akan segera diucapkan.


Debar dan gugup menghampiri Alexa, namun dirinya sadar pria disamping yang akan menjadi suaminya adalah Ken. Pria pertama yang dicintainya dan akan menjadi pria terakhir yang akan selalu menjadi labuhan cintanya.


Beberapa patah kata satu persatu mulai terucap dari mulut pak penghulu, waktu terasa begitu lambat untuk dirinya. Hati nya menguak haru ketika suara Ken lantang terdengar.


"Saya terima nikahnya Alexa Corrina binti Frank Carter dengan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jabat tangan Ken dengan beberapa orang saksi yang ikut mengatakan sah, menyadarkan Alexa.


Aku sudah resmi menjadi istri Ken, aku berjanji akan selalu menjadi istri terbaik nya dalam suka mau pun duka, dalam sehat maupun sakit.


Ken Menatap ke arah Alexa yang sedang mencium punggung tangan nya.


"Aku nggak pernah gugup dalam melakukan bisnis besar perusahan, aku tak pernah canggung dalam melobby rekan bisnis. Hari dimana aku melakukan ikrar dengan kamu adalah hari yang paling gugup dalam hidupku, aku hampir tak bisa bernafas tapi setelah sadar kamu sekarang adalah istriku, aku merasa gugup ini nggak sia sia," ucap Ken ke arah Alexa yang disertai senyuman.


Alexa menatap Ken atas ucapannya barusan.


Apa rasa bahagianya membuatnya berkata kata diluar kendalinya. Pikir Alexa disertai suara tawa pelan oma Anna.


"Haha, cucu oma sekarang sudah dua apakah kalian masih akan tatap tatapan seperti itu? Kalian bisa sungkeman sekarang haha," ucap oma Anna senang.


Tawa kecil beberapa orang disitu jelas terdengar ditelinga Alexa.


Dirinya merasakan tangannya digenggam erat oleh Ken, mereka beranjak mendekati bu Ratih yang duduk tak jauh dari keduanya.


Alexa menatap ke wajah ibunya yang ternyata telah memerah akibat tangisan.


"Bu, kok malah sedih begitu?"


Bu Ratih memeluk Alexa erat, kemudian bu Ratih memeluk Ken.


"Terimakasih bu, sudah mempercayakan anak ibu kepadaku," ucap Ken.


"Ibu tau kamu adalah orang yang tepat yang bisa membahagiakan anak ibu," ucap bu Ratih.


"Ibu selalu mendoakan semoga kalian selalu bahagia didunia dan akhirat serta kesuksesan selalu mengikuti langkah kalian dimanapun kalian berada," ucap bu Ratih lagi.


Alexa dan Ken mendekati oma Anna yang tersenyum begitu ceria, wajah yang tadinya pucat terlihat merona berseri.


"Oma terimakasih," ucap Ken sambil mencium tangan oma Anna.


"Loh terimakasih buat apa?" tanya Oma.


"Ken pikir momen utang janji Ken kepada oma membuat Alexa menerima lamaranku kemaren," ucap Ken tak kalah gembira dari oma Anna.


"Ohhh, hahaa. Jadi sekarang kamu punya utang lagi sama oma," kata oma Anna sambil memajukan badannya ke telinga Ken. "Kamu harus segera berikan oma cicit," bisik oma Anna.


"Ohh beres, itu hal mudah," ucap Ken girang.


"Apa aku nggak dianggap disini?" kata Alexa pelan menyaksikan kebahagiaan Ken dan oma dihadapannya.


"Udah oma sudah merestui hubungan kalian dan akan selalu mendoakan yang terbaik buat rumah tangga kalian. sekarang giliran sungkeman ke paman paman itu, mereka sepupu ibu mu." Oma Anna menunjuk ke dua orang pria yang lagi ngobrol dengan penghulu.


Satu jam berlalu, acara telah rampung. Perawat yang terus berdiri disamping oma Anna, membawa oma Anna kembali ke kamarnya.


Sedangkan Ken dan Alexa masih bercengkrama dengan bu Ratih dan Gugun.


"Kalian nggak langsung ke kantor? Bukannya besok malam perayaan ulang tahun perusahan, seharus nya sekarang kalian sangat sibuk," ucap bu Ratih.


"Ya aku dan Gugun akan langsung balik kantor, Sasha terserah mau disini dulu atau ikut kami juga boleh," ucap Ken.


"Boss, dimobil penuh barang dekorasi, aku belum sempat mengantarnya tadi," ucap Gugun.


"Ya udah, sekarang kalian ke kantor pakai mobil oma dulu, mang kasim temani aku mengantar barang sekaligus aku harus mengambil beberapa barangku yang tertinggal disalon tadi pagi, dari salon aku langsung ke kantor," ucap Alexa.


"Oke, makasih sayang," ucap Ken pada Alexa.


"Bu, aku pamit ya," lanjut Ken pada bu Ratih.


"Baik nak hati hati dijalan," ucapa bu Ratih.


Gugun menyerahkan kunci mobil land rover Ken kemudian mengambil kunci mobil HRV dari tangan mang kasim.


"Mang kasim, anter aku ke salon Sunny tadi pagi ya, tas pouch dan hp aku tertinggal disana," ucap Alexa ke mang Kasim setelah berpisah dari Ken diparkiran Rumah sakit.


"Baik non Sasha," ucap mang Kasim.


Akhir akhir ini, setiap orang kembali memanggilku dengan sebutan Sasha. Ibu, oma, bahkan Ken lebih memilih memanggilku Sasha. Semoga ini pertanda baik.. Pikir Alexa.


Disela sela lamunan nya, tatapan Alexa menyaksikan satu persatu mobil yang melintas disamping kirinya. Hingga disebuah lampu merah mata nya tertuju ke sebuah mini van metalik yang ikut berhenti disamping mobilnya.


Mini van itu? Apakah itu mini van yang biasa parkir didepan apartemenku? Apa aku sedang dibuntuti lagi? Plat mobilnya nggak terlihat.


"Mang Kasim lajukan mobilnya," ucap Alexa.


"Baik Non," jawab mang Kasim kemudian menambah kecepatan kendaraan.


Mini van yang tadinya sejajar dengan nya kini tertinggal agak jauh di belakang, mini van tersebut terlihat berusaha mengejar mobil Alexa.


Ya, itu mobil yang sama. Dia bahkan berusaha keras mengejar dibelakang.


---


Sementara dalam kemacetan lalu lintas yang cukup padat siang itu, pria yang mengemudikan mini van silver terlihat berusah mengejar mobil Alexa agar tak menghilang dari pandangan matanya.


Pria asing itu mengambil ponsel di dashboard mobilnya kemudia menelpon seorang wanita.


"Bos, sepertinya target kita sudah tau kalau dia sedang diikuti,"


"Dasar bodoh, bukannya aku sudah mengatakan segera habisi dia begitu ada kesempatan. Kalau sampai dia curiga, dia akan mulai berhati hati, dan kamu akan semakin sulit untuk menyingkir kan dia," suara teriakan dan amarah seorang wanita dari dalam ponsel pria itu.


"Aku beri kamu waktu tiga hari, jika gagal maka aku akan memberikan tugas ini ke orang lain dan kamu hanya akan terima 5% dari uang yang aku janjikan, mengerti?" bentak wanita itu.


"Baik boss, akan segera aku laksanakan,"


jawab pria itu kemudian menutup telponnya.


Bersambung...