Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Interview



Seminggu setelah pelantikan Rani, Alexa mengirimkan lamaran kerjanya ke perusahan GS(Gobel Sonic).


Lamaran sebagai menejer sudah ditunggu Rani di atas meja kerjanya siang itu.


Rencana pemindahan Pak Juan Gobel putra pak Indra Gobel sudah matang dalam benak Rani. Alexa akan menduduki jabatan menejer dan pak Juan akan menjadi wakil direktur Rani.


Amplop Berwarna coklat berisikan lamaran pekerjaan di antarkan pak Rian seorang menejer HRD ke ruangan Rani.


"Pak Rian wanita ini adalah rekomendasi yang bagus buat perusahan, pak Rian dan pak Juan bisa melakukan interview secara langsung. Jika kriterianya tidak sesuai maka bisa dipending," ucap Rani sambil membuka isi dalam amplop coklat itu.


"Baik bu," jawab pak Rian.


Seketika mata Rani terbelalak menatap isi lamaran Akexa saat itu.


What? Jadi karyawan produksi? Apa dia salah tulis?


"Pak Rian bisa kembali ke ruangan bapak sekarang," kata Rani kemudian langsung menghubungi Alexa begitu pak Rian keluar dari ruangan itu.


Rani langsung mendial no ponsel Alexa saat itu juga.


"Sha, lu gak salah tuh posisi dalam surat lamaran kerja mu?" tanya Rani begitu telpon terhubung dengan Alexa.


"Ya Ran, gapapa. Aku sengaja masuk ke posisi karyawan aja. Aki pikir jika sudah jadi menejer tanggung jawab ku semakin besar. Jika hanya ingin kerja beberapa bulang kan gak harus jadi menejer. Jabatan itu bukan untuk digonta ganti seenak gue," ujar Alexa.


"Duh, masa iya kamu jadi karyawan biasa," kata Rani.


"Ya nggak apa apa Ran, aku cuman mau bantu kamu cari kebocoran dana dalam perusahan serta meningkatkan produksi. Aku yakin dalam beberapa bulan kita bisa menjadikan GS layak bersaing dengan beberapa perusahan besar lainnya," Kata Alexa.


"Ya udah, yang penting kamu merasa oke dengan hal itu ya kamu lakukan aja yang menurut mu baik," ucap Rani.


"Kabarin aja kapan interviewnya Ran," ucap Alexa.


"Oke, paling lambat tiga hari dari sekarang," kata Rani.


"Baik lah, ya udah kamu pasti sibuk. Aku tutup dulu Ran, nih si kecil juga lagi makan," ucap Alexa.


"Ok Sha, see you," Rani kemudian mengakhiri panggilan telponnya.


-----


Tiga hari setelah surat lamaran kerja Alexa di antar ke GS, Pagi itu Alexa akan melakukan interview.


Pak Rian, pak Juan dan bu Sintya sudah menunggu diruangan HRD lantai dua perusahan GS.


Alexa dan kelima orang yang akan di interview saat itu dipanggil satu persatu memasuki ruang wawancara.


Alexa yang berada di urutan ke lima saat itu,


"Alexa Corinna," panggil seorang karyawan diruang tunggu.


Alexa melangkahkan kakinya memasuki ruangan luas kosong melompong. Di tuangan itu hanya terdapat sebuah kursi di tengah dan tiga orang juri yang sudah menunggunya.


Padahal ini bukan pertama kali bagi Alexa untuk melakukan wawancara kerjaan, namun suasana tegang tiba tiba menyelimutinya saat duduk dikursi itu.


Sangat berbeda dengan wawancara di perusahan Ken. Disini semuanya bigitu kaku, huftt mereka terlihat seperti ingin memakan ku.


"Siang Alexa," sapa pak Juan saat melihat Alexa duduk dikursi itu.


"Selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya Alexa Corinna," ucap Alexa begitu percaya diri.


Mata para juri tertuju ke lembar demi lembar kertas resume milik Alexa yang ada di hadapan mereka.


"Dari pengalaman kerja, kamu pernah bekerja dipersahan PH dua tahun yang lalu?" tanya bu Sintya.


"Iya Bu," jawab Alexa sopan.


"Mungkin kamu termasuk salah seorang karyawan yang di PHK disana. Padahal kamu dari Oxford. Gimana kinerja kamu hingga keluar dari perusahan itu!?" ucap bu Sintya panjang lebar.


"Dan, kamu vakum selama dua tahun, kenapa sekarang memutuskan bekerja diperusahan ini?" tanya bu Sintya.


"Saya memutuskan berhenti dari perusahan itu karena harus kembali ke London, saya tidak di PHK diperusahan itu, kinerjaku sangat baik. Dan apa salah jika seorang karyawan membawa surat lamaran kerja ke sini?" ucap Alexa kesal. Argumen argumen bu Sintya tak berlogika dan segala kesimpulannya semuanya salah.


"Ya Alexa, posisi yang dibutuhkan kami sangat sesuai dengan posisi yang anda tuju. Dalam beberapa hari kami akan menghubungimu lagi," ucap pak Rian.


Bu Sintya menatap sinis pak Rian yang secara terang terangan telah menerima Alexa.


"Pak Juan, anda belum mengatakan apa pun sejak tadi," ucap pak Rian mengalihkan perhatian.


"Latar belakang pendidikan sangat baik, kenapa harus repot? Alexa kapan kamu bisa mulai bekerja?" tanya pak Juan.


Bu Sintya yang merasa tidak dihargai saat itu langsung meninggalkan ruangan itu.


"Kamu ada dibawah departemen ku, jadi aku yang berhak menerima kamu atau tidak," ucap pak Juan dengan suara besar sengaja memperdengarkan kata katanya ke bu Sintya yang sedang berlalu dari ruangan itu.


"Pak, jadi apa saya sudah diterima?" tanya Alexax


Pak juan mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi kamu bisa mulai berkantor besok, pagi pagi silhkan ke ruanganku untuk menandatangani kontrak kerja," ucap pak Rian.


"Baik lah pak, terimakasih," ucap Alexa senang.


Pak Rian dan bu Sintya terliha seperti berumuran 40 tahun, sendangkan Pak Juan berumur sekitar tiga puluhan awal. Mereka mereka ini lah yang membuat perusahan ini tak pernah maju. Mereka berkerja tanpa peraturan yang jelas.


"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Alexa kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Sha? dimana?" tanya Rani di telpon.


"Ini sudah di lobby Ran, mau pulang. Besok aku sudah mulai kerja," ucap Alexa.


"Aku anter ya?" tanya Rani.


"Gak usah Ran, jangan terlalu mencolok. itu sudah ada taxi didepan." kata Alexa.


"Kamu gapapa ya naik taxi?" tanya Rani lagi.


"Iya gak pa apa. weekend nanti aku sudah mulai belajar mengemudi. Jadi kamu tenang aja," kata Alexa menenangkan.


"Ya udah, kamu hati hati Sha,"


"Ok Bye Ran," ucap Alexa kemudian menutup panggilan telponnya kemudian berjalan keluar menuju ke sebuah taxi yang sedang menunggu didepan perusahan.


"Pak, balik ke rumah lagi," kata Alexa.


Sopir taxi mulai melajukan mobil nya kembali ke rumah.


Aku harus segera mengambil alih PH corp. Perusahan itu milik Ken, suatu saat Ken pasti akan kembali dan bagaimana jika oerusahan nya sudah tidak ada?


Sepanjang perjalanan Alexa terus saja berpikir bagaimana rencana nya agar dapat berjalan dengan baik.


*****


Setelah beberapa bulan Ken dan Gugun dikota kecil coocktown Australia, akhir nya Ken dan Gugun memutus kan kembali melanjutkan perjalanan menuju perbatasan papua. Membutuhkan waktu dua minggu perjalanan buat Ken dan Gugun, untuk tiba di pulau itu. Pulau kecil dengan beberapa penduduk lokal yang menetap disitu dan tentunya pulau itu sudah termasuk dalam wilayah Indonesia.


Melihat Kondisi Ken yang masih mengenakan kursi roda, Ken memutus kan untuk tinggal dipulau itu sementara waktu lagi.


Walaupun kaki dan tangannya sudah bisa digerakkan namun kaki nya masih terlalu lemah untuk menopang berat tubuhnya.


"Ken, gimana jika kita ke merauke? Dikota itu pasti sudah ada dokter fisioterapi. Dari pada di pulau ini, penyembuhan mu pasti akan semakin lama," juar Gugun memberi saran.


"Iya tapi kapal ke sana sangat jarang Gun, sementara belum ada kapal, kita disini dulu," kata Ken.


Ken memang belum berniat untuk kembali ke Jakarta. Rasa minder dan takut akan membuat orang disekitarnya susah membuatnya enggan untuk kembali.


Ken akan kembali setelah dirinya sudah bisa berjalan normal. Dan untuk itu Ken butuh seorang Dokter yang bisa membantunya untuk pulih.


Sebulan kemudian Gugun dan Ken melanjutkan lagi perjalanan menuju Merauke, kota yang terletak dipaling ujung timur pulau papua.


Bersambung...