
Ken berdiri menatap gantungan pakaian yang berjejer rapih dihadapannya. Beberapa setelan telah dipakainya namun akhirnya dibuka dan diletakkan kembali diatas keranjang. Setelah memilah beberapa potong pakaian yang terlihat agak kelonggaran dibadan, Ken menemukan satu pakaian lamanya yang masih menggantung di lemari bajunya.
Begitu keluar dari kamar Ken langsung menuju dapur. Suara mamanya dan bu Darsih asik bercengkrama sambil membuat beberapa hidangan dipagi hari.
"Pagi ma," sapa Ken.
"Pagi nak," Amelia langsung menarik sebuah kursi dimeja makan dan mempersilahkan Ken duduk disitu. "Nih duduk dulu trus sarapan," ucap Amel sambil mengelus pundak anaknya.
"Papa sudah bangun?" tanya Ken.
"Mama biasa mengantarkan sarapan papamu dikamarnya." Amelia bicara sambil sibuk membalikkan telur dadar yang ada diwajan. "Papa mu belum bisa duduk terlalu lama. Jika terlalu dipaksa pinggang nya akan sakit," jelas Amel.
"Kalau sarapan papa sudah siap, sini Ken yang bawakan sarapan papa ke kamar," kata Ken.
"Ya udah kalau gitu kamu makan aja dulu," jawab mamanya.
Ken bergegas memakan sarapan buatan mamanya.
"Nak, hmmmm" panggil Amelia ragu.
"Hmm kenapa ma?" tanya Ken.
"Sebenarnya apa yang sudah Donita lakukan pada mu? mengapa kamu begitu membencinya?" tanya Amelia.
Ken terhenti mengunyah makanan nya, matanya menatap mama nya yang kini sudah duduk dihadapannya.
"Saat ini Ken belum memengang bukti yang kuat ditangan, jika sudah ada bukti mama pasti akan percaya Ken. Dan pasti Ken akan membawa semua bukti kejahatannya langsung ke kantor polisi," ucap Ken tegas. "Bagaimana pun Ken menjelaskan kejahatan Donita, mama nggak akan percaya, karena mama sudah dicuci otak untuk benci dan menyingkirkan Alexa." Ken menatap tajam ke arah mamanya.
"Mama tuh hanya merasa kasihan dengan Donita. Mama merasa bertanggung jawab dengan anak itu, makanya mama peduli" kata Amelia.
"Tapi Donita itu jahat ma!" Bentak Ken." Dia yang mencoba membunuhku malam itu, Donita juga penyebab aku nggak bisa sembuh. Aku selalu diberikan suntikan penenang jadinya aku nggak bisa sembuh dari kelumpuhan waktu itu."
"Ya ya sudah, mama hanya terus kepikiran akan keberadaan Donita sekarang." Amelia berdiri dari kursinya dan mengambil segelas air putih untuk dirinya.
"Kalau mama nggak percaya dengan Ken, apa mama akan percaya Gugun?" tanya Ken.
Amelia kembali duduk di kursi dihadapan Ken.
"Oh ya, mana Gugun sekarang?" tanya Amelia penasaran.
"Gugun lah yang membantuku kabur dari vila itu. Siang itu saat mama pergi ke bandara, lima belas orang anak buah Donita kembali, kami hampir tak ada kesempatan untuk keluar dari vila itu. Dalam keadaan lumpuh aku keluar dari sana.." ucap Ken.
Amelia menatap keseriusan Ken. Tiba tiba hatinya menjadi ciut, perasaan bersalah menghantui perasaannya. Bahkan mulutnya tak mampu untuk berkata kata lagi.
Benarkah? Apakah aku sebodoh ini, aku menyayangi anak perempuan yang hampir membunuh putra kandungku?
"Donita sekarang sedang bersama William," ucap Hendry secara tiba tiba.
"Pa," sapa Ken.
"Papa? papa turun sendiri dari ranjang?" Amelia mendekati suaminya dan mendorong kursi roda suaminya mendekat ke meja.
"Papa hanya coba coba berdiri, dan ternyata papa bisa. Jika papa bisa keluar ngapain papa harus makan dikamar?" ucap Hendry.
"Tapi punggang papa?" ucap Amelia khawatir.
"Pagi ini papa sudah merasa baikan, papa ingin sarapan disini bersama anak papa," ucap Hendry.
"Padahal Ken baru akan ke kamar menyuap papa," ucap Ken.
"Papa bisa makan sendiri, sini berikan sarapan papa,"
Amelia menyerahkan sarapan gandum milik Hendry ke hadapannya.
"Ma, sekali ini percayalah pada anak mu. Papa yakin dia nggak bohong," ucap Hendry.
"Loh buat apa Ken membohongi mama dan papa? Nggak ada untungnya buat Ken," ucap Ken.
"Iya iya, sekarang kamu temui istrimu dan bawa dia ke sini. Papa ingin bertemu dengannya." Dengan tangan agak bergetar, Hendry mulai menyuap makanan masuk ke mulutnya.
"Donita pemilik saham, jadi pemindahan saham kemaren itu harus seijin Donita," jelas Hendry singkat tak ingin basa basi.
"Jadi William berpura pura ikut mencari Donita? Padahal dia tau keberadaan Donita?" tanya Amelia.
Kedua pria itu secara bersamaan menganggukkan kepala.
"Mama terlalu merisaukan Donita, padahal Donita sedang asik bersenang senang diluar sana," ucap Hendry.
"Dan Ken bersusah payah berbulan bulan berkendara hingga ke ujung Australia dalam keadaan lumpuh. Ken menyebrang sebagai imigran gelap ke Merauke, perlahan Ken sembuh dengan bantuan fisioterapi sederhana. Sedangkan Donita bersenang senang diluar sana setelah semua kejahatan yang dia lakukan?" Ucap Ken. Ken kemudian menceritakan kronologi kisahnya selama tiga tahun tetakhir hingga akhirnya bisa kembali ke Jakarta.
Amelia mendengarkan hingga meneteskan airmata.
"Maafkan mama, mama sudah dibutakan oleh Donita. Mama merasa mamalah yang sudah membuat anak mama menderita," ucap Amelia penuh penyesalan dengan bulir bulir airmata menetes dipipinya.
"Sudah ma, jangan menangis lagi. Sekarang mama siap kan makanan yang lezat. Siang ini papa ingin bertemu menantu papa," ucap Hendry menyemangati istrinya.
Amelia mengangguk penuh sesal, dirinya menatap kedua pria dihadapannya yang tiba tiba jadi begitu akrab. Mereka saling terbuka berbincang soal perusahan, soal keluarga william dan soal Alexa.
\~\~\~\~\~
Ken berjalan memasuki lobby sambil menelaah sekelilingnya dengan teliti.
Begitu jauh berbeda dari sebelumnya. Tak ada seorangpun yang menyapanya pagi itu, bahkan sekuriti yang berjaga dipintu masuk sangat asing baginya.
Sudah pukul 08.30, apa Alexa sudah ada diruangannya?
"Bapak mau ketemu siapa?" Tanya sekuriti.
"Saya ingin ke ruangan Alexa, apa dia sudah tiba?" tanya Ken.
"Bu Alexa belum datang, anda sudah buat janji dengannya?" tanya sekuriti.
"Saya belum buat janji, saya akan menunggu diruangannya," ucap Ken sambil berjalan menuju lift. Sekuriti mengejar Ken dan mencegatnya sebelum dia naik ke ruangan direktur.
"Anda nggak boleh sembarang masuk ke dalam sana, hanya karyawan yang bisa melalui pintu itu." Sekuriti berusaha mencegat Ken agar tidak sembarang masuk ke dalam.
"Kalau saya ingin masuk kenapa anda harus melarang saya? kamu baru berapa bulan kerja disini? pak Dion sekurity sebelum nya ke mana?" tanya Ken kesal.
"Saya sudah dua tahun lebih menjadi sekuriti disini, saya tidak pernah mengenali anda. Keamanan disini adalah tanggung jawab saya. Saya mohon kepada anda untuk tidak mempersulit saya, atau anda akan saya seret keluar dari sini!" Ucap securiti itu tegas.
"Oke oke, saya nggak akan masuk ke sana. Tapi ingat, mulai besok kamu nggak boleh datang ke kantor ini lagi, kamu saya pecat!" teriak ken ke sekuriti pria itu.
"Anda siapa seenaknya memecat orang?" tanya sekuriti.
"Saya Ken suami dari direktur kalian, saya Ken Samuel Husada," ucap Ken.
Beberapa karyawan berdiri menatap heran ke arah Ken yang berdebat dengan sekuriti, bahkan mereka berbisik satu dengan yang lainnya sambil menatap sinis ke arah Ken yang dianggap pembuat onar pagi itu.
Ken mengusap kepalanya menatap sekelilingnya.
Nggak ada yang mengenaliku, buat apa aku ribut disini? Aku malah menjadi bahan cemooh mereka. Sebaiknya aku keluar sejenak, mungkin Alexa akan tiba beberapa jam lagi..
"Jika Alexa tiba, katakan Ken ingin bertemu dengannya. Aku akan kembali dua jam lagi," ucap Ken pada sekuriti.
Ken keluar dari gedung itu. Menuju mobilnya yang terparkir ditempat biasa diparkir kendaraannya.
Sambil berpikir arah dan tujuannya pagi itu, ken menyalakan mesin mobilnya.
Mobilnya mulai mundur perlahan kemudian akhirnya ditabrak mobil silver dari arah belakang mobilnya.
"Krraaakkkkk"
Hentakan keras dan suara bunyi benturan besar membuatnya mendumel dan memaki dengan sendirinya.
"****, hal sial apalagi ini?" ucap Ken dengan suara lantang dan agak kesal.
Bersambung...