
Disebuah pesisir pantai Cylinder disebelah barat kota Brisbane Australia. Seorang wanita sedang briefing dengan 5 orang bodyguard yang sudah dipercayakan berjaga di villa mewah itu.
Wanita itu tak lain adalah Donita. Donita terlihat memberikan aba aba pada kelima pria bersetelan serba hitam dengan wajah sangar dan kekar.
Pria pria kaki tangan nya itu setia bekerja dibawah perintah nya dengan puluhan anak buah mereka yang tersebar dipenjuru kota kecil itu.
Vila mewah itu dikelilingi oleh jendela kaca, menghadap ke arah timur pantai berpasir putih dan padang rumput hijau disekitar bukit.. Sungguh perpaduan warna yang sangat kontras dan sesuai untuk tempat berlibur melepaskan kepenatan suasana kota yang padat.
Namun siapa yang menyangka, vila tempat liburan itu justru dipenuhi dengan berbagai peralatan medis canggih bak rumah sakit mewah diibukota.
Disebuah kursi roda duduk seorang pria menatap kosong ke arah lautan yang menghampar diujung pandangan matanya. Tanpa bergerak sedikitpun, tanpa ekspresi apapun pada wajahnya. Dua orang dokter yang senatiasa berada disisinya sibuk membereskan ranjang dan memilah milah obat yang berada dalam kotak.
Tak jauh dari pria cacat itu berdiri seorang asisten pria yang ikut berdiam diri, hanya saja pandangan mata nya tak kosong menatap lautan. Mata asistennya itu malah terus menatap pria yang berdiam diri tak bergeming yang duduk dikursi roda. Pria yang berdiri itu tidak melakukan hal apapun, dirinya hanya ingin tetap berada disitu menemani patung hidup yang terus menatap kosong kedepan bahkan saat diajak berbincang oleh siapa pun.
Donita seketika memasuki ruangan itu dan menghampiri pria itu.
"Darling, jika sudah selesai menikmati lautan sebaiknya kembali ke tempat tidur. Dokter akan memberikan makan dan obat. Hmm sore pijit terapi lagi biar kamu cepat pulih," ucap Donita pada pria itu yang terus saja berdiam diri itu.
Donita kemudian menghampiri dokter Lee.
"Dok ikut ke ruangan saya, saya mau ngomong sebentar," ucap Donita pada salah satu dokter dengan bahasa mandarin.
Donita keluar dari ruangan itu dengan disusul dokter Lee dibelakang nya hingga tiba diruangan kerja Donita.
"Dok, aku ingin dosis obat X pak Ken dikurangi dosisnya. Dua hari lagi ibunya akan datang ke sini menemui anaknya yang cacat itu. Aku hanya ingin mendapatkan sedikit kesan baik kalau selama ini sudah mengurus anaknya dengan baik," perintah Donita pada dokter itu(dalam bahasa mandarin).
"Baik Non," uca si dokter(dalam bahasa mandarin).
"Oh ya ingat, jika ditanya ibunya katakan saraf saraf sudah mulai ada respon sedikit demi sedikit. Sepertinya terapi akupuntur, pijit dan x ray nya lumayan berhasil, mengerti?" kata Donita lagi dalam bahasa mandarin.
"Baik Non, saya mengerti," jawab dokter itu(mandarin).
"Sudah, kembali ke ruangan kamu," ucap Donita agak kasar.
Beberapa saat Donita meraih ponsel dari laci meja kerjanya menghubungi menejer keuangan PH.corp.
"Bang Sandi da apa bang? Maaf tadi Donita belum sempat hubungi ada briefing," kata Donita.
"Gimana rencana kamu? Saham terus saja menurun nilainya. Jika Bu Amelia belum mau melepas saham nya bisa bisa perusahan bangkrut," Kata Sandi.
"Bang Sandi tahan dulu semingguan, dua atau tiga hari lagi bu Amel akan kesini. Donita akan mencoba membahas soal ini dengannya," kata Donita.
"Baiklah, asalkan gak dibiarkan terlalu lama. Jika tidak aku terpaksa menjual sebagian saham kamu. Sangat disayang kan jika uang yang kamu infestasikan hilang percuma. Sudah setahun lebih perusahan tidak berproduksi, sedangkan karyawan harus digaji. Kas perusahan bulan ini mulai tekor," jelas Sandi Menejer keuangan PT. PH.corp.
"Ya ya Bang San, aku ngerti. Bang Sandi hati hati disana. Jika ada sesuatu yang mencurigakan langsung hubungi Donita," kata Donita.
"Baik lah, Abang tutup dulu telponnya," ucap Sandi mengakhiri percakapan.
Di hari setibanya bu Amel, vila yang tadinya dipenuhi puluhan pria berjas kini hanya tersisa tiga orang. Dua orang pelayan dan lima orang pekerja taman.
Setelah Setahun mengalami kecelekaan, Ken dipercayakan bu Amel pada Donita. Karena bu Amel harus merawat suaminya yang terkena serangan jantung akibat mendengar kecelakaan yang menimpa putranya.
Ayah Ken menderita kelumpuhan dan rutin menjalani terapi dirumah sakit Mount Elisabeth Singapore. Sedangkan Ken harus dibawa Donita jauh ke Australia dengan Alasan fokus pada perwatannya dan menghindar dari Alexa. Bu Amel begitu mempercayai Donita dan masuk dalam rencana jahat Donita.
Siang itu di bandara Internasional Brisbane Donita sempatkan dirinya untuk menjemput bu Amel.
"Tante," Donita memanggil sambil melambaikan tangannya.
"Donita sayang, apa kabar dirimu nak?" tanya tante Amel sambil memeluk erat Donita.
"Donita sangat baik tante, tante?" tanya Donita kembali.
"Ohh, tante sangat baik juga nak," jawab tante Amel penuh semangat.
"Apa ada setahun ya kita nggak ketemu, kamu makin kurusan sayang. Maaf ya, tante malah memberikan beban yang begitu besar padamu sayang," ucap tante Amel ramah.
"Duh tante, beban apa sih maksud tante. Aku nggak merasa sedikitpun terbebani loh, malahan aku senang. Tante memberikan Donita kesempatan untuk menunjukkan pada Ken, bahwa Donita lah selalu berada disisinya," ucap Donita sambil membantu tante Amel mendorong kopernya menuju parkiran.
"Iya tante turut merasa senang juga kalau kamu senang nak," ujar tante Amel.
"By the way, maaf dua minggu lalu Donita nggak bisa mampir Singapore untuk menjenguk Om. Dua kali Donita bolak balik Jakarta, tapi waktu Donita sangat sedikit." Donita masuk kemobil kemudian mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran bandar udara itu.
"Udaahh gak apa apa.Tante makasih sekali loh. Perusahan juga sekarang dipegang Donita dengan baik," kata tante Amel.
Perjalanan ditempuh dalam empat jam hingga tiba dipesisir pantai Cylinder dimana vila Donita berada.
Tante Amel menuju ruangan Ken dirawat. Seperti biasa pada siang hari Ken akan berada dikursi roda menikmati pemandangan laut pada siang hari.
"Nak, sayang. Gimana perasaan kamu?" Tante Amel melajukan langkahnya ke arah Ken yang duduk diam dikursi roda.
Tante Amel menangis tersedu menatap anak nya yang daduk berdiam diri tak bergeming, tatapan nya kosong tak ada ada reaksi terhadap apapun dihadapannya.
"Sayang, ini Mama sayang." Tante Amel menarik wajak Ken ke arahnya. "Nak, coba lihat mama," tangis tante Amel.
"Ini semua gara gara perempuan sialan itu, mama nggak rela perempuan itu belum mendapat balasan atas perbuatan nya," ucap tante Amel penuh amarah.
"Mama janji padamu nak, mama akan terus mencari wanita sial itu. Mama akan balaskan dendam kamu kepadanya. Jika bukan karena Alexa sial itu kamu pasti tidak akan jadi seperti ini!" ucap tante Amel begitu kasar.
Tanpa disadari mereka mata Ken berkedip setelah mamanya mengucap kata Alexa.
Ken menutup matanya agak lama. Mimik Ken seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Donita juga sudah mencarinya kemana mana tante, seumur hidup Donita tidak akan pernah membiarkan wanita itu hidup aman," ucap Donita.
"Tante mohon Donita, jika kamu menemukannya. Hukum dia seberat beratnya!" kata tante Amel dengan air mata yang masih membanjiri pipinya.
Ken kembali menutup matanya menahan tangisan. Ken mencoba menggerakkan tangan kanan nya. Seluruh tubuh yang tadinya sudah tidak ingin digunakannya kini sekuat tenaga ingin degerakkannya. Nama Alexa yang didengarnya membuatnya ingin segera bangkit dari kelumpuhan itu.
"Sayang, kamu bisa melihat mama? Barusan mama melihat tangan mu bergerak," kata tante Amel senang.
"Donita, coba lihat. Ken bisa menggerakkan tangannya loh," kata tante Amel ke Donita.
"Iya tante. Terapi yang kita lakukan akhir akhir ini memang sangat membantu. Bahkan Ken sudah mulai menggeleng ken kepalanya nya," ucap Donita.
Baru dua hari dosis obatnya dikurangi dia sudah mulai menggerakkan badannya. Semoga wanita tua ini tidak berlama lama disini. Bahaya jika Ken sampai membuka mulut.
"Terimakasih Donita, tante tidak tau harus berterimakasih dengan cara bagaimana lagi dengan mu," kata tante Amel terlihat senang.
Jika ingin berterimakasih maka berikan saham perusahan mu kepadaku!
Bersambung...