Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
My Bad Day



Alexa berjalan lesu memasuki ruangan kerjanya.


Senin pagi menjadi membosankan akibat telpon Imelda, hanya bisa tidur tiga jam dan nggak sarapan. Ibu, aku ingin dimasakkan nasi goreng lagi bu..


Ken nggak ada kabar sejak semalam, apa dia marah? Huffttttt what ever lah, mana bantal?


Alexa menyandarkan kepalanya diatas meja kerjanya.


Lisa dan Shanen kemana? Seharusnya mereka sudah berada disini.


Apa mereka ada kitchen?


Aku sebaiknya membuat secangkir kopi.


Alexa melangkah menuju dapur, beberapa karyawan pria menyapa Alexa, Alexa membalas dengan senyum ceria ke setiap orang diruangan itu.


Padahal aku sudah hampir gak bisa mengangkat sudut bibirku.


Mesin Kopi dikitchen lantai 21 sudah terisi penuh. OB yang bertugas disitu selalu rajin mengisi ulang kopi torabika ke setiap cup di mesin kopi itu.


Alexa melangkah melewati OB yang sedang asik membersihkan lantai. Lantai yang basah itu berhasil mebuat Alexa terpeleset hingga terduduk dilantai.


Kopi yang ada digenggaman tangannya jatuh berhamburan dilantai bersama kepingan kepingan kecil cangkir kaca berwarna putih.


"Uugghhhh" Pekik Alexa.


"Mbaak, maaf mbak maaf." Kata OB itu mencoba membantu Alexa duduk di atas kursi.


Setelah beberapa menit di atas lantai Alexa berhasil mengangkat kaki nya ke sebuah kursi biru berjarak dua meter dari tempatnya terjatuh.


"Maaf mbak, aku nggak bermaksud.." Ucapan OB itu terpotong.


"Sudah, sudah kamu nggak salah. Aku yang nggak hati hati, kebanyakan mikir jadi nggak memperhatikan langkah." Ucap Alexa.


"Mananya yang sakit mbak?" Tanya OB itu.


"Seluruh badan ku terasa sakit bahkan sakit nya menjalar hingga kehati aku. Kamu bisa lanjutkan kerjaan mu, biarkan aku beristirahat disini sebentar." Ucap Alexa.


"Jika butuh bantuan mbak bisa panggil aku." Ucap OB itu seraya melanjutkan kerjaannya.


Alexa mengangguk mengiyakan.


Selang beberapa menit terdiam di dapur Alexa melirik jam tangan yang menempel dipergelangan tangannya.


Sudah hampir sepuluh menit aku disini.


Aku mungkin bisa berjalan menuju ke mejaku.


Alexa berdiri berusaha meluruskan badannya, rasa perih di pergelangan kakinya begitu terasa. Alexa melangkah keluar dari kitchen menuju mejanya.


Jika berjalan miring seperti ini, pasti akan menarik perhatian semua orang.


Alexa berjalan perlahan melewati cyber room kemudian memasuki ruangan nya dengan penuh perjuangan hingga tiba di mejanya


"Lex, darimana aja?" Tanya Lisa.


"Kalian dari mana aja? Aku mencari kalian ke kitchen barusan." Ucap Alexa.


"Kami baru dari loby tadi mengambil pesanan ojol kami. Tuh, buat lo juga ada." Lisa menyerahkan segelas milk booba minuman kekinian yang lagi laris di IG.


"Muka lo napa?" Tanya Lisa.


"Badan gue sakit semua." Ucap Alexa.


"Kenapa? kusam banget lo hari ini?" Tanya Lisa.


"Mungkin ini hari tersial gue selama berada disini. Gue pengen pulang dan rebahan seharian." Ucap Alexa bersandar malas dikursinya.


"Lo kan tinggal bilang ke pacar lo kalau lo pengen pulang." Ucap Lisa santai.


"Tuh satu kenapa serius banget?" Tanya Alexa.


"Dia lagi dapet tugas tambahan dari Steve." Jawab Lisa.


"By the way, Steve tadi bilang, kurang dari sebulan kita akan merayakan ulang tahun perusahan." Kata Lisa.


"Tanggal berapa?" Tanya Alexa.


"Sekitar tanggal 28 akhir bulan ini, katanya sih kita tunggu aba aba dari CEO aja gimana." Ucap Lisa.


"Steve ngapain sekarang?" Tanya Alexa.


"Dia lagi meeting ma boss dan manager lainnya." Jawab Lisa.


"Lo kenapa sih? Lo berantem ya ma boss?" Tanya Lisa menyelidik.


Alexa menempelkan kepalanya di atas meja.


"Aku marah semalam" Jawab Alexa.


"Emosiku langsung meledak akibat telpon dari Imelda, hingga kini Ken belum menghubungiku." Lanjut Alexa.


"Kalau dia nggak telpon ya elo dong yang telpon." Kata Lisa.


"Bentar dia masih meeting." Ucap Alexa.


"Hmmmm, kamu nggak mau kan dia mencari wanita lain untuk membagi keluh kesahnya." Kata Lisa.


"Aku menjadi marah saat membayangkan Imelda itu bekas pacarnya Ken." Ucap Alexa.


"Oh ya, apa kamu sudah pernah melakukan itu dengannya?" Lisa mendekat dan berbisik.


Alexa menggelengkan kepalanya.


"Hahaha, pantes kamu uring uringan. Kamu pasti membayangkan Imelda dan boss sudah begitu intim dan kamu belum ada apa apanya." Kata Lisa cekikikan.


"Kamu sudah seperti paranormal." Alexa memalingkan kepalanya. Senyum Lisa membuatnya makin kesal.


"Shhhttt, tawa lo tu Lis, bisa nggak kecilin volume?" Shanen melanjutkan fokus tugas akuntan nya penuh ketelitian.


Alexa mengangkat kepalanya yang berat mendekati telinga Lisa.


"Apa kamu sudah pernah melakukan itu dengan Steve?" Tanya Alexa.


Lisa mengangguk.


"Kami melakukannya pertama kali dimalam saat aku mabuk." Ucap Lisa.


"Apa kamu melakukannya begitu saja?" Tanya Alexa.


"Aku nggak ingat karena aku mabuk." Jawab Lisa.


"Jadi Steve memperkosa dirimu?" Kata Alexa.


"Mungkin seperti itu, tapi pertemuan kedua kami aku terus menggodanya. Aku terus membahas malam pertama kami hingga terjadi malam kedua itu." Lisa penuh semangat menceritakan.


"Jadi aku harus lebih inisiatif melakukan itu mulai sekarang?" Tanya Alexa.


"Itu tergantung kamu, cinta itu memilik tolak ukur yang begitu luas, jadi tergantung individu masing masing" Lisa


Ucapan Lisa baru saja menciptakan ide nakal dalam benak Alexa.


Liat aja sayang, aku akan membuatmu tak bisa melirik wanita manapun dimuka bumi ini.


Alexa membuka beberapa situs jualan online untuk membeli beberapa pakaian sexy.


"Enak banget jadi pacar bos, seharian gak perlu kerja." Ucap Lisa.


"Kaki aku sakit Lis, pinggang aku pegel dan seluruh badan terasa remuk." Kata Alexa membela diri.


"Yang sakit tuh kan kaki dan badan, nggak ada sangkut paut dengan tangan." Ucap Lisa terkekeh.


"Iya ya." Alexa kemudia membuka laptopnya.


"Aku nggak tau harus mengerjakan apa." Ucap Alexa.


"Itu karena pacar bos mu sudah melarang Steve memberimu kerjaan dan aku duduk disini untuk menemani kamu ngobrol biar nggak bosan. Ucap Lisa.


"Oh ya? Apa Ken mendukung kita bergosip disini?" Tanya Alexa.


Lisa mengangguk.


Alexa membuka beberapa file yang bisa dikerjakannya.


"Shanen sini, aku bantu kamu." Alexa berniat membantu Shanen menyelesaikan tugasnya.


Tiba tiba Ken sudah berdiri disamping mejanya.


"Sayang, mau makan bakmi ayam gak?" Tanya Ken.


"Kok tiba tiba ngajakin makan?" Alexa menatap heran ke arah Ken.


"Aku lapar banget, sejak semalam belum makan." Kata Ken merungut.


"Hah? Semalam? Bukannya semalam kamu makan masakan aku?" Tanya Alexa.


"Aku masih lapar dan perutku sakit." Kata Ken.


"Ehhmmm." Lisa memberi kode.


"Lex, bos lapar karena kamu." Kata Lisa.


Apa dia sedang membujuk aku? Haha, aku pergi nggak ya? Pengen lihat sejauh mana dia akan merayu aku. hihi. Alexa tertawa dalam hatinya.


"Dia mah nggak mungkin laper, kan ada yang sudah memperhatikan dirinya lebih baik dari aku." Ucap Alexa menyinggung Ken.


"Sayaaang please." Ken memohon.


Ken berulang ulang membujuk Alexa hingga terdengar ke beberapa karyawan lain.


Ngambek ku berlebihan, kasihan dia.


Alexa menginjakkan kakinya untuk berdiri, tiba tiba rasa sakit di pergelangan kakinya mulai terasa.


Apa sakit dipergelangan kaki ini akibat aku terjatuh tadi. Ternyata sakitnya makin menjadi saat aku berdiri.


"Sayang" Kata Alexa.


"Come on, please." Kata Ken lagi.


"Kaki aku sakit, sepertinya aku nggak bisa berjalan." Kata Alexa.


"Owh please, kerjaanku masih banyak sayang. Apa kamu akan menghukumku dengan sifat kekanakan mu itu?" Kata Ken penuh kesabaran melihat sikap keras kepala Alexa.


"Jika kamu marah seperti ini aku jadi nggak bisa fokus kerja." Bujuk Ken lagi.


"Tapi aku.." Alexa mencoba berdiri dari kursinya sambil meringis kesakitan.


"Sepertinya kakiku." Alexa berpegangan dimeja kerjanya menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.


Ken dengan sigap membantu Alexa, Lisa dan Shanen melihat itu langsung berdiri mendekati Alexa.


"Kamu baik baik saja?" Tanya Lisa.


"Kakiku sakit banget." Ucap Alexa.


Ken kembali mendudukkan Alexa dikursinya kemudian memeriksa pergelangan kaki Alexa yang mulai bengkak dan berwarna kemerahan.


Alexa meringis lagi saat Ken memencet di area pergelangan kakinya yang berwarna kemerahan.


"Kenapa dengan kakimu sayang. Aku akan membawamu ke dokter." Ucap Ken panik.


"Aku nggak apa apa, kakiku hanya keseleo biasa." Kata Alexa.


Ken langsung memapah tubuh Alexa menuju lantai 23 dimana ruangan nya berada.


"Mbak Alexa kenapa bos?" Gugun terkaget saat Ken muncul sambil membopong tubuh Alexa.


"Entahlah Gun, mungkin kakinya keseleo." Ucap Ken.


"Kaki mu kenapa bisa keseleo sayang? Kamu nggak bisa berahati hati saat melangkah?" Kata Ken setelah tiba diruangannya.


"Gun," teriak Ken dari dalam ruangannya.


Ken mencoba mengurut perlahan pergelangan kaki Alexa.


Hingga beberapa saat Gugun sudah berdiri dibelakang Ken.


"Bos bisa saya bantu?" Ucap Gugun.


"Gun ambilkan es batu untuk kompres." Ucap Ken.


"Kaki aku baik baik saja, nggak usah khawatir." Ucap Alexa.


"Baik hingga kamu nggak bisa berjalan?" Ucap Ken.


"Tadi pagi aku jatuh terpelest saat di kitchen. Aku pikir nggak kenapa kenapa." Alexa.


"Kamu kok nggak bilang bilang sih." Ken.


"Nggak enak, tadi kamu lagi meeting." Ucap Alexa.


"Bos bisa saya bantu." Tanya Gugun sudah berdiri di belakang Ken.


"Nggak apa Gun, aku bisa sendiri." Ucap Ken sambil mulai mengompres dan mengurut perlahan kaki Alexa.


"Baik lah bos, aku akan kembali bekerja." Kata Gugun kemudian meninggalkan ruangan itu.


"Coba gerakkan pergelangan kaki mu." Ucap Ken.


Alexa menggerak gerakkan kakinya.


"Sudah mendingan sayang." Alexa.


"Coba berdiri?" Ken membantu Alexa berdiri.


Saat berdiri, Alexa langsung memeluk Ken.


"Maaf sayang, semalam aku nggak bisa menahan emosi." Ucap Alexa sambil memeluk kekasihnya itu lebih erat.


"Nggak apa, hal itu sudah lewat. Gimana kakimu? Apa sudah bisa dibawa jalan?" Tanya Ken.


Alexa mengangguk, jaraknya dengan wajah Ken hanya beberapa centi meter. Alexa mengecup hidung Ken lembut.


Sayang, aku akan menjaga mu dengan semua hal yang aku miliki. Bersiap siap lah


Bersambung...