Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Handphone 2



Suasana ruangan itu tak berubah sedikitpun, Alexa hanya mengubah warna cat dinding dan mengganti sofa dan meja Kerja dengan warna yang lebih cerah dari sebelumnya. Tata letak dan posisi meja dan lemari tak berubah sedikitpun.


"Ah, istriku merawat ruangan ku dengan sangat baik," ujar Ken begitu tiba di ruangan kerjanya.


"Aku nggak merubah banyak agar selalu sama seperti sebelum kamu pergi,"


"Oh ya, laptop dan PC nya kemana?" tanya Ken.


"Mungkin dibawa oleh pak william waktu iyu, kalau nggak salah mereka mencoba buka PC kamu untuk melihat perencanaan job description perusahan." jawab Alexa.


"Pasti mereka nggak bisa buka, karena sudah aku pasang shileld protektor disitu. Seruh data sudah dibekukan jika ada yang mencoba masuk dengan wassword yang salah," ucap Ken.


"Sayang?" Panggil Alexa, "Aku mau ngomong sesuatu sejak semalam tapi kamu sibuk dengan itu jadi..." Alexa sedikit bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Apa? Tinggal ngomong aja kan?" ujar Ken yang sibuk mengamati laptop milik Alexa. "Wah keren banget. Istriku sangat luar biasa," ujar Ken begitu menatap pola kerja Alexa.


"Sayang?" Panggil Alexa lagi dengan suara sedikit lebih besar.


Ken menatap keseriusan diwajah Alexa membuatnya harus meletakkan laptop ditangannya.


"Ada yang memasang penyadap suara dimobil kamu. Dan dirumah kamu ada 6 titik penyadap suara aktif serta 18 titik kamera CCTV." ujar Alexa.


Ken akhirnya menyadari kejanggalan pada istrinya saat berada dimobilnya. Alexa selalu diam dan tak ingin banyak bicara.


"Kamu masalah begitu kenapa nggak ngomong? Seharus nya bisa diberitahu. Karena aku curiaga kecelakaanku waktu itu adalah kesengajaan Donita. Bagaimana jika kita kenapa kenapa saat dalam perjalanan semalam dan bahkan tadi?" ujar Ken panik.


"Aku yakin 100 persen itu hanya penyadap suara biasa, nggak akan ada efek apa pun pada mobil," ucap Alexa.


"Tapi..., aku akan turun sekarang bicara dengan Donita," kata Ken.


"Tunggu, jika kamu turun sekarang maka Donita akan tau jika kita sudah tau rencananya. Biarkan kita menjadi orang bodoh dimatanya agar dia tidak semakin menjadi," jelas Alexa.


"Kalau gitu dia pasti sudah tau kalau aku sudah pulang ke rumah," kata Ken.


Alexa mengangguk kan kepalanya.


"Dan jika dia tau soal anak anak, mereka pasti akan dalam bahaya," ucap Ken sambil tangan kirinya mengusap kepalnya sendiri.


"Apa Steve ada dibawah?" tanya Ken.


"Ya, tapi dia terlalu sibuk dengan daed line minggu ini. Sudah sebulan lebih Steve dan tim kembali ngantor dan tim nya harus mengerjakan aplikasi dengan cepat sebelum karya kita di jiplak perusahan lain," jelas Alexa.


"Tapi aku butuh banget bantuan Steve," ujar Ken.


"Kamu bisa minta bantuan papa," ucap Alexa seperti sudah bisa membaca isi dalam pikiran Ken.


"Ah, ya. Ada papa yang lebih ahli," ujar Ken.


"Papa yang membantu ku membuat aplikasi pendeteksi bomb, CCTV dan penyadap suara. Papa sendiri yang membuat alatnya dirumah dan disambungkan ke layar ponsel kami. Pemberitahuan akan masuk ke HP jika ada benda benda yang mencurigakan disekitar kami," ujar Alexa.


"Thank God, aku nggak pernah kepikiran dengan guru besar IT kita dari oxford." Ucapan Ken mengarah ke Mr. Bond.


"Menurut Rani, Donita sekarang berada diShanghai. Saat mereka bertemu untuk penandatangan saham waktu itu tertulis Shanghai." Jelas Alexa.


"Jika dia sudah tau aku pulang, dia pasti akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini. Aku ingin secepatnya bicara dengan papa," ujar Ken.


"Donita menggunakan identitas lain, aku sudah mencari nama nya dalam setiap penerbangan tapi nggak pernah ketemu. Mungkin saja sekarang dia sudah berada disekitar kita," ucap Alexa penuh prihatin.


"Sudah kamu tenang saja sayang. Aku punya sebuah ide untuk menjebaknya," ucap Ken penuh percaya diri.


"Anak anak kita sebentar lagi akan bersekolah, aku nggak bisa membayangkan jika Donita menyakiti mereka."


Suara ketikan pintu menghentikan percakapan Ken dan Alexa.


"Ya, masuk." teriak Alexa.


Asisten Alexa bernama Dinda sudah berdiri didepan pintu.


"Bu ada pak Steve ingin bertemu," ucap Dinda.


"Ah Steve, dia pasti..." belum selesai ucapan Ken, Steve sudah berdiri di belakang Dinda.


"Bro, lu menghilang begitu saja tanpa sedikitpun kabar. Gue pikir lu dah mati. Bisanya lu tinggalin perusahan begitu aja? Karyawan sudah sudah seperti anak ayam kehilangan induk tanpa lo. Kemana aja si lo?!" ucap Steve seperti sedang marah dan juga senang setelah lama sahabatnya menghilang akhirnya ketemu.


Dinda langsung mengundurkan diri dari hadapan pintu, seketika itu Steve mendekati Ken dan memeluknya.


"Gugun mana?" tanya Ken.


"Dia dirumah, aku beri dia cuti. Aku bosan lihat mukanya tiap hari," ujar Ken dengan candaan garing seperti biasanya.


"Ternyata aku sudah membuat semua orang khawatir. Aku pasti akan ceritakan, tapi kita cari timing yang tepat." ucap Ken.


"Dan kalian bisa setega itu menikah tanpa undang teman. Semakin lama gue semakin nggak bisa menebak lo. Setelah menikah malah menghilang dan kembali tiba tiba tanpa kejelasan," ujar Ken.


"Dia juga nikah nggak undang undang kita," bisik Alexa ditelinga Ken.


"Apa? Dia menikah? Pantesan dia jadi semakin cerewet," ucap Ken.


"Entah aku harus mengantar undangn kalian kemana, semua pergi sepertitanpa jejak," ucap Steve.


"Setelah terakhir kita ketemu, aku langsung ikut ibu ke London. Dua tahun aku baru kembali," ujar Alexa.


"Siapa wanita yang dinikahi nya, apa kah Lisa?" tanya Ken pada Alexa.


"Ya bener, kemaren Lisa cerita. Kalau nggak hamil mungkin Steve gak akan menikahinya," cerita Alexa.


"Hahaa ya, sebentar tiga bulan lagi aku akan menggendong anakku. Aku nggak nyangka bisa mendahului kamu dalam hal itu," ujar Steve.


"Ya nggak bisa lah, kamu nggak akan pernah bisa lebih unggul dariku," ucap Ken bangga dan tak mau kalah.


"Lo gak bisa uber gue lagi dong, tetep aja gue duluan dalam hal itu," ucap Steve bangga.


Ken mengambil ponsel nya membuka sebuah album foto dan menunjukkannya pada Steve.


"Ini si ganteng Kenzhou Putra Husada, mirip gue kan?" tanya Ken sambil mengarah kan Handphone miliknya ke hadapan Steve.


Steve menyimak wajah pria kecil yang ada dalam pelukan Ken dengan penuh keraguan. Sedang kan wajah Alexa terlihat kikuk melihat tingkah kekanakan suaminya yang tak mau kalah.


Sempat sempat nya dia berfoto dengan anak anak tadi, apa dia memang sebahagia itu?


"Ah, lu pinjem anak siapa itu?" ucap Steve tak percaya.


"Elah, lu tanya nih emaknya. Masa gue bo'ong." Jari Ken mengscrol lagi ke foto selanjutnya. "Dan ini si putih salju ku yang cantik," ujar Ken sekali lagi menghadap kan foto ke wajah Steve.


"Anak siapa itu?" tanya Steve tak percaya.


"Ya anak ku dong," jawab Ken bangga dengan senyum diwajahnya.


"Iya kan sayang?"


Alexa mengiya kan, sambil tertawa geli dalam hati nya melihat senyum kemenangan diwajah Ken. Sedangkan dalam benak Steve masih menganggap jika Ken hanya mengada ada demgan foto yang ditunjukkannya.


"Sayang, nanti malam kita makan malam dirumah undang Steve dan Lisa ya sayang?" ujar Ken.


"Ya minta Gugun dan Shanen ikut juga," kata Alexa menambahi.


"Oh ya. Rapat jam 3 nanti aku ikut juga nggak? Kerjaanku padat sekali," ucap Steve.


"Ya ikut dong, ini rapat para menejer dan beberapa pemegang saham," jawab Ken.


"Jadi, lu akan resmi menggantikan Alexa mulai besok?" tanya Steve.


"Iya, aku nggak ingin dia capek. Biar dia dirumah mengurus anak anakku," jawab Ken.


Pagi itu percakapan Ken, Alexa dan Steve mengarah ke topik perusahan.


Gimana jatuhnya perusahan saat dipegang sepupu Donita yang saat itu menjabat sebagai menejer keuangan. Mereka sudah memegang bukti korupsi dan penyalahgunaan wewenang saat menjabat. Bukti sudah tersimpan rapih dalam file yang sudah di simpat Alexa di berangkas nya saat itu. Bukti lengkap itu sudah siap di arahkan ke polisi.


Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Steve sudah kembali ke ruangan sedangkanAlexa dan Ken kembali ke rumah untuk makan siang sesuai permintaan anak anak.


-----


Seorang wanita berperawakan tomboi mengenakan jaket kulit berwarna coklat keluar dari pintu kedatangan terminal C bandar udara internasional Soekarna Hatta.


Wanita berperawakan cantik dengan lipstik merah terang itu beranama Cecil Lung, wanita kebangsaan China. Dengan fasih berbahasa Indonesia wanita itu memanggil sebuah taxi yang antri didepan parkiran paling ujung.


"Taxi," teriak wanita itu.


Wanita itu memasuki pintu taxi. "Pak, antar saya ke perumahan Hijau Permai di Bogor," pinta wanita itu pada sopir taxi.


Taxi biru berlogo burung lutih itu meluncur perlahan menuju alamat yang akan dituju.


Bersambung...