Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
All About My Past



Air mata yang tak henti menetes dipelupuk mata Sasha, air mata penyesalan nya akan masa lalunya.


"Nak, kita sudah puluhan tahun beranjak dari masa itu. Ibu tak menyesali apa pun." Kata Ibu Ratih.


"Bagaimana bisa bu, Sasha sedih dan kecewa dengan diri Sasha sendiri. Sasha meninggalkan dan melupakan ibu, Sasha nggak mengenali ibu selama ini." Jawab Alexa.


"Ibu sengaja nggak memberitahu mu, kamu kehilangan ingatan mu berarti alam bawah sadar mu menolak mengingat kejadian pahit saat itu. Ibu malah merasa senang jika kamu bisa lupa semuanya." Kata Bu Ratih.


Setelah percakapan yang penuh haru biru ibu dan anak itu, telpon genggam Alexa berbunyi.


"Ken." Alexa mengangkat telpon genggamnya.


"Honey, aku sudah memesan makanan untukmu dan ibu. sebentar lagi ada yang mengantar." Kata Ken.


"Kamu dimana honey." Tanya Alexa.


"Ayah menelpon ku barusan, jadi aku akan pulang sebentar." Jawab Ken.


"Baiklah" Alexa.


"Nikmati waktu mu bersama ibumu honey, see you." Ken kemudian menutup telponnya."


"Ken telah memesan makan malam untuk kita, jadi kita nggak perlu masak malam ini bu." Kata Alexa.


"Ken anak yang sangat baik, dia tetlihat sangat tulus padamu. Tak baik jika kamu terus menerus menghindar untuk membahas pernikahan dengannya." Kata bu Ratih.


"Iya bu, sepertinya aku akan mulai membuka hati untuk hal itu saat ini." Kata Alexa penuh semangat.


"Tapi, masih ada satu hal yang selalu mengganjal dalam mimpi ku yaitu berita dikoran, aku nggak pernah ingat dilecehkan bu, artinya ingatanku belum semuanya pulih. Aku juga selalu samar mengingat wajah ibu." Kata Alexa.


"Itu karena kamu masih terlalu kecil nak, sedangkan pelecehan kamu benar benar tidak di lecehkan. Itu adalah adikmu Jessi." Jelas bu Ratih.


"Adik? Jessi" Alexa berpikir keras nengingat sosok adik yang dimaksud ibunya.


"Ya kamu dan Sisi adalah saudara kembar." Kata bu Ratih.


"Kembar? Jadi gadis yang selalu ku lihat dalam mimpiku tertawa dan bermain bersama adalah Jessi. Sisi?" Alexa mencoba mengingat ingat kembali masa lalu nya itu.


Bu Ratih mulai menceritakan kembali masa masa bersama mereka hongga kejadian pahit itu.


******


Cerita kembali ke 18 tahun silam.


Frank Carter ayah Alexa adalah seorang ilmuwan botanical asal Inggris melakukan kerjasama penelitian di IPB.


Saat itu Nuratih ibu Alexa, seoarang mahasiswi tingkat awal jurusan yang sama dengan Frank.


Setelah berpacaran selama 1 tahun Frank dan Ratih menikah, mereka dikaruniai 2 orang anak kembar. Bu Ratih sangat mendukung kegiatan suaminya dengan mendirikan pusat penelitian pribadi di desa Cimenyan.


Mereka membuka banyak sekali lahan pekerjaan dengan bercocok tanam hingga menimbulkan iri dan dengki dihati para penduduk lokal.


Suatu hari keluarga Frank Carter menghadiri pelantikan seorang kerabat dekat mereka di Bandung.


Malam itu Bu Rati agak gelisah dan ingin buru buru pulang ke rumah.


"Pak kita pulang aja yuk, Jessi masih kurang sehat badannya. Toh kita membawa anak anak, nggak baik pulang terlalu larut." Kata Bu Ratih.


"Baik lah Bu, Bapak pamit dulu dengan tuan rumah." Jawab pak Frank.


Jam delapan malam mereka bergegas meninggalkan rumah pak Wibowo.


Kira kira 20 menit mereka sudah tiba di kediaman mereka di Cimenyan.


"Bu, apa tadi ibu lupa menyalakan lampu di halaman dan teras depan?" Tanya Pak Frank setelah memarkir mobilnya di depan pagar.


"Nyala kok pak, sebelum jalan jam enam tadi lampu sudah nyala." Jawab bu Ratih.


"Tapi pak kenapa lampu ruang kerja bapak nyala?" Tanya bu Ratih.


"Ibu tunggu disini dulu dengan anak anak, bapak akan periksa ke dalam." Pak Frank masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Jessi yang saat itu agak demam di gendong bu Ratih menyusul pak Frank hingga ke teras rumah.


Bu Ratih mendengar kegaduhan dari dalam ruangan kerja langsung melepaskan Jessi dari gendongannya kemudian berlari ke dalam rumah.


"Tidak jangan apa apakan suamiku, kalian bisa ambil semua barang yang kalian inginkan tapi aku mohon jangan menyakiti siapapun disini." Teriak bu Ratih dan mulai menangis.


Pak Frank yang saat itu sudah dibekap dengan pisau mengarah ke leher nya mencoba berontak dan melawan, sedangkan bu Ratih hanya bisa menangis melihat suaminya yang tak berdaya.


Seorang pencuri mendekati bu Ratih mengikat tangan dan kakinya di sebuah tiang dekat ruangan tamu.


Pistol yang mengarah ke kepala bu Ratih membuat pak Frank mencoba sekuat tenaga lepas dari cengkraman pria yang satunya.


"Jika kamu terus melawan maka kami akan.." Seorang pria membuka paksa pakaian bu Ratih kemudian mulai melakukan hal tidak senonoh pada istrinya.


"Kalian" teriak pak Frank dengan air mata dipipinya.


Bu Ratih terus menerus berteriak histeris. Kemudian suara Jessi terdengar berdiri didekat pintu.


"Ayah, Ibu." Teriak Jessi dengan wajah ketakutan berjongkok di balik sofa.


Bu Ratih diseret kedua pria berbadan besar hingga ke ruangan tengah.


"Bawa dia kesini, biar dia menyaksikan hal ini." Kata salah seorang pria.


Bu Ratih kemudian di seret lagi masuk kedalam kemudian terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga.


Pandangan Bu Ratih menjadi buram, air matanya tak henti mengalir keluar dari pelupuk matanya. Dirinya sudah tak tau apa yang dilakukan kedua orang itu pada anaknya Jessi, dia hanya terus menatap suaminya yang jatuh lunglai dihadapan nya dipenuhi cucuran darah segar di seluruh tubuh. kemudian dirinya teringat pada Sasha yang masih berada diluar.


"Sha.. lari sha." Sasha lari cepat lari." Teriak bu Ratih pada Sasha yang menyaksikan kejadian itu dari luar pintu.


Beberapa saat kemudian Bu Ratih pingsan saat menyadari suami dan anaknya sudah tak bernyawa.


----


Sasha kecil lari bersembunyi dibawah bunga bougenvile, dengan wajah pasih anak kecil itu terus menahan rasa takut dan airmatanya.


Saat mendengar ibunya berteriak.


"Sha.. lari Sha, cepat lari." Suara bu Ratih.


Sasha keluar dari pagar terus berlari tanpa arah dan tujuan, tanpa sandal menempel dikakinya.


Tanpa merasakan perih, kakinya terus berlalu melewati kerikil, rumput dan bebatuan.


Setelah berlari beberapa kilometer Sasha kecil kelelahan dan akhirnya pingsan di pinggir jalan.


Warga yang menemukannya dipagi hari segera membawanya kerumah sakit. Gadis kecil itu kini tak mau bicara, semua orang dianggapnya asing dan jahat, setiap orang hanya akan menyakiti dirinya.


Sasha sempat koma beberapa hari setelah ditemukan, dirinya menjadi sangat penakut hingga akhirnya dibawa ke sebuah panti asuhan.


Dirinya tak pernah lagi mau bicara dan menutup diri dari semua orang.


Setiap hari Sasha hanya akan berteriak dan histeris jika orang orang mendekatinya.


"Sasha takut, jangan ganggu Sasha. Pergi pergi kalian. Ibuuu, ibuu..." teriakan teriakan Sasha setiap hari hingga akhirnya dia pingsan berulang ulang.


Setelah sebulan berada dipanti, Sasha akhirnya mulai bisa menerima keberadaan bu Sukma dan Ken. Kedua orang ini selalu berada disampingnya. Walau pun dirinya belum membuka diri bagi orang lain namun kedua orang ini ingin selalu diperhatikannya.


Beberapa kali setelah Sasha sadar dari pingsan, Kenny kecil sudah berada disisinya dan bu Sukma akan selalu lembut mengelus kepalanya.


"Sasha takut" Ucap tangis gadis itu selalu lirih di telingan Ken.


"Sasha jangan takut, aku Ken akan selalu menjaga mu." Ucap Ken berulang ulang ditelinga Sasha.


Beberapa tahun Sasha hidup dengan giat dan rajin belajar, buku buku selalu menjadi tempat pelariannya. Dan seorang pria bernama Ken selalu menjadi penyemangat hidupnya.


Hingga suatu hari Ken akan dibawa kedua orangtuanya ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikan.


"Sha, aku nggak bisa menolak permintaan kedua orang tuaku. Aku harus sekolah yang pintar agar bisa menjemputmu disini. Kamu harus menjadi gadis yang kuat dan cantik agar aku bisa mengenalimu." Ucap Ken terakhir kepada Sasha.


Sejak itu pula Sasha memutuskan untuk mengambil sekolah umum. Beberapa tahun menjelang memasuki bangku SMA Sasha di bawa Bu Ratih ke London untuk sekolah dan pengobatan.


----


Setelah kejadian yang menimpa keluarga nya, bu Ratih terbangun dari tidur selama berhari hari dirumah sakit.


Sasha, aku masih memiliki anakku Sasha. Aku harus hidup untuknya.


Bu Ratih membuka matanya.


Meski dengan mental yang begitu rapuh bu Ratih sudah mulai menerima keadaan.


Mick Bond yang adalah sepupu Frank suaminya sudah berada disisinya.


Mr. Bond membantu bu Ratih melalui saat saat sulit itu. Mulai dari pemakaman anak dan suaminya, urusan dikantor polisi, hingga pemulihan kesehatan bu Ratih, Mr Bond selalu setia berada disisinya.


Mr. Bond membawa bu Ratih ke inggris untuk penyembuhan dan pengurusan harta warisan suaminya Frank.


Dari London bu Ratih terus mencari Sasha.


Semenjak Sasha memasuki sekolah umum bu Ratih menemukannnya dan membawanya kembali ikut ke London.


Bu Ratih memutuskan menikahi Mr.Bond agar bisa menjadi wali asuh dari Sasha yang terbilang cukup ribet karena perbedaan kewarganegaraan.


Sasha berubah nama menjadi Alexa Corrina yang sebenarnya adalah nama aslinya.


*****


Kini akhirnya dirinya harus jujur akan semua hal pahit itu agar tak ada simpang siur dalam hati anaknya.


"Setiap proses hidup akan menjadikan kita semakin dewasa. Dan kamu selalu layak mendapatkan kebahagiaan, proses yang sudah kamu lewati pasti akan membuat dirimu semakin tegar dan kuat" Kata Bu Ratih pada Alexa yang saat itu memeluk erat tubuhnya.


"Sekarang ada aku yang akan selalu menjaga ibu." Ucap Alexa.


Bu Ratih membalas pelukan anak semata wayang nya itu dengan senyuman bahagia diwajahnya.


Bersambung...