
Matahari bersinar redup di ufuk senja seakan mengambil semua semangat yang tersisa dalam hati Alexa.
Ditengah keramaian dan hiruk pikuk suara kendaraan yang lalu lalang Alexa berdiri termenung dibawah atap sebuah halte bis.
Beberapa bis silih berganti berhenti dihadapannya, para penumpang yang datang dan pergi sudah tak terhitung jumlahnya namun Alexa masih termenung. Dia enggan beranjak dari dari posisi diamnya.
Apa yang harus aku lakukan?
Aku seorang diri, dimanakah aku dapat menyandarkan kepalaku malam ini?
Uangku hanya tersisa empat ratusan ribu, apakah uang ini cukup untuk aku makan malam ini dan ongkos bis sampai di desa Cimenyan.
Aku nggak mungkin ke ATM mengambil uang, dengan sifat Ken yang keras kepala dia pasti akan langsung ke sini mencariku.
Alexa meninggalkan halte bis terus menyusuri trotoar hingga ke persimpangan jalan, hari sudah mulai gelap. Perutnya mulai lapar ketika aroma wangi bak mie disudut jalan menerpa hidungnya.
Tanpa terasa kakinya melangkah memasuki kedai kecil dipinggir jalan tersebut.
Menu nya serba mie, jika Ken disini pasti dia akan ikut memakan makanan yang di anggapnya tidak steril ini.
Aku kangen kamu Ken, kamu jangan terlalu bersedih. Aku akan mengabarimu lagi jika aku sudah menemukan orang tua ku.
"Pak, bakmie ayamnya satu." Kata Alexa dengan suara yang agak nyaring.
Selesai makan Alexa lanjut berjalan kaki tanpa arah dan tujuan.
Alexa berhenti melangkah saat matanya menatap sebuah atap gereja menjulang tinggi di ujung jalan.
Alexa menghampiri halaman gereja yang cukup luas tersebut, terdapat beberapa bangku disetiap sudut taman gereja kemudian kakinya menuntun tubuhnya mengarah ke sebuah bangku yang lumayan berada dipinggir taman.
Tak ada yang akan melihat ku disini.
Berbaring di sebuah bangku kayu memanglah tidak nyaman, asalkan bisa tidur itu sudah cukup.
Dingin udara malam itu menusuk hingga ke tulang Alexa. Cahaya lampu remang disudut taman tidak sedikitpun menambah hangat suasana saat hatinya saat itu.
Aku ingat saat kecilku dulu, aku selalu sendirian seperti ini. Aku tak punya siapa siapa, aku selalu ketakutan dan menyendiri. Aku selalu merasa tidak nyaman saat melihat orang orang datang menghampiriku seolah mereka ingin menyakitiku..
Alexa terlelap..
Saat langit fajar mulai bercahaya diufuk timur Alexa membuka matanya.
Sudah pagi.
Alexa berjalan keluar dari halaman gereja sembari mencari siapa saja yang melintas.
Alexa berjalan beberapa puluh meter menghampiri seorang pria berpeci putih dengan sarung melingkar dipinggangnya.
"Permisi pak. Saya akan pergi ke Cimenyan, dimana saya bisa mendapatkan mobil yang menuju ke sana?" Tanya Alexa.
"Ohh, itu mah neng harus naik angkot no 32, tapi angkot nomor 32 tidak melintas disini. Neng naik aja angkot dari sini sampai terminal baru neng cari angkot nomor 32 diterminal." Jelas si bapak.
"Apa saya bisa naik angkot apa saja dari sini." Tanya Alexa lagi.
"Ya, tapi sebaik nya neng minta ke sopir nya terlebih atau neng akan dibawa keliling keliling sebelum tiba diterminal." Kata Si bapak.
"Baiklah, terimakasih pak."
Sesampai di terminal, Alexa mencari angkot angka dengan 32 menuju Cimenyan kira kira 13 kilo meter dari terminal itu.
"Neng kita sudah disampai di Cimenyan, neng bisa bertanya ke ke orang orang alamat yang akan neng tuju." Kata sopir itu.
"Terimakasih pak."
Tempat ini sangat asing, perbedaan waktu 17 tahun yang lalu dan sekarang tentu akan sangat berbeda.
Seingatku dulu rumahku berada disudut jalan, ada pertigaan dan kira kira seratus meter dari rumah ada sekolah TK. Dimana kira kira?
Alexa berjalan mencari di beberapa persimpangan sambil mencoba mengingat-ngingat.
Apa mungkin rumah nya sudah dibongkar? Begitu juga dengan TK nya.
Alexa menatap uang dalam dompetnya.
Tersisa dua ratus ribu, ini tak akan cukup untuk beberapa hari kedepan.
Aku butuh tempat untuk tinggal, dan aku butuh uang untuk biaya hidupku.
Aku akan bertanya ke orang orang jika ada yang mau menerimaku kerja walau tanpa di gaji yang penting aku bisa makan dan tidur.
Alexa berkeliling seharian, dia butuh makan minum dan tempat untuk tidur malam ini.
Sebuah surau kecil di dekat pemukiman warga adalah pilihan Alexa untuk tidur malam ini.
Setelah berkeliling seharian Alexa tidur begitu lelap diteras surau. Para warga yang hendak melakukan sholat subuh tak berani membangunkannya.
Suara Adzan subuh nyaring membangunkan nya dari tidurnya.
"Apa semalaman dia tidur disitu?" Tanya seorang lelaki yang telah selesai shalat ke teman disampingnya.
"Pasti seorang musafir yang tidak punya tempat untuk dituju." Jawab orang yang satunya.
Alexa berdiri melangkah ke kamar mandi yang terletak di belakang surau.
Badanku begitu kotor, sejak kecelakaan itu aku belum mandi. Bau obat, keringat dan debu sudah tebal melekat dikulitku.
Aku perlu mandi, aku perlu kamar yang nyaman apa sebaiknya aku ke ATM sekarang?
Seandainya mesin ATM itu bisa aku hack.
Alexa yang hampir putus asa saat itu dihampiri oleh seorang wanita.
"Mbak maaf, mbak berasal dari mana?" Tanya wanita itu.
"Saya dari Jakarta."
"Mbak mau kemana?" Tanya wanita itu lagi.
"Saya belum tau akan mencari kemana terlebih dahulu. Saya mencari ibu dan ayahku yang terpisah belasan tahunyang lalu. Aku belum menemukan mereka." Tersirat kesedihan di wajah Alexa.
"Untuk sementara, mbak bisa ikut saya ke rumah. Insya Allah saya bisa bantu sedikit." Kata Wanita itu.
"Terimakasih, bagaimana saya bisa membalas kebaikanmu."
Alexa berjalan mengikuti wanita itu sambil berbincang bincang hingga tiba dirumah nya.
"Oh ya mbak bisa panggil aku Rani" Kata Rani sambil menjabat tangan Alexa.
"Aku Alexa."
Rani mengajak Alexa masuk ke sebuah kedai bubur, karena masih sangat pagi jadi belum terlihat aktifitas jualan disitu.
Rani berteriak mencari ibunya.
"Assalamualaikum bu, ibuu." suara Rani nyaring memanggil ibunya.
"Ya neng." Jawab Ibu kemudian muncul dari arah belakang.
"Bu, saya mengajak Alexa ke sini, namanya Alexa. Dia tidak memiliki tempat tujuan disini, bahkan semalam dia hanya tidur di surau. Bisa kan dia berada disini sementara waktu sampai dia menemukan keluarganya?" Tanya Rani pada ibunya.
"Ibu sih boleh boleh saja, yang penting jelas asal usulnya." Kata si ibu.
"Dia anak baik baik kok bu, ini KTPnya."
"Lagian dia bisa tidur sekamar denganku." lanjut Rani.
"Halo bu, saya Alexa. Saya ke sini untuk mencari ayah ibuku. Maaf jika sudah merepotkan ibu." Kata Alexa.
Ibu Rani saat itu mengamati tingkah Alexa.
Dia terlihat ramah dan sopan, jika aku menolaknya anak keras kepala ini pasti akan merengek terus menerus memohon ijin. Pikir Ibunya Rani.
"Baik lah Alexa, kamu bisa panggil aku ibu Idah."
"Terimakasih bu Idah" Kata Alexa.
Rani membawa Alexa masuk ke kamarnya, kamar berukuran 3x3 meter terlihat rapih dan bersih.
Walau ruangan kamar ini terbilang sangat kecil namun ini sudah lebih dari cukup untuk aku berteduh sampai aku menemukan pekerjaan dikampung ini.
Rani menyodorkan sepasang bajunya kepada Alexa.
"Alex, kamu bisa pakai baju ini. Bersihkan tubuhmu kemudian istirahatlah. Oh ya kamar mandi berada di samping kiri dapur." Kata Rani.
"Terimakasi Rani."
Alexa mandi kemudian mengenakan rok panjang dan kaos putih yang diberikan Rani.
Alexa masuk kembali ke kamar Rani dengan rambutnya yang masih agak basah.
"Waaoooww, kamu cantik sekali Alexa. Tak ada yang akan mengira kalau kau seorang tuna wisma" Kata Rani yang memuja kecantikan Alexa.
"Aku hanya memiliki 3 orang sahabat, sifat mereka seperti kamu. mereka suka mengambil keputusan mereka sendiri. Namun niat mereka adalah membuat aku bahagia." Kata Alexa mengenang wajah Charlote, Lisa dan Shanen.
"Apakah kamu merindukan mereka." Tanya Rani.
Alexa hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu bisa menganggap kita sebagai sahabat. Aku pasti akan sama menyenangkan seperti mereka." Kata Rani sambil tersenyum dan memegang pundak Alexa.
Bersambung...