Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
My Snowie Ball and My Cotton Ball.



Pagi hari Alexa bangun Alexa berjalan menuju kamar mandi, langkahnya sedikit terhenti karena merasakan rasa sakit di perutnya yang kian menjad. Alexa mencoba duduk dikursi untuk sesikit menghilangkan rasa sakit pada perutnya. Cairan terasa mulai keluar sedikit demi sedikit dari kelaminnya. Rasa sakit yang begitu menyakitkan membuatnya harus kembali berdiri dan berjalan keluar mengarah ke pintu.


Air mata mulai keluar dari pipi Alexa.


Ya Tuhan apa yang terjadi dengan ku? Lindungi anak anakku, aku nggak ingin terjadi apa apa dengan mereka.


"Oughhh, buuuu, ibuuu" teriak Alexa dengan suara merintih menahan kesakitan. "Ibuuu, papa tolong Shasa..." Alexa memanggil kedua orang tuanya yang saat itu sudah berada didapur.


"Ya nak," kata bu Ratih sudah berada didepan Alexa.


"Papa, cepat kesini. Kita Bawa Sasha ke rumah sakit sekarang pa," teriak histeris bu Ratih setelah melihat darah segar menempel pada baju tidur anaknya. Bu Ratih ikut menjadi panik dan gugup melihat Alexa.


Bu Ratih membantu memapah anaknya, mengikuti papa Bond yang sudah berlari mengeluarkan mobil dari garasi parkiran.


"Bu, ughhh perut Sasha sakit sekali bu. Gimana keadaan si kembar bu, apa mereka baik baik saja," kata kata Alexa sepanjang perjalanan hanya menangis menahan sakit dan panik.


"Iya nak, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit," ucap bu Ratih meyakinkan Alexa. "Tarik nafas lewat mulut kemudian hembuskan, jangan panik ya sayang,"


Mimik wajah bu Ratih sangat panik melihat putrinya yang selalu mengerang kesakitan selama dalam perjalanan. Darah terus saja mengalir keluar semakin banyak dari kandungan Alexa.


Beberapa menit mereka sudah tiba dirumah sakit. Ruang gawat darurat langsung memprioritaskan pertolongan pertama untuk Alexa dan langsung membawanya ke ruang operasi.


Bu Ratih dan papa Bond terus berdiri di ruang tunggu. Mulut bu Ratih selalu komat kamit berdoa untuk kelancaran proses persalinan putrinya. Sedang kan papa Bond ikut berdiri di samping istrinya, sesekali tangannya akan menepuk pundak istrinya agar diberi kesabaran.


Sudah tiga jam namun belum ada satupun dokter yang keluar memberikan konfirmasi keadaan Alexa.


Bu Ratih terus menatap jam yang menempel didinding diatas nya. Waktu sudah hampir pukul 10 pagi, hatinya semakin kalut.


Charlotte baru saja tiba disitu langsung memeluk bu Ratih dan menguatkan nya.


Charlotte satu satu nya sahabat Alexa diLondon ikut panik dengan keadaan Alexa.


Lima belas menit kemudian seorang dokter anastesi menghampiri Bu Ratih, Mr Bond dan Charlotte.


"Miss Alexa Corrina family? The Operation is finished and successful, mother and the twins baby are fine. They are a boy and girl, with weight 2,6 kg each other." kata dokter itu memberi penjelasan.


"How Alexa situation doc?" tanya Charlotte.


"Yes. It's just that the mother is still unconscious, she lost a lot of blood before. We are waiting for view hour to see her condition," lanjut dokter itu.


"Ok, thankyou doc," kata Caharlotte.


"Oh, the baby room is in there, you can go there to see them," ucap dokter itu sambil menujuk ke arah ruangan berbilik kaca empat ruangan dari situ.


Charlotte berjalan cepat menuju ruangan itu, diikuti bu Ratih dan Mr. Bond dibelakangnya.


"Wuaahhh they are so cute," ucap Charlote menatap ke box kaca dimana seorang bayi kembar diletakkan. Satu satunya bayi kembar yang ada diruangan itu. Bayi sehat nan menggemaskan.


Posisi box tepat berada disamping jendela kaca, mereka bisa melihat si kembar dari luar saja saat itu.


Bu Ratih tersenyum menatap kedua bocah kecil yang tertidur pulas itu.


Situasi panik sebelumnya kini berubah menjadi senyum penuh sukacita.


"Bu kita pergi liat Sasha dulu, bagaimana jika dia sadar dan kita tidak disamping nya," ucap Mr. Bond.


Bu Ratih dan suaminya terus duduk menunggu didepan ruang ICU. Menjelang jam 7 malam Alexa sudah sadar dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Bu, mana anak ku," tanya Alexa. pertanyaan kali ketiganya sejak dia siuman.


"Sebentar lagi dokter akan membawanya ke sini sayang," jawab bu Ratih.


Wajah Alexa terlihat begitu pucat, mimik resah terpancar dari wajahnya. Ingin rasanya ia berdiri dari pembaringannya menuju ruang rawat bayi. Kemudian seorang dokter wanuta tiba sambil mendorong box kaca dimana kedua bayi mungil itu tertidur pulas.


"Mrs. Alexa, here they are." ucap dokter itu.


Waja Alexa seketika tersenyum menatap kedua bayi itu. Dua orang bayi dengan kulit putih bersih merona dan rambut coklat lebat.


Dokter itu mengangkat kedua bayi itu ke atas ranjang Alexa.


Bu Ratih dan Mr Bond ikut berdiri tersenyum disamping Alexa menatap kedua bayi cantik yang tertidur pulas.


"Hey my Snowie ball and my Cotton ball," sapa Alexa kepada dua bayi kecilnya sambil mengelus ngelus kedua pipi mereka. "Bu apakah Snowie terlihat seperti aku sewaktu kecil?" tanya Alexa.


"Jadi si bola salju si cewek dan si bola kapas si cowok?" tanya bu Ratih keheranan karena nama yang diberikan Alexa pada anak anak nya.


"Bukan kah mereka terlihat sebening salju dan selembut kapas bu," kata Alexa.


"Tapi nama itu kan terlalu.." bu Ratih protes kurang setuju.


"Snowie ball yang cantik dan Cotton ball yang ganteng," ucap Alexa lagi.


"Nama seperti apa itu Sha, ibu kurang setuju." sela bu Ratih tegas. "Si baby girl namanya ... " suara bu Ratih terhenti memkir kan sebuah nama.


"My Snowie ball and my Cotton ball," panggil Alexa lagi.


Beberapa saat Charlotte muncul dari arah pintu.


Charlotte langsung bergegas mendekati kedua bayi itu.


"Hey so you are the Snowie right? And you are must be Cotton. You can call me aunty. OMG they are so sweet," celoteh Charlote kemudian menggendong seorang dari bocah itu.


"Eh, awas hati hati," kata bu Ratih terlihat resah melihat bocah kecil itu digendong Charlotte.


"Bu, sudah jangan cemberut. Snowie and Cotton is a good name." Mr Bond mencoba menyemangati istrinya.


"Hmm, aku saja belum berani menggendong mereka," kata Bu Ratih.


"Bu, Charlotte sudah biasa menggendong bayi kakak nya, jadi ibu nggak usah khawatir terlalu berlebihan," ucap Alexa sambil tersenyum bahagia menatap Charlotte yang begitu lihai membolak balikkan Snowie dalam lengannya.


Sebuah kebahagian baru bagi Alexa dan orang orang disekitar Alexa.


Kedua bocah kecil itu mampu membawa kebahagiaan baru bagi Alexa. Dalam sesaat Alexa bisa melupakan keresahan nya akan suaminya. Semangat dan tenaga baru menguak tiba tiba dalam benaknya. Dalam beberapa detik sebuah ide tiba tiba muncul dalam benak Alexa.


Aku nggak akan membiarkan perusahan suamiku jatuh ke tangan Donita. Aku harus merebutnya dari tangan Donita...


Dengan mengambil alih perusahan itu maka dalang dibalik hilang nya Ken pasti akan muncul. Atau bahkan Ken sendiri yang akan muncul jika dia memang sengaja pergi dariku!


Bersambung...