Time, Finally Brought Us Together

Time, Finally Brought Us Together
Engagement



Persiapan perayaan hari ulang tahun perusahan yang ke 49 telah rampung tiga hari hari sebelum hari H.


Ken yang beberapa hari ini hampir tak menampakkan hidungnya dilantai 21 akhir nya muncul dengan wajah plonk tanpa beban.


"Gaes, hari ini makan siang ditraktir oleh perusahan," ucap Ken dengan suara besar dan wajah berbinar senang.


"Yeaay, makasih Boss," ucap beberapa karyawan tertawa senang, sebagian ada yang bertepuk tangan riuh.


Mata Ken menatap ke arah meja Alexa. Alexa nampak tak begitu peduli dengan makan siang gratis itu, dirinya hanya fokus pada kerjaan menumpuk yang dua hari terakhir tidak dikerjakan karena membantu tugas Shanen. Ken terlihat terus menatap Alexa yang tidak menghiraukan dirinya.


"Waahh, hati si Boss lagi happy nih," ucap Steve yang tiba tiba muncul dibelakang Ken.


"Dia kenapa?" tanya Ken.


Steve mengikuti arah tatapan mata Ken.


"Emang dia kenapa?" tanya Steve sambil ikut menatap ke arah Alexa.


"Dia tidak sedikitpun menatapku, apa yang dia kerjakan?" tanya Ken.


"Yaudah samperin," jawab Steve.


"Hmm, aku ijin mau ajak dia makan siang. Sudah beberapa hari aku nggak bertemu dengan nya," bisik Ken di telinga Steve.


"Oh. Makan siang apa hmmm? Kenapa wajah mu terlihat berbeda?" tanya Steve.


"Apa terlihat begitu jelas kalau aku gugup?" Ken balik bertanya setelah mendengar pernyataan Steve.


"Oohhh, jadi beneran kamu punya rencana rahasia? Hahaa, jika Alexa melihat wajah mu dia pasti akan tau duluan kamu menyimpan sesuatu," ucap Steve.


Apa ini begitu mencolok? Steve bahkan bisa tau kalau aku menyimpan cincin didalam saku aku.


"Sudah, aku mau bawa dia sekarang, kamu dan seluruh karyawan silahkan makan dikantin gratis," kata Ken dengan wajah bahagianya.


Ken berjalan ke arah Alexa yang sibuk dengan pekerjaan dilaptop yang terletak dihadapannya.


"Sayang, makan siang yuk," ajak Ken.


Alexa menatap jam digital di pojok kanan bawah laptopnya.


"Kamu kok nggak bilang bilang mau ajak makan bareng, oh iya, ini sudah hampir jam 12," ucap Alexa sambil menyimpan file yang sudah dikerjakannya. "Ayuk." Alexa berdiri dari meja nya sembari berpamitan dengan Lisa dan Shanen.


"Lis, Shane aku duluan ye," ucap Alexa.


Alexa kemudian menggandeng Ken hingga ke lift dengan senyuman yang dibuat buat, suasana hati Alexa agak muram akibat email ancaman yang masuk akhir akhir ini. Teror itu kini makin gencar mencercanya soal pemerkosaan 18 tahun lalu.


Keduanya berdiam diri saat berada dalam mobil. Pikiran Ken sedang sibuk memikirkan bagaimana dia akan melamar Alexa sedangkan pikiran Alexa dipenuhi dengan spam spam teror yang masuk ke emailnya. Alexa sibuk berpikir bagaimana cara menjebak si pelaku teror itu.


Setelah perjalanan kurang lebih ltiga puluh menit akhirnya mereka tiba di sebuah restaurant besar dan mewah. Alexa enggan keluar dari mobil, mata nya tertuju ke gedung besar berlantai dua tersebut. Ken yang terlihat lebih rapih dari biasanya berjalan ke arah pintu mobil Alexa dan membukakan pintu untuk nya.


"Ayok," ajak Ken.


"Kita gak kejauhan makan siang disini sayang?" kata Alexa yang baru saja menyadari bahwa mereka kini sedang berada dirumah makan ternama diluar kota.


"Nggak, ayok." Ken menyambut tangan Alexa kemudian memasuki gedung mewah nan ramai saat jam makan siang itu.


"Rame banget," ucap Alexa.


"Kita ke atas," kata Ken pelan sambil terus menggandeng lengan Alexa menaiki tangga menuju lantai dua.


"Lah, kok disini malah sepi?" tanya Alexa begitu tiba dilantai dua. "Bunga bunganya sangat indah, cantik sekali. Apa disini ada acara? Alexa tersenyum bahagia melihat hiasan hiasan bunga beraneka ragam disetiap meja.


"Kamu bisa pilih mau duduk dimana," ucap Ken.


Alexa berjalan menuju meja ditengah yang terdapat bunga mawar berwarna merah.


"Aku selalu tertarik dengan mawar merah dan merekah seperti itu," ucap Alexa sambil berjalan menuju sebuah meja yang terdapat beberapa mawar merah di dalam vas bunga nya.


Taburan kelopak bunga mawar diatas meja dan sebuah lilin kecil tengah menyala didalam gelas.


Semakin mendekati meja tersebut Alexa semakin jelas membaca sebuah tulisan yang tertera disana.


"Alexa? Aku atau?" Alexa baru saja akan membalikkan badannya ke belakang, tiba tiba Ken sudah menarik sebuah kursi dimeja itu dan mempersilahkan Alexa duduk.


"Silahkan duduk sayang," ucap Ken dengan senyum dibibirnya.


Alexa mendekati kursi tersebut sambil menatap bingung.


"Kamu yang melakukan ini?" tanya Alexa.


Ken mengangguk sambil tersenyum.


"Haha, apa kamu sedang banyak waktu luang hari ini sayang?" kata Alexa seakan tak percaya akan sifat romantis kekasihnya itu.


Beberapa pelayan yang telah selesai menyajikan makanan langsung beranjak dari situ.


"Wuuaahh, aku mau langsung makan," ucap Alexa gembira.


Ken merogoh sebuah kotak dari kantong bajunya.


"Sayang, menikah lah dengan ku. Aku nggak bisa jauh dari kamu lagi, aku nggak bisa membuang waktu ku percuma, aku ingin sampai akhir hidupku bersama dengan kamu, aku ingin mmm..," Ken terdiam sejenak.


"Hhmmm?" tanya Alexa.


"Aku ingin memiliki anak dari mu, aku ingin anak anak yang cantik dan pintar dari kamu," ucap Ken dengan suara agak pelan dan lembut.


Alexa terdiam menatap kotak cincin yang berada ditangan Ken.


Tangan Alexa yang berada diatas paha terangkat perlahan ke atas meja,jari jemarinya disodorkan ke arah kotak cincin berada.


Ken segera menggapai tangan Alexa kemudian berlutut disamping meja sambil mencoba mengisi cincin berlian itu ke jari manis Alexa.


"Kamu bersedia menukah denganku? Kamu bersedia menjadi istriku?" tanya Ken lembut sambil menatap mata Alexa dengan posisi yang masih berjongkok.


Wajah malu dan merona Alexa berganti sebuah senyum bahagia, dengan kilau bening dikedua pelupuk matanya Alexa mengangguk sambil tersenyum. Senyuman dan air mata bahagia menghiasi kedua pipi Alexa.


"Iya sayang, aku mau," ucap Alexa sambil memeluk Ken.


"Sudah, kamu duduk yang bener trus makan. Aku nggak mau calon istriku kelaperan sekarang," ucap Ken.


"Tiga hari lagi diacara ulang tahun perusahan aku akan memperkenalkan kamu pada semua orang sebagai tunangan ku," lanjut Ken.


"Ta-tapi sayang, orang tua kamu?" tanya Alexa.


"Mereka nggak bisa melarang ku, mereka harus menerima ini adalah keputusan ku. Jika semua media sudah mengetahui hubungan kita, mau tak mau orang tuaku harus merestui kita," ucap Ken sambil mulai memasukkan sendok ke mulutnya.


"Bunkannya akan lebih baik jika mereka bisa menerima aku dengan tulus? Aku mau kok menunggu hingga hati mereka melunak," ucap Alexa.


"Itu nggak mungkin terjadi sayang, aku tau betul sifat mama. Jika dia tidak suka dengan sesuatu dia pasti akan mencari cari kesalahan kamu agar selalu terlihat buruk. Cara satu satunya ya kita harus mengambil jalan pintas melalui media masa. Mamaku sangat gila akan kehormatan dan takut nama baik keluarganya jatuh atau mendapat malu," jelas Ken.


Alexa bengong menatap Ken yang terus saja berbicara, rencana rencana nya seperti sudah matang dalam otaknya.


Ken, aku akan berusaha mendekati ibumu dan berbicara lebih sopan dengannya.


Alexa teringat akan sifat mama Amel saat terakhir ketemu dengannya.


Benarkah sifat lembutnya hanya terlihat dari luar? Email email itu, dan semua teror dilakukannya untuk memisahkan aku dan Ken?


Atau aku harus memaksanya seperti yang baru saja dikatakan Ken.


"Ya udah terserah kamu sayang, aku hanta berharap kamu tidak terlalu menyakiti hati kedua orang tuamu." Ucap Alexa.


"Sayang mana mungkin bertunangan dengan mu bisa membuat mereka sakit hati? Di pikiran merdka hanya ada perusahan. Jika setelah bertunangan kemudian harga saham naik mereka pasti akan melupakan yang sudah terjadi," jelas Ken.


Alexa mengangguk mengiyakan perkataan Ken.


"Ya udah ayuk buruan, kita harus segera balik kantor. Kerjaanku masih banyak, aku harus selesaikan hari ini," ucap Alexa.


Usai makan siang itu Ken dan Alexa kembali ke Kantor.


Bersambung...